
“Kak Reo sama kak Ririn?”
“Ra, Ayo balik ke meja lagi.” Ajak Kani yang sudah selesai memesan minuman untuknya dan Serira.
Serira diam tidak menjawab pertanyaan Kani dan malah sibuk mengamati seseorang yang sendari tadi menganggu pikirannya.
Kani yang kebingungan itu langsung mengikuti arah pandang Serira dan melihat dengan sangat jelas ada Reo dengan Ririn disana.
Kani membelakan matanya terkejut dan langsung menyentuh pundak Serira.
“Dia ada ngomong sama kamu, Ra?” tanya Kani, Serira menggeleng lemah.
“Habis pulang main, kamu chat dia aja. Inget! Chatnya baik – baik, jangan emosi.” Ujar Kani, Serira mengangguk.
“Udah, yuk, ke Vania sama Fanya, kasian mereka udah nunggu.” Ajak Kani, Serira pun mengawali perjalanan.
“Nah, udah selesai. Sini, Kan, kita mau ngerecomendasiin novel yang baru aja kita baca!” seru Vania yang langsung disambut senang oleh Kani.
Kani duduk di tempat asalnya tadi sambil menyimak ucapan Vania dan Fanya yang merecomendasikan banyak buku dari mereka.
Sedangkan Serira? Raganya ada di sana, namun pikirannya berjelajah entah kemana.
Dia berpikir yang macam – macam membuat dirinya sendiri menjadi merasa tidak tenang.
Tapi sangat tidak sopan bagi dia jika harus meninggalkan teman – temannya ini, jadi Serira lebih baik mengisi pikirannya itu dengan bersenang – senang bersama temannya.
^^^
“Di sebelah mana si toko bayinya?” tanya Ririn yang sendari tadi kecapean karena telah mengelilingi mall dua kali.
“Ck, tanya aja apa susahnya sih.” Ketus Reo sambil menghampiri salah satu pegawai mall.
“Mbak, buat perlengkapan bayi di simpen dimana?” tanya Reo.
“Oh, di sebelah sana, De. Lantai empat.” Jawab pegawai itu sambil menunjukan jarinya kearah toko perlengkapan bayi.
“Oh, disana. Makasih.” Ucap Reo, pegawai itu menganggukan kepalanya sopan.
Reo melirik ke ara Ririn yang diam melihat dirinya.
__ADS_1
“Cepetan!” seru Reo yang berjalan terlebih dahulu. Tak lama, Ririn pun ikut menyusul Reo yang sudah menaiki eskalator.
Mereka jalan bersama menuju toko perlengkapan bayi setelah sampai di lantai empat.
Ririn masuk terlebih dahulu ke dalam toko karena dirinya lah yang ingin berbelanja untuk adiknya.
Ya, Camila, ibunda Ririn baru saja melahirkan ketika Ririn sedang melaksanakan try out mata pelajaran terakhir di hari ini tadi.
Karena belum membeli banyak perlengkapan khusus, jadinya Ririn diminta untuk membelikannya bersama Reo pulang sekolah.
Karena Rio sudah mengunjungi Camila lebih awal jadinya Ririn memilih untuk minta diantar oleh Reo.
Sebenarnya tidak ada pemaksaan disini. Namun karena Reo juga sahabat kecilnya, jadi tidak masalah jika ia membantu Ririn untuk ke sekian kalinya.
“Lo udah minta izin ke Rira belum?” tanya Kani sambil memilih beberapa pasang baju bayi.
“Belum.” Jawab Reo simple.
“Kenapa nggak izin dulu? Kalau misalnya dia lihat kita terus salah paham gimana?” tanya Ririn kembali.
“Dia percaya sama gue.” Jawab Reo kembali sambil ikut melihat baju bayi yang Ririn pilih.
“Ck, lo nggak tahu aja ya. Seberapa percayanya cewek ke cowoknya, kalau dia nggak ngasih tahu atau nggak ngabarin sama sekali mana bisa dia percaya begitu aja.” Jelas Ririn berusaha membuat Reo peka.
“Ih, bukan perspektif gue, tapi emang semua cewek gitu, Reo.” Jelas Ririn kembali.
“Udah lo cepetan pilihnya, keburu makin sore ntar.” Titah Reo yang langsung meninggalkan Ririn yang belum selesai berucap.
“Hi, ada aja cowok begitu.” Dengusnya sendiri.
Ririn pun membayar semua barang yang sudah ia beli itu dengan atm yang dia punya.
Ayahnya bilang, uangnya akan digantikan bila Muhtaz sudah lanjut bekerja nanti.
“Dah, nih.” Ucap Ririn menyadarkan lamunan Reo.
“Ayo.” Balas Reo yang jalan terlebih dahulu untuk keluar mall.
Setelah keluar dari mall, Reo berjalan menuju parkiran dan mencari letak keberadaan motornya.
__ADS_1
“Re, gue tunggu di sini.” Ucap Ririn sambil berhenti berjalan mengikuti Reo. Reo mengangguk lalu menghampiri motornya.
Ia memasukan kunci motor dan naik ke atas motornya itu. Lalu memakai helm dan menjalankan motornya menuju arah Ririn.
Setelah Reo sudah siap untuk menyambut Ririn, ia naik dengan pelan – pelan karena motor Reo itu lebih besar dari motor Rio yang biasanya ia tumpangi.
“Udah.” Ucap Ririn yang mengomandokan Reo untuk segera jalan. Reo pun menancapkan gasnya lalu berjalan pergi meninggalkan mall.
^^^
Serira banyak terdiam saat teman – temannya menikmati waktu bersama kali itu.
Kani yang sudah sangat tahu penyebabnya juga masih bingung bagaimana cara untuk menasehatinya.
Vania dan Fanya yang tidak tahu penyebabnya justru khawatir dan bertanya langsung kepada Kani.
“Kenapa Rira, Kan?” tanya Vania. Kani tersenyum simpul.
“Mungkin over thingking. Tadi kak Reo jalan sama kak Ririn di mall ini tanpa sepengatahuan Rira.” Jelas Kani,Vania dan Fanya pun mengangguk mengerti.
“Ra, sini deh kita main dance!” ajak Vania berniat mengambalikan semangat Rira yang sudah ada sejak ia datang ke mall tadi.
“Ra, jangan berpikir yang aneh – aneh. Mungkin aja kak Reo nggak ngabarin karena hpnya lawbat atau bahkan ke buru – buru sama urusannya.” Ujar Fanya menasehati.
“Iya, Ra. Kamu juga harus percaya sama kak Reo kalau dia nggak mungkin ngekhianatin kamu. Dia pasti setia kok sama kamu.” Sambung Vania ikut menasehati.
“Tuh, dengerin, Ra. Jangan over thingking, kak Reo pasti setia kok sama kamu. Lagian juga jalannya sama kak Ririn, kamu kan tahu orang tua mereka bersahabat jadi siapa tahu aja mereka di suruh beli sesuatu.” Ucap Kani membuat Serira sedikit tenang.
Serira mengembangkan senyuman di wajahnya karena senang memiliki teman yang mendukung penuh hubungan Serira dengan Reo itu.
Dia menganggukan kepalanya pelan sambil tetap tersenyum ke arah mereka.
“Makasih ya, udah mau ngelurusin pikiran jelek aku.” Ucap Serira yang di sambut senang oleh teman – temannya.
“Nah! Gitu dong. Jadinya kan seru kalau semuanya ceria.” Seru Vania dengan senang.
“Iya, udah jangan sad lagi. Hayu main, kamu belum main apa – apa loh, Ra.” Sambung Fanya. Serira mengangguk.
“Ayo, Ra.” Ajak Kani menarik tangan Serira.
__ADS_1
Serira menerimanya dengan senang hati dan bermain melepaskan kesedihan yang sendari tadi masih ada di pikirannya.
“Walau mereka berpikir aku sudah tidak memikirkannya, aku tetap saja kepikiran. Bukannya tidak percaya atau apa, mengirim kabar itukan tidak sesulit mengerjakan ujian yang sebelumnya harus belajar keras agar mendapatkan nilai yang baik. Ini hanya sekedar mengabari kalau kak Reo akan pergi ke mall bersama kak Ririn untuk suatu kepentingan yang mendesak, itu saja kan?” batin Serira.