
Rio berlari - lari di koridor rumah sakit dengan terburu - buru saking paniknya menuju ke ruang mayat.
Tidak ada lagi yang di pikirkan didalamĀ benaknya.
Ia hanya berfikir, bagaimana bisa kembarannya mati secepat itu?
Brak
Pintu ruangan mayat terbuka dengan keras membuat ruangan hening terasa makin seram.
Rio mengedarkan pandangannya ke ruangan itu.
Dia melihat banyak mayat yang sudah di tutup oleh kain putih di atas kasur.
Ia melangkahkan kakinya perlahan menuju kasur yang berada lurus di depannya.
Mayat segar yang baru saja di cabut nyawanya beberapa menit yang lalu membuat hawa dingin di sekitar semakin terasa.
Rio belum mengeluarkan air matanya setetes pun. Untuk berjaga - jaga dia akan menangis dengan keras ketika di pemakaman nanti.
Rio kini berada di pinggir kasur mayat kakaknya.
Berniat untuk melihat mayat yang 'katanya' wajahnya ini sudah tidak berbentuk lagi akibat tabrakan dari mobil yang begitu kencang.
Ia berdiam beberapa saat manatap kosong ke arah kasur dan tak menyangka akan terjadi hal yang seperti ini.
"Lo kok gitu, Re?" gumam Rio sendiri.
Tak ada balasan sama sekali.
Hening tak bergema. Seperti itu lah keadaan ruangan mayat yang sunyi dan dingin.
Rio menggerakkan tangannya, mencoba membuka kain penutup mayat berwarna putih itu.
Dengan perlahan tapi pasti, Rio menarik selimut itu untuk melihat mayat segar di depannya.
Setelah selimut terbuka bebas sampai dada, Rio meneteskan air matanya dan memegang dadanya yang terasa sesak.
Bruk
Pintu mayat itu terbuka keras untuk kedua kalinya, namun Rio tak merasa terkejut atau pun mengalihkan pandangannya. Dia fokus kepada tangisnya membuat Leo yang melihatnya segera menghampiri Rio.
"Ri.." panggil Leo. Rio tetap diam.
Hanya isakan yang terdengar di ruangan itu.
"Lo nangisin apa sih?" tanya Leo memastikan.
"Gue udah ekting kaget dan buru buru ke sini ****, tau - tau mayat nya bukan kakak gue!" cerocos Rio sambil membesarkan tangisannya.
"Aela lebay banget." Ejek Leo.
"Ya tapi kan sayang gitu energi gue udah di keluarin tapi percuma." Jelas Rio.
"Yaudah, cepet sekarang kita cari Reo! Mumpung belum mati!" Seru Leo.
"Eanjir! Jangan mati lah,"
"Ya makanya sekarang cari, ayok!" Leo lansung menarik tangan Rio untuk keluar dari kamar angker itu.
Mereka berjalan keluar gedung rumah sakit dan memasuki mobil milik Leo yang tadi ia bawa.
"Eh! Motor gue gimana?!" Seru Rio.
"Ck! Kek orang miskin aja lo nggak bisa nyuruh orang!" Balas Leo.
"Iya."
Leo menyalakan mesin dan menancap gas secepat mungkin untuk pergi ke tujuan utama.
"Lo tau Reo dimana?" tanya Rio. Leo mengangguk.
"Napa lo nggak bilang dari tadi!" Rio menepuk pelan kepala Leo.
"Lo nya kelebayan!"
"Hilih, gue panik banget! Kalo dia mati ntar gue jadi anak pertama!" bela Rio.
"Gue anak pertama b-ajah." balas Leo.
__ADS_1
"Adek lo udah gede, beda dua tahun doang lagi. Lah adek gue, lahir aja belum." Jelas Rio dengan kesal.
"Nikmatin aja."
"Nikmatin, lu kira kopi?!"
"Dah sampai. Turun jangan berbacod terus." Perintah Leo, Rio mendengus kesal lalu membuka pintu mobil dan turun dari sana.
"Di sini bener rs nya?" tanya Rio memastikan.
"Iya, kecelakaan nya di jalan kecil sana." Jawab Leo sambil menunjuk ke arah utara.
"Yaudah cepet masuk ayok!" Ajak Rio yang langsung masuk ke dalam gedung rumah sakit itu.
Leo yang menemani Rio mengikutinya dari belakang.
Saat tiba di represionis, Rio langsung bertanya keberadaan Reo.
"Pasien baru saja keluar dari ruangan operasi, pasien sedang di istirahat kan di ruang ICU sampai pasien sadar." Jelas suster.
"Nggak mati kan, Sus?" Tanya Rio.
Suster terkekeh pelan menanggapi pertanyaan Rio.
"Alhamdulillah, pasien terselamatkan. Dokter yang menangani akan menjelaskannya nanti." Jawab suster itu kembali.
"Dimana ruang ICUnya, Suster?" tanya Leo.
"Sebelah sana." Suster itu menunjukkan jarinya ke sebuah ruangan yang tak jauh dari sana. "Terimakasih, Suster."
Rio dan Leo berjalan menuju ruang icu dengan hati yang tenang.
"Kalo ini bukan Reo lagi gimana?" Tanya Rio.
"Ktpnya Reo, Ri." Jawab Leo.
"Oceoce."
Ketika mereka sedang berjalan menuju ruang ICU, dokter keluar dari ruangan tersebut.
"Dok! Bagaimana keadaan kakak saya?" Tanya Rio.
"Kan tadi saya bilang kakak saya."
"Ohiya, alhamdulillah pasien sudah sadar dari obat bius. Sebentar lagi akan kami pindahkan keruangan. Adek bisa memilih ruangannya ke administrasi." Jelas dokter yang di terima baik oleh Rio.
"Apa saja luka Reo, Dokter?" Tanya Leo.
"Luka pasien cukup parah. Terdapat patah kaki di sebelah kiri, robek di tangan kanannya. Dan sedikit lecet di bagian - bagian lainnya." Jawab dokter. Leo dan Rio mengangguk paham.
"Baiklah kalau begitu saya pamit undur diri. Permisi."
Leo dan Rio menyingkir untuk memberi jalan. Setelah dokter telah melewat, mereka berdekatan kembali.
"Lo boleh balik, Le. Biar gue sendiri jaga kakak gue." Ucap Rio.
"Nggak papa, gue temenin lo." Balas Leo.
"Besok sekolah, Bre!" Seru Rio.
"Iya sekolah, bukan mulung."
"Ya lo pulang aja. Bukannya lo juga harus anterin adek lo?" tanya Rio.
"Iya juga sih."
"Yaudah sana pulang aja. Gue nggak papa kok. Palingan ibu gue nanti siangan ke sini." Jelas Rio.
Leo mengangguk nurut.
"Yaudah gue duluan. Assalamualaikum. "
"Waalaikumsalam."
Leo melangkahkan kakinya meninggalkan Rio yang sudah terduduk tenang.
Rio menenggakkan kepalanya dan menarik nafas dengan berat.
"Alhamdulillah lo baik - baik, Re. Mama khawatir sama lo. Dan nggak bakal hidup kalo nggak ada lo." Ucap Rio sendiri.
__ADS_1
"Karena kunci kebahagiaan mama.."
Rio memejamkan matanya. Meneteskan sebulir air mata yang keluar dari benak hatinya. Setelah air itu mengalir, ia membuka kembali matanya.
"Cuman lo, Reo."
^^^
Serira
"Dek! Dah siap belum?!" teriak Kak Leo dari halaman rumah.
"Bentar dulu, Kakak! Lagi di sepatu!" jawab aku.
"Lama banget pake sepatu, kayak pake kebaya aja!" seru Kak Leo kembali.
Aku buru - buru menaikan tali sepatuku dan keluar dari ruang tamu.
"Nggak sabaran banget sih!" Balas ku ketus.
"Abis lama banget! Mandi aja sampe sejam!" protes Kak Leo.
"Kalo nggak ikhlas nunggu, ngapain nunggu!" sentakku tak terima di marahi.
"Eh! Lo salah malah--"
"Yaudah kalo nggak mau nganter nggak usah nganter!"
Aku berjalan acuh melewati Kak Leo dengan hentakkan kaki.
Aku sempat mendengar mama mengoceh ke Kak Leo yang membuat Kak Leo terdiam sendiri.
Aku berjalan kaki di pinggir jalan.
Karena rumah ku ini berada di perumahan yang jauh dengan kendaraan, mau tak mau aku harus jalan terlebih dahulu ke depan perumahan.
"Sakit.."
Lirihku sendiri sambil memegang perut bawah yang terasa seperti di lilit - lilit.
"Gini ya emang rasanya? Perasaan sakit banget deh,"
Aku berhenti dari jalanku dan berjongkok.
"Nggak kuat.., sakit banget..,"
Aku menenggelamkan kepala ku sambil terus memijit perut yang terasa di lilit.
Tin tin
Aku menenggakkan kepalaku dan melihat Kak Leo sedang melihatiku dengan tatapan kasihan.
"Apa?!"
"Maafin gue, ayo cepet naik." Ucap Kak Leo dengan lembut, namun aku menggeleng dan menenggelamkan kembali kepalaku.
Hening. Tak ada sautan apapun dari Kak Leo atau pun aku. Bahkan suara motor pun sudah tidak ada.
"Pulang ya? Lo pasti sakit perut?" Kak Leo menepuk pelan pundakku, namun aku tetap diam tidak menyaut.
"Rira.., pulang ya?" tawar Kak Leo kembali.
"Aku mau sekolah!"
Aku bangkit dari jongkok ku dan hendak berjalan cepat, namun tangan ku buru - buru di cekal oleh Kak Leo.
"Jangan ngebantah, Rira. Ayok pulang." Kak Leo menarik aku menuju motornya yang terletak tak jauh dari kami.
"Aku mau sekolah, Kakak!" Seruku sambil berusaha menarik tanganku.
"Rira, nurut sama gue."
"Eh itu ada yang mau nyulik tuh!" teriak seorang bapak - bapak yang baru saja melewat dengan temannya.
"Eh iya! Wey lo anak muda! Jangan culik culikan!"
Aku dan Kak Leo saling terdiam bahkan bertatap tatapan.
Maaf banget sebesar - besarnya author baru bisa upp. Author lagi usahain buat banyak up sekarang. Di tunggu yaa..
__ADS_1