
Hari terakhir dimasa ujian praktek kelas dua belas pun tiba.
Mereka semua sedang bersiap-siap untuk menampilkan konser yang sudah mereka persiapkan dari jauh-jauh hari seperti Reo dengan kawan-kawannya.
"Weh, kita dapet nomber urut terakhir!" seru Exel dan Tio yang baru saja datang dengan membawa nomor urut peserta.
"Gue bilang apa, jangan percayain semuanya ke mereka." Sesal Vans yang membiarkan Tio dan Exel mengambil nomor urut tampilnya.
"Tangannya kotor." Hina Johan yang menusuk sampai ke ginjal.
"Udah lah, terima aja. Banyak waktu buat kita latihan." Ucap Reo sambil meninggalkan mereka semua menuju kelas.
"Temen gue cuman Reo sama Tio ya, kalian pengecualian." Ujar Exel menyusul Reo.
"Titik dua." Sambung Tio membuntuti Exel, Vans dan Johan pun memutar matanya malas.
.
.
"Sekarang kalian liat saja penampilan kakak kelas kalian yang sedang ujian praktek ya. Untuk tugasnya nanti ibu kasih ke ketua kelas." Jelas guru yang sedang mengajar di kelas Serira.
"Baik Ibu." Jawab murid serempak dengan penuh semangat.
"Oke, kalau gitu ibu permisi." Pamit guru itu yang langsung mengundang riuh dari murid yang berada di kelasnya.
"Bareng yuk ke lapangnya." Ajak Vania yang ditemani oleh Fanya.
"Ayok." Jawab Kani menghampiri mereka.
"Ayo, Ra." Ajak Kani kepada Serira yang masih terdiam duduk.
"Em, kalian aja deh." Tolak Serira secara halus membuat Kani mengarutkan alisnya.
"Ayok, Ra." Ajak Kani kembali membuat Serira menghela nafasnya.
"Iya, ayok."
Serira bangkit dari duduknya lalu berjalan mendekati Kani yang sudah ditemani oleh Vania dan Fanya.
Setelah bergabung, barulah mereka pergi ke lapangan sekolah yang akan ramai oleh band-band dari kakak kelas mereka itu.
"Katanya kak Satria nggak ikut ya?" tanya Fanya kepada Serira dan Kani.
"Dia bilang sih gitu." Jawab Serira yang mengetahui kabar itu karena Satria memberi tahunya.
"Kenapa?" tanya Fanya kembali.
"Katanya dia bakal jadi fotografer, jadi orang lain yang ngegantiin posisinya." Jawab Serira kembali, Fanya mengangguk paham.
"Eh, Ra, kak Reo." Bisik Vanya sambil menunjuk ke arah Reo berada.
Serira mengikuti arah pandang Vania dan benar saja, disana terdapat Reo bersama teman-temannya.
"Vans, bini lo!" seru Johan yang melihat keberadaan Kani tak jauh dari mereka.
Vans yang mendengar itu langsung mencari keberadaan Kani dan tersenyum begitu mendapatkannya.
"Kani!" panggil Vans yang membuat pemilik nama menoleh.
Tak hanya pemilik nama, bahkan kawan Vans dengan kawan Kani ikut menoleh membuat mereka terkejut sendiri.
Kani hanya diam tanpa meladeni panggilan Vans.
__ADS_1
"Yaelah lupa gue dia lagi marah." Ucap Vans pelan. Walau pelan masih bisa terdengar oleh Johan.
"Bwahahaha! Lo marahan sama Kani, napa?" tanya Johan sedikit meledek.
"Ngehina lo!" ketus Vans.
"Yaelah, sejauh gue temenan sama dia, dia nggak pernah marah ke gue masa." Balas Johan memanas-manaskan Vans yang telah panas.
"Siapa lo dia harus marah sama lo?" tanya Vans sevage. Johan memutar mata malas.
"Kan, kok nggak nyamperin?" tanya Serira kepada Kani yang hanya diam.
"Aku lagi marah, Ra." Jawab Kani.
"Loh, marah kenapa?" tanya Serira kembali, Kani menghela nafas panjang.
"Kemaren dia bilang mau nganter aku pulang, tahunya malah nganter cewek lain." Jelas Kani jengkel, Serira langsung mengerutkan alisnya tak mengerti.
"Keterlaluan banget nganter cewek lain!" seru Serira tak terima.
"Cewek lainnya juga adiknya kok, akunya marah karena udah nunggu dia sampai malem dan dia nggak ngabarin." Jelas Kani kembali yang malah makin membuat Serira marah.
"Nggak bisa dibiarin, Kan!" seru Serira hendak menghampiri Vans namun langsung terhenti begitu melihat Reo yang berada disebelah Vans dihampiri oleh seorang wanita.
"Kak Reo, aku denger kak Reo bakal jadi vokalis ya pas pertunjukan nanti?" tanya gadis itu dengan malu-malu.
"Hm." Sahut Reo.
"Kakak tampil keberapa?" tanya gadis itu kembali. Bukannya menjawab, Reo malah menyenggol tangan Vans pelan dengan memberi kode bahwa dia yang menjawab.
"Terakhir." Jawab Exel mewakili.
"Aku nggak tanya kak Exel." Sela gadis itu, Reo memutar matanya malas dan mencari pandangan lain.
Dengan secara tidak sengaja, mata Reo langsung bertemu dengan mata Serira membuat kedua insan itu jadi terdiam.
Reo yang tatapannya terputus langsung mencari kembali batang hidung Serira yang menghilang.
"Nyari Rira?" tanya Johan, Reo melirik.
"Dia pasti ke toilet, samperin aja. Tunggu didepannya tapi!" seru Johan yang Reo hiraukan.
Reo tak menyusul Serira. Ia kembali ke posisi dimana ia bersandar ke tembok dan memainkan ponselnya.
"Re, mending selesain masalah lo dari sekarang sebelum nanti dia udah berpaling dari lo yang masih berharap." Ujar Vans yang sudah mengenal Reo paling lama dari pada teman-temannya yang lain.
Reo terdiam mendengar nasihat Vans membuat Vans lelah sendiri.
"Jangan gengsi sama ego lo, cepet sana samperin! Mumpung waktu tampil masih lama." Ucap Vans kembali meyakini Reo.
Reo menatap ke arahnya yang dibalas dengan tatapan mendukung.
"Lo pasti bisa."
.
.
Serira keluar dari toilet wanita dan berniat menuju kelasnya.
Ia langsung terhenti begitu ada seseorang yang menahan langkahnya.
Serira menggak dan terdiam begitu melihat kalau itu adalah Reo, sang mantan pacar.
__ADS_1
"Kak." Panggilnya dengan tersenyum kikuk.
Reo masih terdiam saat menatap Serira yang juga menatap dirinya.
"Aku duluan." Ucap Serira hendak pergi namun langsung Reo tahan.
"Ra, gue--"
"Serira!" panggil seseorang dari ujung koridor membuat kedua insan yang sedang bersama itu menoleh.
Satria berlari menghampiri Serira yang sedang bersama Reo.
"Ngapain lo sama Reo?" tanya Satria sambil melihat tangan Serira yang dicengkram oleh Reo.
Serira langsung menghempaskan tangannya agar genggaman Reo itu terlepas dan menghampiri Satria.
"Kita pas-pasan ketemu kok, Kak." Jawab Serira tersenyum kearah Satria.
"Oh, gue kira lo diapain." Balas Satria melirik kearah Reo.
Reo yang melihat sekaligus mendengar percakapan mereka itu menggeram kesal di tempat dengan menggepal tangannya kuat-kuat.
"Udah, Kak, kita pindah tempat aja yuk." Ajak Serira sambil meraih tangan Satria.
Satria yang mendapat ajakan itu mengangguk lalu mengikuti langkah Serira yang sudah jalan terlebih dahulu.
"Re."
Reo tetap terdiam walau ada yang memanggilnya.
"Reo!" panggil seseorang kembali.
Reo beru menoleh pelan dan melihat keberadaan Ririn disana.
Dia melihat mimih muka Ririn yang tak cerah sama sekali. Justru seperti asap tebal yang gelap sedang menyelimuti dirinya.
"Tante Jessica.."
^^^
Serira menghentikan langkahnya begitu mereka sampai di taman belakang.
Satria melirik kearah Serira yang melihat tidak ada kesedihan lagi di wajahnya.
"Lo udah move on, Ra?" tanya Satria bahagia.
Serira yang melihat ekspresi Satria itu langsung ikut tersenyum beranggapan bahwa mungkin jalan ini yang terbaik dari pada harus mengulang luka yang sama.
"Kalau pergi dan mengisklaskan itu lebih baik dari pada kembali, aku siap menerima kesakitan itu." Ucap Serira mengeluarkan semua yang sudah ia pemdam.
"Bagus, Ra. Aku bangga sama kamu." Balas Satria tersenyum.
Satria menatap wajah Serira yang membuat Serira malu sendiri.
"Gue mau ngomong sesuatu, Ra." Ucap Satria sambil meraih tangan Serira lembut.
Serira yang mendapat perlakuan itu langsung menundukan kepalanya untuk menyembunyikan wajah yang mungkin sudah memerah itu.
"Sebenernya gue mau ngomong ini dari dulu." Jujur Satria berusaha menjelaskan kebenaran yang sudah lama ia simpan.
"Tapi selalu nggak ada waktu yang pas buat gue kasih tahu." Sambungnya kembali.
"Gue nggak mau ada salah paham."
__ADS_1
Serira langsung menenggakan kepalanya terheran-heran mendengar kata-kata yang Satria ucapkan.
"Sebenernya gue mau minta bantu sama lo buat deketin gue sama Fanya, karena gue udah lama suka sama dia."