
Serira
Aku tersenyum malu ketika kak Reo berusaha menggoda ku.
Aku menundukan kepala ku sambil memotong kembali kuenya.
"Jangan nunduk - nunduk, muka cantik lo nggak keliatan." Goda kak Reo kembali.
"Kak Reo udah ih! Muka aku makin merah nih!" seru sambil menepuk pelan bahu kak Reo.
"Nggak papa, lucu."
Aku mengabaikan omongan kak Reo dan kembali menyuapi cupcake nya.
Tak ada pembicaraan lagi kesananya.
Kami saling fokus kepada pikiran masing - masing. Sampai akhirnya kak Reo membuka pembicaraan.
"Pulang sana, dah malem." Bukan pembicaraan deng, pengusiran.
"Kok kak Reo ngusir?" tanya ku kecewa.
"Itu tanda sayang, Rira. Ini udah malem, lu mending pulang. Besok kan sekolah?" jawab kak Reo sambil menjelaskan.
"Kata Kani sekolah, tadi libur karena gurunya ada rapat penting." Jawab ku balik.
"Yaudah, sekarang mending pulang minta jemput kakak lo." Perintah kak Reo. Aku mengangguk sambil tersenyum dan membuka hpku untuk mengirim pesan ke kak Leo.
Aku mengetik pesan yang tidak terlalu panjang dan mengirim pesan tersebut. Lalu aku simpan kembali hpku dan melirik ke arah kak Reo.
Aku terkejut karena ternyata, dari tadi kak Reo memperhatikan wajah ku.
Aku jadi malu sendiri dan menepuk pundak kak Reo pelan.
"Seneng banget nyakitin orang." Ucap kak Reo.
"Kak Reo juga seneng banget bikin baper orang!" balas ku.
"Kalo lo baper gue harus tanggung jawab nggak?" tanya kak Reo.
"Harus lah! Sebagai lelaki yang jentle." Jawabku.
"Kalau tanggung jawab sebelum pacaran itu berarti harus pacaran ya?" tanya kak Reo kembali, aku berfikir sejenak.
"Hm.., mungkin." Jawab ku.
"Kalo gitu, lo mau nggak jadi pacar gue?"
Tok tok tok
__ADS_1
"Assalammu`alaikum." Ucap kak Leo yang langsung masuk tanpa menunggu perintah.
Terdengar suara kak Reo yang mendengus dan aku terkekeh pelan.
"Kenapa? Gue dateng di time yang salah ya?" tanya kak Leo polos.
"Ya." Jawab kak Reo. Kak Leo langsung menutup mulutnya dengan ke dua tangannya.
"Yah! Maaf gue nggak tahu. Gue balik lagi deh!" ucap kak Leo hendak pergi namun aku mencegahnya.
"Eh, nggak kok, Kak, nggak ngeganggu. Ayo sekarang kita pulang. Aku pamit pulang ya kak Reo. Kakak jaga diri di sini. Aku juga udah ngabarin mama kak Reo kalau aku mau pulang. Kabarin kalo ada apa - apa ya, Kak. Assalammu`alaikum." Pamit ku.
"Wa`alaikumsalam." Jawab kak Reo.
Aku dengan kak Leo pun keluar dari ruangan tersebut.
"Lo tadi lagi ngomongin apaan?" tanya kak Leo. Aku tersenyum sendiri.
"Nah, loh! Kenapa senyum - senyum sendiri!" seru kak Leo sambil menunjuk bbir ku yang sudah terbentuk senyuman.
"Apa sih, Kakak! Kepo banget kayak dora!" seru ku sedikit risih.
"Yekan nanya, gue emang kepoan orangnya!" balas kak Leo.
"Udah ah! Ayo pulang! Besok sekolah." Ajak ku mempercepat perjalanan.
^^^
Hari ini aku sekolah. Memang seharusnya begitu sih.
Aku mengoleskan liptint di bibirku dan tersenyum ketika semuanya telah selesai.
"Dah belum, Rira?" panggil kak Leo dari balik pintu.
"Dah. Yuk!" ajak ku sambil berjalan ke arah pintu dengan membawa ransel.
"Tumben mood lo baik hari ini." Ucap kak Leo.
"Kan setiap mood aku di pagi hari itu kakak. Kalau kakak nggak ngajak gelut, mood aku normal." Jelas ku.
"Owh, begitu."
"Iya. Udah cepet ayo, ntar kesiangan!" ajak ku kembali.
"Ini bawa bekal makanan, Rira." Ucap mama mendekatiku sambil membawa sebuah kotak makan.
"Makasih, Ma. Aku berangkat ya, assalmmu`alaikum." Ucap ku sambil menyalami tangan mama.
"Wa`alaikumsalam. Hati - hati ya, Leo." Jawab mama.
__ADS_1
"Siap, Ma. Assalammu`alaikum." Balas kak Leo sambil menyalami tangan mama juga.
Kami pun keluar dari rumah dan berangkat sekolah bersama memakai motor kak Leo.
^^^
Reo
Gue membuka mata gue perlahan dan melihat keberadaan mama di samping gue.
Mama tersenyum ke arah gue sambil ngusap pelan rambut gue.
"Alhamdulillah kamu udah bangun, Sayang." Ucap mama. Aku ikut tersenyum.
"Mama bawa makanan kesukaan kamu, mau di suapin atau makan sendiri?" tanya mama.
"Suapin mama boleh?" tanya ku balik.
"Boleh dong, apa sih yang nggak buat anak kesayangan mama." Jawab mama sambil membuka kotak makannya.
Gue melihat ada makanan - makanan sehat di sana. Dan satu pun nggak ada yang pernah menjadi favorit gue.
"Mana makanan kesukaan Reonya, Ma?" tanya gue.
"Ini semua. Kamu kan suka sayur, Reo." Jawab mama sambil menyiuk nasi dan sayur.
"Mama salah deh. Yang suka sayur Rio, bukan Reo." Jelas gue, mama terhenti dari aktivitasnya dan melirik ke arah gue.
"Mau suka atau nggak, sayur itu penting untuk tubuh, Reo." Balas mama yang langsung nyuapin gue makanannya.
Gue hanya terkekeh pelan.
"Dede bayi nggak banyak mau kan, Ma?" tanya gue. Mama menggeleng senang.
"Kali ini dia nggak sebawel kalian waktu di kandungan. Dia lebih tenang dan pendiam, mungkin aja pas udah lahir dia bisa jadi anak yang penurut." Jawab mama sambil ngusap - usap perutnya.
Gue tersenyum ikut senang dengan jawaban mama.
Gue ikut ngusap perut mama yang udah mulai membesar.
"Mama titip adek kamu kalo mama udah nggak ada ya, Reo." Ucap mama, gue terdiam.
"Mama bener - bener berharap bahwa kalian nggak akan terpecah belah setelah mama nggak ada waktu saat nanti, dan--"
"Mama nggak akan ninggalin kita. Mau itu sekarang ataupun nanti, mama akan selalu ada di samping kita." Tegas gue. Mama terkekeh pelan.
"Umur nggak ada yang tau, Reo. Kalau mama meninggal pas lahiran kan bisa aja." Jawab mama, gue melirik ke arahnya.
"Kita nggak akan pernah biarin mama pergi."
__ADS_1