
Reo langsung mendorong tubuh Rio sampai Rio terjatuh dan tidur di lantai.
“Ririn! Kamu ngagetin kita aja!” teriak Rio sambil mengelus–elus bokongnya.
Reo melirik ke arah Ririn yang sedang menatap Rio prihatin. Namun belum lama Reo menatapnya, tiba–tiba pandangan mereka bertemu buat Reo menghidari tatapannya kemana aja asal tidak ke Ririn.
“Gue duluan.” Pamit Reo yang langsung pergi begitu saja dari wc.
Rwo berjalan cepat melewati koridor saking buru–burunya.
BRUK!!
Reo langsung berhenti dan berbalik badan ke arah belakang untuk melihat siapa orang yang tidak sengaja ia tabrak. Reo perhatikan orang itu secara teliri dan ternyata itu adalah.
“Rira?”
Orang yang Reo panggil langsung menenggak dan tidak lama wajahnya memerah.
“L—lo kambuh lagi ya?” tanya Reo sedikit panik. Lah kenapa gue harus panik?
“K—kam—kambuh a—apa?” tanya Serira balik. Reo mengerutkan dahi, masa ia dia tidak mengingat alerginya sendiri? Reo saja orang lain inget.
“Bukannya, lo punya alergi panas?” tanya Reo. Serira sempat mengejapkan matanya beberapa kali dan akhirnya ia sadar.
“E—eh iya Kak, anu, aku—alergi aku kambuh, hehe.” Jawab Serira jujur, Rei mengangguk. “Gue anter lo ke kelas.”
Serira membelakkan mata lebar–lebar ketika Reo ingin mengantarnya ke kelas yang jaraknya sangat dekat dari tempat yang sedang mereka tempati.
Serira sempat meraba wajahnha yang terasa sangat panas. Ya ampun, pasti kalau di lihat benar – benar merah!
“B—Buat apa K—Kak?” tanya Serira dengan sedikit gugup.
“Tanda maaf aja.”
GUBRAK!
Sejak kapan Reo mau memberikan tanda bahwa ia ingin meminta maaf? Ini sungguh–sungguh perdana sampai Serira sendiri terkejut dengan pernyataan yang baru saja Reo lontarkan.
Reo bangkit dari jongkoknya. Serira hendak mengikuti aktivitasnya, namun tiba–tiba saja sebuah tangan terulur membuat ia menegak untuk memastikan apa itu Reo atau bukan.
Dan ternyata, benar! Itu tangan Reo!
Dengan senang hati, Serira langsung meraih tangannya dan mencoba berdiri dari duduknya. Tapi,
__ADS_1
“Aww!”
Serira refleks berteriak ketika ia coba menegakkan kakinya. Ia kembali terjatuh membuat Reo yang memegang tangannya jadi mencekal tangan Serira
sangat erat. “Lo kenapa?”
“E—e.., i—ini sakit! Ka—kaki ak—aku, aw!”
Reo sempet melihat mimik muka Serira yang serius karena kesakitan, hey! Aku beneran sakit ini! Nggak di buat – buat!
Reo sempat ngedarin pandangan ke arah koridor, kosong.
Reo langsung mendekati Serira dan berjongkok untuk menyemai tingginya dengan Serira.
“Maaf.” Ucap Reo. Serira mengerutkan dahi. Dengan tiba–tiba, sebuah tangan melingkar di pinggang dan paha Serira membuat ia terangkat ketika Reo terbangun dari jongkoknya.
Serira terdiam mematung dengan perlakuan yang baru saja Reo lakukan padanya.
Ia menetap lurus kedepan saking kagetnya sampai ia sendiri tidak sadar kalau sendari tadi Reo memanggil namanya dan sempat takut karena Serira tidak menyahut, melainkan menatap lurus ke arah depan.
“E—eh, i—iya Kak?”
“Lo ada obat buat ngeredain alergi panas lo?” tanya Reo sambil melanjutkan perjalanan. Serira menggeleng untuk menjawab pertanyaan Reo.
“E—em, a—ak—aku..,”
Reo membuka pelan pintu uks lalu masuk dengan menyamping agar tubuh Serira tidak mengenai pintu. Reo barigi tubuh Serira di kasur lalu menyalakan ac yang ada di ruang uks itu.
Reo melirik ke arah Serira dan menatap wajahnya cukup lama membuat Serira salting sendiri.
“Acnya udah 18 ̊ tapi muka lo masih merah. Sebenernya lo alergi dingin atau panas?” tanya Reo kembali mempermasalahkan wajah Serira yang terus memerah.
Bagaimana wajahnya tidak merah! Dari tadi Serira di baperin terus oleh Reo!
“A—ak—aku—“
“Rira? Kamu kenapa di sini?”
Suara lembut ibu–ibu itu mengejutkan Serira dan Reo. Mereka sama–sama terdiam sampai akhirnya Reo angkat bicara.
“Kaki dia keseleo Bu.”
“Oh keseleo. Sini biar ibu tangani, kamu kembali ke kelas aja Reo.” Titah ibu guru yang langsung dituruti oleh Reo. “Gue duluan.”
__ADS_1
Serira mengengguk dengan sedikit kecewa karena Reo kini tak lagi mendampinginya.
“Kalian pacaran?”
Serira membelakkan matanya terkejut atas pertanyaan ibu guru penjaga uks barusan. Ia dengan cepat menggeleng untuk menjawab pertanyaan itu.
“Oh dikirain. Sakit kaki yang mana Rira?”
~~
Reo melirik ke jam tangannya yang sudah menunjukan pukul tiga sore. Ini seharusnya sudah jam pulang sekolah, namun guru kiler yang sedang mengajar didepan kelasnya ini tidak berhenti mengoceh untuk nasihati temen sekelas Reo yang ketahuan merokok dari tadi.
Untuk gerak ganti posisi pun tidak mampu, itu hal jika dilakukan pulang sekolah pasti tidak akab bakal terjadi, nginep aja udah di sekolah.
Rei melirik teman sebangkunya, kali ini Exel duduk bersamanya. Reo dengan Vans sering bergantian teman duduk, sehari sekali mereka roling. Tidak tau faedahnya apa. “Apa liat–liat?”
Reo memalingkan pandangannya ke arah Pak Kenal yang masih mengoceh. Reo memainkan kaki dan jarinya agar tidak terlalu gabut. Ia juga sempat melirik temen–temen ceweknya, namun langsung ia palingkan kembali karena ada yang mulai sok cantik kepada Reo.
Temen cewek sekelas Reo juga sudah pada dandan, itu hal yang buat Reo tidak menyukai cewek jaman sekarang.
Padahal ia lihat mamanya sampai sekarang jarang sekali menggunakan makeup. Putra bilang juga kepasa Reo Jessica dulu ketika sma tidak didandan membuat Reo iri sendiri.
Ada sih yang tidak didandan jaman sekarang, namun orang itu cupu atau nggak—eh.
“Yasudah kalian pulang sana! Capek bapak ngurus kalian!”
Semua murid langsung senyum bahagia lalu merapihkan mejanya dan menggendong tas masing–masing.
Reo melakukan hal yang sama dengan yang lain. Tanpa doa atau perpisahan mereka semua langsung pulang karena gurunya juga langsung pergi.
“Re! Mau ikut nongkrong nggak?” tanya Vans. Reo berfikir sejenak. “Ngapain?”
“Biasalah.., ngebul–ngebul.” Jawab Vans.
Reo rasa ia sedang tidak stres. Jadi ia menggeleng untuk menjawab tawaran Vans. “Oh, tumben. Oke kita duluan!”
Reo mengangguk. Mereka pergi keluar kelas. Reo juga pergi keluar, bareng dengan teman-temannya sampai parkiran. Ketika mereka sudah disana baru mereka bubar.
Reo menaikin motornya dan memakai helm yang ada di motornya. Ia angkat motor itu dan sempet membenari spion. Reo melihat dari pantulan kaca
itu ada cewek yang ia kenal, Kani. Kelihatannya Kani sedang menuntun seseorang untuk jalan. Reo berbalik badan kebelakang untuk melihat jelas siapa yang Kani tuntun.
Rei membalikkan lagi badannya menyalakan mesin motor. Ia injak gigi motor dan tancap gas ke arah dua gadis yang sedang berjalan pelan.
__ADS_1
“KANI! RIRA! AWAS!”