
Reo
Gue berusaha membuka mata gue yang sulit banget buat gue buka.
Gue coba dengan sekuat tenaga, namun rasanya tenaga gue udah nggak ada lagi tersisa di dalam diri gue.
Entah apa yang udah terjadi sama gue, tapi gue merasa, kalau sesuatu udah terjadi pada diri gue.
Dengan sekali lagi gue mencoba, ngebuka mata nggak dengan paksaan tapi secara perlahan.
Gue nerima terangnya lampu kuning yang ada di atas kepala gue, dan sakitnya rasa yang gue rasain di kaki dan kepala gue.
“Pasien sadarkan diri, Dokter!”
Gue bingung dengan seseorang yang baru aja ngomong ketika gue udah berhasil membuka mata gue seutuhnya.
“Kasih suntikan lagi, Suster, ini akan terasa sakit bila dia sadar sekarang.” Jawab seseorang yang suaranya lebih berat dari suara yang pertama gue dengar.
“Baik, Dokter.”
“Jarum dan benangnya mohon di siapkan.”
“Kami sudah menyiapkannya.”
“Pisau dan pinset?”
“Sebelah sini, Dokter.”
“Kita tunggu pasien tidak sadarkan diri lalu merobek lukanya dan mengambil benda yang menyempil.”
“Baik, Dokter.”
~~
Serira
“Raaaaaaaa!! Lo nggak mau sekolah? Jam segini masih molor lu! Enak bener!!”
Aku dengan perlahan membuka mataku dan melihat bahwa di sana sudah ada Kak Leo yang berusaha membangunkan ku.
“Woi! Bangun!!”
“Ck! Iya, apaan sih!” sentakku kesal karena telah di ganggu tidur yang sangat nyenyak.
“Lo mau sekolah nggak? Kalo nggak gue tinggalin nih!” ancam
Kak Leo.
“Emang sekarang udah jam berapa?” tanya ku memastikan.
“Jam dua subuh.”
Aku langsung membuka mata lebar – lebar dan menatap lurus ke arah depan.
“Anjir! Gue kaget!”
“KAMU APA – APAAN SIH KAK! BANGUNIN AKU TENGAH MALEM BEGINI?! EMANGNYA SEKOLAH MASUK JAM LIMA SUBUH APA NGEBANGUNIN AKU JAM SEGINI! CEPET KELUAR DARI KAMAR AKU ATAU AKU GUSUR KAKAK PERGI DARI KAMAR AKU!!”
“YAAMPUN GALAK BENER LU KAYAK MACAN NGAMUK!”
“IYA AKU LAGI NGAMUK MAKANYA JANGAN SUKA NGEBANGUNIN AKU PAS LAGI TIDUR KALO NGGAK ADA KEPENTINGAN!!” sentak ku tak kalah keras sambil membalikkan posisi badan membelakangi Kak Leo.
“Ya abis lo—loh?! Ra!! Kok celana lo berdarah?!”
Aku langsung bangun dari tidurku dan melihat ke arah sprei yang di tiduri olehku. Banyak darah.
__ADS_1
Aku langsung menatap takut ke arah Kak Leo. Dan yang di tatap malah curiga.
“Lo abis di apain sama si Reo?!”
“Ck! Kakak! Jangan bercanda!! Aku lagi takut nih!!” seru ku sambil berusaha menahan tangis.
“Eh!! Gue serius! Lo kan abis dari rumah si Reo tadi!!” balas Kak Leo yang malah membuat aku makin takut.
“Kakak! Aku nggak ngapa – ngapain sama Kak Reo!! Kakak! Aku kenapa?! Aku takut!!” teriakku sambil menangis menjerit dan menutup muka.
“Eh! Jangan nangis dong, ya ampun. Eh, em.. lu ngerasa sakit nggak?!” tanya Kak Leo berusaha nenangin aku.
Aku menggeleng – geleng dengan tanda bahwa jawabanku tidak sakit.
“Apa yang lo rasain sebelum tidur?” tanya Kak Leo kembali.
“Aku cuman ngerasa pegel aja, Kak, sama sakit pinggang. Aku juga jadi cepet kesel, jadi aku tidur aja biar reda.” Jelas ku.
“Hm.., itu penyakit apa ya? Kayaknya gue baru denger kalo penyakit yang keluhannya begitu.” Jawaban Kak Leo yang nggak terharapkan sama sekali olehku.
“Ck! Kakak nih nggak berguna!” ejek gue sambil melihat ke darah yang berlumuran di seprei kasur.
“Coba lo tanya Kani. Mungkin aja dia tahu penyakit lo.” Usul Kak Leo. Aku berfikir sejenak.
“Dah, ah. Gue mau keluar. Bau darah di sini. Jangan lupa bangun pagi lo! Hari ini berangkat sama gue.” Ucap Kak Leo sebelum akhirnya pergi dari kamarku.
Aku yang masih panik di tempat langsung mengambil handphone ku yang berada di atas nakas dan berusaha mencari kontak Kani.
“Aduh.., aku namain kontak Kani apa ya?!” panikku sendiri sambil berusaha mengingat kontak yang di simpan.
“Kani doang, bukan. Sahabatku, bukan. Temen sebangku, bukan. Aduh.., aku namain kontak Kani apa ya?!” tanya ku sendiri dengan semakin panik.
“Eh, cecan ini siapa—ya ampun!! Kapan aku namain kontak Kani, Cecan!!” seruku sendiri dengan kesal.
“Aduh ya ampun, jadi emosi gini kan.”
“Ya, kan sekarang masih jam dua subuh. Mana mungkin Kani udah bangun.” Gumam ku sendiri.
“Terus aku harus nanya ke siapa? Google?”
Karena tak ada pilihan lain, aku langsung mencoba untuk searching ke google.
Aku menulis gejala yang aku rasakan beserta efeknya, yaitu keluar banyak darah.
Ketika hasil pencariannya sudah di temukan, aku membuka salah satu website dan tertera jelas disana bahwa itu adalah gejala dari.
“Keguguran?!”
~~
“Reo kok belom pulang sih!” seru Jessica yang sudah khawatir akan kabar anaknya yang belum saja pulang. Bahkan Jessica sendiri sudah mengirim satpam dan anaknya sendiri untuk mencari keberadaan Reo.
“Telepon masih belum di angkat, Mah?” tanya Rio yang ikut khawatir dengan keberadaan kakak nya.
“Belum, Rio. Mamah jadi makin khawatir!” cemas Jessica sambil menggigit jarinya.
“Mama tenang ya. Rio sekarang bakalan cari ke rumah sakit. Mungkin Kak Reo kecelakaan dan buru – buru di bawa ke rumah sakit tanpa ngabarin terlebih dahulu.” Jelas Rio sambil mengusap punggung Jessica.
“Kamu hati – hati ya, Rio. Kamu juga harus jaga diri kamu.” Pesan Jessica, Rio mengangguk.
“Iya, Ma. Mama tidur ya, kasian dede utunnya perlu istirahat. Mama serahin aja urusan Kak Reo ke Rio.” Ucap Rio meyakinkan Jessica, Jessica pun mengangguk.
“Rio berangkat, assalammualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
__ADS_1
~~
Rio melangkahkan kakinya menuju rumah sakit yang ada di pertengahan jalan antara rumahnya dan rumah Serira.
Rio merongoh pesaknya untuk mencoba menghubungi Leo dan bertanya tentang keadaan Serira.
“Halo, Ri? Kenapa?”
“Serira baik – baik aja, Le?” tanya balik Reo.
“Nggak papa. Dia lagi panik sendiri di kamar karena banyak darah di kasurnya.”
“HAH!! BERDARAH KENAPA?!” teriak Rio yang terkejut dengan keadaan Serira yang di beritahu oleh Leo.
“Buset! Kalem, Mamank. Dia mungkin pertama pms, jadi kaget.”
Rio mengerutkan dahinya. “Lah? Masa kagak tahu?”
“Kagak ngerti gue juga. Btw, napa nanya adik gue?”
Rio langsung tersadar dengan tujuan awalnya.
“Reo belum pulang dari pas nganterin Rira. Kira – kira dia kemana dulu ya?” tanya Rio sambil melangkahkan kaki menuju resepsionis.
“Lah, gue ketemu si Reonya aja kagak. Gue juga baru pulang tadi malem. Emang dia kagak ngabarin lo?”
“Kalo dia ngabarin gue, ngapain gue nanya ke lo Maemunah!” jawab Rio dengan kesal.
“Lo sekarang dimana?”
“Rumah sakit.”
“Ngapain lo konsultasi subuh – subuh begini? Emang ada dokter yang lagi praktek?”
“Siapa tau si Reo kecelakaan kan, makanya gue kesini.”
“Rs mana lo? Mau gue temenin?”
“Nggak usah. Kecelakaan juga paling lecet doang kayak biasa.” Jawab Rio sambil bertanya ke represionis.
“Mbak, di sini ada korban kecelakaan?” tanya Rio pada represionis yang sedang berjaga di depan komputer itu.
“Pengendara motor yang tertabrak satu jam yang lalu?” tanya balik suster.
“Saya kurang tahu.”
“Jika Anda keluarga korban, Anda bisa mengisi identitas di sini.” Ucap suster sambil memberi selembar kertas dan pulpen untuk Rio pakai.
“Tapi, Sus. Saya belum tahu dia keluarga saya apa bukan.” Balas Rio yang tidak menerima kertas yang di berikan oleh suster itu.
“Wajah korban rusak parah, jadi tak ada satu pun yang bisa mengenalinya.” Jawab suster.
“Rusak parah?” tanya Rio dengan terkejut dan masih menempelkan teleponnya di telinga kanan.
“Benar.” Jawab suster meyakinkan.
“Berada di ruangan mana dia sekarang?” tanya Rio kembali.
“Korban sudah di pindahkan ke ruangan mayit beberapa menit yang lalu.”
Prak.
Handphone yang tadi nya di pegang oleh Rio langsung jatuh begitu saja karena tidak di tahan oleh tangannya yang sudah tak bertenaga.
Selamat tanggal cantik:3
__ADS_1
Di tanggal cantik ini kalian taken nggak?:v