Cold Boy

Cold Boy
Enam Puluh


__ADS_3

Seperti ucapan Reo tadi, ia menunggu Ririn di parkiran sekolah saat para murid sudah mulai berhamburan untuk pulang sekolah.


Ririn berjalan mendekati Reo begitu ia melihat Reo sudah siap meluncur.


"Mau ngapain?" tanya Ririn.


"Naik aja." Jawab Reo singkat.


"Lo baru aja putus sama Rira, kalo gue deket sama lo, lo mau nyangka orang--"


"Gue mau ngejemput ibu gue yang ada di rumah lo, kalau lo mau nebeng gue nggak keberatan." Jelas Reo memotong ucapan Ririn. Ririn yang merasa geer duluan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Cepet! Gue nggak punya banyak waktu buat nunggu lo." Tegas Reo.


Ririn menaiki motor Reo dengan hati-hati lalu menyamankan posisi duduknya.


"Re, nggak ngumpul dulu?" panggil Johan ketika melihat Reo hendak pergi.


"Gue jemput nyokap dulu di rumah dia, abis itu gue nyusul." Jawab Reo yang langsung disetujui oleh para kawannya.


Reo pun menginjak gigi motornya lalu mengarahkan motor itu ke gerbang sekolah lalu jalan dengan kecepatan sedang.


"Tuh! Sambil nunggu Reo jemput emaknya, gue ngapel bentar ama Kani!" seru Vans yang senang duluan.


"Kayaknya gue liat tadi Kani dah balik sama Rira naek mobil Satria." Jelas Tio yang melihat kejadian itu ketika ia pergi mengantar buku ke perpustakaan yang dekat dengan parkiran mobil.


"Ngapain sama si Satria?" tanya Vans agak geram.


"Ntar lo tanya aja sama bini lo, sekarang mending cabut skuy." Ucap Exel merangkul Vans yang sudah menyimpan dendam.


"Yok, gue yang mimpin jalan." Ucap Johan sambil berjalan kearah parkiran.


^^^


Reo berhenti didepan rumah Ririn.


Mereka turun bersama dari motor dan masuk kedalam rumah yang sudah diisi oleh banyak tamu.


"Eh, Ririn, Reo, sini." Sambut Camila ketika melihat mereka muncul dari balik pintu.


"Nah, udah pada pulang ternyata." Sambung Jessica.


"Kok ada ayah juga?" tanya Reo melihat ayahnya sedang mengobrol dengan ayah Ririn dan ayah Kani.


"Iya, dia dateng tanpa sepengetahuan mama jadi mama nggak ngabarin kamu deh." Jelas Jessica.


"Eh, tapi kalo dilihat anak kalian emang udah cocok dari sananya ya!" seru Bianca yang sendari tadi memperhatikan Reo dan Ririn yang duduk bersama di sofa.


Jessica dan Camila yang mendengarnya pun ikut memperhatikan dan setuju dengan pendapat Bianca.


"Iya loh, Rin." Sambung Camila kepada anak pertamanya.


"Mah, jangan digitu-gituin, Reo baru putus sama pacarnya." Ujar Ririn agar orang tuanya berhenti menjodoh-jodohkan mereka.


"Nah! Makin bagus kalo udah putus, La, bisa kita jodohin sekarang." Seru Jessica kepada Camila dengan wajah berbinarnya.


Ririn yang mendengar itu langsung terkejut dan berusaha untuk memberhentikan percakapan ini.


Ia melirik Reo yang juga meliriknya, Reo memberikan kode untuk 'diam saja' kepada Ririn agar rencana itu menjadi wacana.


"Jodoh-jodohin sana semua anak kalian, takut amat dah kehilangan tali silaturahmi." Nyinyir Bianca.


"Eh, Ca, coba deh anak kamu juga digituin, pasti seneng." Ucap Jessica.


"Ih, sorry, anak gue dah punya pacar yang dia cari sendiri." Tolak Bianca dengan sombong.

__ADS_1


"Heleh, ni anak kapan taubatnya." Balas Camila melihat kelakuan teman yang abnormalnya ini.


"Re, apa kabar." Sapa Muhtaz yang serasa sudah lama tidak bertemu Reo.


"Baik, Om." Jawab Reo sambil menyalami tangan omnya.


"Kaki kamu udah mendingan kan?" tanya Muhtaz kembali, Reo mengangguk.


"Udah sembuh kok, Om."


"Bagus kalau gitu."


"Eh, Pah, kalau Reo sama Ririn jadi dijodohin kamu setuju nggak?" tanya Camila kepada Muhtaz dengan penuh harap.


Muhtaz yang mendengarnya sedikit kebingungan karena sepertinya dia sudah mendengar kabar kalau perjodohan mereka dibatalkan.


"Terserah mama aja." Jawab Muhtaz kalem.


"Gimana, Jes?" tanya Camila kembali, Jessica tersenyum senang.


"Aku setuju." 


^^^


Serira turun dari mobil yang dibantu oleh Kani dan Satria.


"Pelan-pelan, Kan." Titah Satria begitu Kani memandu jalan Serira.


"Makasih banyak, Kak, atas segala bantuannya. Aku nggak tahu lagi harus balasnya kayak gimana." Ucap Serira yang merasa tidak enak kepada Satria, pria itu pun terkekeh.


"Nggak usah gitu, Ra, lo kayak ke siapa aja. Cepet sembuh ya, lo kan mau mimpin organisasi ntar." Balas Satria, Serira mengangguk sambil tersenyum. "Makasih Kak."


"Udah cukup makasihnya, gue pamit. Kan, jaga Seriranya ya." Ujar Satria yang langsung diangguki oleh Kani.


"Assalammu'alaikum." Ucap Satria.


Satria pun masuk kedalam mobilnya dan pergi keluar dari rumah besar milik keluarga Serira itu.


Kani kembali menuntun Serira untuk masuk kedalam rumah sampai kedalam kamarnya.


"Mama kamu masih di toko, Ra?" tanya Kani, Serira mengangguk.


"Yaudah kalo gitu aku disini dulu sampai mama kamu pulang ya?" pinta Kani mendudukan Serira di kasur.


"Nggak usah Kani aku bisa sendiri. Lagian tadi kamu bilang mama kamu kan nyuruh kamu buat ke rumah temennya, masa kamu mau nolak sih, jadi anak durhaka loh!" seru Serira menakut-takuti Kani yang sebenarnya tidak takut sama sekali.


"Kalau kamu mau apa-apa kan susah Ra bawanya." Jelas Kani berusaha meyakinkan Serira. Namun gadis yang tengah terduduk itu malah menggeleng.


"Kani, aku bukan sakit lumpuh, aku masih bisa jalan. Kamu pulang aja ke rumah temen mama kamu biar mereka juga nggak mikir aneh-aneh ntar." Tolak Serira yang malah membuat Kani runtuh pada pendiriannya.


"Tapi bener kan kamu nggak apa-apa?" tanya Kani, Serira mengangguk cepat.


"Bentar lagi kak Leo pasti dateng." Ucap Serira, Kani pun mengangguk.


"Yaudah kalau gitu aku pulang dulu. Hati-hati ya, Ra, kalau ada apa-apa langsung kontak aku, ok?"


Serira mengangguk kembali dengan tersenyum. "Oke."


"Yaudah aku pamit, assalammu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam." Jawab Serira, Kani pun keluar dari kamarnya dengan menutup pintu kembali.


Sudah meresa tidak ada siapa-siapa didalam kamarnya, ia merebahkan tubuh mungilnya itu sambil memejamkan matanya.


Mengingat kembali penjelasan dari Kani membuat otaknya terus kepikiran Reo.

__ADS_1


Serira sangat tidak ingin seperti ini. Dia tidak ingin menyesali segala perbuatan yang telah ia lakukan.


Ia memikirkan cara agar dirinya bisa move on dari laki-laki yang sudah putus bersamanya tak lama belakangan ini.


Ting!


Suatu notifikasi muncul dari ponsel Serira membuat dirinya tersadar dan melihat keisi ponselnya.


*Kak Satria


"Hai, Ra, gimana kabar lo? Semoga udah mendingan ya*."


Serira mengerutkan dahinya ketika melihat pesan yang baru saja masuk ke ponselnya.


"Kak Satria tumben ngechat." Ucapnya.


"*Aku udah mendingan, Kak. Makasih udah nganterin aku." 


"Oh, gitu. Syukur deh. Kamu masuk sekolahkan besok?"


"Aku sekolah kok, Kak, besok. Ada apa ya?"


"Gue mau kasih proposal ke lo, Ra, tentang struktur organisasi yang baru." 


"Oh, gitu, Kak, boleh kalau gitu aku bisa."


"Oke, pulang sekolah besok gue tunggu di parkiran ya."


"Loh, ngasihnya di parkiran, Kak? Kenapa nggak di ruang osis sekalian dibahas aja*?"


"*Haha, maksudnya kita bahas di cafe gitu, Ra, nggak pekaan banget."


"Oh, hehe, aku kira. Yaudah besok aku kesana*."


"Oke, Ra, makasih. Get well son juga ya."


"Aamiin, thanks Kak."


"Thanks too."


Read.


Serira menyimpan ponselnya kembali lalu memejamkan matanya.


"Ra, gue denger tadi lo pingsan?" ucap seseorang yang langsung datang ke kamar Serira membuat pemilik kamar terkejut.


"Kak, ketuk dulu!" seru Serira kesal.


"Eh, ia maap. Kenapa lo bisa pingsan?" tanya Leo yang kini sudah duduk di ranjang Serira.


Serira yang asalnya tiduran langsung merubah posisinya menjadi duduk dan menatap serius kearah kakaknya.


"Kak, gimana caranya aku bisa move on?" tanya Serira yang disambut aneh oleh Leo.


Sebenarnya Leo bisa paham sendiri kepada adiknya yang baru saja putus ini. Namun ternyata adiknya ini selemah yang bayangkan juga.


"Dengerin gue. Kalau lo mau lupain Reo, lo harus ngelupain semua kebaikannya dan inget semua keburukannya. Buka hati dan mata lo siapa tahu diluar sana masih banyak yang ngejar-ngejar lo!" jelas Leo meyakinkan Serira.


Serira berpikir sejenak untuk menangkap setiap perkataan yang Leo lontarkan.


"Ngejar-ngejar?" tanya Serira tidak yakin.


"Iya, mengejar lo." Jawab Leo.


"Siapa yang ngejar aku?" tanya Serira kembali yang langsung disegani oleh Leo.

__ADS_1


"Kak! Serius."


"Lo liat aja orang yang berusaha ngedeketin lo, misalnya Satria?"


__ADS_2