
Serira tersenyum ketika melihat sang suami dengan tenangnya melantunkan adzan di telinga sang buah hati tercinta.
Terasa hilang semua rasa sakit melahirkan ketika melihat senyum bangga sekaligus senang yang ditampilkan oleh Reo.
Reo melirik ke arah istrinya ketika selesai mengadzani sang anak. Ia tersenyum senang dan menghampiri sang istri.
"Makasih ya, Sayang." Ucap Reo lalu mengecup pelan kening Serira.
"Makasih juga kamu udah jadi pendamping hidup aku yang selalu ada buat aku." Balas Serira dengan haru hingga menjatuhkan air mata.
"Aku bakal selalu ada disisi kamu apapun situasinya." Jelas Reo membuat air mata Serira semakin deras.
"Aku kasih nama anak kita, Aira Nuraima." Ucap Reo sambil mengelap air mata sang istri.
"Aku harap, anak kita akan menjadi anak yang kita banggakan ya."
"Dia pasti bakal jadi anak kita yang sangat membanggakan." Balas Serira dengan penuh keyakinan.
"Aamiin."
.
.
"Tenang-tenang ya kamu Sayang, anak mama. Mama mau masak dulu buat ayah kamu, sebentar lagi dia pulang. Jadi jangan rewel ya..," ucap Serira pelan kepada bayinya sambil menyentuh hidung si kecil.
Dengan hati-hati Serira pun bangkit dari ranjang dan berjalan mengendap-endap untuk keluar kamar.
"Assalamualaikum." Salam suara berat yang tiba-tiba datang membuat Serira dan bayinya pun terkejut.
"Ihh! Pelan-pelan Ayah salamnya, nanti Aira bangun!" seru Serira berbisik namun keras.
__ADS_1
Reo pun terkekeh atas tingkah istrinya lalu mendekati dia.
"Aku capek." Keluhnya berbisik.
"Kamu mandi aja sekarang aku mau masak." Balas Serira ikut berbisik.
"Mandiin." Goda Reo. Dengan sigap Serira memukul pelan perut Reo hingga lelaki itu meringis dan memegangi perutnya walau tidak terlalu sakit.
"Mandi cepet sana!" titah Serira.
"Mau main dulu sama Aira." Balas Reo yang langsung menghamburkan diri nya ke ranjang dan tidur disampung Aira.
"Aira, ayah pulang." Ucapnya sambil menyubit pelan pipi Aira.
"Ih! Ayah, ntar bangun!" tegur Serira.
"Nggak bakal." Balas Reo yang masih mengusili sang putri.
Bagaimana tidak? Sudah sangat susah baginya meniduri sang bayi namun dengan mudahnya Reo membangunkan sang bayi.
"Ayah! Aku tuh capek dari tadi udah nyuci, ngepel, nyapu, bersih-bersih rumah. Belum mandiin Aira, ganti popok Aira. Nidurin Aira tuh nggak gampang Ayah.., dia harus sambil di susuin harus sambil diayun-ayun sambil di ini itu, aahhh! Aku capek tau nggak kamu dengan mudahnya malah bangunin dia! Belum aku nyuci piring sama masak lagi sekarang!" seru Serira mengeluarkan semua kelelahannya yang sudah ia pendam.
"Mama, aku minta maaf. Sekarang biar aku yang cuci piring kamu disini aja tidur sama Aira ya. Aku minta maaf." Sesal Reo menarik Serira berbaring di samping Aira.
"Dah kamu istirahat disini, biar aku yang cuci piring sama masak." Ucap Reo yang langsung pergi dari kamar setelah mengecup pelan pucuk kepala Serira.
Ceklek.
Pintu pun tertutup rapat.
Serira menghela nafasnya dan berusaha memejamkan mata sambil menepuk-tepuk perut Aira pelan.
__ADS_1
Tiba-tiba saja terbesit rasa kasihannya kepada Reo yang baru saja pulang kerja.
Bukannya di sambut baik oleh istri ini malah disuruh untuk menyuci piring dan masak.
Apalagi tadi Serira sempat memarahinya dan berkeluh kesah dihadapannya. Jika dibandingkan dengan lelahnya Reo yang berbanting tulang kesana kemari untuk menghidupin anak dan istrinya pasti lebih lelah.
Serira langsung bangkit dari tidurnya dan berjalan keluar kamar lalu menyusul Reo yang dengan lesu mencuci piring dan alat makan lainnya di dapur sana.
Serira menghampiri Reo dan langsung memeluknya dari belakang.
"Eh, Mana kenapa bangun? Istirahat sana temenin Aira tidur." Titah Reo sambil melanjutkan pekerjaannya.
"Aku minta maaf, Ayah. Aku udah marahin kamu dan nyuruh kamu lakuin tugas aku. Padahal kalo dibandingin sama pekerjaan kamu pasti lebih lelah itu di banding aku." Sesal Serira dengan sedih.
Reo terdiam mendengar itu.
Ia pun mengelap tangannya yang basah lalu berbalik badan untuk melihat wajah sang istri saat ini.
"Aku nggak ngelarang kamu berkeluh kesah. Justru dengan terbukanya kamu aku jadi tau apa aja yang kamu rasain walau cuman diem didalem rumah. Tugas kita imbang, lelah kita juga sama. Cuman kamu lebih banyak karena ditbah dengan Aira, jadi aku bisa paham sama semua itu." Balas Reo penuh haru sambil tersenyum mengelus kepala Serira.
"Makasih Ayah, aku nggak pernah nyesel punya suami kayak kamu." Ucap Serira memeluk Reo erat.
"Aku juga nggak pernah nyesel." Balas Reo hanyut kedalam pelukannya.
Ketika sedang nikmatnya saling berpelukan, tiba-tiba.
"Eeakkk eaakk eeeaaakk!"
Serira langsung melepas pelukannya dan secepat kilat langsung naik ke lantai atas tempat kamar mereka berada.
Reo yang melihatnya langsung tertawa pelan sambil ikut menyusulnya.
__ADS_1
Thanks too all yang udah baca Reo sampai tamat. Tunggu Novel selanjutnya setelah perevisian Reo yaa. Makasih!