
"Re, abis ini kita tampil!" seru Vans yang menyusul Reo karena terlalu lama.
"Loh kenapa?" tanyanya begitu berada dihadapan Reo dengan Ririn yang sedang terdiam.
"Penampilan berikutnya dari perwakilan kelas dua belas IPS satu!" sambut dari arah lapang yang terdengar jelas ke seleuruh penjuru sekolah.
"Kita udah dipanggil." Ucap Reo merangkul teman seband plus sebangkunya itu dan menggiringnya untuk menuju lapangan.
"Reo!" seru Ririn yang dihiraukan oleh Reo.
.
.
"Datang akan pergi.." Reo mengeluarkan suara beratnya dengan sepunuh hati.
"Lewat kan berlalu.."
Semua mengangangkat tangannya kompak sambil menggoyangkannya ke kanan dan ke kiri.
"Ada kan tiada, bertemu akan.. berpisah.."
Reo berusaha menahan kesedihan yang sudah menghampirinya sendari tadi itu.
"Awal kan berakhir.."
"Terbit kan tenggalam.."
"Pasang akan surut, bertemu akan.. berpisah."
"Hey!" kini semua mengikuti nada Reo yang sudah terdengar sedikit merintih.
"Sampai jumpa dilain hari!" nyanyi semua murid kompak.
"Untuk kita bertemu lagi.."
"Ku rela kan dirimu pergi.."
Reo menjauhkan mulutnya dari mic yang berdiri sendiri itu dan memilih untuk melanjutkan bermain gitar saja.
"Meskipu.."
"Ku tak siap untuk merindu.."
"Ku tak siap tanpa dirimu.."
"Reo, mama punya pesan rahasia sama kamu. Mama nggak tau kapan waktu dimana mama harus ninggalin kamu sama adik dan ayah kamu. Mama juga nggak mau itu terjadi, Reo.
Tapi kita nggak boleh ngelak takdir. Kamu harus ikhlasin mama kalau kamu sayang sama mama.
Mama akan selalu ada di hati kamu walau raga mama sudah dikubur dalam-dalam.
Satu pesan yang mama minta, jaga adik terakhirmu untuk jodohnya kelak."
"Ku harap terbaik untukmu.."
Reo menitikan air matanya samar.
Walau sangat samar, tapi Vans bisa melihat sangat jelas bahwa teman yang sudah ia kenal lama itu sedang dilanda kesedihan.
__ADS_1
Reo menghela nafas panjang sambil menundukan kepalanya untuk menjatuhi sang mutiara yang sudah menumpuk di matanya.
"Kak Reo nangis deh kayaknya!" seru Vania kepada Kani dan Fanya yang juga melihatnya.
"Iya, kak Reo nangis kenapa ya?" tanya Fanya yang ikut penasaran.
Kani yang juga merasa tidak enak hati itu langsung membuka ponsel begitu ada yang mengirimnya pesan.
"Kani, kamu bisa ke rumah sakit sekarang? Tante Jessica meninggal."
^^^
Camila dengan Bianca sudah menangis sambil saling memeluk di hadapan mayat segar yang baru saja melahirkan seorang putri cantik.
Putra yang juga pastinya menangis karena ditinggal secepat ini oleh istrinya yang meninggalkan jejak seorang putri yang ia beri nama Ria Mehputra Yagsa atas persetujuan anak-anaknya terdahulu.
Ia menggendong putrinya yang terlelap itu sambil menitikan air mata.
Rio?
Dia menangis di pojokan yang sudah ditemani oleh Ririn tak lama setelah ia memberitahu kematian Jessica kepada Reo.
Ririn langsung pergi begitu Reo memilih untuk konser terlebih dahulu. Karena ia masih punya tugas untuk menenangkan seseorang yang selalu ia anggap sebagai sahabat.
Pintu terbuka dengan perlahan.
Menampilkan sesosok gadis dengan seorang pria yang terlihat sangat lemas tak bertenaga.
Kani membantu membuka pintu untuk Reo yang sendari tadi tidak kuat menahan bebannya sendiri.
Semua melirik ke arah mereka dan menghentikan aktivitas bersedihnya.
Ia menurunkan selimut yang menutupi wajah Jessica dan memperhatikan wajah pucat Jessica yang bahkan tidak bercahaya.
Reo mendekatkan bibirnya ke puncuk kepala Jessica dan mengecupnya sekilas lalu memeluk tubuh ibundanya dengan begitu erat.
Ia menjatuhkan seluruh air mata yang sudah tertahan jelas sendari tadi.
Dia mengeluarkan sesak di dadanya sambil mengingat kembali akan kenangan dirinya bersama orang yang sangat ia cintai.
Ia tak pernah menyangka, kalau wanita yang dia cintai dan menggenggamnya sangat erat akan lepas dengan sendirinya.
Entah itu karena takdir atau kesalah pahaman, tapi Reo sudah kehilangan dua wanita yang sangat ia cintai secara tidak bersamaan.
Ia makin mengeraskan tangisan tak bersuaranya itu membuat sang ayah yang sedang menggendong putri kecilnya menegur Reo.
"Mama punya pilihan untuk kamu." Ucap Putra menghentikan tangisan Reo.
^^^
"Kani mana?" tanya Serira yang baru saja datang ke perkumpulan Vania dan Fanya.
"Ra, kamu udah tahu berita tentang kak Reo?" tanya Vania yang tidak menjawab pertanyaan Serira. Gadis itu mengerutkan dahinya tak mengerti.
"Nggak, emang kenapa?" tanya Serira kembali.
"Mama kak Reo meninggal tadi abis beres persalinan." Jelas Vania yang langsung mengejutkan Serira.
Ia langsung diam mematung tak percaya dengan pernyataan yang Vania katakan.
__ADS_1
"Serius Vania!" seru Serira tak main-main.
"Serius, Ra, mana mungkin aku mainin kematian orang!" balas Vania dengan sejujurnya.
Serira langsung teringat kembali kepada Reo yang baru saja tadi ia jumpai itu. Terbesit rasa penasaran akan dirinya kepada Reo karena pada saat itu Reo seperti akan mengatakan sesuatu.
"Kani mana?" tanya Vans kepada para wanita yang sedang berkumpul itu.
"Ke rumah sakit." Jawab Fanya.
"Sama siapa?" tanya Vans kembali.
"Sendiri."
Vans hendak pergi dari sana namun langsung ditahan oleh Serira.
"Kak, aku mau ikut ke rumah sakit." Pinta Serira dengan bersungguh-sungguh.
Vans langsung mengingat kejadian tadi. Percakapan antara Reo dengan dirinya seusai pertujunkan bandnya.
"*Dia udah sama laki-laki lain." Ucap Reo berbisik ke Vans.
"Dan.."
Vans menghentikan aktivitasnya ketika Reo menitikan air mata.
"Ibu gue meninggal*."
Vans menatap Serira tajam.
"Mau ngapain, berbelasungkawan?" tanya Vans yang langsung di angguki oleh Serira.
"Pergi sama gebetan lo!" sindir sinis Vans yang langsung pergi meninggalkan mereka semua.
Serira yang mendapat perlakuan itu langsung mematung ditempat dengan perasaan yang mungkin sudah terasa sangat sakit.
Sejahat itukah dia sesampai Vans saja sampai membencinya?
Serira menghela nafas panjang untuk mengeluarkan segala kebodohan yang telah ia lakukan.
"Ra." Panggil Vania menepuk pelan pundak Serira yang sudah bergetar.
"Semua ini salah aku, Van, salah aku. Dari awal titik permasalahannya itu aku!" seru Serira mengeluarkan semua kesakitan didalam lubuk hatinya.
Vania yang tak tega melihat temannya menangis itu langsung mendekapnya dan mengelu-elus pelan punggung Serira agar gadis itu bisa sedikit tenang.
"Ra, jangan salahin semuanya ke diri lo sendiri." Ucap Fanya yang ikut membantu untuk menenangkan Serira, namun gadis yang tengah menangis itu langsung menggeleng keras.
"Kalau dari awal aku nggak salah paham sama kak Reo, sekarang mungkin aku ada disisinya disaat dia membutuhkan dukungan." Jelas Serira sambil terisak dalam tangisnya.
"Tapi sekarang, bahkan temen-temen kak Reo aja udah pada benci sama aku!" sambungnya dengan seru membuat Vania dan Fanya makin prihatin.
"Ra, semua udah takdir, kamu nggak bisa ngelak." Ujar Vania. Serira tetap menggeleng keras.
"Aku bisa ngelak, aku bisa ngelak!" serunya sambil melepas pelukan Vania.
"Kamu mau apa, Ra?" tanya Vania sedikit khawatir.
"Aku mau ngelak takdir."
__ADS_1