Cold Boy

Cold Boy
Dua Puluh Sembilan


__ADS_3

Serira


Aku berguling ke sana kemari mencoba untuk mengurangi rasa sakit yang terus melilit di perutku.


Aku tak bisa menyangka kalau nyeri haid ini sangatlah dasyat melebihi sakit jantung.


Sepertinya ketika aku melihat Kani, dia enjoy menjalani hari - harinya dengan tenang walau mungkin terasa sakit.


Aku sudah tak bisa berfikir apa yang akan aku lakukan sekarang.


Bangun saja rasanya sangat tidak bisa, apalagi berjalan.


Mama sudah menawarkanku untuk pergi ke dokter, tapi aku pikir ini wajar untuk hari pertama haid. Apalagi aku pertama dalam sejarah hidupku.


Kani juga sempat menanyakan kabarku melalui WhatsApp dan hanya aku jawab seperlunya karena aku juga tidak tahan dengan rasa sakitnya.


Tok tok tok


"Masuk." Jawabku ketika ada yang mengetuk pintu.


Pintu terbuka pelan dan menunjukkan ada bibi di sana.


Aku membenarkan posisiku menjadi duduk agar bibi juga dapat duduk di ranjangku.


"Masih sakit banget, Ra?" tanya bibi, aku mengangguk sambil cemberut.


"Nih kompres pake ini, anget." Ucap bibi sambil memberikanku seperti sebuah bantal yang terasa sangat hangat.


"Makasih, Bibi."


"Iya, kamu mau makan apa? Coklat? atau mungkin camilan?" tawar bibi.


"Aku mau yang pedes pedes, Bi. Boleh?" pintaku dengan muka memelas.


"Boleh dong. Kamu mau apa? Baso? Seblak? Atau apa?" tanya bibi kembali.


"Baso boleh, Bi. Tapi aku mau mukbang, jadi pesenin yang banyak ya!"  seruku.


"Iya keponakanku sayang. Tunggu ya, bibi beli dulu." Jawab bibi yang bangkit dari duduknya dan berjalan kearah pintu.


"Makasih Bibi!"


"Iya, sama - sama." Jawab bibi yang langsung pergi keluar kamar.


Aku tersenyum senang dan menyandarkan badanku tenang.


Aku menarik nafas dan mengeluarkannya lagi secara perlahan.


Tak seperti dulu yang selalu susah karena keterbatasan uang.


^^^


Reo


Seperti yang di bilang mama tadi, tante - tante sahabat mama dari jaman sma itu datang lebih cepet dari pada yang di rencanakan.


Gue cuman diem sambil sesekali nanggapin obrolan ibu - ibu rempong itu.


Dari semut sampai gajah mereka obrolin. Sumpah nggak ada sama sekali yang gue pahamin.

__ADS_1


"Eh jangan salah! Gitu - gitu juga mantan Camila! Hahaha!" teriak tante Bianca yang kayak merdeka banget ketawanya.


"Ohiya! Shawn Putra, mantan dari Camila Putri, Hahaha!" sambung mama yang ikut - ikutan. Gue yakin udah ketularan sih.


"Eh mana ada! Nama gue nggak pake Putri ya!" bela tante Camila.


"Adain lah!"


"Eh jangan gitu, suaminya denger abis kita!" ucap mama taubat.


"Iya ya. Nggak orangnya, nggak suaminya dingin semua! Untuk anaknya nggak. Eh, calon mantunya juga dingin deng, hahaha!" ejek tante Bianca.


"Eh! Ke gue juga dong ngehinanya! Buengsyet!"


"Hahaha."


Gue mencoba untuk memejamkan mata gue yang udah bosen denger celotehan mereka.


Baru aja beberapa detik gue pejam, tiba - tiba kebuka lagi gara - gara ketawa mereka yang bener - bener menggelegar di kuping gue.


"Ma..," panggil gue.


"Kenapa, Re?" jawab mama.


"Rio ada di luar?" tanya gue.


"Iya ada, kenapa?"


"Reo mau ke taman sama Rio." Pinta gue.


"Kenapa nggak sama mama aja, Re?"


"Bentar mama panggil dulu Rionya." Ucap mama yang langsung pergi keluar ruangan.


"Masih sakit banget nggak, Reo?" tanya tante Camila. Aku menoleh lalu tersenyum.


"Nggak terlalu kok tante, udah mendingan juga." Jawab gue seadanya.


"Kalo sakit bilang ya, Re. Takutnya ada kenapa - napa." Ucap tante Bianca.


"Iya tante, makasih."


Mama masuk lagi keruangan gue bersama Rio yang udah bawa kursi roda.


Dia parkirin kursi rodanya deket kasur gue dan membantu gue buat duduk di kursi roda itu.


"Pelan pelan." Ucap mama.


Gue merangkul diri gue ke Rio dan perlahan turun dari kasur menuju kursi roda.


Rio nahan gue dan perlahan dudukin gue ke kursi roda.


"Alhamdulillah." Ucap semua wanita.


"Reo ke taman dulu, Ma, Tan." Pamit gue.


"Iya iya Reo hati - hati," jawab mereka.


Gue dan Rio pun keluar dari ruangan inap dan berjalan menuju lift.

__ADS_1


"Lo kok keluar? Mereka kan ke sini buat nengok lo." Tanya Rio sambil mendorong kursi roda yang gue taikin.


"Coba lo rasain sendiri gimana rasanya di dalam sana sama ibu - ibu rempong begitu." Jawab gue.


Rio nganggukin kepalanya seolah udah tahu kayak gimana.


Karena selama delapan belas tahun ini mereka sahabat yang nggak pernah terputus, nggak ada alasan mereka nggak bawel kayak sekarang.


Kadang gue juga sempet denger cerita mereka, kalo mama gue itu sebelum di jodohin sama ayah gue, dia pernah suka sama seseorang yang notabennya itu sahabat mama.


Gue juga ngedenger ada salah satu sahabat mereka yang meninggal bunuh diri, dan itu adalah pacar dari om Farel.


Dari sana gue bisa simpulin alasan kenapa om Farel nggak mau nikah.


"Leo bilang Serira nggak masuk sekolah gara - gara sakit." Ucap Rio ngebuka obrolan pas kita udah ada di halaman taman.


"Sakit apa?" tanya gue.


"Cewek."


Gue mengangguk paham dengan jawaban itu. Penyakit yang hanya di derita cewek.


"Dia tapi belum tahu kalo lo kecelakaan abis nganter dia." Ucap Rio lagi.


Gue melirik ke arahnya dan di tatap balik.


"Nggak usah di kasih tahu." Jawab gue. Rio mengangguk lalu melanjutkan perjalanan.


"Gue juga asalnya nggak mau ngasih tau siapa - siapa, terutama Ririn. Tapi mustahil sih, jadi pasti tahu sendiri juga. Anak - anak sekolah juga pasti pada tahu dari Leo." Jelas Rio.


Emang tuh anak baing gosip.


"Gue juga kemaren udah kaget kalo lo udah mati."


"Hahaha!!"


Rio ngelihatin gue ketawa dengan wajah lugu yang bertanya - tanya. Sedangkan gue? Ketawa atas kebegoannya.


"Cepet banget lo nyimpulin gue mati." Ucap gue.


"Eh! Seriusan gue! Udah panik banget gue. Paling takut lagi kalo lo mati, ntar gue yang kehantuin."


"Mitos dari mana lagi lo dapetin itu?" tanya gue sambil terkekeh.


"Bukan mitos! Itu udah di alamin banyak umat di dunia ini yang punya kembaran tapi mati satu!" seru Rio yangbuat gue makin terkekeh.


"**** banget lo, dasar."


"Ck! Gini - gini juga pinter geografi!"


"Tau pinter geografi, masuk ipa! Pembodohan itu namanya." Ejek gue.


"Pinter lah! Gue mempelajari pelajaran yang belum gue bisa, yaitu ipa." Jawab dia penuh percaya diri.


Gue muterin mata gue udah males nanggapin hal ini.


"Bener dong gue?!"


"Iya bener! Lo bakal berhasil dengan jurusan dokter gografi!" sentak gue biar dia puas.

__ADS_1


__ADS_2