
Serira
"Rira! Ada Kani nih!" teriak bibi dari bawah.
"Suruh pulang aja! Eh, suruh kesini maksudnya!" balas ku.
Tak ada sautan lagi.
Aku melanjutkan makanku di atas kasur sambil menonton film yang ditampilkan di leptopku itu.
Ceklek
Pintu kamarku terbuka oleh Kani yang kemudian masuk ke dalam kamarku.
Aku tersenyum melihat Kani yang menjengukku ke rumah.
Dia sempat menggeleng - geleng ketika melihat aku sedang mukban di atas kasur.
"Kira - kira dong, Ra! Kamu mukbang boleh, tapi jangan yang pedes atau nggak sehat juga dong! Apa lagi makan di atas kasur! Kamu kan punya meja, Rira!" cerocos Kani yang baru saja sampai di hadapanku.
"Ayok sini, Kani! Aku udah nyiapin mangkuk lain buat kamu! Ayo makan." Ajak ku agar Kani tidak usah membahas tentang kesehatan lagi.
"Ck. Kamu ini kalo di kasih tau bukannya dengerin malah ngalihin topik!"
"Dah lah, Kan. Aku ada film bagus nih! Makan baso sambil nonton film kan mantep!" seruku sambil bergeser sedikit agar Kani bisa duduk di sebelahku.
Kani sempat mendengus dulu untuk membuang emosi, mungkin, lalu duduk di sebelahku.
"Kamu udah nonton berapa film?" tanya Kani.
"Baru empat doang. Movie aja lagi." Jawab.
"Rekor ya? Empat itu nggak dikit loh, Ra, apalagi movie. Satu film kan bisa dua jam?" ucap Kani sambil mengambil baso dari mangkuk besar ke mangkuk kecilnya.
"Iya, dari pada gabut." Jawabku asal.
"Eh, kamu udah tahu, Ra?" tanya Kani.
"Tahu apa?" tanya balikku yang tidak tahu apa - apa.
"Keadaan Reo?"
Aku langsung menghentikan aktivitas makanku dan buru - buru mempause film yang sedang play di leptopku dan berhadapan ke Kani.
"Kak Reo kenapa?!" tanyaku khawatir.
"Dia kecelakaan, Ra. kamu nggak tahu?!"
Aku menatap lurus ke arah depan dengan pikiran yang kosong.
"Kemaren malam katanya Reo tabrakan sama truk di jalan kecil deket rumah kamu. Dia sempet di oprasi dalam dan dia juga ada patah tulang di kakinya. Tapi menurut kabar mama aku yang baru aja ngejenguk, Reo udah membaik banget, nggak keliatan lagi sakitnya, dia--"
"KANI KITA KE RUMAH SAKIT SEKARANG!"
^^^
Reo
"Mama tinggal. Nanti Ririn bakal nunggu kamu di sini sampai isya, abis tu mama balik lagi kesini. Tungguin ya." Jelas mama sambil ngeberesin barangnya.
__ADS_1
"Bisa nggak, Ma, nggak usah sama Ririn?" tanya gue. Mama langsung ngasih tatapan maut ke gue. Gue pun mengalah.
"Dah, mama pulang. Assalammualaikum." Pamit mama menghampiri gue dan gue cium punggung tangannya.
"Wa`alaikumsalam. Hati - hati, Ma." Jawab gue. Mama pun pergi dari ruangan gue dan gue sendiri.
Gue melirik ke arah nakas yang ada di pinggir gue, gue melihat ada hp gue disana.
Gue mengulurkan tangan gue buat mengambil hp itu yang usahanya sama sekali nggak bakal ada hasil.
Karena jarak antara nakas dengan kasur gue tuh lumayan jauh, jadi percuma aja. Dan akhirnya gue diem ngegabut.
Gue nyenderin badan gue ke punggung kasur dan melihat tangan kanan gue yang terlilit banyak selang.
Di tangan kiri gue juga ada selang buat transfer darah ke tubuh gue.
Ya, karena gue kehabisan banyak darah, akhirnya gue di masukin lagi darah ke tubuh gue.
Nggak lama dari kegabutan gue, gue mendengar ada yang ketuk pintu.
"Cepet banget datengnya." Gumam gue.
"Masuk." Jawab gue.
Pintu terbuka perlahan dan muncul cewek berpakaian hoodie kuning dengan celana jeans biru dan tas selempang di badannya. Rambutnya juga familiar dan selalu bewarna blonde dari dulu. Ririn.
"Assalammu`alaikum." Ucap dia begitu sampai dalam ruangan.
"Wa`alaikumsalam." Jawab gue sambil melihat gerak - gerik dia.
Oh, ada yang ketinggalan. Dia juga bawa oleh - oleh buat jenguk orang sakit.
"Lama nggak nunggu gue?" tanya dia.
"Gue bawain roti cokelat. Lo makan." Ucap dia.
"Coklat? Nggak salah?" tanya gue memastikan.
"Nggak lah, ngapain salah?"
"Yang suka coklatkan lo." Ucap gue sedikit emosi.
"Roti coklat buat gue, lo makan makanan rumah sakit, bukan roti. Enak aja!" jelas dia.
Gue memutarkan mata malas.
"Nih, gue baik bukain plastiknya, lo tinggal makan." Ucap dia sambil ngebukain plastik yang nutupin makanan gue.
Gue hanya diam ngeliatin dia sambil mikir, gimana caranya gue makan pake tangan gue yang susah di gerakit gara - gara banyak bekas suntik dan selang di sana.
"Nih, udah. Gue makan pinggir lo nggak papa, ya?"
Gue mengangguk membalas permintaannya.
Gue udah bener - bener kayak pangeran di suguhin sesajen. Depan gue udah di sodorin meja sama makanan sama Ririn. Tapi masalahnya, gue lemes buat gerakin tangan gue!
"Nggak boleh?" tanya dia sekali lagi.
"Boleh! Lo nggak liat tadi gue ngangguk?!" jawab gue emosi.
__ADS_1
"Ya abis kenapa lo diem? Bukannya makan? Udah baik - baik gue siapin, tinggal lo anter kemulut!" balas dia. Gue menarik nafas dan mengeluarkannya lagi dengan begitu sabar.
"Kalo tangan gue berfungsi dari tadi, nggak butuh gue keberadaan lo sekarang." Jelas gue dengan menekan setiap perkataannya.
"Owh.., lo lumpuh juga?"
Gue membelakkan mata gue nggak percaya sama pertanyaan bodohnya itu.
"Plislah, gue laper!" sentak gue. Karena gue nggak makan siang, jadi di satuin sama makan sore.
"Ngomong yang jelas. Rin, gue mau di suapin." Ucap dia.
"Gue nggak mau di suapin!"
"Yaudah! Gue juga nggak mau nyuapin." Balas dia yang malah makan makanannya anteng.
Gue berusaha tetap sabar buat ngadepin orang yang nggak pernah jadi sahabat gue dan nggak akan pernah juga sih.
"Terus gue makan kayak kucing aja? Gitu maksud lo?" tanya gue menyentak.
"Itu tau. Pinter."
"Ck! SUSTER!! DOKTER!! DISINMPP!"
"Nggak usah teriak lo kayak cewek! Yaudah! Iya gue suapin!"
Gue menunjukkan smirk gue dan terkekeh.
"Jangan ketawa!"
"Gue nangis." Jawab gue sambil ngeliatin Ririn ngaduk - ngaduk buburnya.
Gue ngebuka mulut gue ketika Ririn nyuapin makanannya ke mulut gue.
"Pelan - pelan! Jangan kayak nggak ikhlas!" sentak gue.
"Sewot banget sih! Udah nyuruh juga!"
Gue megang tangannya dan berusaha cengkram sekuat tenaga gue.
"Nyengkram apaan itu? Kerasa juga nggak." Ejek dia.
Gue berusaha cengkramin lagi tangannya tapi dia masih belum ngeringis kesakitan.
Di situ gue berusaha buat cari tahu kelemahan dia.
Tapi mungkin ini bukan hanya kelemahan dia, tapi kelemahan setiap wanita juga.
Gue pegang lehernya dan dia langsung ngerasa geli dan nepis tangan gue.
Karena belum cukup puas buat ngejain dia, gue pegang lehernya lagi beberapa kali sampai dia berdiri dan berusaha ngejauh dari gue tapi gue tahan biar gue tetep bisa ngilikitik dia.
"Reo! Diem ih!! Geli!!" teriak dia berusaha ngejauh dari gue.
"Rasain nih!"
Gue pegang pinggir perutnya yang buat dia makin geli.
Dia tarik tangannya dan buru - buru gue tarik tangan dia sekuat tenaga.
__ADS_1
"Aaa!!"
Ceklek