
Reo turun dari tangga dan melangkahkan kakinya mendekati meja makan yang sudah di isi oleh keluarga kecilnya itu.
"Bener udah sembuh, Re?" tanya Putra kepada anak tunggalnya.
"Udah, Yah." Jawab Reo sambil menarik kursinya dan duduk di kursi tersebut.
"Tenang, Yah. Udah punya pacar, bakal di jagain." Goda Rio sambil melirik ke arah Reo yang sedandg mengoleskan selai coklat ke roti.
"Sirik lo?" tanya tajam Reo membuat mimik muka Rio berubah.
"Haha, cari pacar makanya." Ujar Putra yang terhibur melihat tingkah kedua putranya.
"Ada apa ini, kayaknya rame banget." Ucap Jessica yang baru saja bergabung bersama keluarganya itu sambil membawa dua gelas berisikan susu putih.
"Anak kita udah pada jatuh cinta nih!" seru Putra, Jessica terkekeh pelan.
"Mau ujian bukannya fokus belajar malah cinta - cintaan." Nyinyir Jessica.
"Reo tuh, Ma!" adu Rio sambil tertawa.
"Reo! Diajarin siapa kamu!" seru Jessica dengan nada bercanda.
Semua langsung tertawa kecuali Reo yang tak memperdulikan dirinya yang dijadikan sebagai bahan candaan.
"Udah makan - makan, kalian harus ikut ujian kan sekarang?" tanya Putra yagn ikut mengoleskan selai ke roti.
"Iya, Yah." Jawab Rio.
"Semoga kalian di lancarin ya." Ucap Jessica mendo`akan.
"Aamiin." Balas Reo dan Rio serempak.
^^^
"Kakak! Lama banget ih!" ketus Rira sambil melipat tangannya di teras rumah.
"Bawel banget sih! Bentar dulu! Nih gue belom apal teori phytagoras!" balas Leo dari dalam rumah.
"Ya ampun pelajaran anak sd! Cepetan nggak?! Kalo nggak aku jungkir balikiin nih motor!" ancam Rira yang membuat Leo keluar dari dalam rumahnya.
"Subhanallah banget sih gue punya adik!"
"Cepetan! Dah telat tahu! Masih sempet aja buat ngapalin!" cerca Rira sambil memakai helm yang di berikan oleh Leo.
"Lagian kenapa sih lo masih sekolah pas gue ujian!" ketus Leo yang juga ikut memakai helm.
"Tanyain ke guru, jangan ke aku! Aku cuman murid biasa." Jawab Rira.
"Lo kan osis, nggak guna banget tinggal nanya doang." Saran Leo.
"Ih! Banyak protes! Udah cepetan jalan!" seru Rira yang baru saja naik ke atas motor.
"Pegangan." Titah Leo. Rira pun memeluk pinggang Leo.
__ADS_1
Tak lama dari itu, motor pun Leo lajukan untuk pergi ke sekolahan mereka.
^^^
"Wiss! Mantep! Panutan kita sekolah!" seru Exel sambil merangkul teman sebangkunya, Reo.
"Ya."
"Beh! Cueknya juga masih ada bro!" sambung Tio.
"Jan banyak bacot dah! Bentar lagi ujian kita di mulai neh!" cerca Vans yang kini sedang menenteng kartu pesertanya.
"Tumben lo peduli." Ejek Johan.
"Yeh, gue lagi taubat kan."
"Dah lah, ayo ke labkom." Ajak Reo sambil jalan mendahului mereka.
Para cogan itu pun ikut menyusul Reo yang kini sudah berjalan terlebih dahulu.
"Ra!" panggil seseorang menghentikan langkah Reo.
"Kenapa, Kak?" tanya Serira begitu Satria sudah di hadapannya.
"Tolong lo umumin sama anak osis lainnya buat ngebubarin anak kelas sepuluh sama sebelas ya. Mereka juga di liburin selama satu minggu ini, dan minggu depan baru masuk lagi." Titah Satria.
"Oh gitu, Kak, yaudah aku umumin sekarang." Ucap Rira bergegas pergi dari sana.
"Kenapa, Kak?"
"Anak osis jangan dulu pada pulang, mereka ngumpul dulu sampai gue beres TO ya?"
Rira langsung mengerutkan alisnya. "Ngapain?"
"Kita mau bahas tentang anggota yang jarang kumpulan." Jelas Satria, Rira semakin mengerutkan alisnya.
"Kakak kan lagi ujian, mending kakak nggak usah ngurus dulu anggota osis. Sekalian juga ngeistirahatin para anggota soalnya dari kemaren kita kumpulan terus, Kak." Balas Rira dengan sedikit kesal.
"Oh, bener juga ya. Makasih atas perhatiannya. Lo emang udah cocok banget buat jadi ketua osis selanjutnya." Puji Satria dengan menunjukan senyuman manisnya.
"Aku pengertian ke anggota osis kok, bukan ke kakak."
"BWAHAHAHA." Teriak teman - teman Reo yang masih memperhatikan perbincangan antara Rira dengan Satria itu.
Rira yang terkejut melihat ke arah Reo cs dan tersenyum saat melihat Reo di sana.
Ia hendak menghampiri Reo namun dengan tiba - tiba, Satria menahan tangannya.
"Yaudah cepet sekarang umumin ke anak kelas sepuluh sama sebelas buat bubar." Titah Satria. Serira menarik tangannya dan mengangguk, lalu pergi meninggalkannya untuk mengumumkan apa yang baru di perintahkan.
^^^
"Yes, Ra! Kita libur satu minggu!" seru Kani senang.
__ADS_1
"Hm." Jawab Serira yang terelihat tidak bersemangat.
"Kamu kok nggak semangat gitu, Ra?" tanya Kani, Rira menghembuskan nafasnya kasar.
"Baru aja kak Reo masuk sekolah, eh akunya yang nggak sekolah." Keluh Rira sambil memanyunkan bibirnya.
Begitu Rira mengumumkan para murid untuk pulang ke rumah masing - masing dan libur selama satu minggu, Kani memutuskan untuk mengajak Rira ke cafe terlebih dulu sebelum pulang ke rumah.
"Yaelah, nggak sekolah bukan berarti nggak ketemu kali." Ucap Kani sambil menyuapkan kue red valvet yang baru saja ia pesan itu.
"Ya kan nggak enak ketemunya di rumah kak Reo terus. Tante Jessica pasti bosen nyambut aku terus." Keluh Rira kembali.
"Jangan salah paham dulu. Tante Jessica tuh suka sama anak cewek loh! Sapa tau sebenernya dia seneng kedatengan kamu terus!" seru Kani berusaha menyemangati Rira.
"Beneran?" tanya Rira tak percaya.
"Eh, percaya deh sama aku. Apa lagi sekarang tante Jessica lagi hamil, kan makin terbantu kalo ada kamu!" seru Kani kembali.
Rira nambang mengimbang - imbangi sesuatu yang janggal. Takutnya yang di katakan oleh Kani ini tidak sesuai dengan faktanya.
^^^
"Jes, Kamu tetep jadi mau jodohin anak kita?" tanya Camila yang baru saja melakukan cek up bersama ke bidan langganan mereka.
"Menurut kamu gimana, Ca?" tanya balik Jessica. "Mungkin aku jadi ngejodohinnya sama Rio, karena Reo juga udah punya pacar." Sambungnya.
"Jess, Ririn nggak mau kalo sampai dia nikah sama Rio. Ririn bilang juga kalau Rio itu sekedar suka sama dia, bukan cinta. Ririn bisa liat jelas siapa sebenernya cintanya Rio." Jelas Camila menatap serius Jessica.
Jessica pun menundukan kepalanya kecewa.
"Jadi batal nih?" tanya Jessica sedikit kecewa, namun Camila malah tertawa pelan.
"Anak kita yang di kandungan nggak ada niatan buat di kenalin ya?" tanya Camila dengan sedikit bercanda.
"Anak kamu cowok, Ca?" tanya balik Jessica dengan serius. Camila tersenyum sambil mengangguk.
"Serius?!"
Lagi - lagi Camila mengangguk.
"Syukurlah!" ucap Jessica sambil menghamburkan pelukan ke Camila.
"Eh tapi nggak kelamaan ya kalo nunggu lagi?" tanya Jessica tak sabar.
"Mau gimana lagi, Jess. Anak kamu dua - duanya udah punya cewek." Nyinyir Camila, mereka terkekeh bersama.
"Maaf ya, aku nggak tau perkembangan mereka sendiri." Ucap Jessica kecewa.
"Kalo perlu anak kita yang sekarang ini di jodohinnya pas mereka lagi sekolah aja, Ca! Biar nggak ketikung!" seru Jessica. Camila mengerutkan dahinya.
"Serius mau kayak gitu?" tanya Camila memastikan. Jessica pun mengangguk mantap.
"Yaudah kita lihat nanti ya, Jess." Jawab Camila yang mengukirkan senyuman di wajah Jessica.
__ADS_1