
Reo
Gue ngabantu ayah buat ngedorong kopernya menuju garasi pesawat.
Jam keberangkatan ayah sekitar satu jam lagi dan semua keluaarga bangsawan yang bakal berangkat pun udah kumpul.
“Re, inget pesen gue!” seru ayah. Gue mengangguk.
“Ri, kamu harus patuh ibu kamu! Tahu kan dia galaknya kayak apa!” seru ayah lagi ngomong ke Rio, dan Rio pun ngebales sama kayak gue, ngangguk doang.
“Jess, jangan terlalu keras sama anak kita ya, kasian mereka masih anak – anak.”
“Duh, Put. Mereka itu udah delapan belas tahun!! Kapan sih kamu bilang mereka semua itu dewasa?!” sentak mama. Ayah terkekeh.
“Pas mereka udah ngelamar lah. Udah ya, ayah pergi. Kalian jaga diri masing – masing!” perintah ayah lagi yang tetep kita jawab pake anggukkan.
Ayah sempet pelukan dulu sama gue dan Rio, juga mama, sampai akhirnya dia masuk ke kepesawat.
Mama ngelirik ke arah gue dan Rio sambil ngelus – elus perutnya.
“Kalian harus nurut sama mama ya! Bantuin mama pekerjaan rumah!” seru mama, gue mengangguk.
“Kenapa nggak pake pelayan kayak di rumah nenek si Mah? Kan jadinya Mama nggak usah cape.” Ucap Rio. Gue mengangguk setuju.
“Katanya kalian tuh mau kuliah di luar negeri! Tapi malah mau nyewa pembantu! Udah kalian aja yang kerja! Ngitung – ngitung irit!” balas mama nggak kalem.
“Yaudah, ayo pulang, Mah, Mama harus istirahat.” Ucap gue sambil ngerangkul tubuh mama.
“Tuh! Kayak Reo dong, Ri! Khawatir ke mama! Kamu mau sewa pembantu pasti cuman alesan! Karena sebenernya kamu nggak mau bantu mama kan?!”
“Ck, udah Mah, nggak usah di perpanjang. Kita pulang.” Tegas gue yang langsung gusur mama biar cepet pulang dari bandara.
~~
“Reo sama Rio sekolah dulu mah.” Pamit gue sambil salam ke mama. “Iya, hati – hati.”
Setelah gue dan Rio pamit ngucapin salam, kita masuk ke dalam mobil dan ngelajuin mobil ke sekolah.
Kali ini gue di suruh buat selalu bareng sama Rio naik mobil. Nggak tahu kenapa, tapi itu salah satu perintah ibu gue, jadi gue turutin aja.
Rio yang nyetir fokus ke jalan dan gue fokus ke hp. Banyak chat dari temen – temen gue yang belum gue buka sama sekali. Karena kalau gue baca juga palingan isinya cuman basa basi nggak jelas.
Nggak lama dari jauhnya perjalanan, gue dan Rio sampai di sekolah tepat waktu. Karena tadi nganter ayah ke bandara jam tiga subuh, masih ada waktu buat kita berangkat sekolah, pastinya.
Gue turun lebih dulu dan ninggalin Rio, kemudian jalan santai masuk ke dalam gedung sekolah.
Gue masih bingung sama cewek – cewek yang kerjaannya ngomongin gue terus. Entah apa faedahnya buat kuping gue kerasa panas pas jalan. Untungnya, hidup gue di sekolah ini cuman tinggal menghitung bulan.
“Re!”
Gue berhenti dari langkah gue dan berbalik ke arah sumber suara. “Apa?”
“Sekarang mau eskul kagak?” tanya Leo, gue ngerutin dahi.
“Sekarang Senin.” Jawab gue.
“Lo nggak liat grup eskul ya? Bakal ada latgab minggu depan, jadi kita harus persiapin dari sekarang.” Jelas Leo.
“Gue nggak bawa baju.”
“Tinggal bawa dulu lah ganteng! Kayak susah amat lo hidup!”
__ADS_1
“Hm.”
Gue langsung balik badan lagi dan ngelanjutin perjalanan gue yang sempat tertunda itu.
“Re!! Reo tunggu gue!”
Leo langsung ngerangkul gue ketika dia udah nyusul langkah gue.
“Gue mau nanya sama lo.”
“Hm.”
“Lo suka cewek nggak?!”
Gue mengangguk.
“Yang cantik, kan?!”
“Hm.”
“Yang langsing, kan?!”
“Hm.”
“Adik kelas, kan?!”
“Hm.”
“Serira, kan?!”
Gue langsung menghentikan langkah gue dan berbalik ke arah Leo.
Gue memutar mata malas. Antara Leo dan Lea sama saja, selalu ngeganggu ketenangan hidup gue.
“Apa mau lo?” tanya gue agar ketenangan gue nggak ke usik lagi.
“Jadiin lo adik ipar gue.”
^^^
Serira
“Nah, kan bagus Ra! Ikutin kata aku! Jangan ngebantah!” seru Kani sambil ngebenerin rambut aku yang tergerai bebas.
“Kan, nggak pede kalo di gerai.” Ucap ku sedikit malu.
“Nggak papa, Rira. Biasanya kan lo di gerai!” jawab Kani. Aku menggeleng.
“Iya, aku sering di gerai. Tapi kalau sambil di kritingin gini jadi jelek!” seru ku tak terima.
“Ya ampun, Rira!! Ini nggak di keritingin ini di gelombangin! Bedain dong, Ce, kriting sama gelombang!”
“Masa rambut aku di samain sama ombak sih! Lurusin lagi ah, Kani!!” rengekku sambil menghentak – hentakkan kaki.
“Udah nggak papa, Rira sayang. Kak Reo bakal suka kok!” ucap Kani meyakinkan ku sambil mendorong aku menuju kantin.
Sangat di sayangkan, pagi ini semua guru melayat ke rumah guru matematika ku yang baru saja di nyatakan meninggal pagi ini. Jadi semua siswa free class di jam pertama sampai istirahat ke dua berlangsung.
Aku di ajak duduk paling pojok, dekat tempat Kak Reo dan teman – temannya berkumpul. Aku sempat menolak tapi tentu saja itu sangat tidak mungkin bisa karena tenaga superhiro Kani mengalahkan siapa pun.
“Tunggu di sini, gue pesen siomay dulu!” seru Kani lalu meninggalkanku sendirian.
__ADS_1
Aku melirik ke kanan kiri melihat orang membicarakan perubahanku.
MALU. Benar – benar malu jika ditanya apa rasanya sekarang. Ini memang sudah gila, tapi demi Kak Reo, aku tidak bisa menolak.
Aku juga melirik ke arah meja Kak Reo.
Di sana ada banyak teman – teman Kak Reo dari kelas ipa dan ips. Ada sebagian dari siswa itu merokok dengan bersembunyi. Ada juga yang sedang bermain handphone, bercanda gurau, dan melamun?
Aku melihat Kak Reo hanya menatap kosong ke arah depan seperti sedang memikirkan sesuatu yang serius. Aku terus memperhatikannya sampai tiba – tiba, mata kita bertemu.
Bukannya beralih, aku justru diam menatap lembut mata tajam itu. Kak Reo pun sama, dia masih terus menatapku sampai akhirnya Kani datang dan menyadarkanku.
“Woi! Ngapain bengong – bengong!”
Aku langsung mengalihkan pandanganku ke Kani dan cepat – cepat menggeleng. “Nggak lagi bengong kok.”
“Ah, masa?! Kok kamu kayak natap lurus ke arah san—“
“Eh, Kan! Ayo di makan siomaynya ntar keburu dingin. Sayang kan kamu udah lama nunggu eh sioamynya nggak enak lagi.” Ajak ku sambil menarik Kani untuk segera duduk dan mengalihkan dia untuk melihat keberadaan Kak Reo.
“Kan, aku malu.” Ucap ku dengan penuh kejujuran.
“Kenapa malu?! Kamu tembus?!”
Dengan gerakakn cepat aku langsung menggeleng.
“Aku nggak lagi pms, masa aku tembus.” Balasku.
“Terus kenapa Serira cantik, imut, lucu, bala – bala, gehu.” Tanya Kani kembali, aku terkekeh dengan ucapan Kani.
“Malah ketawa nih anak!”
“Hehe, aku malu karena rambut aku di gerai, Kani. Biasanya juga kan di ikat kuda.” Jawabku dengan lancar. Kani mengangguk sambil mengunyah siomay yang telah ia lahap itu.
“Gini, Ra. Ini kamu penanpilan gini kan buat Kak Reo. Sebelum Kak Reo bilang kamu cantik, kamu harus terus dandan dan tunjukin kalau kamu itu cantik!” jelas Kani membuatku lelah sendiri.
“Kani, masa iya aku terus – terusan begini! Aku mening tampil seadanya jadi diri sendiri dong!” balas ku dengan seru.
“Aku nggak nyuruh kamu berubah jadi power rangger yah, Ra. Aku cuman ngubah sedikit penampilan kamu biar kamu bisa lebih bagus dari kakak kelas yang udah di tolak mati – matian sama Kak Reo.” Jelas Kani kembali.
“Contohnya?”
“Kak Ayu, Kak Julia, Kak Mesha, Kak Anggun, Kak Bebe, Kak Lessie, Kak Meli, Kak Jane, Kak Fitri, Kak—“
“Cukup Kani!” potong ku dengan kesal.
“Kamu mau bantu aku deket sama orang yang udah nolak tuan putri sekolah itu?!”
Kani memutar matanya malas sambil mengalihkan pandangannya dari ku.
“Percaya diri aja, Ra! Gue tau Kak Reo tuh orang nya suka sama yang sederhana! Kayak Kak Ririn, kamu mungkin?”
“Ih, Kan! Masa iya aku harus ngelawan mereka, nggak bisa dong!” seru ku yang pantang berjuang.
“Belum apa – apa udah nyerah, lemah lo!”
Aku dan Kani dengan refleks mengalihkan pandangan kita ke suara seseorang yang baru saja duduk di sebelah ku.
“Maksudnya?”
“Gue bakal ngebantuin lo buat yakinin dia, kalau dia suka itu suka sama adek semata wayang gue.” Jelas Kak Leo membuat aku tersenyum senang.
__ADS_1