
Hari demi hari telah terjalani.
Ujian Nasional yang dilaksanakan oleh Reo bersama seangkatannya itu telah selesai. Dan kini tinggal menunggu pengumuman kelulusan mereka saja.
Pihak sekolah juga sudah merancang acara perpisahan yang akan dilaksanakan dengan sangat meriah karena perpisahan kali ini bertepatan dengan pergantian kepala sekolah. Sehingga mereka juga ingin mengadakan pesta besar sebelum kepergiannya.
Reo bersama teman-temannya kini sedang merayakan keberhasilan mereka karena telah melakukan ujian dengan jujur tanpa menyontek.
Semua ini atas saran Vans yang bilang kalau mereka menyontek akan sulit jika dipertanyakan karena nilai kita besar padahal itu bukan kemampuan kita sendiri. Jadi mereka lebih memilih untuk menjawab sesuai kemampuan otak agak bisa seimbang dengan pekerjaan yang akan mereka hadapi.
"Lumayan lah, nggak kecil-kecil amat lo, Vans." Ucap Johan yang sudah mengetahui rata-rata nilai Vans.
"Pasti Kani bangga." Goda Exel yang disetujui oleh semua orang.
"Iya lah! Orang Kani sendiri yang buat dia begini." Sambung Tio, Vans mengacungkan jempol setuju.
"Mantepkan cewek." Ujarnya dengan membanggakan diri.
"Itu mah kembali ke orangnya." Balas Reo sambil mengaduk kopi hangatnya.
"Kalau orangnya kayak Exel kan nggak mungkin bisa." Sambung Johan, Exel langsung memutar matanya malas.
"Liat ntar ya, bakal banyak yang naksir ke gue karena gue kaya." Seru Exel tak mau kalah.
"Lah, orang lo udah kaya dari lahir gimana bisa miskin?" tanya Vans.
"Iya, perusahaan udah di seluruh asia kok masih pengen kaya." Sambung Tio.
"Udah ih kalian sirik terus." Balas Exel mulai kesal.
Reo hanya terkekeh pelan dengan tingkah teman-temannya itu. Ia sendari tadi hanya menyimak sambil sesekali menyahut agar keberadaannya dianggap.
"Re, lo jadi kuliah ke Amrik?" tanya Johan, Reo mengangguk.
"Sama si Rio?" tanya Johan kembali.
"Rio bilangnya mau di Indo, jaga Ria." Jawab Reo, Johan mengangguk.
"Kalo Ririn?" tanya Vans.
"Bareng sama Rio." Jawab Reo kembali, semua mengerutkan alis.
"Kok nggak bareng sama lo?" kini giliran Tio bertanya.
"Dia bilang mau bantu-bantu jaga Ria sama Albi, jadi mending di Indo." Jelas Reo.
"Berarti lo sendiri di Ausi?" tanya Exel, Reo mengangguk sambil meminum sedikit kopinya.
"Lah, gue ikut aja deh." Ucap Exel kembali, semua melirik ke arahnya.
"Anak sultan mah di kutub utara juga silahkan." Balas Vans.
"Padang pasir juga boleh." Sambung Johan.
"Ish kalian nih, gue mau jadi temen yang baik. Kali-kali nemenin si Reo kan, toh gue juga sejurusan sama dia." Jelas Exel.
"Iya, nggak ada yang larang." Jawab Reo.
"Nah gitu sip."
"Cabut kuy, gue dah dicariin." Ajak Vans yang langsung bangkit dari duduknya.
"Sama siapa?" tanya Tio.
"Bini lah! Gue mah dah punya." Jawabnya dengan sombong lalu pergi meninggalkan mereka.
Johan ikut bangkit dan membawa jaketnya yang sebelumnya ia kaitkan ke kursi yang ia duduki.
"Gue juga duluan ya." Pamit Johan menepuk pundak Reo karena berada tak jauh darinya.
"Bareng, Jo, gue kan kesini sama lo." Ucap Tio.
"Ayo cepet lah!" serunya. Tio langsung ikut bangkit dan menyusul kepergian Johan setelah berpamitan kepada Reo dan Exel.
__ADS_1
"Skuy, Re." Ajak Exel.
"Duluan aja, gue masih betah." Jawab Reo.
"Eh seriusan?" tanya Exel memastikan. Reo mengangguk singkat.
"Yaudah gue duluan ya."
"Ya, hati-hati." Jawab Reo. Exel melambaikan tangannya lalu pergi dari cafe tersebut.
Reo menyandarkan dirinya ke bangku sambil melirik ke sisi gelas kopi.
Sebenarnya tatapannya memang berada kepada secangkir kopi, namun pikiran Reo sedang menjelajah kesana kemari.
Dia masih ragu dengan keputusannya. Hatinya tidak tenang, tidak merasa nyaman dengan apa yang kini telah ia putuskan.
Tring.
Suara lonceng dari pintu masuk membuat seluruh mata tertuju kesana.
Bukan secara sengaja namun sudah kebiasaan umat kepo terhadap sesuatu hal yang kecil.
Bahkan kini, Reo pun ikut menatap kedatangan seorang gadis dengan baju yang familiar di otaknya.
Hoodie army yang terdapat gambar kartun di tengahnya itu sedang dikenakan oleh seorang gadis yang belum Reo pastikan siapa.
Namun sudah dipastikan jelas bahwa itu adalah hoodie miliknya.
"Saya ingin pesan satu moccacino hangat." Ucap gadis itu yang langsung diterima hangat oleh pelayan toko.
"Take away?" tanya pelayan itu, gadis itu mengangguk.
"Di tunggu kak."
Gadis itu kini menunggu di depan kasir sembari memainkan ponselnya.
Terbesit rasa keingintahuan Reo terhadap siapa yang telah memakai hoodienya. Ia pun kini bersiap-siap untuk pergi ketika gadis yang sedang ia tandai itu hendak keluar cafe karena pesanannya telah selesai.
"Terima kasih, Kak."
Reo langsung menarik tangannya ketika sang gadis hendak pergi dari sana.
Gadis itu melirik dan terbelak ketika melihat siapa yang telah menahannya saat ini.
"Hujan, tunggu dulu sebentar." Ucap Reo, Serira terdiam.
Memang, kini awan mendung telah meneteskan air yang sebenarnya belum terlalu besar dan masih bisa Serira tempuh untuk pulang dengan taxi atau kendaraan umum lainnya.
Namun entah mengapa Serira menurut saja. Dia mundur beberapa langkah untuk menyamai letaknya dengan Reo.
Ia hanya tertunduk diam sambil menatap ke arah plastik yang berisi kopi.
Reo mengikuti pandangan Serira lalu melirik kembali ke arah langit yang kini sudah diguyur hujan deras.
"Mau pulang sekarang?" tanya Reo kepada Serira membuat gadis itu menenggakkan kepalanya.
"Kalau kakak mau duluan aku nggak keberatan." Jawab Serira yang tidak masuk ke dalam jawaban pertanyaan Reo.
"Pulang bareng gue aja." Ucap Reo membuat hati kecil Serira terluka kembali.
Sudah cukup sulit baginya untuk menyembuhkan luka dalam yang Reo goreskan itu. Namun alangkah mudahnya bagi Reo menyakiti hati Serira.
"Aku bisa pulang sendiri, Kak." Tolak Serira halus.
"Sama gue." Tegas Reo lalu menarik tangan Serira menuju mobilnya yang terletak tak jauh dari sana.
Reo membukakan pintu sebelah pengemudi untuk Serira yang langsung diterima oleh gadis itu. Serira buru-buru masuk kedalam mobil karena hujan deras yang sempat membasahi tubuhnya.
Setelah menutup pintunya, Reo langsung berlari ke bangku pengemudi dan masuk kedalamnya.
Serira yang masih sedikit gugup hanya terdiam sambil memakai sabuk pengamannya pelan-pelan.
Reo melakukan hal yang sama lalu menyalakan mesin mobilnya.
__ADS_1
Ia melirik sebentar ke arah Serira yang sudah siap dengan perjalanan lalu mulai melajukan mobilnya.
Serira benci dengan keheningan ini.
Biasanya jika ia sedang bersama Reo, ia selalu bertanya banyak hal kepada lelaki itu. Namun sekarang rasanya untuk berbicara saja enggan.
Tapi tetap saja, banyak hal yang ingin ia pertanyakan kepada Reo terutama perkuliahannya.
"Tanya aja." Ucap Reo yang tahu jelas mimik muka Serira saat ia ingin bertanya.
Serira merasa malu karena sudah tertangkap basah.
"Mau tanya apa?" tanya Reo melirik ke Serira sebentar.
"Hmm, kak Reo jadi kuliah di luar negeri?" tanya Serira, Reo mengangguk.
"Gue kuliah di Amrik, besok kabar lolos apa nggaknya." Jelas Reo, Serira mengangguk paham.
"Kalo lo, jadi sekolah ke Swiss nanti?" tanya balik Reo, Serira tersenyum kikuk.
"Aku belum tahu, Kak, masih lama juga kuliahnya." Jawab Serira.
"Nggak papa direncanain dari sekarang biar nggak bingung nanti." Saran Reo, Serira mengangguk mengiakan.
"Aku bakal pikirin lagi nanti." Balas Serira.
Seketika suasana pun hening kembali. Serira hanya menatap kosong ke luar jendela sedangkan Reo fokus kepada setirannya.
Terbesit rasa ingin bertanya kepada Serira.
Reo sudah lama sekali menyimpan pertanyaan ini. Bahkan sebelum ia berpikir akan menikah bersama Ririn.
Namun ia juga merasa kalau jawaban Serira sudah pasti tidak.
"Aku turun di toko ku, Kak, sebrang sana." Ucap Serira Reo langsung memperlambat kecepatan mobilnya.
"Kenapa ke toko?" tanya Reo.
"Aku mau ngasih kue buat kak Reo, sebagai tanda terima kasih karena udah nganterin." Jawab Serira membuat Reo terdiam.
Ia memarkirkan mobilnya di halaman toko Serira lalu mengambil sesuatu dari kursi belakang.
"Nih pake payung." Titah Reo, Serira tersenyum.
"Makasih, Kak, tunggu sebentar ya." Ujar Serira yang langsung keluar dari mobil tersebut.
Reo menatap kepergian Serira. Tanpa ia sadari, ia sedang tersenyum menikmati hangatnya ketulusan Serira.
Ia merasakan jantungnya berdebar kuat seperti akan jatuh dari tempatnya.
Di lain tempat, Serira datang kepada karyawannya lalu meminta untuk membungkuskan satu kue vanila kesukaan Reo.
Ia tak akan pernah melupakan kue favorit Reo itu. Bahkan ia juga tidak pernah lupa kue favorit almarhum ibunda Reo yang selalu meminta bantuannya ketika sedang membuat kue.
"Ini, De." Ucap karyawan Serira sambil memberi bungkusannya.
"Makasih ya."
Serira langsung keluar dari toko kuenya dan berlari kembali ke mobil Reo yang masih terparkir disana.
"Ini, Kak, kuenya." Ucap Serira menyimpan bungkusan kue itu di jok yang sebelumnya ia duduki.
"Sama, ini payungnya." Sambung Serira hendak menutup payungnya.
"Simpen aja, ntar lo kehujanan." Jawab Reo.
"Nggak usah, Kak, di toko--"
"Makasih kuenya. Gue duluan." Pamit Reo memotong omongan Serira membuat gadis itu terdiam.
"Makasih kembali, Kak, hati-hati di jalan." Balas Serira lalu mundur beberapa langkah.
Ia menatap kepergian Reo yang sudah makin jauh dari pandangannya. Dan tanpa ia sadari, air matanya kini menetes membasahi pipi merahnya.
__ADS_1
"Seandainya kita masih bersama."