Cold Boy

Cold Boy
Empat Puluh Delapan


__ADS_3

Reo pun pulang dari tongkrongannya.


Ia membuka pintu rumah dan melihat keramaian di rumahnya.


Reo pun mempercepat langkahnya sampai ke ruang keluarga dan melihat ada Helena beserta dengan ayah, ibu, dan adiknya sedang berkumpul di sana.


"Eh, Reo dah pulang." Sambut Helena sambil tersenyum.


Reo yang merasa di panggil langsung mendekat dan menyalami semua orang yang ada di sana kecuali Rio.


"Gimana keadaan kaki kamu, Re?" tanya Helena.


"Udah baikan, Tan." Jawab Reo.


"Wah! Udah bisa di ajak jalan lagi nih!" seru Helena sambil menggoda.


"Jangan lah, Kak. Dia lagi masa - masanya ujian!" larang Jessica.


"Ih! Ya beres ujiannya lah, Jes! Kamu punya anak cogan nggak pernah di manfaatin sih!" seru Helena kembali.


"Ih, sukanya sama berondong! Keponakannya lagi!" nyinyir Jessica.


Putra yang sendari tadi terkekeh melihat pertengkaran kecil antara Jessica dan Helena pun turun tangan.


"Reo udah punya pacar, Kak, sekarang." Jelas Putra mengelus puncuk kepala anak pertamanya.


"Wah?! Masa?! Ya ampun! Kok gue kalah mulu sama orang yang lebih muda dari gue ya?!" teriak Helena tak percaya.


"Makanya jangan suka ngeledek adiknya jomblo! Taunya kan malah sendirinya yang jomblo." Ledek Jessica, Helena pun memutar matanya malas.


"Gimana, Re, hubungan kamu sama Serira?" tanya Putra, semua pun memperhatikan Reo.


Reo mengulas senyuman di wajahnya kemudian menjawab pertanyaan ayahnya.


"Baik, Yah."


"Bagus kalo gitu. Tapi inget! Buat minggu ini kamu fokus sama ulangan kamu!" titah Putra, Reo mengangguk paham.


"Kamu, Rio, jadi sama Ririn?" tanya Rio, dia pun menyengir kuda.


"Rio sama Ririn kayaknya lebih baik berteman, Ma." Jawab Rio dengan tidak enak hati.


"Eh, kok gitu?" tanya Jessica kembali.


"Em.., nggak papa, Mah. Rio lebih enak kita temenan dari pada jadi pasangan." Jelas Rio, Jessica mengangguk mengerti ketika mengingat kembali apa yang Camila jelaskan sebelumnya.


"Yaudah, mending kalian balik ke kamar trus belajar." Titah Putra, Reo dan Rio pun mengangguk lalu bangkit dari duduknya.


"Jangan lupa makan dulu, Reo." Ujar Jessica yang mengingat anaknya itu baru pulang dan tidak ikut makan malam bersama.


"Reo tadi udah makan sama temen - temen, Ma." Ucap Reo.


"Yaudah, mama simpen aja makanannya." Jelas Jessica.


Reo mengangguk kemudian melanjutkan perjalanannya.


^^^


"Ra, jajan dulu yuk ke market! Buat cemilan malam ini!" ajak Kani yang langsung di sambut meriah oleh Serira.


"Hayu! Sekalian aku juga mau bayar Shopee." Jawab Serira semangat.

__ADS_1


"Kamu beli apa di Shopee?" tanya Kani.


"Beli novel hehe." Jawab Rira kembali sambil mengotak - atik hpnya.


"Ih! Aku juga pengen dong!" seru Kani.


"Boleh! Nih. Kamu mau novel yang mana, sekarang pilih! Mumpung lagi gratis ongkir!" balas Rira sambil memberikan hpnya.


Kani pun langsung mengambil alis handphone Serira dan mengotak - atik dengan menggunakan jari jempolnya.


Tak butuh waktu lama untuk memilih novel di handphone Serira, kini Kani telah memberikannya kembali kepada Serira bahwa dia telah selesai memakai hpnya.


"Udah nih, aku beli tiga novel, dua ratus ribu ya." Ucap Kani, Serira mengangguk.


"Aku bawa uang dulu, kamu siap - siap ke market." Titah Kani.


"Okey."


Selagi menunggu Kani yang sedang meminta uang kepada ayahnya, Serira bersiap - siap memakai jaket dan mengikat rambutnya agar terlihat sedikit rapi untuk pergi ke market nanti.


Setelah beres, dia merapihkan bajunya dan tak lama Kani pun muncul dari balik pintu.


"Ayuk, Ra. Ke marketnya jalan kaki, soalnya deket." Ajak Kani, Serira pun menghampirinya.


"Yaudah nggak papa, sekalian olahraga." Balas Serira, mereka pun keluar dari kamar.


"Pa, aku jalan dulu ya." Pamit Kani.


"Aku juga, Om." Sambung Serira.


"Oh, iya, hati - hati ya." Balas Jeri, ayah Kani.


Mereka berdua pun pergi keluar dari rumah dan berjalan bersama di pinggir jalan menuju market.


"Hmm." Sahut Serira sambil melirik ke arah Kani.


"Kamu selama pacaran sama kak Reo, nggak ada masalah kan?" tanya Kani.


"Ada sih, cuman nggak begitu besar, jadi bisa kita selesain berdua." Jawab Rira, Kani mengangguk tenang.


"Kalo ada masalah yang besar, kamu jangan segan buat minta bantuan ke aku ya." Ujar Kani, Serira pun tersenyum senang.


"Iya, Kan. Kalau masalahnya rumit juga aku pasti minta bantuan kok." Jelas Serira. Kani mengangguk kembali.


"Masa kamu nggak punya gebetan, Kan?" tanya Serira sedikit kecewa.


Kani menghembuskan nafasnya pelan sambil tersenyum dan menatap langit malam.


"Sebenernya aku punya seseorang yang aku suka dari dulu, Ra." Jelas Kani, Serira langsung melirik nya karena tak menyangka.


"Kak Johan?!"


Kani menatap malas Serira.


"Ck! Bukan. Kak johan! Itu anak temen emak aku!" seru Kani malas.


"Oh, hoho. Aku kira kak Johan. Soalnya kamu deket waktu itu." Ucap Serira sambil terkekeh.


"Itu deket karena emang temenan pas kecil aja. Nih, rumahnya juga di ujung sana." Tunjuk Kani ke arah yang lumayan jauh.


"Oh, jadi temen sekomplek gitu?" tanya ulang Serira, Kani mengangguk.

__ADS_1


"Mama aku sama mama kak Johan tuh kayak satu tempat kerja gitu tapi beda jadwal. Jadi kadang aku di titipin di rumah kak Johan, kadang kak Johan di titipin di rumah aku." Jelas Serira kembali.


"Owh. Jadi sekarang kamu suka sama siapa?" tanya Serira lebih serius. Kani tersenyum sendiri.


"Ihh! Bukannya jawab malah senyum - senyum sendiri!" seru Serira jengkel, Kani pun tertawa lepas.


"Siapa ih, Kan! Orangnya?!" tanya Serira gemas sendiri.


"Vans."


Yang punya nama melirik.


"Oy." Jawabnya.


"Lo ngapain di sini? Perasaan deket rumah lo juga ada market." Tanya Johan.


"Mau aja gue nyari angin. Bosen market deket gue gitu - gitu aja." Jelas Vans.


"Eleh, ngeles aja lo. Bilang aja mau ketemu Kani." Ledek Johan yabg sudah tahu kemodusan temennya.


"Kalo jodoh bisa ketemu kan?" tanya Vans penuh harap.


"Iye lah, semerdeka lo aja."


Vans menyengir kuda sambil membuka kulkas berisikan susu, lalu mengambil beberapa susu dengan varian rasa.


"Wedeh, ketua jeger juga suka susu ternyata." Nyinyir Johan.


"Buat adek gue, Sat!" sentak Vans geram.


"Haha, selow. Adek lo gimana kabarnya?" tanya Johan yang masih mengingat kalau adik Vans ini belum lama di rawat di rumah sakit akibat tipes.


"Udah lumayan mendingan. Dia selalu harus minum susu biar mau makan." Jawab Vans sambil mengambil beberapa ciki.


"Makan ciki?" tanya Johan.


"Ya nggak lah, Nyet. Ini buat gue."


Johan pun membentukan mulutnya 'o' sambil mengangguk dan mulai memilih ciki juga.


"Eh, panjang umur, Kan!" Seru Serira yang baru saja nampak di lorong yang sama dengan Vans dan Johan.


Para laki - laki itu langsung mengerutkan dahi karena tak mengerti dengan apa yang baru saja Serira ucapkan.


Kani memunculkan kepalanya sedikit untuk melihat siapa seseorang yang baru saja Serira ucapkan, dan dia langsung terkejut saat melihat orang itu adalah Vans.


"Eh, ada Kani." Sapa Johan, Kani pun memunculkan seluruh tubuhnya sambil tersenyum penuh ke arah Johan. "Hai Kak."


"Lo sendiri di rumah?" tanya Johan.


"Nggak kok, ada papa gue. Sama Serira juga mau nginep di rumah gue." Jawab Kani. Johan pun mengangguk lalu melihat ke arah Vans yang pura - pura tidak perduli dengan keberadaan Kani.


"Nyet, itu geb--aw."


"Berisik, Sat! Lo bilang jangan terburu - buru!" sentak Vans pelan sambil menonjok perut Johan.


"Eh, kakak - kakak, kita duluan pulang ya." Ucap Serira yang telah selesai mengambil beberapa ciki dan minuman.


"Eh, lo pulang naik apa?" tanya Vans tiba - tiba, Serira dan Kani pun saling melirik.


"Kita jalan kaki." Jawab Kani.

__ADS_1


"Gimana kalau kita anterin?"


__ADS_2