
Serira keluar kamar dengan kaus dan celana pendeknya yang berwarna pink. Ia berjalan menuju dapur untuk membantu sang mama yang sedang sibuk memasak.
“Rira, kamu kan tadi siang udah bikin kue, sekarang giliran Mama masak makan malam, kamu duduk aja sama Ayah dan Kakak kamu.” Perintah Naya. Serira mengecutkan bibirnya kecewa karena Naya kini tidak membutuhkan Serira lagi.
Serira berbalik badan dan berjalan kembali menuju ruang keluarga yang kini diisi oleh Ayah dan Kakak tirinya.
Sebenarnya Serira terkejut ketika mengetahui kalau ia adalah anak kedua dari Ayahnya. Padahal Naya bilang ia adalah wanita pertama yang
Hamto--ayah Serira-- nikahi.
Namun karena nasihat dari Naya, Serira bisa menerimanya dengan ikhlas. Walau Serira sama sekali tidak terima jika kedatangan Ayahnya kemari ini untuk meminta rujuk dengan Naya setelah pergi dengan selingkuhannya.
“Ra, Mama nggak di bantu?” tanya Leo ketika Serira duduk disampingnya. Karena yang melakukan kesalahan itu adalah orangtua mereka, jadi mereka sama sekali tidak bermusuhan atau pun saling membenci.
“Mama justru nyuruh aku nggak bantu.” Jawab Serira. Leo mengangguk lalu fokus kembali ke arah tv.
Serira melirik kesebelah Leo, tak ada orang. “Ayah kemana, Kak?”
Leo melirik ke arah Serira.
“Ayah lagi angkat telepon.” Jawab Leo. Serira mengangguk lalu mengikuti arah tatapan Leo, tv.
“Eh, lo beneran suka sama si Reo?” tanya Leo tiba – tiba.
“E—em, apa sih, Ka—Kakak ngawur!”
“Ah! Ngaku lo! Mukanya merah gitu masa masih mau malu–malu kucing?” goda Leo membuat wajah Serira makin memerah.
“Ih! Kak Leo, nih!” tanpa kasihan, Serira langsung memukul–mukul badan Leo dengan tangannya sekuat tenaga.
“Aduh! Ampun Kakak box!”
Serira menghentikan aktivatasnya ketika Hamto ikut bergabung dalam candaan mereka.
“Kalian cepat akur ya,” ucap Hamto. Leo tersenyum.
“Iya lah! Kita kan adik kakak satu–satunya!” jawab Leo sambil merangkul Serira.
“Bagus kalau kalian akur.” Ucap Hamto kembali, Serira tersenyum kecut.
“Makanannya sudah siap, ayok makan sekarang!” ajak Naya tiba–tiba namun memberikan semangat empat lima kepada yang mendengar kabarnya.
Mereka semua langsung menyerbu meja makan dan duduk di kursi masing–masing.
Kursi di meja makan itu tersedia empat buah, sangat pas untuk ukuran keluarga minimalis.
__ADS_1
Serira duduk berhadapan dengan Leo, sedangkan Naya duduk berhadapan dengan Hamto.
Mereka mengambil piring masing–masing lalu menyiukkan nasi ke piring tersebut. Dalam sistem keluarga Serira, lauk pauk yang dimasak Naya pasti dibagikan sendiri oleh Naya. Karena ia yang masak, pasti ia lah yang sudah mengetahui seberapa banyak lauk yang diberikan agar semuanya terbagi.
Mereka makan dengan tenang sambil sesekali berbincang ramah tentang sekolah ataupun masa lalu yang indah. Tidak ada kebencian sekarang, hanya kebahagiaan saat Serira masih kecil dan selalu dipangkuan Hamto dulu.
Makan malam telah selesai. Naya hendak membersihkan pring kotor namun langsung dicegah oleh Hamto. ”Duduk dulu,” titah Hamto. Naya mengangguk lalu duduk kembali di kursinya.
“Ekhm, jadi begini. Kedatangan ayah ke sini bukan untuk apa–apa. Ayah cuman meminta suatu permintaan kepada kalian, ayah harap kalian tidak menolak.” Jelas Hamto membuat Serira dan Naya mengerutkan dahi.
“Maksud kamu apa Mas?” tanya Naya agar semuanya jelas.
Hamto membenarkan duduknya menjadi lebih formal dari sebelumnya.
“Jadi begini, ayah akan pergi ke Turki selama lima tahun. Karena Leo pasti kesepian di rumah ayah, ayah harap kalian mau menemaninya di rumah ayah.”
~~
Reo melangkahkan kakinya dengan kasar di kolidor kelas sepuluh.
Entah kenapa rasanya ia ingin meledak begitu melihat gosip yang beredar dari mading sekolah.
“Woi! Cepetan tahan si Reo!”
“Kagak mau ah atut gue!”
“Tapi kan bukan gue yang nyalain!”
Reo mendorong kasar pintu kelas Sepuluh Ipa Satu dengan kasar yang membuat seluruh penghuninya menatap kaget ke arahnya.
Reo mengedarkan pandangan keseluruh ruagan. Dan benar saja! Sampah itu ada di sini.
Reo melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam kelas. Reo menarik kerah baju si sampah itu dan menyeretnya keluar.
“Ih! Yang tadi ngegombal tuh Kak Reo atau Kak Rio sih?”
“Ah masa iya Kak Rio! Dia kan nggak bisa ngegombal!”
“Terus kenapa Kak Rio bisa narik kerah Kak Reo dengan kasar?”
Reo sampai panas telinga sendiri . Mendenger celotehan tidak berguna dari semua siswa–siswi yang meliatnya.
Reo seret Rio menuju wc pria khusus kelas dua belas dan melemparnya begitu saja.
“Apa yang mau lo lakuin lagi sekarang?” sentak Reo ke Rio yang sudah teduduk di lantai dan nyender ke tembok.
__ADS_1
Rio mengangkat wajahnya dan menatap Reo.
Tatapan yang benar–benar asing dimemori Reo sampai ia sendiri tidak bisa mengenalin siapa yang sedang menatapnya ini.
“Lo seneng kan?” tanya Rio, Reo mengerutkan dahi.
Ia bangkit dari duduknya dan membenari seragamnya yang lusuh.
“Lo seneng kan? HAH?” teriak Rio sambil mendekati Reo dan menatap Reo seperti tatapan kebencian. Dan Reo benar-benar tidak mengenalinya sama sekali.
“Seneng apa maksud lo?” tanya Reo tenang biar suasananya tidak semakin panas.
Rio terkekeh dan memalingkan pandangannya sambil tertawa. “Seneng apa maksudnya? Harus gue kasih tau gitu?”
“Yaiyalah, kalau nggak dikasih tahu gue nggak bakal—“
“LO BAKAL DI JODOHIN SAMA RIRIN PENGKHIANAT!”
Reo terdiam.
Reo menutup matanya kemudian menarik dan mengeluarkan nafas secara berurutan. Dirasanya sudah tenang, Reo membuka matanya kembali dan menatap balik Rio.
“Tahu dari mana lo gue mau di jodohin sama Ririn?” tanya Reo tenang, bener–bener tenang.
“Mama.” Jawab Rio tenang juga. Reo mengangguk.
“Lo tahu kan Mama? Keputusannya itu bisa berubah kapan aja, lo nggak usah khawatir.” Jelas Reo menepuk pundak Rio. “Jadi lo nggak perlu repot–repot nembak adik kelas dengan identitas gue biar gue nggak jadi di jodohin sama pacar lo itu.”
Rio ngangguk lalu nunduk ke arah Reo.
“Maafin gue Kak, gue nggak bermaksud,”
“Gue ngerti perasaan lo, lo nggak usah khawatir, gue nggak bakal ngekhianatin lo.” Jelas Reo kembali.
Rio ngangkat kepalanya dan nunjukin muka so imut. Reo langsung teringat masa lalu ketika dia gini itu
artinya..,
“Huwa! Kakak aku minta maaf! Aku udah buat gosip nggak bener tentang lo! Gue cuman mikirin diri gue sendiri tanpa mikirin elo! Gue minta maaf! Huhu..,”
Reo mencoba melepaskan pelukan Rio yang malah semakin erat.
Reo menghela nafas berat ketika meratapi nasibnya yang didekap oleh adiknya sendiri.
Reo mencoba menenangkan diri seperti yang sebelumnya sudah ia lakukan.
__ADS_1
“Gue—“
“Kalian ngapain di sini sambil peluk–pelukan?”