Cold Boy

Cold Boy
Empat Puluh Sembilan


__ADS_3

Reo melihat ponselnya. Terdapat beberapa pesan yang belum ia lihat.


Ia baru bisa membuka ponselnya sekarang karena sendari tadi ponselnya itu mati karena tak ada batu batrei.


Serira


"Kak Reo, aku hari ini nginep di rumah Kani jadi jangan khawatir."


"Kak Reo jangan lupa belajar ya! Semoga ujian selanjutnya lancar!"


"Jangan tidur kemaleman juga takutnya bangun telat."


"Jangan lupa makan."


"Love you♡"


Reo mengembangkan senyum di wajahnya begitu melihat pesan yang di kirim oleh Serira beberapa waktu yang lalu.


Ia pun langsung mengetik balasan untuk pacarnya yang sudah resmi satu bulan yang lalu itu.


"Lo juga jangan lupa beribadah. Have fun sama liburnya."


Reo menyimpan handphonenya kembali begitu sudah mengirim balasan.


Ia memfokuskan diri ke rumus - rumus yang sudah terpampang jelas di hadapannya ini.


Dia mencoba beberapa soal yang sebelumnya sudah ia isi saat bersekolah dulu.


Ia juga sempat menghafal beberapa rumus agar ia tidak keliru nantinya bilamana mengerjakan soal yang sedang ia kerjakan sekarang ini.


Tok tok tok


"Masuk." Jawab Reo.


Jessica pun masuk kedalam kamar Reo sambil membawa segelas susu hangat dan menghampiri anak pertamanya itu.


"Ini, Reo. Minum susunya biar makin gercep nerapnya." Ucap Jessica sambil menyimpan susu itu di meja belajar Reo.


"Makasih, Ma." Balas Reo dengan senyuman.


"Kamu bener mau kuliah di Jerman?" tanya Jessica, Reo mengangguk mantap.


"Serira gimana?" tanya Jessica kembali.


"Dia udah izinin kok, Ma." Jawab Reo.


"Oh, bagus kalau gitu. Tapi inget ya, kamu nggak boleh lupa sama keluarga, sering - sering kasih kabar, sering - sering pulang." Ujar Jessica.


"Iya, Ma. Reo bakal sering pulang."


"Nah, itu baru anak mama. Yaidah kamu lanjut belajarnya. Jangan kemaleman ntar susah lagi bangunnya." Titah Jessica sambil mengelus pelan rambut Reo.


"Iya, Ma."


"Good night."


"Good night."


Jessica pun berjalan keluar kamar dan menutup pintunya pelan.


"Udah beres, Ma?" tanya seseorang, Jessica melirik.


"Udah, Yah." Jawab Jessica lalu mendekati suaminya.


"Kamu udah bilang ke Reo tentang kandungan kamu?" tanya Putra kembali, Jessica langsung menundukan kepalanya dalam - dalam.


Putra yang melihat kekecewaan di wajah Jessica itu langsung memeluknya untuk memberikan kekuatan.

__ADS_1


"Aku nggak pernah mau kehilangan kamu Jess." Ucapnya sendu membuat Jessica kini mengalirkan air mata.


"Aku juga nggak mau ninggalin kalian."


"Aku nggak masalah kalo kita kehilangan anak." Ucap Putra, Jessica pun menggeleng.


"Dia nggak punya salah, dia belum ngerasain dunia, Yah. Dia harus hidup walau ibunya akan mati." Lirih Jessica membuat Putra makin mengeratkan pelukannya.


"Seandainya putri kita nakal, kamu jangan pernah main kasar sama dia ya. Tetap jadiin dia sebagai putri kesayangan kamu dan pengganti aku setelah aku meninggal nanti." Pinta Jessica sambil mengeluskan perutnya yang sudah membesar.


Putra mengangguk pelan sambil menyandarkan mukanya di bahu Jessica.


"Aku tahu ini berat buat kita semua, tapi aku titip Reo dan Rio supaya mereka dapet pasangan yang terbaik di mata tuhan."


"Iya Jess, aku bakal kabulin semua pinta kamu walau aku nggak bisa ngelakuinnya. Aku bakal berusaha sekuat tenaga aku buat ngejaga anak - anak kita tanpa kamu." Jelas Putra melepas pelukan dan memegang pipi Jessica lembut.


Jessica pun menggenggam tangan Putra sambil memejamkan matanya.


"Terima kasih, Putra."


^^^


"Gimana kalau kita anterin?"


Kani dan Serira langsung membeku di tempat begitu mendengar tawaran dari Vans.


"Girls?" panggil Johan.


"Eh--em, aku gimana Kani." Jawab Serira menyerahkan segala jawaban ke Kani. Kani pun langsung berfikir keras.


"Gimana, Kan? Lo sama Vans, gue sama Rira." Ujar Johan yang sangat peka terhadap sahabatnya itu.


"Em--kalau nggak ngerepotin."


"Nggak kok, santai aja, nggak ngerepotin sama sekali." Jelas Vans langsung menyambar.


"Bayar dulu, Kak."


"Ohiya, sana."


Serira dan Kani pun pergi menuju kasir yang di ikutin dengan Vans dan Johan yang juga akan membayar belanjaannya.


"Totalnya jadi dua ratus ribu." Ucap sang kasir setelah selesai menjumlah barang yang Serira dan Kani beli.


Kani mengeluarkan dompetnya lalu mengambil dua lembar uang berwarna merah dan memberikannya ke kasir.


"Uangnya dua ratus ribu pas ya. Ini belanjaannya, terima kasih." Balas kasir itu sambil menyerahkan belanjaannya kepada Serira. Serira menerimanya lalu membawanya keluar minimarket.


Serira dan Kani pun menunggu Vans dengan Johan yang masih membayar belanjaannya di depan minimarket tersebut.


Tak lama dari itu, Vans dan Johan pun keluar dan langsung menuju ke motornya masing - masing.


"Ayo, Ra." Ajak Johan kepada Serira yang langsung di turuti oleh wanita itu.


Vans melihat ke arah Kani yang juga sedang melihat ke arahnya. Ia mengembangkan senyum lalu menaiki motornya. “Ayo, Kan.”


Kani mengoleskan senyuman di wajahnya lalu mendekati Vans dan naik ke atas motor besarnya.


“Pegangan.” Titah Vans pelan, Kani pun memegang pinggang Vans.


Serira dan Johan berjalan terlebih dahulu dengan bermaksud agar mereka tidak terlalu kaku untuk berduaan walau hanya di atas motor.


Vans menarik kedua lengan Kani itu untuk melingkar di perutnya.


Kani yang mendapat perlakuan itu pasti saja terkejut karena ini adalah kali pertamanya ia memeluk seorang lelaki kecuali ayahnya.


Johan yang notabennya adalah teman kecil Kani pun tak pernah ia peluk. Ini, yang masih berstatus sebagai gebetan sudah berpeluk – pelukan.

__ADS_1


Kani mengatur deru detak jantungnya agar tak bisa terasa oleh Vans karena dadanya kini menempel di punggung lelaki itu.


Vans menjalankan motornya sehati – hati mungkin karena dia tidak ingin terjadi apa – apa kepada calon yang sudah lama ia impikan itu.


^^^


Serira dengan Johan menunggu di depan rumah sambil melirik ke jalanan yang kosong.


“Lama banget Kani sama kak Vans.” Ucap Serira sedikit kesal.


“Masa mereka jalan – jalan dulu.” Sambung Serira kembali.


“Nggak mungkin lah, buset. Udah malem banget gini.” Balas Johan.


“Kak Johan sama kak Vans nggak belajar buat besok?” tanya Serira, Johan melirik ke arah Serira.


“Gue emang lagi belajar, karena gabut nggak ada cemilan jadinya jajan dulu.” Jelas Johan, Serira pun mengangguk paham.


“Nggak tahu kalau si Vans. Tapi selama kita nogkrong tadi, dia sibuk banget sama buku. Nggak tahu bener ngapalin nggak tau nggak. Tapi kayak yang serius gitu loh.” Jelas Johan kembali membuat Serira sedikit terkejut sekaligus terhura mendengarnya.


“Wah, kak Vans rajin juga ternyata.” Puji Serira membuat Johan sedikit tersentak.


“Dia rajin gara – gara lagi suka sama cewek. Dan gue juga nggak tahu kenapa cewek ini bisa merubah si Vans dengan sendirinya.” Ucap Johan Serira langsung membelakan matanya terkejut.


“Kak Vans suka sama cewek?!! Siapa?!” teriak Serira yang langsung di tutup oleh lengan Johan.


“Jangan teriak – teriak!! Kesannya kek gue abis ngapain lo aja.” Seru Johan dengan pelan.


“Hehe, maaf. Abis refleks, kaget aku.” Ujar Serira.


“Kagetnya segitu amat.”


“Abis siapa orang yang kak Vans taksir! Kani punya saingan dong!” ucap Serira sompral.


“Saingan?” tanya Johan mengulang perkataan Serira. “Eh.”


Serira langsung menutup mulut nakalnya yang dengan tidak sengaja memberi tahu kalau Kani menyukai seorang ketua pasukan tawuran yang terkenal nakalnya di sekolah.


“Beneran, Ra?” tanya ulang Johan, Serira menggerutuki kebodohannya.


“Em.., itu—“


Terdengar suara motor yang ngenggerung kencang mendekat ke arah Serira dan Johan yang sedang berdiskusi tegang.


Vans mematikan mesin motornya itu di ikuti dengan Kani yang turun dari motornya.


“Kalian udah nyampe lama?” tanya Kani, Serira mengangguk mantap.


“Eh, masa sih?” tanya Kani kembali.


“Kamu lama banget! Ayo cepetan masuk!” ajak Serira yang ingin mengalihkan topik pembicaraannya dengan Johan.


“Eh, iya ayo. Kakak – kakak makasih banyak ya udah mau nganter kita berdua. Maaf nggak bisa tawarin masuk soalnya udah malem juga.” Ucap Kani berterima kasih.


“Sama – sama, Kan. Tapi lain kali bolehkan kita mampir?” tanya Vans dengan senyum menggoda membuat Kani salting sendiri.


“Boleh, Kak. Dateng aja setiap hari, Kani pasti welcome kok.” Jawab Serira yang langsung mendapat tatapan tajam dari Kani.


“Iya, Kak.”


“Yaudah kalau gitu kita pamit, Kan, Ra. Salam buat orang di rumah.” Pamit Vans.


“Iya, Kak, hati – hati.” Balas Kani.


“Assalammu`alaikum.”


“Wa`alaikumsalam.”

__ADS_1


__ADS_2