Cold Boy

Cold Boy
Tujuh Belas


__ADS_3

Serira


Tak lama dari kabarku, Kak Reo langsung pergi tanpa pamit. Aku sedikit ikut panit karena setelah itu Kak Reo tidak bersuara lagi.


“Kenapa, Ra?” tanya Kani yang baru datang menyusulku.


“Kan, tadi aku kasih tahu kabar Kak Ririn dan Kak Reo langsung pergi dianya. Kira – kira kabar mereka gimana ya?” tanya ku dengan tergesa – gesa.


“Pertama, kita harus tenang dan menyerahkan semuanya pada tuhan. Kita harus yakin kalau Kak Reo bakalan selamatin Kak Ririn.” Jelas Kani, aku mengangguk. “Semoga.”


“Ra! Kan!” panggil seseorang membuat kami menoleh ke sumber suara.


“Kenapa, Kak?!” tanya Kani yang ikut panik.


“Reo bilang, kalian berdua ikut gue ke rumah. Kita pulang sekarang!” seru Kak Rio.


“Kok pulang? Sekolah kan belum bubar?” tanya ku.


“Ck! Ra! Dalam ke adaan gini lo masih mikirin itu? Semua siswa juga pada pulang dari sekarang karena takut tawurannya nggak nyampe sebentar!” seru Kak Rio kembali.


“Ayo, Ra! Kita harus pulang sekarang!” ajak Kani. Aku terdiam sebentar sambil memikirkan seseorang. “Kak Reo gimana?”


Mereka berdua terdiam. Aku makin khawatir ketika teringat kalau Kak Ririn juga sedang di culik oleh musuh.


“Lo nggak usah khawatir, Reo punya pasukan.”


~~


Reo


Gue ngasih tahu ke temen – temen kalau gue bakalan ngendap – ngendap buat masuk ke Sma 2. Gue juga minjem hodie Rio biar siswa di sana nggak mengenalin gue dari bet sekolah. Gue juga minjem topi sekolah Sma 2 ke adik kelas yang ada di sekolahan ini tadi.


Gue menelusuri lorong demi lorong sekolah ini. Melirik ke kiri dan kanan buat cari dimana gudang yang ada di sekolah ini.


“Eh! Katanya sekarang bakalan pulang cepet satu sekolah gara – gara tawuran ngerebutin cewek itu!”


“Iya, Coy! Cantik banget gila tuh cewek, beh! Kalau jomblo gue embat!”


“Body nya juga bagus! Pasti mantep lah tuh, si Joky ngerem di gudang!”


“Hahaha!!”


Gue makin ngekepal tangan gue saking keselnya sama siswa yang udah tahu kalo temen mereka nyulik orang. Mungkin ini satu sekolah udah ngerencanain sampai mereka seneng kalo mereka udah nyulik cewek.


Gue makin cepat ngelangkahin kaki gue dan kembali ngedarin pandangan buat cari dimana gudang yang ada di sekolahan ini.


BRUK!


“Bngst! Lo bisa liat – liat nggak sih kalo jalan?!” sentak orang yang baru aja nggak sengaja gue tabrak. Gue diam sambil nundukkin kepala.


“Anak kelas mana lo?!” tanya dia setelah berdiri dari duduknya.


Gue tetap diam mencoba nggak ngebalas. Takut gue dikenal orang ini, gue hanya diam sambil tetap menunduk.


“Ck! Nggak ada kerjaan lo ngintropeksi dia! Cepetan! Ntar ke buru mulai tawurannya!” seru teman di sampingnya.


Nggak lama dari diskusi singkat mereka, mereka pergi dari hadapan gue yang buat gue bernafas lega.


“Tadi mereka abis dari arah sana! Kemungkinan gudangnya itu ada di sana!” tebak gue sambil nunjuk arah orang tadi keluar.


Gue mulai mengambil seribu langkah menuju ruangan yang paling pojok dan sunyi. Gue melirik dulu ke kanan dan kiri, tidak ada orang. Gue mencoba membuka pelan pintu gudang dan masuk ke dalamnya.


Gue tutup kembali pintu gudang dan melangkah pelan masuk ngitarin areanya.


“Hiks, hiks.”


Gue menoleh. Mencoba untuk nyari dimana asal isakan itu. “Rin?”


Hening.


Suara isakan yang tadi terdengar samar langsung tidak terdengar.

__ADS_1


“Rin? Itu lo kan?” panggil gue kembali.


“Reo..,”


“Rin!! Lo dimana?!” panggil gue lebih keras sambil ngedarin pandangan yang nggak terlalu jelas karena gelap.


“Reo, gue di belakang lo.”


Gue melirik ke arah belakang. Gue nyipitin mata dan mencoba untuk maju sedikit agar bisa ngaliat jelas tubuh Ririn.


“Rin..,”


“Reo..,”


Gue langsung dekatin diri gue ketubuh Ririn buat ngebuka tali yang udah ke iket di tubuhnya.


“Susah, Re..,” lirih dia. Gue tetep berusaha ngebuka talinya secepat mungkin takutnya ketahuan sama murid sini.


Gue coba gigit dan tarik tali tambang itu sampai akhirnya terbuka. Walau tangan gue sempet terluka.


Bersamaan sama kebukanya tali, Ririn langsung meluk gue dan nangis di pundak gue.


Gue.., gue jadi teringat waktu dulu.


Flashback on.


“Kakak!! Cepetan kesini! Kita main petak umpet!” seru Rio mengajak sang kakak yang sedang duduk


memperhatikan mereka bermain. Reo dengan sigap menggelengkan kepalanya menandakan bahwa dia menolak penawaran Rio.


“Ck! Nggak asik!” dengus Rio kembali.


“Sama aku aja, Ri. Kita main pentak umpet berdua ya!” seru Ririn menghibur sahabat terbaiknya yang seumuran dengannya, sembilan tahun.


“Ayo, Ririn! Kita main petak umpet!” seru Rio ceria kembali. Ririn mengangguk lalu menarik Rio ke sebuah pohon besar. “Tapi kamu duluan yang jaga!”


“Iya, aku duluan. Kamu nyumput ya! Jangan jauh – jauh loh!” seru Rio.


“Satu, dua, tiga, empat..”


Reo memperhatikan gerak – gerik Ririn yang sedang mencari persembunyian. Reo melihat Ririn telah bersembunyi di pohon yang dekat dengan danau dan pintu keluar taman.


Ke adaan taman yang sedang di kunjungi oleh ketiga bocah itu berawan hitam. Terdengar sesekali petir menyambar membuat Ririn kecil yang sedang bersembunyi ketakutan.


Tapi karena ia sedang bermain petak umpat dengan Rio, dia tetep menahan diri untuk tidak keluar dari persembunyian.


“Nona,” panggil seorang lelaki. Ririn menoleh.


“Aden Reo dan Rio sudah pulang ke rumah. Mereka menyuruh kami untuk menjemput Nona juga.” Ucap


lelaki itu. Ririn mengerutkan dahinya lalu mengintip ke arah Reo dan Rio yang sebelumnya di tempati.


Dan benar saja. Tak ada orang di sana.


“Ayo, Nona.”


Ririn mengangguk lalu mengikuti langkah lelaki itu.


Lelaki itu membukakan pintu lalu mempersilahkan Ririn untuk masuk ke dalam mobil.


“Ririn!!”


Ririn menoleh setelah mendengar seseorang memanggilnya. “Reo?”


Tanpa basa basi, lelaki yang tadi menyamar menjadi pelayan keluarga Reo itu langsung memangku Ririn untuk masuk ke dalam mobil dan menutup pintunya secara kasar.


“Reo!! Om turunin aku!! Reo di sana!! Dia nggak pulang!!” teriak Ririn sambil meronta – ronta.


“Diem kamu! Kalau terus teriak, om bunuh kamu!” sentak penjahat itu sambil menodongkan pistolnya.


“Ririn!!” teriak Reo berlari mengejar Ririn yang sudah pergi jauh dari tempatnya.

__ADS_1


“Reo!! Hiks, Reo bantuin aku!! Reo!!”


“Diem! Bocah itu nggak bakalan nyelametin kamu! Masih bocah mana mungkin bisa ngejar kita! Emangnya


Siva!” seru penjahat itu. Ririn terus menangis sambil berteriak nama Rio berharap sang pemilik nama membantunya.


Mereka sengaja memilih tempat persembunyian yang sangat jauh dari taman yang tadi Ririn kunjingi. Mereka mengurung Ririn di gudang tua yang berdebu dan gelap. Tak lupa juga mereka ikat tangan dan kaki Ririn agar dia tidak bisa kabur kemana – mana.


“Sudahlah, anak kecil nggak usah di jaga! Mana mungkin juga dia bisa kabur!” ucap penjahat itu kepada


rekannya.


Rekannya mengangguk lalu secara bersama mereka keluar dari gudang itu.


Ririn menangis sambil ketakutan karena kini keadaan luar sedang dilanda hujar dan petir besar. Dia hanya bisa membaca beberapa ayat suci dan meminta bantuan kepada tuhan agar bisa membantunya yang sedang kesusahan ini.


“Reo.., tadi kamu liat aku kan? Kamu bantu aku kan?”


Kriet


Suara pintu terbuka dan tertutup kembali membuat Ririn mengencangkan isakkannya.


“Rin..,”


Ririn langsung terdiam.


“Rin.., itu kamu kan? tanya Reo sambil berjalan perlahan mencari keberadaan Ririn di tempat yang sangat gelap ini.


“Reo.., aku ada di belakang kamu..”


Reo membalikkan badanya. Namun tidak langsung menghampiri Ririn, Reo memoperhatikan dahulu orang yang sedang di carinya itu.


Reo langsung mendekati Ririn setelah tahu kalau itu adalah orang yang ia cari.


Reo berusaha membuka talinya. Dia menggigit dan menarik menggunakan tangannya sendiri hingga terbentuk sebuah luka di telapak tangannya.


Tali telah terbuka sempurna. Ririn langsung memeluk tubuh basah Reo dan menangis di pundaknya.


Flashback off.


“Reo..,”


Gue membalas pelukan Ririn dan ikut mengeluarkan air mata yang udah ngebendung sendari tadi.


“Lah?! Kok nggak bisa di buka?!”


Gue langsung lepasin pelukannya ketika seseorang di luar berusaha ngebuka pintu gudang.


Gue tadi sengaja ngunci pintunya takut gue ketahuan lagi mencoba untuk menyelamatin Ririn.


“Rin.., sekarang kita nyumput dulu di sini. Anak Sma 2 ini sebentar lagi bakalan pulang. Jadi kita nyumput di sana!” perintah gue sambil menunjuk ke sudut ruangan yang di tutupin meja.


Ririn mengangguk pasrah. Gue menarik tubuhnya untuk bersembunyi. Gue membekap tubuh Ririn untuk ngasih ketengan ke dia.


BRUAK!


“Eh kok nggak ada Sat! Cewek nya!”


“Gblk! Kemana cewek itu!”


“Jendelanya kebuka!”


“Cepet semuanya cari mereka ke belakang sekolah!”


Kedengeran semua orang udah nggak ada di sekitar gudang, tapi gue masih diam di tempat buat jaga – jaga takutnya tiba – tiba ada orang lewat.


“Kita kan nggak lewat jendela!” bisik Ririn. “Sssstt!”


Ririn diam kembali ke posisi awalnya.


“Bagus Xel! Kali ini lo berguna.” Batin gue senang ketika mendengar kalau kerja Exel berhasil. Yaitu ngehancurin jerdela gudang Sma 2 ini.

__ADS_1


__ADS_2