Cold Boy

Cold Boy
Tiga Puluh Delapan


__ADS_3

Serira


'Kak Reo, aku otw rumah sakit ya.'


Pesan ku kepada kak Reo.


"Kamu pulang sama kak Leo?" tanya Kani, aku menggeleng.


"Kak Leo katanya sama Lea, jadi aku pulang sendiri." Jawab ku.


"Pulang sama aku mau?" tawar Kani. Aku menggeleng.


"Aku mau ke kak Reo dulu, baru deh pulang." Ucapku.


"Yaudah hati - hati, Ra. Aku duluan." Pamit Kani yang jalan terlebih dahulu dari ku dan melambaikan tangan.


"Iya Kan. Bye." Balas ku.


Aku berjalan sendiri di koridor, nggak sendiri sih, banyak orang lain juga.


Aku juga melihat ada kak Reo dengan kak Ririn tertawa seperti baru saja mendengar lawakan.


Aku ikut tertawa karena lawakannya sempat terdengar pelan di kuping ku.


"Rira!" panggil seseorang ketika aku baru saja berbelok menuju keluar gedung sekolah.


Aku menoleh dan melihat ada kak Satria di sana.


"Eh, iya kenapa, Kak?" tanya ku.


"Sekarang kumpulan ya? Kita semua udah kumpul." Ucap kak Satria.


"Aduh, Kak. Kok sekarang? Aku mau ke rumah sakit ngejenguk kak Reo." Jelas ku.


"Ini kumpulan pertama lo, loh. Masa mau di skip?"


Aku berfikir sejenak untuk menerima perkumpulan itu. Karena mama kak Reo juga bilang kalo kak Reo akan sendiri sampai malam nanti, jika ada apa - apa kan kasihan.


"Yuk, Ra. Anak - anak udah nunggu tuh." Ajak kak Satria.


"Sebentar doang ya, Kak? Aku nggak bisa lama - lama." Pinta ku.


"Kalo itu gampang, sekarang ke ruang osis dulu ayok." Jawab kak Satria. Aku mengangguk dan mengikuti langkah kak Satria.


Reo


'Kak Reo, aku otw rumah sakit ya.'


Gue melihat pesan itu terkirim satu jam yang lalu.


Sebenernya udah biasa bagi gue kalo orang ngomong otw tuh paling otw kamar mandi, tapi kalo daei sekolah otw kemana dulu?


Ini udah satu jam gue nunggu dia dan dia masih aja belum dateng.

__ADS_1


Gue sempet khawatir karena kakak dia sendiri nggak tau keberadaan dia.


Kani sahabat dia yang selalu ada di sisinya pun kagak tau.


Keluarga semua nggak ada yang tau buat gue makin khawatir.


Mungkin pilihan terakhir adalah nanya langsung kabar dia ke orangnya sendiri.


Gue telepon nomor Rira.


Agak lumayan lama gue tunggu jawaban sampai akhirnya tersambung sama operator.


Gue makin gelisah karena gue udah mencoba buat nelepon dia berkali - kali, tetep aja nggak ada jawaban.


Gue simpen hp pasrah dan positif thingking, mungkin aja hpnya lowbet atau gimana.


Tapi yang masih gue khawatirin, sejam ini dia kemana?


Tok tok tok


Gue langsung terbangun senang ketika ngedenger suara ketukan.


Tanpa gue suruh masuk, orang yang ngetuk itu udah masuk duluan.


Dan ternyata, orang itu.


"Woe!! Sob! Gimana kabar?"


Temen segeng gue.


"Gue juga nggak butuh kalian dateng." Jawab gue.


"Eh, jangan gitu dong! Kita udah jauh - jauh kesini masa nggak di harapin?" sambung Tio.


"Kok lo nggak mati, Re?" tanya Vans, gue mutar bola mata gue malas.


"Kita udah nyiapin daun bawang buat kuburan lo nih!" sambung Johan.


"Eh, jangan seledri dong kayak baso aja! Kasi menyan dong!" seru Tio.


"Lo pikir mau ngepet pake menyan segala?!" balas Exel.


"Kan bagus, si Reo sambil nunggu kiamat sambil ngepet."


"Ngomong apa si kalian?! Random banget jir." sela Vans.


"Gue bilang juga nggak usah di bawa, nggak guna." sambung Johan.


"Lo pada kesini mau ngebacot apa gimana?" tanya gue.


"Owh, tenang, kita bawa oleh - oleh kok." Jawab Exel. Kan, gue nanya apa di jawab apa. Absurd emang.


"Oleh - oleh apa lo, pulang dari Singapur aja kagak ngasih oleh - oleh." Lawan Vans.

__ADS_1


"Kan sekarang mau gue bagiin sayang, sabar dong, sabar." Jawab Exel.


"Ih males jir, gay."


Exel ngeluarin sesuatu dari dalam tasnya dan membuka isinya.


"Nih, gue beliin kalian kaos. Bagus kan? Bermerek sorry." Ucap Exel.


"Dih, ginian mah di Indo juga ada." Balas Johan.


"Lebih tepatnya di Cimol." Sambung Vans.


Semua langsung ketawa begitu Vans ngomong begitu.


Gue yang ikut ketawa coba ambil kaos nya dan ngeraba kain tersebut.


"Enak juga kainnya." Ucap gue.


"Tuh! Cuman Reo yang muji gue. Udah kalian nggak usah bawa, ini buat Reo doang." Exel ngambil semua kaos yang udah di bawa sama temen - temen gue dan di kasihin ke gue.


"Lah elo pundungan amat." Ucap Johan sambil ngambil lagi kaosnya.


"Iya ih, cantik juga." Sambung Vans.


"Eh gue nggak ngomong ya." Ujar Tio sambil ikut ngambil kaosnya dair gue.


"Lo abis apa ke Singapur?" tanya gue.


"Biasa, nyusul doi." Jawab Exel.


"Doi?"


"Yoi. Pacar gue di bawa emak sama bapaknya ke Singapur gara - gara tugas kantor. Karena udah lumayan lama gue nggak ketemu dia, jadinya gue susul dah." Jelas dia. Gue jadi teringat kembali ke Rira.


"Lo pada liat Rira?" tanya gue. Semua langsung ngelirik gue heran.


"Rira?" ucap Tio ulang.


"Siapa itu?" tanya Exel.


"Yang anak osis baru itu kan?" Sambung Vans.


"Owh, iya iya! Tadi di ceritain Bu Nia ada anak osis yang di pilih langsung sama pak kepsek." Jawab Johan.


"Widih! Hebat juga lo cari cewek, Re." Puji Exel.


"Mayan sih, cantik dia." Sambung Exel.


"Eh bentar dulu, ngapain lo nanya dia?" tanya Johan.


"Siapanya dia lo?" sambung Tio.


Gue ngedengus pelan.

__ADS_1


"Pacar gue."


__ADS_2