
Reo kini tengah belajar tata cara memandikan seorang bayi.
Ia berniat untuk bisa agar mereka tidak memerlukan baby sister untuk merawat adiknya yang belum menginjak satu bulan itu.
Bukan hanya memandikan, namun Reo juga belajar cara mengganti popok dan membedong bayi.
Seperti ayah muda, kini Reo telah selesai memandikan Ria dan mendandaninya sampai cantik.
"Albi sama Rianya udah beres mandi, sekarang waktunya mereka tidur." Ucap Camila sambil menggendong Albi kedalam pelukannya.
Reo mengangguk lalu memberikan Ria kepada Camila untuk ditiduri juga.
Camila menerimanya dengan hati-hati dan menghibur kedua bayi yang ia gendong itu.
"Reo, mungkin untuk beberapa saat Ria bakal tinggal di rumah tante buat minum asi, jadi kamu bisa ngejenguk Ria tiap hari kesana sepulang sekolah ya." Jelas Camila yang langsung di angguki oleh Reo dan Rio.
"Maaf tante kalau ini ngerepotin tante, tapi semoga aja di lain waktu kita bisa balas budi tante ke tante." Ucap Rio berterima kasih karena Camila telah bersedia menjadi ibu sambung untuk Ria.
"Sama-sama Rio, anggep aja ini balesan tante buat kebaikan mama kamu terdahulu." Balas Camila dengan ikhlas.
Semua mengangguk senang.
^^^
"Ra, jangan nyiksa diri, makan dulu ya." Ucap Leo dari ambang pintu.
Serira tetap menggeleng menolak permintaan kakaknya itu.
Leo menghela nafas panjang kemudian memutuskan untuk pergi dari sana.
Ia jalan ke bawah ke arah ruang tamu dan duduk di sofa yang sudah diisi oleh tamu.
"Masih belum mau makan?" tanya wanita itu, Leo mengangguk.
"Le, aku coba ngobrol sama dia ya?" pinta Lea yang langsung diizinkan oleh Leo.
Lea bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ke kamar Serira.
Ia menghampiri Serira yang masih terdiam membisu dengan suasana bising dari televisi yang Serira nyalakan.
"Ra," panggil Lea yang tak disahuti sama sekali oleh Serira.
Lea duduk di ujung kasur Serira dan membelai wanita yang sedang bersedih itu.
Serira melirik ke arah Lea yang tersenyum lembut ke arahnya. Penuh kelembutan sesampai Serira sendiri merasakan kehangatan disana.
Ia langsung menghamburkan dirinya ke Lea yang disambut baik oleh Lea. Lea merasakan tubuh Serira hangat dan bergetar. Lea langsung mengusap punggungnya agar Serira bisa lebih tenang.
Serira mengeluarkan kembali kesedihannya untuk sakit yang sudah ia pendam lama. Namun kali ini ia mendapatkan sandaran dari Lea yang sudah berbaikan dengan Leo.
"Rira, jangan sedih lagi ya, kita ada disini, kita bakal selalu suport kamu kapan pun dan dimana pun kamu melangkah." Ujar Lea berusaha menenangkan Serira.
"Itu nggak segampang ucapan kamu." Balas Serira yang tak menghentikan tangisannya sama sekali.
Lea menghela nafas sebentar lalu mengelus punggung Serira kembali.
"Kamu tangisin nggak bakal buat dia kembali, Ra, ikhlasin biar kamu bisa dapet orang yang lebih baik lagi nantinya." Ucap Lea membuat Serira jadi terdiam.
__ADS_1
"Aku mohon kamu kamu Rira, plis stop sedihnya. Kakak kamu khawatir banget dari kemarin kamu nggak makan apa-apa. Dia tahu yang bakal sakit itu kamu, tapi dia nggak mungkin mau ngebiarin orang yang dia cintai itu kesakitan." Jelas Lea melepas pelukannya dan menatap Serira serius.
"Ini bukan saatnya kamu sedihin yang begituan. Perjalanan hidup kamu masih panjang, jadi masih banyak waktu buat kamu mikirin cinta."
Serira tertunduk atas kelakuan yang telah ia lakukan itu.
"Kejar mimpi kamu untuk saat ini, maka cowok yang baik pun akan ada disana." Ucap Lea memberi keyakinan penuh membuat hati Serira sedikit terketuk.
"Kamu pasti sanggup."
Serira tersenyum ke arah Lea yang juga dibalas oleh gadis itu.
Ia sangat beruntung kakaknya bisa memilih wanita sebaik dan selembut Lea, sehingga ketika ia membutuhkan nasihat seperti ini, dia bisa mencari jalan hidup dengan tenang.
"Aku coba."
^^^
Ujian Nasional kini telah diselenggarakan oleh murid kelas dua belas.
Semua peserta telah duduk di kursi mereka masing-masing dengan komputer yang sudah disediakan oleh sekolah untuk ujian berbasis komputer itu.
Ada yang sedang berkomat-kamit membaca doa atau pun hafalan yang telah mereka hafalkan selama beberapa malam itu, namun ada juga yang bersantai dengan menyenderkan wajahnya di meja.
Namun, dengan Reo cs berbeda.
Mereka menunggu pengawas sambil bercanda dan mengobrol untuk melepas stres yang akan mendatangi mereka nantinya.
"Ah, dasar lo kutil kuda!" seru Exel terhibur atas lelucon Tio.
"Dih, ganteng melewati Aliando gini dibilang kutil kuda!" balas Tio tak terima.
"Yaelah lo pada sirik aja kulit gue putih!" nyinyir Tio, semua memutar mata malas.
Seketika ruang komputer itu menjadi hening ketika seorang guru dengan pengawas dari sekolah lain datang ke ruangan tersebut.
Reo cs langsung merapih kan duduknya dan fokus menatap ke arah pengawas.
"Oke anak-anak, ujian di hari pertama akan segera dimulai. Ujian pertama yang akan dilaksanakan adalah bahasa Indonesia, dimohon untuk kerjasamanya saling tenang dan tidak berisik juga tidak saling mencontek! Jika mencontek kami akan langsung blokir akun kalian." Jelas salah satu orang pengawas yang terlihat tegasnya.
Semua peserta ujian hanya mengangguk nurut karena tidak punya pilihan lain.
"Oke, kalian tinggal masukan kode ini lalu kerjakan dengan tenang. Jangan lupa berdoa agar dilancarkan." Jelas pengawas lain yang langsung dituruti oleh para peserta ujian.
Mereka semua mengisi soal-soal dengan serius sampai tak terdengar suara apapun yang terdengar.
Mungkin sekedar suara mouse yang sedang mengklik layar komputer.
Dan Reo, kini telah berusaha membaca cerita panjang yang menurutnya hanya sebuah karangan belaka tak berguna. Namun karena ini adalah ujian wajib, mau tidak mau dia harus membacanya dengan teliti.
Sedangkan teman-temannya kini sudah kewalahan sendiri melihat soal-soal yang mungkin sudah seperti cerpen.
Waktu mengerjakan adalah selama dua jam.
Dan dengan waktu itu, ada sebagian murid yang puas atau pun tidak puas.
Namun bagi Reo, semua itu sama saja karena dalam waktu satu setengah jam ia telah menyelesaikan ujiannya.
__ADS_1
"Bagi yang sudah selesai mengerjakan ujian, kalian bisa langsung keluar dari ruangan. Mau itu pulang atau menongkrong terserah." Jelas pengawas melihat data yang sudah masuk ke dalam komputernya.
Reo yang merasa itu langsung bangkit dari duduknya dan merapih kan tempat duduknya kembali.
Ia berjalan ke arah pengawas untuk bersalaman agar ternilai sopan.
Setelah selesai, Reo keluar dari ruangan itu dan langsung menghirup udara segar.
"Sudah beres, Kak?" sahut seseorang dari arah samping Reo membuat pria itu menoleh.
"Gampang ya, Kak?" tanya gadis itu kembali.
Reo tidak mengenali orang yang telah bertanya kepada dirinya itu, namun ia sangat mengenali siapa yang sedang bersama gadis itu.
Serira langsung menundukan wajahnya dan segera pergi melewati Reo.
Reo yang menatap kepergiannya sedikit merasa sakit karena tidak bisa memandang kembali wajah indah dan senyum manis dari Serira.
"Kak?" panggil gadis yang sendari tadi bertanya.
Reo menoleh dan tak menanggapinya lebih panjang. Ia langsung pergi dari sana untuk melepaskan segala stres yang telah menumpuk sendari tadi.
^^^
"Ebuset soalnya susah sangat!" seru Tio.
"Re, lo baca soal nggak?" tanya Vans serius karena tidak menyangka Reo bisa menyelesaikan ujiannya secepat itu.
"Baca lah." Jawab Reo.
"Eh! Otak jenius beda sama otak ayam, nggak usah sirik." Ledek Exel membuat Vans jengkel.
"Beres UN nanti selametan adik gue, mau potong rambut." Ucap Reo, semua menoleh.
"Gue pengen dong, Re, potong rambut adik lo." Pinta Tio.
"Gue juga, Re!" sambung Exel.
"Pengen banget ada apa sih?" tanya Johan merasa tidak tertarik.
"Adik si Reo tuh udah keliatan banget cecannya, kan lumayan." Jawab Exel bekerja sama dengan Tio.
"Ih, pedopil serem."
"Ayah gue bilang semua pasti kebagian motong rambut soalnya selametannya juga orang-orang terdekat doang." Jelas Reo.
"Oke kalau gitu." Balas Johan.
"Cabut yuk!" ajak Vans bangkit dari duduknya.
"Yaelah pasti mau bucin!" ledek Tio.
"Heh! Justru dia larang gue nongkrong-nongkrong gini disaat ujian, emangnya lo nggak ada yang merhatiin?" balas Vans menggoncangkan kejombloan Tio.
"Udah cabut aja, udah sore juga." Ujar Reo ikut bangkit.
Mau tak mau, Tio dan Exel pun menerimanya dengan berat hati walau mereka sebenarnya masih ingin bersama.
__ADS_1
"Besok pelajaran MTK, Cok, harus belajar lebih giat!" seru Vans menyemangati.
I'm sorry baru up, hehe, ada kesibukan yang sulit dilepaskan. Happy reading!