
Reo beserta keluarga kecilnya baru saja pulang dari kediaman Camila dan Muhtaz itu.
Mereka duduk bersama di ruang keluarga untuk melepas penat bersama.
"Rio, kamu jarang main lagi sama Ririn, kenapa?" tanya Jessica sambil mengusap rambut anak keduanya itu.
"Nggak papa, Ma, Ririn kan bakal mama jodohin sama kak Reo." Jawab Rio sejujur-jujurnya.
Jessica yang mendengar hal tersebut langsung tersenyum senang kearah Rio.
"Kalau kamu punya pacar, kenalin ke mama ya?"
Rio mengangguk lembut sambil tersenyum.
"Tanya dulu ke Reo mau apa nggak." Ucap Putra sambil menyalakan televisi.
Jessica melirik ke Reo yang hanya menatap lurus kedepan.
"Reo, kamu pasti denger omongan mama kan?" tanya Jessica memastikan.
Reo meliriknya singkat lalu bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan mereka semua bahkan mengacuhkan pertanyaan Jessica.
Jessica agak sedikit terkejut dengan perlakuan Reo. Karena biasanya ia tidak pernah diacuhkan seperti ini.
"Jes, kalau dia nggak mau nggak usah dipaksa." Ujar Putra yang membuat mimik Jessica berubah.
"Tunggu waktunya aja, Ma, kak Reo kan baru putus masa iya langsung move on." Sambung Rio menenangkan ibunya.
Jessica mengangguk sambil berfikir sejenak untuk keberlangsungan perjodohan ini. Apakah dia yakin akan melaksanakannya ketika hatinya berkata bahwa Reo tidak mungkin mau menerima semua ini.
Reo baru saja selesai membersihkan tubuhnya.
Ia sedikit kesal dengan sang ibunda karena telah mau melaksanakan perjodohan yang tidak ia ingin kan sama sekali.
Reo membaringkan tubuhnya kasar dan menatap kosong kearah langit-langit kamar.
Ia memejamkan matanya sambil berfikir sejenak tentang hatinya yang belum lama terluka.
Tanpa ia sadari sendiri, air matanya mengalir ke pelipisnya mengundang isakan yang asalnya terasa sangat sunyi.
Mungkin ini bisa dibilang penyesalan.
Penyesalan terhadap orang kedua yang telah ia cintai begitu dalam setelah ibunya itu meninggalkannya karena kesalahan yang ia buat sendiri.
Dia sendiri tak pernah menyangka akan terjadi seperti ini.
Karena ini pertama kali dalam hidupnya ia merasakan jatuh cinta.
Apalagi dia tipe orang yang sangat sulit untuk berteman dengan orang baru. Jadi sangat mustahil bila dia akan mencari cintanya kembali.
Reo membuka matanya perlahan dan membuka ponselnya lalu melihat wallpaper yang belum sempat ia ganti.
Terpangpang jelas wajah cantik dan ceria di layar ponsel Reo.
Reo tak sengaja menemukan foto selfi di ponsel Serira yang langsung ia kirim ke ponselnya lalu ia jadikan wallpaper layar ponsel agar dia selalu terhibur saat melihatnya.
Walau sekarang keadaannya telah berbeda, namun tetap saja wajah cantik Serira itu tidak akan menghapuskan senyuman di wajah Reo begitu melihatnya.
"Maafin gue Ra, gue bener-bener minta maaf."
^^^
__ADS_1
Serira sudah siap dengan perlengkapan sekolahnya.
Orang tuannya sempat berpesan kepadanya untuk izin masuk sekolah agar ia bisa beristirahat dulu walau hanya satu hari saja.
Namun Serira menolak keras karena dia juga menyimpan jadwal bersama Satria yang tidak bisa ia tolak itu.
Apalagi sebentar lagi dirinya akan melaksanakan ujian kenaikan kelas, jadi ia harus sekolah agar tidak ada satupun materi yang tertinggal.
"Ayo, Ra, ntar telat." Ucap Leo, Serira mengangguk lalu menghampiri kakaknya yang sudah berada diatas motor.
Leo memberikan helm kepada Serira yang langsung diterima oleh gadis itu.
Setelah Serira selesai memakai helmnya, Leo menjalankan motor dengan kecepatan sedang untuk pergi ke sekolahannya itu.
^^^
"Ra, kamu udah ngerjain pr mtk?" tanya Kani begitu ia melihat Serira yang baru saja duduk di kursinya.
"Udah, Kan." Jawab Serira sambil melepas tasnya.
"Liat dong, hehe." Pintanya, Serira mengangguk lalu mencari keberadaan bukunya. Setelah dapat langsung ia berikan kepada Kani yang setia menunggu gerak-geriknya.
Kani langsung menyalin jawaban Serira itu dengan tenang. Serira yang merasa free langsung membuka ponselnya dan melihat ada pesan yang berasal dari Satria.
Serira langsung teringat kembali kepada ucapan kakaknya yang mengatakan kalau dia harus membuka hatinya untuk orang yang ingin mendekatinya.
Serira pun membukan pesan Satria itu dan membacanya.
"Ra, pulang sekolah jangan lupa ya, gue tunggu di parkiran."
Serira tersenyum lalu membalas pesan itu.
"Oke, Kak."
Serira yang tersadar langsung menyimpan ponselnya itu kekolong meja dan merapihkan posisi duduknya.
^^^
"Nah, bagus juga kalau gini, Tio ngegitar, Johan ngebass, Gue ngedrum, Reo nyanyi." Ujar Vans memberi saran untuk ujian praktek seni yang akan dilaksanakan besok.
"Gue apa Nyet! Kok ditinggalin!" seru Exel yang tidak kebagian job.
"Piano-piano." Jawab Tio.
"Orgent bodoh." Ledek Exel.
"Lah, mau dangdutan lo?" tanya Tio.
"Dah, Nyet! Sekarang kita tentuin mau lagu apa." Ucap Johan, semua langsung berpikir.
"Lagunya yang have fun apa mellow?" tanya Reo angkat bicara.
"Mellow aja, biar pada nangis ******." Jawab Tio.
"Setuju!" balas Exel.
"Apa dulu lagunya." Ucap Vans langsung mengambil ponselnya.
"Gue punya beberapa lagu nih, lo pada dengerin ya." Sambungnya kembali.
Ia memutar beberapa lagu yang sedang sering dinyanyikan untuk perpisahan.
__ADS_1
Semua temannya mendengarkan dengan fokus sambil berhayal memainkan alat musik mengikuti bitz lagunya.
"Dah lagu ini aja mantep." Ucap Johan, semua mengangguk setuju.
"Oke, kita lock lagunya Sampai Jumpa, Endank Soekamti." Vans mengambil keputusan yang disetujui oleh semua temannya.
"Berhubung uprak seni hari Jumat, kita punya waktu luang buat latihan. Gue bakal cari tempat sewa buat ngeband hari ini biar besok dah bisa kita pakai." Ujar Johan sambil mengotak-atik ponselnya.
"Bukannya ditempat lo ada Re?" tanya Exel kepada Reo yang sedang melamun.
"Tempat sodara gue, ntar gue coba tanya dia dibolehin apa nggak." Jawab Reo.
"Dari sekarang, Nyet, biar salse." Sela Tio kepada Reo.
Reo menghembuskan nafasnya pelan lalu mengambil ponselnya dan menyalakannya.
"Wih, wallpaper lo masih Serira?" tanya Tio ketika melihat wallpaper ponsel Reo.
Sebagai jawaban, Reo hanya mengangguk singkat sambil mencari kontak sepupunya.
Reo mengetik pesan singkat kepada sepupunya itu lalu mengirimnya dengan cepat dan menyimpan ponselnya kembali.
"Ntar kalau udah dibales gue kasih tahu." Ucap Reo, semua pun mengangguk.
^^^
"Ra!"
Serira melirik ke arah sumber suara lalu tersenyum ramah.
Serira menghampiri orang yang memanggilnya itu.
"Ayo, Ra, berangkat sekarang biar waktu luangnya banyak." Ajak Satria, Serira mengangguk.
Satria pun membukakan pintu mobil untuk Serira yang langsung diterima baik oleh gadis itu.
Setelah Serira masuk kedalam mobil, Satria menutup mobilnya sedikit kencang lalu mengitari mobil itu dan duduk di kursi pengemudi.
Tak menunggu lama, mereka pun langsung pergi dari sana menuju ke tempat yang sudah mereka rencanakan.
"Ra, lo beneran putus sama Reo?" tanya Satria dengan sedikit khawatir.
Serira hanya tersenyum kecut sambil mengangguk mengiakan saja.
"Nggak usah sedih, Ra, pasti tuhan gantiin lo yang terbaik kok." Ucap Satria berusaha menghibur Serira.
Serira yang walaupun tak terhibur itu masih menghargai hiburannya dengan tersenyum ikhlas yang telah diajarkan oleh teman-temannya.
"Aamiin, makasih, Kak." Balas Serira, Satria mengangguk sambil tersenyum senang.
"Buka mata lo, dibelakang lo pasti masih ada yang nungguin keberadaan dan ketersediaan hati lo."
Serira melirik ke arah Satria sambil berusaha mencerna setiap kata yang ia ucapkan itu.
Satria yang melihatnya langsung terkekeh dan mengacak-acak rambut Serira dengan asal.
"Jangan dibawa serius gitu, gue cuman asal ngomong." Jelas Satria yang fokus kembali ke arah jalanan.
Serira yang mendengar penjelasan itu sedikit merasa geer atau mungkin terlalu percaya diri kepada dirinya sendiri?
"Tapi bener, Ra, lo harus buka mata dan hati lo, jangan biarin semua ngestuk di dia."
__ADS_1
~~
Hallo semuaa, maaf author nggak up 2hari karena masalah kesehatan. Semoga puas sama update hari ini dan ditunggu crazy upnya~ ♡