
Reo duduk di kursinya dengan dengan hati yang sangat panas.
Walau Serira sudah bukan menjadi siapa-siapanya, Reo tetap masih merasakan kecemburan di hatinya yang terdalam.
Teman-teman Reo yang melihatnya tidak mau mengusik karena mereka paham kalau Reo sedang tidak ingin diganggu.
Melihat keadaan kelas, mereka sedang asyik mengobrol santai karena seperti sesuai intruksi sebelumnya mereka hanya diarahkan untuk berdiam diri didalam kelas agar tidak mengganggu adik kelasnya yang sedang belajar KBM.
Tak lama dari kesantaiannya, beberapa orang guru berbeda jenis datang ke ruang kelas mereka membuat keadaan kelas yang asalnya ramai menjadi sunyi.
Mereka semua duduk rapih di kursinya masing-masing sambil mengamati guru yang akan segera mengumumkan sesuatu.
"Oke anak-anak. Karena beberapa ujian telah kalian selesaikan beberapa hari yang lalu, kini saat puncaknya kalian akan menghadapi ujian UNBK. Ujian itu akan dilaksanakan minggu depan, jadi bagi kalian semua harus bersiap-siap sematang mungkin.
Dan minggu ini kalian akan menghadapi ujian prakte. Soal jadwal kami sudah tempelkan di mading, jadi tinggal kalian foto lalu share kan atau melihat sendiri terserah." Jelas salah satu guru itu dengan detail yang disimak baik oleh para murid.
"Ada yang ingin ditanyakan?" tanya guru lain.
"Tidak." Jawab murid serempak.
"Baik kalau begitu, kami permisi." Pamit para guru yang langsung pergi meninggalkan kelas.
Semua murid pun kembali kepada aktivitas mereka masing-masing.
"Eh, denger-denger si Reo udah putus sama adik kelas polos itu loh!" seru salah satu murid cewek yang berada tak jauh dari bangku Reo dan kawan-kawan.
"Masa? Ada kesempatan emas dong." Balas temannya dengan sedikit berteriak.
Vans yang asalnya sedang bermain ponsel pun merasa terganggu dengan para wanita yang sedang menggosipkan teman sebangkunya ini.
Ia melihat kearah Reo yang sendari tadi masih bengong tanpa memperhatikan sekitarnya.
"Lo pada ngomong sama siapa? Teriak-teriak kayak lagi di konser aja." Nyinyir Vans dengan keras juga.
"Ih, riweh banget si bukan ke lo juga." Dengus Yona dengan kesal.
"Bukan ke dia tapi gangguin ke kita." Tegas Johan.
"Yaelah lo pada sirik aja!" seru Seli membela Yona.
"Kalah ganteng mah gitu, hahaha!" sambung Lolita.
Reo yang mendengar kebisingan yang berasal dari teman-temannya itu bangkit lalu pergi keluar kelas tanpa menyauti panggilan mereka.
Ia berjalan melewati koridor kelas dengan wajah yang sulit diartikan.
Ini keinginan hati dan raganya, ia berjalan menuju uks untuk menemui seseorang.
"Reo, ngapain lo kesini?" sambut Ririn begitu Reo tiba-tiba datang tanpa undangan.
Reo melirik kearah ranjang yang berisikan Serira disana. Namun tidak hanya Serira, ada Satria yang setia menyuapi makan kepada Serira disana.
Reo yang geram langsung mengalihkan pandangannya dari Serira kepada Ririn.
__ADS_1
"Gue mau ketemu lo." Jawab Reo, Ririn mengerutkan dahinya bingung.
"Buat apa?" tanyanya.
"Pulang sekolah gue tunggu diparkiran."
Reo langsung membalikan tubuhnya begitu sudah memberitahu tujuan bohongnya untuk datang ke uks.
Dia berjalan keluar lalu mengarahkan dirinya untuk pergi kesuatu tempat yang mungkin bisa menenangkan dirinya.
Sedangkan Serira.
Terasa sedikit ada goresan perih didalam hatinya saat Reo mengatakan itu kepada Ririn.
Selama mereka berpaacaran, mereka belum sempat pergi berdua berjalan-jalan bersama menggunakan motor yang Reo miliki.
Mungkin dulu pernah namun beda status. Tapi ketika status mereka itu bagus, tidak ada satupun kenangan manis yang Reo ukirkan di hati Serira.
"Ra, ini makan lagi." Ujar Satria sambil kembali menyuapkan bubur ke mulutnya.
"Aku udah kenyang, Kak." Jawab Serira lemas.
Ririn yang melihat itu langsung menghampiri Serira dan Satria.
"Sat, biar gue yang jaga Rira, lo balik aja ke kelas." Titah Ririn.
"Nggak, Rin, gue mau disini."
"Ada batasan untuk seseorang mengunjungi uks." Tegas Ririn membuat Satria menyerah dengan egonya.
"Makasih banyak, Kak, udah mau nyuapin." Ucap Serira.
"Sama-sama." Balas Satria yang langsung pergi meninggalkan uks.
Kini hanya tersisa Ririn dan Serira didalam uks, murid yang lainnya sudah kembali ke kelas setelah diberi obat sesuai keluhannya.
Namun karena Serira masih belum terlihat membaik, Ririn menyuruhnya untuk menetap sementara di uks karena khawatir jika keadaannya akan kembali memburuk.
"Ra, pulang ke rumah ya, biar keadaan kamu makin membaik." Pinta Ririn, Serira mengangguk.
"Jam istirahat bunyi juga aku membaik kok, Kak." Tolak Serira halus.
Ririn yang melihatnya jadi menyerah sendiri dan hanya bisa berdoa kalau yang dikatakan Serira itu akan benar.
Ririn kemudian duduk di kursi samping ranjang dan menghadap Serira.
"Ra, aku minta maaf ya, kemaren aku jalan sama Reo tanpa izin kamu. Kita jalan karena mama aku nyuruh beli perlengkapan bayi yang belum sempet dia beli pas adik aku lahiran. Karena Rio ngejemput mamanya buat lihat mama aku, jadi Reo ngenterin aku buat beli perlengkapan seperti yang mama suru." Jelas Ririn panjang lebar membuat Serira sedikit tersentak mendengarnya.
"Jadi, kak Ririn nggak jalan-jalan sama kak Reo?" tanya Serira memastikan, Ririn langsung mengeleng dengan mantap.
"Kita cuman ke toko perlengkapan bayi, Ra, abis itu pulang. Aku udah sempet bilang ke Reo buat kabarin kamu tapi dia bilang kalau kamu pasti percaya sama dia jadi dia nggak kabarin kamu." Jelas Ririn kembali membuat Rira merasa bersalah.
"Ohiya, Rio bilang malamnya kamu telepon Reo tapi keduluan sama aku? Maaf banget Ra, aku nggak tahu kalau kamu juga bakal nelepon Reo. Aku ke dia cuman mau nanya rumus matematika yang belum aku pahamin sama sekali. Karena Reo pinter di matematika jadinya aku tanya langsung ke dia, aku minta maaf ya."
__ADS_1
"Kak, kakak nggak usah minta maaf kakak nggak salah. Dan juga, kakak nggak usah jelasin lagi karena penjelasan kakak itu cuman bisa buat aku makin menyesal." Ucap Serira dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Maksudnya?"
Serira tersenyum kikuk kearah Ririn sambil merasakan sesak di hatinya.
"Aku udah putus sama kak Reo."
^^^
Kani menyimpan piring berisikan mie ayam diatas meja yang sudah diisi oleh Vania dan Fanya.
"Serira gimana keadaannya, Kan?" tanya Vania begitu Kani duduk ditempatnya.
"Dia udah mendingan, udah dikasih makan juga jadi tinggal istirahat." Jawab Kani sambil mengaduk-aduk mie ayamnya.
"Semoga besok udah sembuh." Ucap Fanya.
"Kani." Sapa seseorang yang langsung duduk disamping Kani. Kani yang sedang menyuapkan mie ayam kedalam mulutnya itu langsung melirik.
"Masukin dulu, Kan, mienya, ntar tumpah!" seru Vans, Kani pun memakan mienya santai.
"Vans, ih! Dicariin malah kabur." Seru Exel mengejar Vans.
"Takut amat gue kabur." Saut Vans.
"Kalo lo kabur yang bayar makan ntar siapa, Jubae." Balas Tio datang.
"Makan disini nggak apa kan?" izin Johan sambil membawa semangkuk baso.
"Oh, nggak papa kok, Kak." Jawab Vania ramah.
"Ih, ramah banget, siapa namanya?" tanya Exel.
"Woi! Malah godain adik kelas. Liat si Johan mah udah jajan!" seru Tio menunjuk Johan.
"Yaudah lah kita jajan juga." Balas Exel menyeret Tio.
Vans dengan Johan hanya menggelengkan kepala pusing melihat tingkah laku teman-temannya.
"Kak Reonya kemana?" tanya Kani, Vans melirik kearahnya.
"Ngapain nanyain dia?" tanya balik Vans.
"Yailah nanya doang." Ketus Kani kembali memakan mie ayamnya.
"Seriranya kemana?" tanya Vans mengikuti gaya bicara Kani.
"Di uks." Jawab Kani simple.
"Ngapain di uks?" tanya Johan.
"Sakit." Jawab Fanya.
__ADS_1
Vans dan Johan langsung saling menatap dengan tidak percaya.
"Oh! Pantesan!" seru mereka dengan kompak.