Cold Boy

Cold Boy
Lima Puluh


__ADS_3

Reo memasukan segala perlengkapan sekolahnya ke dalam tas.


Setelah selesai melakukan semua itu, ia pun keluar dari kamar dan turun ke bawah dimana tempat biasa keluarganya berkumpul.


"Rio!" panggil Jessica nggak kalem.


"Iya, Mama. Bentar bawa hp dulu ketinggalan." Balas Rio dari kamarnya, Jessica menghembuskan nafas sabar.


"Reo aja yang bantu, Ma." Ucap Reo menawarkan diri.


"Kamu parut wortelnya pelan - pelan, jangan terlalu cepet ntar ke gores." Titah Jessica sambil memberikan beberapa buah wortel dan paruta.


"Cuci tangan dulu!"


"Iya ini mau." Balas Reo sambil berjalan ke arah wastafel.


"Bantu apa, Ma." Ucap Rio datang ke dapur.


"Kamu bikin sayurnya. Mama nunggu di meja makan." Jelas Jessica meninggalkan dapur.


Rio mengangguk paham dan langsung mengambil alih tugas sang mama.


"Ini parut wortel buat apa?" tanya Rio melihat kegiatan Reo.


"Nggak tau mama." Jawab Reo.


Rio pun melihat ke arah meja yang disana terletak beberapa butir telur dengan mangkuk dan mengocoknya.


"Oh, omlet."


Rio kemudian memotong bawang dan juga beberapa cabai di talenan, lalu menumisnya di ikuti dengan sayur yang akan dia masak.


Sedangkan Reo sangat asyik memarut wortel.


"Abis marut ini apa lagi?" tanya Reo.


"Potong daun bawang." Titah Rio, Reo pun langsung melaksanakan perintah Rio.


Dia mengukur singkat harus segimana kah besar daun bawang untuk omlet itu.


Rio yang melihatnya sedikiter kekeh karena pasalnya Reo ini jarang sekali membatu dia ataupun ibunya bermasak di dapur.


"Sedeng aja, Re. Nggak usah kegedean." Ujar Rio sambil menutup panci yang ia gunakan tadi.


"Segini?" tanya Reo, Rio mengangguk.


Jessica yang melihat kerja sama antara kakak beradik itu di buat senang karena selama sepanjang hidupnya, ia jarang sekali melihat anak kembarnya ini bertengkar.


Ia sangat berharap ketika ia pergi nanti mereka akan tetap bersama dan selalu bersama bagaimana pun ke adaannya.


^^^


"Kani! Makan dulu sini ih kamu ngebluk mulu di kamar!" teriak Bianca dari arah dapur.


"Iya, Maaaa." Balas Kani.


"Iya, Maaaa, tapi dateng nggak." Ledek Bianca kesal.


Jeri yang melihatnya sangat gemas lalu menghampiri istrinya yang sedang memasak.


"Kamu marah - marah terus ih! Ntar tambah cantik loh!" goda Jeri.


"Brisik ah, Pa! Aku lagi kesel nih!" seru Bianca.

__ADS_1


"Eh! Nggak boleh loh ngebentak ke suami! Dosa!" balas Jeri yang membuat Bianca jadi merinding.


"Kamu mah! Nakut - nakutin aku mulu!" Kani langsung mencubit pelan perut Jeri yang membuat Jeri meringis.


"Ih! Main cubit - cubitan!" seru Jeri.


"Bodo amat!" ketus Bianca.


"Ih, udah punya anak satu aja masih suka ngambekan." Nyinyir Jeri sambil menoel dagu Bianca.


"Diem!! Lagi masak ntar gagal!" sentak Bianca.


"Ya ampun, kalem aja kali."


"Udah sana duduk aja! Ngeganggu banget!" seru Bianca membuat Jeri kembali ke tempat asalnya.


"Udah beres masaknya, Ma?" tanya Kani bersama Serira yang baru saja turun dari kamarnya.


"Belum."


"Loh? Kok tumben lama." Tanya Kani sambil menghampiri ibunya untuk ikut membantu.


"Tuh! Papa kamu nggak pernah bener kalo mama lagi masak!" Nyinyir Bianca sambil menunjuk ke arah suaminya yang sedang berduduk tenang di sofa ruang keluarga.


Kani yang sudah sangat terbiasa dengan perilaku ke kanak - kanakan kedua orang tuanga ini hanya menggelengkan kepala.


"Nih, tinggal di angkat abis itu kamu makan sama Serira ya." Titah Bianca menyerahkan tugasnya ke Kani.


"Loh, mama mau berangkat kerja lagi?" tanya Kani.


"Iya, Sayang. Mama bakal berangkat sekarang sama Papa." Jelas Bianca.


"Mama udah sarapan?" tanya Kani kembali.


"Udah dong! Makanya jangan terlalu betah di kamar! Kali - kali kalian main keluar, Papa bakal kirim uang ke atm kamu, ya. Have fun! Bye." Jelas Bianca sekali lagi sambil pamit pergi.


"Eh iya. Assalamualaikum, Sayang." Ucap Bianca.


"Wa'alaikumsalam, Ma." Jawab Kani bersama Serira berbarengan.


"Dah nih, Ra. Yuk makan." Ajak Kani membawa makanannya menuju meja makan.


"Kuy."


Serira dan Kani pun duduk di meja makan dan memakan sarapan nya berupa nasi goreng.


Mereka menyantap makanan itu dengan tenang sampai akhirnya selesai.


"Papa aku ngasih uang buat kita main, kamu mau main kemana, Ra?" tawar Kani.


"Jangan tanya aku ah, kamu sendiri yang nentuin, kan kamu yang bayar." Jawab Serira yang tidak di harapkan oleh Kani.


"Kalau tahu juga aku nggk bakal nanya, Ra." Ucap Kani, Serira menyengir kuda.


"Yaudah, kalo gitu kita jalan - jalan di mall aja sambil main time zone nya, lumayan lah, have fun dikit." Ujar Kani yang langsung di setujui oleh Serira.


"Bener banget!" seru Serira senang.


"Eh, gimana kalau kita ajak Vania sama Fanya." Ujar Kani kembali, Serira membelakan matanya.


"Ide bagus tuh, Kan! Mereka juga kan kalau kemana - mana suka berdua kayak kita. Kalau kita ajak mereka juga nggak ada salahnya." Balas Serira yang langsung menyetujui pendapat Kani.


"Oke, sekarang aku hubungin mereka dulu." Kani pun mengeluarkan ponselnya dari saku dan mencari nomor Vania dan Fanya melalui grup kelas.

__ADS_1


^^^


"Seriusan lu, Nyet!" seru Vans yang tidak percaya dengan apa yang baru saja Johan ceritakan.


"Masa gue bohong! Jelas - jelas si Rira itu orangnya nggak suka bohong. Apalagi kalau keceplosan gitu, yekan, Re?" Jelas Johan sambil memberi bukti, Reo yang di tanya pun hanya mengangguk singkat.


"Tuh!"


"Wedeh! Saling menyukai dalam diam nih ceritanya?" nyinyir Exel.


"Mantap bener dah! Kira - kira kalau gue suka sama cewek gitu juga nggak ya?" tanya Tio entah kepada siapa.


"Ah! Nggak bakal! Kita nggak segolongan." Jawab Vans sombong membuat Tio muak melihatnya.


"Sombong lu, Nyet!"


"Jadi bakal lo tembak?" tanya Reo, Vans terlihat berfikir keras.


"Kayaknya gue nggak bakal pacaran sama dia deh." Jawab Vans membuat semua teman - temannya merasa kebingungan.


"Kok gitu, Nyet?"


Vans menatap Exel yang bertanya tanpa sopan santun kepadanya.


"Gini. Sekarang kan lagi zaman banget tuh hubungan tanpa status, jadi mending gue ikutan!" jelas Vans membuat semua temannya menyesal karena telah mendengar semua perkataannya.


"Eh, nggak papa dong! Gue ini yang ngejalanin! Siapa tau jadi sampe nikah kan?!"


"Iye lah, semerdeka lo aja." Ucap Johan menyerah.


"Awas nggak jadi loh! Gue sumpahin nggak dapet yang sebaik Kani." Cercos Exel tajam.


"Jangan gitu, Nyet! Ntar lo yang kena karma." Seru Tio kepada Exel membuat Exel mendengus pelan.


"Kita dukung apapun yang buat lo seneng." Ujar Reo sambil menepuk pelan pundak Vans. Vans pun mengangguk mengerti dengan ucapan yang baru saja teman dekatnya itu katakan.


"Re, Rio mana ya?" tanya seseorang kepada Reo membuat semua orang yang berada di meja itu melirik ke sumber suara.


"Eh, Ririn." Sapa Johan, Ririn tersenyum.


"Kayaknya di perpus, kenapa?" tanya Reo ketus.


"Em, gue mau ngobrol aja sama dia." Jelas Ririn sambil terdengar kaku.


"Ngomong aja." Balas Reo acuh tak acuh.


Ririn yang mendengar jawaban Reo seperti itu membuat dirinya merasa sangat bersalah.


Namun ia tebas perasaan itu karena letak kesalahannya itu adalah bersama Rio, bukan Reo.


"Yaudah, makasih Re. Gue duluan ya." Pamit Ririn.


"Eh, nggak duduk dulu, Rin? Makan - makan gitu?" tawar Exel sambil memberikan bangku yang lowong.


"Nggak usah, Xel, makasih. Lain kali mungkin." Tolak Ririn halus.


"Oh, yaudah hati - hati Rin." Balas Exel yang di terima dengan senyuman singkat dari Ririn.


Ririn pun meninggalkan perkumpulan para cowok itu dan berjalan menuju perpustakaan.


"Ada masalah apa lo sama Ririn?" tanya Johan yang melihat aura aneh yang Reo keluarkan begitu berbicara bersama Ririn.


"Adek gue, gitu lah, agak kesel juga gue bahasnya." Jelas Reo yang sangat di mengerti oleh temannya bahwa dia tidak ingin bercerita.

__ADS_1


"Ini masalah mereka berdua. Yang buat gue kesel karena Rio cerita ke gue, gitu aja." Penjelasan lengkap Reo yang selalu di terima dengan senang hati oleh teman - temannya.


"Kuy cabut!" ajak Vans.


__ADS_2