Cold Boy

Cold Boy
Lima Puluh Tiga


__ADS_3

Reo merebahkan tubuhnya di kasur melepas penat yang sudah ia kumpulkan sepanjang harinya.


Ia memejamkan matanya sebentar sebelum akhirnya mimpi datang menghampiri tidur nyenyaknya.


Ponselnya berdering tak lama kemudian, Reo mengambil ponsel itu dan langsung menjawabnya.


"Hallo?"


"Kak Reo udah pulang?" tanya sebrang sana, Reo langsung mengambangkan senyumannya.


"Udah, Ra." Jawab Reo tenang.


"Selingkuhannya udah?" tanya Serira kembali membuat Reo mengerutkan alisnya.


"Maksud lo apa, Ra?" tanya Reo tersinggung dengan pertanyaan yang baru saja Serira lontarkan.


"Gimana tadi jalan berduaan sama kak Ririnnya? Lancar?"


Reo menggepalkan tangannya untuk menahan emosi atas tuduhan yang baru saja Serira katakan.


"Ra, gue nggak--"


"Iya, aku udah tahu kok kak Reo udah nggak sayang lagi sama aku jadi mending kita putus."


"REO!!"


Reo langsung terbangun dari tidurnya begitu Rio meneriakan namanya persis di telinga kanannya.


"Buset dah nyenyak amat tidurnya. Lo belum ganti baju sekolahnya." Ucap Rio. Reo melihat ke arah seragam sekolahnya.


"Ganti dulu sana, abis itu makan. Mama udah nyuruh gue." Ucap Rio sambil berjalan ke arah pintu kamar.


Reo menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil mengingat kembali mimpi yang baru saja terjadi.


"Mimpi." Ucap Reo lalu bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan badannya.


^^^


Serira baru saja beres membersihkan tubuhnya dari kamar mandi.


Ia terus melirik handphonenya yang tidak ada notifikasi sama sekali.


Serira kecewa di buatnya lalu melanjutkan rutinitas malamnya yaitu skincarean.


"Kak Reo masih suka nggak ya sama aku?"  tanya Rira sendiri sambil menyisir rambutnya.


"Tapi emang bener kata Vania sama Fanya juga Kani, kalau aku harus percaya sama kak Reo. Cuman, kenapa kak Reo sampai sekarang belum juga ngasih aku kabar?" tanyanya kembali sambil memendam rasa kecewa.


"Sebenernya kak Reo itu serius nggak sih sama aku?"


"Mending lo tanya langsung, Ra." Ucap seorang lelaki yang sendari tadi sudah mengamati tingkah laku Serira.

__ADS_1


"Kakak kok masuk nggak ngetuk pintu!" ketus Serira.


"Gue udah ketuk pintu kamar lo ya, tapi lonya malah ngomong sendiri." Balas Leo tak mau kalah.


Serira mendengus kesal sambil melipat tangannya di dada.


"Tanya langsung, Ra. Kalau ada masalah jangan di pendem sendiri, ungkapin, selesai in, jangan diem aja nggak bakal juga selesai." Ujar Leo memberi saran kepada adiknya.


Serira yang mendengar itu sedikit tidak percaya karena kakaknya itu sendiri pun baru saja putus dengan kekasihnya.


"Apaan, kakak aja baru putus sama Lea." Ledek Rira membuat Leo harus menahan rasa sabar.


"Dengerin ya, Ra. Setiap hubungan itu ada pertemuan dan juga perpisahan. Perpisahan ini itu bisa aja perpisahan pas udah di ikat secara total, ada juga yang nggak di ikat sama sekali tapi udah pisah. Itu gimana kita yang ngejalaninnya, Ra. Semua tergantung hati sama hati."


Serira langsung merasa tersentuh akan saran dari kakaknya itu. Dia tak menyangka, ternyata kakak satu - satunya ini sangat berpengalaman dalam hal bercinta.


Mungkin juga dari efek jomblo dan terus - menerus di beri harapan palsu atau dikhianati.


"Coba sekarang kamu telepon Reo dan minta penjelasan sama dia tentang apa yang udah dia lakuin sore tadi berduaan sama Ririn." Ujar Leo yang langsug mendapatkan balasan dari Serira.


"Kalau sekarang aku nggak ganggu kan?" tanya Serira memastikan. Leo menggeleng.


"Besok pelajaran tentang fisika, pasti dia bisa, jadi nggak belajar." Jawab Leo yang di sambut senang oleh Serira.


Rira pun mengambil ponselnya yang tergeletak di atas kasur dan mulai mencari kontak pacarannya yang sudah resmi selama satu bulan itu.


"Sana! Kepo banget deh!" seru Rira mengusir Leo.


Rira yang senang karena kakak nya kini sudah tidak ada di kamarnya langsung menghubungi kontak Reo tanpa memberi tahu terlebih dahulu kepada Reo membuat sang pemilik nomer terkejut.


"Kalo gue angkat sama kayak di mimpi nggak ya?" tanya Reo yang takut untuk mengangkat telepon dari Serira.


Reo menatap layar ponselnya yang terpampang jelas bahwa Rira kini telah menghubunginya namun tidak ia tanggapi.


Reo malah terbengong tanpa berniat untuk mengangkatnya walau Serira sudah menelpon Reo beberapa kali.


"Sibuk apa gimana ya?" tanya Serira sendiri.


Reo menatap ponselnya kembali begitu ada telepon masuk karena ia sudah berubah pikiran untuk tidak mengangkat telepon Serira.


Namun begitu melihat ke arah ponselnya, ternyata yang menelponnya adalah Ririn bukan Serira.


Karena jarang - jarang Ririn menelpon dirinya, mungkin saja ada hal penting yang akan Ririn sampaikan kepadanya.


"Hallo Rin."


Serira mengerutkan keningnya begitu telepon kedua ia ulangi kepada Reo yang hasilnya adalah.


"Berada di panggilan lain?" tanya Serira yang kebingungan.


"Perasaan tadi teleponnya berdering kok sekarang malah?"

__ADS_1


Serira langsung menghembuskan nafas gusar dan membuang ponselnya ke kasur dengan asal.


Ia memegang kepalanya sambil berfikir keras, apakah benar yang ada di pikirannya itu.


"Sama siapa kak Reo teleponan sekarang?" tanya Serira kembali kepada dirinya sendiri.


Langsung lah terlintas di benak Serira seseorang yang baru saja pergi berjalan bersama kekasihnya.


Serira mengambil ponselnya kembali lalu mencari nomer seseorang dan langsung menghubunginya.


Kak Ririn berada dipanggilan lain.


Serira mematikan teleponnya dan langsung mencari nomor yang lain kembali.


"Hallo, Ra? Kenapa tiba - tiba nelpon?" tanya Rio dari sebrang.


"Eh, maaf ngeganggu kak Rio. Tadi aku mau telepon kak Reo tapi berada di panggilan lain." Jelas Serira dengan sedikit kaku.


"Oh, Ririn lagi nelpon Reo, sebelumnya izin ke kakak ya langsung kakak izinin soalnya terakhir ngeliat Reo juga nggak lagi sibuk." Balas Rio, Serira menggigit bibir bawahnya sambil menahan sesuatu yang terasa didalam dadanya.


"Oh, gitu Kak. Yaudah makasih, Kak. Maaf ngeganggu waktunya. Assalammu`alaikum." Tutup Serira.


"Iya, Ra, nggak papa kok. Wa`alaikumsalam."


Serira mematikan ponselnya lalu terduduk lemah di lantai sambil mengeluarkan semua yang sudah ia tahan sendari tadi.


Hatinya terasa sesak sekaligus hancur mendengar sebuah arti tersirat dari Reo yang sangat Rira pahami itu.


Ini yang ia takutkan dari dulu, Reo pergi meninggalkannya.


Drrt drrt


Serira yang mendengar panggilan dari ponselnya langsung mengecek siapakah yang sudah menelponnya saat ini. Yang sangat ia harapkan adalah kekasihnya, Reo.


Namun harapannya buyar ketika ia melihat bahwa panggilan itu dari Kani.


Serira mengangkat teleponnya dengan sedikit tidak semangat dan menempelkan poselnya ke kuping.


"Hallo, Ra. Lo sampai di rumah dengan selamat kan?" tanya Kani setelah Serira mengangkat teleponnya.


"Iya, Kan. Aku selamet kok." Jawab Serira dengan sisa tangisannya.


"Ra, kamu kenapa? Kok kayak suara abis nangis." Tanya Kani dengan sedikit curiga.


Serira tidak bisa menyembunyikan tangisannya dihadapan sahabatnya yang sudah lama bersamanya ini.


Dia langsung menumpahkan segala tangisannya membuat Kani yang tidak tahu apa - apa langsung merasa panik.


"Ra, tunggu aku disana. Kamu tenangin diri kamu dulu sampai aku tiba di rumah kamu oke?" titah Kani.


Serira kemudian mengangguk sambil menahan mulutnya. "Iya, Kan."

__ADS_1


"Aku otw sekarang."


__ADS_2