
Aku terbangun dari tidurku karena suara alarm yang nyaring terdengar di telingaku.
Aku membangunkan tubuh ku dari posisi tidur menjadi posisi duduk.
Aku tak langsung berdiri, melainkan melamun sebentar untuk mengumpulkan segala nyawa yang masih otw di jalan.
"Ra, bangun udah pagi." Panggil mama dari bawah yang sudah menjadi rutinitas setiap paginya.
Aku pun bangun dari dudukku dan melangkah ke arah kamar mandi untuk membersihkan tubuh sebelum berangkat sekolah agar terlehat lebih cantik, ea.
Tak butuh waktu yang lama bagi ku untuk menghabiskan waktu di dalam kamar mandi. Mungkin sekitar tiga puluh menit, aku selesai dari mandiku.
Aku juga telah memakai seragam khas sekolah ku di dalam kamar mandi. Kini giliran aku untuk memoles sedikit wajahku.
Aku memakaikan lipbalm di bibir tipis ku, namun sebelumnya aku juga memakaikan sedikit bedak bayi.
Tak lupa, parfume favorit ku yang sudah aku pakai dari aku masih kecil. Ya, kparfume bayi.
"Ra!! Ayo cepetan dandannya! Kita ambil hp lo pagi - pagi biar nggak telat ke sekolahnya!" teriak seseorang dari bawah, siapa lagi kalau bukan kak Leo.
Ohiya, kemarin kak Leo sudah melacak keberadaan hpku. Dia berada di sebuah perumahan elite yang tak kalah elitenya dari perumahanku dan juga si pemilik rumah yang memegang hpku ini adalah pemilik dari perumahannya itu sendiri.
Aku jadi sangat ragu untuk mengambilnya. Tapi jika bukan karena foto - foto dan dokumen pribadiku, aku akan mengikhlaskannya lahir dan batin.
"Iya ini aku udah beres kok." Jawabku.
Aku pun mengambil tas sekolahku dan langsung pergi keluar kamar lalu membuntuti kakak ku yang sudah jalan kebawah terlebih dahulu.
Tercium sangat menyengat aroma khas dari nasi goreng. Dan sudah tertebak bahwa mama sedang memaasak nasi goreng bersama bibi.
"Eh, tumben jam segini udah pada siap." Sambut mama.
"Sebelum ke sekolah, kita mau ngambil handphone Rira yang ada di rumah orang, jadinya kita berangkat lebih pagi." Jelas kak Leo.
"Owh, gitu. Yaudah pada sarapan dulu ayok." Ajak mama. Aku dan kak Leo pun langsung pergi duduk di meja makan.
"Ma, Selain nasi goreng ada apa lagi?" tanyaku.
__ADS_1
"Bibi masakin tempe orek." Jawab mama sambil memberikan dua piring nasi goreng yang sudah di lengkapi oleh tempe orek.
"Anak - anak kamu pada aneh ya, Kak. Nasi goreng aja masih harus di temenin." Ucap bibi sambil tertawa pelan.
"Ya, udah turunan dari ayahnya begitu, susah di ubah." Balas mama.
Namun, kita yang menjadi sasaran bahan gosipan itu hanya terdiam fokus dengan makanan yang ada.
^^^
"Di sini bener rumahnya?" tanyaku memastikan.
"Iya. Menurut maps di sini udah paling bener." Jawab kak Leo.
Aku menarik nafas sebentar untuk mengatur nafasku. Setelah selesai aku pun melakukan itu kembali.
"Kek mau ketemu jodoh lo pake tarik nafas segala!" seru kak Leo.
"Ih! Aku kan gugup, Kak!" balasku.
"Ya nggak usah lebay juga lah! Udah cepet sana ambil! Udah jam enam lebih tau!"
Karena tidak ingin berdebat panjang dengannya, aku pun segera turun dari mobil dan mendekati rumah yang kak Leo bilang itu.
Aku sempat mencari keberadaan bel rumah untuk memberi tahu mereka kalaudi depan ada tamu.
Namun setelah aku sudah menemukan tombol bel dan hendak menekannya, pintu gerbang utama itu terbuka dengan sendirinya dan memunculkan sebuah mobil yang familiara di dalam benak ku.
Aku menyipitkan mataku sambil mengingat dimana mobil ini pernah ku lihat.
Dan, bukannya maju keluar gerbang, mobil itu malah berhenti dan sang pengemudi mobil pun keluar.
"Rira?"
Aku membelak kaget.
"Eh, kak Satria?"
__ADS_1
"Rira, kamu mau apa ke sini?" tanya kak Satria.
Aku melirik ke arah mobil yang terparkir di sebrang jalan kemudian melirik kembali ke arah kak Satria.
"Em.., anu Kak. Kakak ada nyimpen hp aku?" tanya ku sedikit ragu.
"Oh. Haha, iya. Hp kamu kemarin ketinggalan di mobil dan udah jauh banget buat balik lagi ke rumah kamu. Nih aku balikin." Jawab kak Satria sambil memberikan handphoneku.
Aku tersenyum senang dan membawa handphonenya dari genggaman kak Satria.
"Sebegitu cintanya ya sama hp sampai senyum - senyum segala?"
"Eh, hehe nggak kok. Seneng aja hp ku bisa balik lagi. Btw, makasih banyak ya, Kak." Ucapku.
"Iya sama - sama. Mau bareng?" tawarnya.
"Ah, nggak Kak, aku sama kakak ku." Tolakku sambil menunjuk mobil kak Leo yang masih setia menunggu di sebrang jalan.
"Oh, yaudah kalo gitu, aku masuk mobil ya?"
"Eh iya Kak. Aku juga mau berangkat kok. Makasih sekali lagi Kak. Assalammu`alaikum." Pamitku.
"Iya sama - sama. Wa`alaikumsalam." Jawab kak Satria.
Aku pun membalikan badan ku kemudian menyebrang jalan dan masuk ke dalam mobil kak Leo.
"Siapa itu, Ra?" tanya kak Leo.
"Itu ketua osis, masa kakak nggak tau?"
"Oh, si Satria Satria itu?" tanya kakak kembali, aku mengangguk.
"Yang playboy?" aku langsung melirik.
"Aku nggak tahu dan nggak peduli." Jawabku singkat. "Yang aku tahu dia ketua osis."
"Iye, iye."
__ADS_1
Kak Leo pun menyalakan mesin mobil dan memutar arah untuk segera berangkat ke sekolahan.