Dalam Dekapannya

Dalam Dekapannya
Terluka


__ADS_3

Ghina menyembunyikan wajahnya diantara kedua lututnya dengan bahu yang bergetar hebat serta isakan tangisnya yang terdengar begitu kuat. Semua perkataan Alden serta foto yang pria itu tunjukkan telah menghancurkan Ghina sekali lagi, dia merasa begitu kotor dan harga dirinya sudah tidak ada artinya lagi.


Meskipun Louis serta keluarganya tau masalah itu, tapi tetap saja Ghina tidak akan berani menampakkan dirinya dihadapan mereka kalau sampai Alden benar-benar menyebarkan foto itu. Dadanya sesak Ghina tidak tau harus melakukan apa saat ini dia ada di apartemen Kakaknya tanpa memberi tau siapapun dan mungkin dia tidak akan pulang ke rumah.


Sakit sekali Ghina benar-benar terluka karena semua ucapan Alden dia benar-benar kotor semua tubuhnya sudah pria itu lihat bahkan rasakan.


'Ghina aku sama sekali tidak mau melakukan ini, tapi hanya ini satu-satunya cara, putuskan Louis dan aku akan menghapus foto ini'


Menjambak rambutnya sendiri cukup kuat Ghina semakin terisak dia bingung sekali, dia sudah mengatakan pada Alden bahwa Louis dan keluarganya tau.


'Oh mereka tau? Tidak papa aku akan tetap memberikan foto ini pada mereka, kamu harus tau Ghina bahwa kamu juga menikmati malam itu'


Bohong! Ghina merasa sangat kotor malam itu dia benar-benar membenci dirinya sendiri.


"Aku harus apa?" Isak Ghina


Ponsel Ghina dia matikan karena tidak mau menerima panggilan dari siapapun tadi dia bilang akan pergi menemui Louis lagi.


'Kembali padaku Ghina bukan hanya kepada mereka aku akan menyebarkan foto-foto itu ke yang lainnya juga'


Mengangkat kepalanya Ghina berdiri lalu berjalan ke dekat kaca dia menatap dirinya sendiri dengan penuh kebencian.


Bodoh!


Dia sangat bodoh!


Kembali mengeluarkan air matanya Ghina melempar asal semua yang ada di meja rias itu hingga suara kaca yang pecah terdengar nyaring di telinganya.


Ghina benci!


Ghina benci pada dirinya sendiri!


¤¤¤


Raut wajah Louis begitu cemas ketika dia baru saja pergi ke rumah Ghina karena wanita itu tidak menjawab pesan atau menerima panggilan telponnya dia berniat mengajak wanita itu makan malam, tapi sampai disana orang tua Ghina malah mengatakan bahwa tadi Ghina mengatakan dia akan pergi dengannya. Mendadak jantung Louis berdetak dengan begitu cepat dia sangat cemas ponsel Ghina juga tidak bisa dihubungi.


Sama hal nya dengan Louis orang tua Ghina juga tak kalah cemas mereka menelpon sekua teman-teman Ghina untuk menanyakan keberadaan gadis itu, tapi tidak ada jawaban dan mereka juga menghubungi Gibran. Saat mendengar perkataan Gibran bahwa adiknya mungkin di apartemen Louis langsung bertanya lokasinya.

__ADS_1


Begitu disebutkan tanpa menunggu lagi Louis berlari keluar dari rumah lalu masuk ke dalam mobil dan mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Di lain sisi Gibran juga langsung pergi ke apartemen karena sangat cemas dengan adiknya yang hilang tanpa kabar serta ponsel yang tidak bisa dihubungi.


Butuh waktu sekitar dua puluh menit bagi Louis untuk sampai dan tanpa menunggu lagi dia bergegas keluar dari mobil lalu masuk ke dalam lift, menekan angka tiga dan menunggu dengan penuh kecemasan.


"Ghina kamu dimana? Ada apa sebenarnya?" Tanya Louis pada dirinya sendiri


Begitu sampai Louis mencari kamar yang dimaksud lalu mengetuk pintunya hingga berkali-kali dan berusaha membuka pintu yang terkunci, dia tidak bertanya password apartemennya tadi. Mengeluarkan ponselnya Louis yang baru saja ingin menelpon melihat Gibran yang berlari menghampirinya.


Memberi sedikit jarak Louis langsung masuk begitu Gibran membuka pintunya dia memanggil nama Ghina, tapi tidak ada jawaban apapun. Masuk ke dalam kamar mata Louis dan Gibran membulat melihat banyak sekali kaca pecah yang berserakan di lantai ada sedikit darah juga disana.


Ghina tidak ada disana, tapi keduanya mendengar suara gemericik air.


"Ghina? Ghina kamu di dalam? Buka pintunya? Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Louis cemas


Dia berusaha membuka pintu kamar mandi, tapi tidak ada jawaban apapun hingga Gibran memintanya menyingkir lalu mendobrak pintu itu beberapa kali.


Dan mereka melihat Ghina.


"GHINA!"


"Ghina apa yang kamu lakukan?!" Kata Gibran marah


Ghina menatap keduanya dengan tatapan kosong rasanya semua tubuhnya sakit.


Dia tidak sanggup lagi kalau harus membuat malu keluarganya.


Matanya memberat Ghina hampir saja membentur dinding kamar mandi kalau saja Louis tidak menahannya.


"Ghina? Ghina bangun? Ghina!"


Louis menepuk-nepuk pipi Ghina, tapi tidak ada sedikit pun respon.


Dengan penuh kecemasan dia mengangkat tubuh Ghina dan bersama Gibran berlari keluar apartemen untuk membawa Ghina ke rumah sakit.


Ghina mungkin bisa menahan rasa malu untuk dirinya sendiri, dia bisa menahan harga dirinya yang dilukai, tapi dia tidak akan bisa tahan jika harus mempermalukan keluarganya lagi.


Dia tidak mungkin sanggup, memang dia benar-benar tidak berguna.

__ADS_1


¤¤¤


Semua orang menunggu dengan cemas Dara berada di dalam pelukan Farhan dan menangis dengan kuat, mereka menunggu Ghina yang masih berada di dalam ruangan. Wajahnya sudah pucat sekali dia kedinginan mungkin sudah cukup lama Ghina berada disana, selain itu tangannya terluka dan mengeluarkan darah.


Sejak tadi Louis tidak bisa diam dia benar-benar cemas dan penasaran apa yang membuat Ghina begitu padahal tadi mereka baik-baik saja, Ghina baik-baik saja. Entah berapa lama, tapi begitu seorang dengan jas putih keluar mereka langsung pergi menghampirinya.


"Dokter bagaimana anak saya?" Tanya Dara cemas


"Beruntung kalian datang tepat waktu, luka dipergelangan tangannya sudah kami obati dan darah yang keluar juga cukup banyak hingga menyebabkan wajahnya begitu pucat apalagi tubuhnya basah semua ketika datang." Kata Dokter itu membuat Dara kembali menangis


"Apa ada yang serius?" Tanya Farhan


"Tidak, untungnya tidak lukanya tidak terlalu dalam, tapi cukup lebar." Kata Dokter itu lagi


"Apa Ghina sudah sadar?" Tanya Gibran


"Belum, kami akan memindahkan ke ruang rawat, tapi sebelum itu silahkan pergi ke sana untuk mengurus pendaftarannya." Kata Dokter itu sebelum berlalu pergi


Saat semua orang pergi Louis diam dia duduk di bangku yang ada disana lalu mengeluarkan ponsel Ghina yang tadi sempat Gibran bawa dan berikan kepadanya. Menghidupkan ponsel itu Louis membuka aplikasi chat yang ada disana dan melihat chat teratas dengan nama Alden.


Tanpa ragu Louis membukanya dan dia melihat beberapa pesan yang membuat tangannya terkepal kuat.


Kamu bisa fikirkan hal itu Ghina


Temui aku lagi besok


Tanpa banyak bicara atau mengatakan apapun Louis pergi dari rumah sakit dan masuk ke dalam mobilnya lalu melaju pergi meninggalkan area rumah sakit.


Hanya ada satu tujuannya sekarang, menemui Alden.


Kalau hal ini benar-benar terjadi karenanya Louis tidak akan pernah memberikan ampun untuk pria brengsek sepertinya!


Dia tidak akan memaafkan orang yang sudah membuat Ghina terluka.


¤¤¤


Hayoo aku update lagii😙

__ADS_1


__ADS_2