Cold Boy

Cold Boy
Tiga Puluh Satu


__ADS_3

Serira


"Rira! Pelan - pelan! Jangan lari - larian di rumah sakit!" teriak Kani sambil berusaha mengejarku.


"Kamu jangan teriak - teriak di rumah sakit, Kani!" balasku dengan berhenti berlari namun menjadi jalan cepat.


"Reo nggak kenapa - kenapa ya ampun, Rira! Nggak usah lebay deh!" Seru Kani.


"Kalo nggak kenapa - kenapa ngapain masuk rumah sakit, Kani?" tanya ku berbalik badan.


"Ck, kamu itu--"


"Udah ah aku mau masuk duluan." Ucap ku sambil memegang gagang pintu.


"Eh! Nggak sopan banget sih! Ketuk dulu lah!" sentak Kani, aku terkekeh pelan.


Tok tok tok


Tak ada sautan.


"Tuh kan, nggak ada yang jawab." Ucap ku.


Kani pun mencoba untuk mengetuk pintu lagi dan dengan kompak kami menempelkan kuping ke pintu agar respon dari dalam ruangan lebih terdengar.


"Aaaaa!"


Aku langsung membuka mataku lebar - lebar kepada Kani.


Tanpa menunggu respon Kani, aku langsung membuka pintu ruangan itu dan membukanya lebar - lebar.


Aku mencari keberadaan seseorang yang baru saja berteriak. Terdengar seperti suara perempuan.


Dan ketika aku melihat ke arah ranjang pasien, aku melihat seorang laki - laki dengan perempuan tidur saling menimpa di atas ranjang pasien itu.


Yang paling mengejutkan lagi, orang itu adalah Kak Reo dengan Kak Ririn.


Mereka refleks melihat ke arah aku dan Kani yang baru saja tiba.


Kani menarik tanganku dengan sedikit merasa tak enak kepada Kak Reo dan Kak Ririn.


"Eh, maaf Kak."


Aku masih melihat mereka yang sudah berubah posisi sambil di tarik paksa oleh Kani.


"Ayo, Rira! Keluar!" ajak Kani menyadarkan ku.


Aku berbalik badan ke arah Kani dan hendak melangkahkan kaki keluar ruangan.


"Rira!"


Aku menoleh atas panggilan suara berat itu.


"Lo mau kemana?" tanya Kak Reo menatap mataku lekat.


Aku berusaha menampilkan wajah tegar dengan membentuk senyuman di wajah pucat ku.


"Aku udah nggak sopan masuk ke sini tanpa izin. Maaf ya, Kak. Aku permisi," pamitku mengajak Kani pergi.


"Jangan pergi!" teriak Kak Reo menghentikan kembali langkahku.


"Lo tetap di sini." Pinta Kak Reo.

__ADS_1


Aku menatap Kani berusaha meminta bantuan agar bisa segera pergi dari sini.


"Rira lagi sakit. Kita kesini sekalian lewat doang. Maaf udah ganggu." Jelas Kani langsung membawa ku pergi dan menutup pintu kembali.


Aku berjalan dengan tangan yang di tarik oleh Kani.


Aku sudah tidak kuat dengan air mata yang sudah ku tahan dari tadi.


Aku mengeluarkan semuanya dengan hati yang terasa sesak.


Kani langsung berhenti berjalan ketika mendengar isakkan tangisku.


"Jangan nangisin dia, Rira. Nggak bakal buat nasib kamu berubah!" seru Kani.


Bukannya berhenti, tapi aku malah makin mengeraskan tangisanku dan buru - buru Kani memeluk ku agar aku bisa puas menangis di pelukannya.


"Aku, Kani aku..,"


"Udah, Rira. Tenangin dulu diri kamu ya." Ucap Kani sambil menepuk - nepuk pungguku.


"Kani, emang udah seharusnya ya aku nyerah?" tanya ku dengan penuh kecewa.


Tak ada jawaban setelah itu.


Kani hanya diam sambil mengelus - elus punggungku sesekali.


"Lo nggak boleh nyerah. Gue udah suka sama lo."


Aku terdiam ketika mendengar suara dan perkataan itu.


Kani perlahan melepaskan pelukanku dan tersenyum.


Aku membalikan badanku dan melihat Kak Reo di kursi roda dengan Kak Ririn yang mendorongnya.


"Rira, dengerin Reo dulu ya?" ujar Ka Ririn tersenyum padaku.


Aku berusaha membalas senyumannya walau terasa sakit.


"Mana tangan lo?" tanya Kak Reo.


Aku mengulurkan tangan kanan ku tanpa berfikir panjang.


Kak Reo menerima tangan ku dan melihat wajah ku.


"Lo udah ngejar gue walau gue terus - terusan lari. Sekarang gue udah berhenti dan berbalik ke arah lo, masa lo mau puter balik?"


Reo


Setelah gue ngucapin itu, Rira malah bengong liatin gue.


Gue sendiri nggak tau sama omongan gue, apa ada yang salah?


Kaku, emang gue kaku.


Ini pertama kalinya gue suka dan ngungkapin perasaan gue ke cewek.


Gue nggak punya pengalaman buat ngungkapin perasan, dan gue fikir, ini tepat.


"Kenapa bengong?" tanya gue yang udah bosen liat dia diem aja dari tadi.


Hening, masih nggak ada jawaban.

__ADS_1


"Ra!" panggil Kani ngebantu gue buat nyadarin dia.


"Ha?" jawab Rira.


"Itu respon!"


Rira ngelirik ke arah gue dengan wajah yang udah memerah.


"Aku harus respon apa?" tanya Rira polos. Dan anehnya gue suka dan malah terkekeh.


"Lo cukup diem, biar gue yang ngejar lo." Jelas gue. Rira tersenyum malu sambil nundukkin wajahnya.


"Tadi itu gue lagi bercanda sama Ririn, nggak kayak yang lo pikirin." Jelas gue kembali.


"Iya, Kak." Jawab Rira.


"Ekhm, Kani, temenin kakak ke bawah yuk?" ajak Ririn ke Kani.


"Ayok, Ka. Ra, aku tinggal dulu ya." Jawab Kani sambil pamit.


"Eh, Kan--"


"Bye."


Gue melihat muka panik Rira yang merah dan justru buat gue makin tertarik.


"Kenapa?" tanya gue.


"Emm, Kakak mending aku anter ke kamar ya? Kakak pasti sakit kalo duduk terus." Tawar Rira sambil berjalan ke belakang gue.


"Gue nggak sakit kok." Jawab gue.


"Iya tapi kan pasti nggak enak, Kak." Balas Rira.


Walau gue menolak, tetap aja Rira dorong kursi roda gue menuju kamar rawat.


"Gue jenuh terus - terusan diem di kamar." Ucap gue.


"Kakak kan di jahit? Harusnya kalau di jahit Kakak diem di kamar. Kalau jahitannya udah kering baru Kakak bisa keluar kamar." Jawab Rira yang terus dorong kursi roda gue menuju kamar.


"Gue di kamar sama di luar sama aja, diem doang." Jelas gue.


"Iya tuh kan sama, kalau sama mening diem aja di kamar kan lebih enak." Balas Rira.


"Beda, Ra. Kalau di kamar nggak ada yang seger di pandang." Bela gue.


"Kesehatan Kakak lebih penting!"


Gue terkekeh dengan perdebatan ini.


Gue memilih diam dan mengalah biar nggak terus mancing emosi dia.


"Eh, aku ngomongnya terlalu kasar ya, Kak?" tanya Rira.


"Enggak. Gue cuman mengalah." Jawab gue.


"Maaf ya, Kak, kalau aku marah - marah ke Kakak." Ucap Rira lagi sambil memelankan perjalanan.


"Gue maklumin kok." Jawab gue.


Nggak lama dari itu, gue sampai di ruangan gue dan masuk ke dalamnya.

__ADS_1


__ADS_2