Cold Boy

Cold Boy
Lima Puluh Empat


__ADS_3

Kani buru - buru membekal pakaian untuk salin. 


Rencananya ia akan menginap saja karena melihat kondisi Serira sekarang yang sangat membutuhkan seorang teman disisinya.


Setelah beres mengemas semuanya, ia pun pergi keluar kamar dan menuruni tangga lalu menghampiri kedua orang tuanya yang sedang berada di ruang keluarga.


"Kamu mau kemana, Kani?" tanya Bianca yang melihat anaknya membawa tote bag di lengannya.


"Aku mau nginep di Rira, Ma. Dia lagi butuh aku banget." Jawab Kani meminta izin.


"Oh, berangkat sama siapa?" tanya Bianca kembali.


"Sendiri."


"Eh, jangan lah! Ini udah malem, kamu dianter papa aja." Seru Bianca sambil menepuk paha Jeri yang sedang asik menonton televisi.


"Mager banget ah!" tolak Jeri.


"Eh, kamu mau anak kamu kenapa sendiri malem - malem keluar?" seru Bianca kembali mengomeli sang suami.


"Kan, cari pacar sana, biar ada yang anter jemput." Ujar Jeri mengacuhkan ocehan Bianca.


"Malah nyuruh anaknya pacaran!"


"Udah, Ma. Aku naik ojek aja nggak papa."Ucap Kani pasrah.


"Ih, jangan ntar di culik!" seru Bianca.


"Nggak bakalan, Ma. Udah sana Kan, Rira nunggu tuh kasian!" seru Jeri mengusir halus anak tunggalnya itu.


Kani tersenyum sabar dengan modus ayahnya yang sebenarnya ingin berduaan dengan ibunya.


Karena Kani anak yang solehah, baik dan tidak sombong, akhirnya dia berpamitan kepada kedua orang tuanya.


"Kani berangkat, assalammu'alaikum." Pamit Kani.


"Wa'alaikumsalam. Hati - hati Kani!" jawab Bianca dan Jeri kompak.


Kani keluar dari rumahnya dan berjalan menuju gerbang utama.


Ia membuka gerbangnya dan mulai membuka aplikasi ojek online untuk memesan ojek ke rumah Serira.


Kani mencari alamat rumah Serira yang sangat sulit di lacak. Ia jadi kerepotan sendiri dan mulai mencarinya dengan teliti.


Sangat teliti sampai - sampai dia tidak menyadari bahwa seseorang kini sudah berada didepannya sambil menatapnya.


"Kan, mau kemana?" tanya Vans melihat Kani seperti akan pergi ke suatu tempat.


Kani yang merasa terpanggil itu langsung menenggakan kepalanya dan menyipitkan sedikit matanya.


Setelah tahu siapa orang dihadapannya itu, ia langsung mematung dan terdiam seribu bahasa.


Vans yang keheranan langsung mengerutkan alis dengan respon Kani. Ia pun merasa semakin yakin kalo ternyata Kani ini memang benar menyukainya.


"Kan." Panggil Vans menyadarkan lamunan Kani.


"Eh, gimana Kak?" tanya Kani, Vans terkekeh pelan.

__ADS_1


"Mau kemana malem - malem gini sendirian?" tanya ulang Vans dengan menambahkan sedikit kata.


"Oh, gue mau ke Rira, dia mau curhat kayaknya." Jawab Kani dengan sedikit kaku.


"Mau dianterin?" tawar Vans.


Mau lah! batin Kani.


"Eh, nggak usah, Kak, ngerepotin. Udah malem juga." Tolak Kani mau - mau tapi malu.


"Dari pada lo diculik, ntar gue sama siapa?"


Kani langsung terdiam di tempat begitu Vans mengatakan kalimat itu.


Ia berusaha mencerna semua kata - katanya dengan cermat sampai akhirnya Vans kembali menyadarkan Kani.


"Ayo, Kan, keburu malem." Ajak Vans kembali sambil bersiap - siap untuk segera hayu meluncur.


"Eh, beneran Kak?" tanya Kani memastikan.


"Iya, beneran, udah cepetan naik!" titah Vans sedikit gemas membuat Kani tak punya pilihan lain.


Kani pun naik ke atas motornya dan membenari posisinya agar bisa semakin pw.


"Udah." Ucapan Kani memberi tahu kesiapannya.


Tanpa menjawab, Vans langsung menancap gasnya lalu menjalankan motornya menuju rumah Serira.


^^^


"Yaudah, Re, makasih banyak ya." Ucap Ririn dari telepon.


Ririn pun mematikan sambungan teleponnya.


Reo menjauhkan ponselnya dari telinga dan menyimpannya begitu saja.


Ia jadi teringat kembali kepada Serira yang masih belum mendapatkan kabar apapun dari dirinya.


Sebenarnya, sudah dua hari Reo tidak memberi kabar apapun kepada Serira.


Walau ia selalu punya waktu untuk memberi kabar, tetap saja ia selalu kelupaan sendiri kalau dirinya sudah mempunyai pacar.


Reo melirik jam dindin yang menunjukan pukul sembilan malam.


Ini sudah waktunya untuk melepas semua penat yang sendari tadi ada didalam pikirannya.


Ia lebih memilih untuk mengistirahatkan semua anggota tubuhnya untuk bersiap - siap melawan cobaan yang mungkin akan datang nantinya.


Reo membaringkan tubuhnya di kasur dengan posisi terlentang, tangan kanannya pun ia jadikan bantal walau sebenarnya sudah ada bantal di kepalanya.


Ia memejamkan matanya dengan perlahan berharap penat ini bisa hilang dan mimpi dengan indah sepanjang malam.


^^^


Kani sudah sampai di rumah Serira.


Begitu ia sampai, Vans langsung pamit tanpa basa basi karena mengingat dirinya sendiri juga ada urusan sangat penting.

__ADS_1


Kani yang tak berani bertanya hanya membiarkan itu berlalu dan langsung memasuki rumah Serira yang disambut hangat oleh ibunda Rira.


"Eh, Kani. Sini masuk sayang." Sambut Naya sambil merangkul Kani untuk masuk ke dalam rumahnya.


"Makasih Tante."


"Rira diatas dari tadi belum turun - turun." Ucap Naya memberi tahu, Kani jadi merasa sedikit tambah cemas.


"Yaudah Tante, aku lihat dulu keadaan Rira ya." Pamit Kani yang langsung diizinkan oleh Naya.


Kani pun berjalan ke lantai dua dan sedikit berjalan lurus hingga sampai akhirnya ia sampai di kamar Rira.


Ia mengetuk kamar Rira sebanyak tiga kali dan tak lama pintu pun terbuka menampakan seorang Serira dengan mata sembabnya.


"Kani!"


Serira langsung menghamburkan pelukannya terharu karena tanpa diminta atau pun disuruh teman satunya ini selalu inisiatif untuk menghampiri Serira langsung.


"Udah, Ra, jangan nangis mulu. Ceritain dulu kenapa masalahnya." Ujar Kani yang membuat Rira melepaskan pelukannya.


Serira mengangguk paham lalu mengajak Kani untuk masuk ke dalamnya.


Mereka duduk diatas kasur dengan posisi saling berhadapan.


"Ayo, sekarang ceritain semuanya." Titah Kani, Serira pun mengangguk.


Ia menceritakan semua unek - unek dan kecurigaan hatinya kepada Kani secara menyeluruh.


Serira juga sesekali ingin menangis namun tetap ia tahan karena Kani sendiri yang memintanya untuk tidak menangis.


"Ra, jangan begitu." Ucap Kani setelah mendengar pengakuan hatinya Serira.


"Aku juga nggak mau gini, Kan. Tapi hati aku sendiri yang berkata begitu." Jelas Serira yang membuat Kani sedikit paham dengan perasaannya saat ini.


"Gini ya, Rira. Kamukan tahu dia itu sekarang lagi sibuk banget sama try out, jadi pastinya kak Reo itu sibuk banget belajar akhir - akhir ini.


Buat dia yang nggak ngangkat telepon kamu tapi ngangkat telepon orang, mungkin aja dia lagi ke wc atau kemana dulu, ngedenger panggilan pertama dari kamu nggak keburu ke angkat. Eh pas panggilan masuk lagi yang duluan masuknya telepon dari kak Ririn, jadi bisa jadi kak Reo mikirnya emang dari awal kak Ririn yang nelpon.


Buat kak Ririn sendiri.


Sebenernya aku emang denger kalo tante Jessica sama tante Bianca itu mau ngejodohin anak mereka seperti yang kamu curigain dulu. Tapi mereka bilang mereka mau ngejodohin anak yang sekarang ada di dalam kandungannya itu. Jadi nggak mungkin banget dong kak Ririn dijodohin sama kak Ririn.


Nah, sekarang kamu tunggu aja dulu kak Reo sampai beres ujian.


Kamu kasih dia suprise. Kalo dia seneng berarti dia masih sayang sama kamu. Kalau nggak coba aja gorok di tempat." Nasehat Kani panjang lebar yang sangat disimak baik oleh Serira.


Rira sedikit terharu dengan sahabatnya ini yang sudah seperti berdongeng kepada dirinya.


"Gimana?" tanya Kani meminta pendapat.


Serira mengangguk mantap untuk memberi jawaban, Kani pun tersenyum senang karena kini sahabatnya sudah sedikit menenang.


"Sini peluk dulu." Kani merentangkan tangannya mengundang Serira untuk berpelukan.


Serira mendekati Kani dan langsung memeluknya dengan senang.


"Jangan sedih lagi ya. Jalani semuanya dengan kepercayaan, karena semua orang ingin kepercayaan dari pasangannya sendiri." Ujar Kani kembali membuat Serira semakin terharu.

__ADS_1


"Thank you my best friend." Ucap Serira, Kani mengembangkan senyumannya.


"Your welcome." Balas Kani mengelus pungguk Serira pelan.


__ADS_2