
Louis tidak bercanda ketika dia mengatakan akan menikahi Ghina karena kemarin setelah Ghina pulang dari rumah sakit Louis langsung mengatakan keinginannya dan orang tua Ghina serta Kakaknya tidak memberikan penolakan lagi, mereka sudah sangat yakin bahwa Louis akan membuat Ghina bahagia. Sedangkan Ghina berada diposisi tidak bisa memberikan penolakan hingga dia hanya mengangguk setuju saja dan lagi Ghina merasa kalau Louis memang pilihan yang tepat.
Melihat pria itu terluka hanya karena menemui Alden membuat Ghina merasa bahwa dia tidak seharusnya ragu. Semua keluarganya juga sudah setuju lalu apa lagi yang dia tunggu?
Terlalu banyak berfikir hanya akan membuang-buang waktu.
Semua telah sepakat bahwa pernikahan akan dilangsungkan minggu depan, ya hanya satu minggu untuk persiapan pernikahan. Tidak peduli lagi Louis hanya ingin Ghina disisinya dan melindungi wanita itu dari segala hal yang bisa membuatnya terluka.
"Louis terima kasih banyak"
Suara pelan itu membuat Louis menatap Ghina dan tersenyum sambil mengusap sayang pipinya.
"Sudah jangan berterima kasih sekarang kamu harus ingat bahwa kamu memiliki aku Ghina, semua tentang masa lalu kamu aku tidak peduli dan masalah Alden jangan khawatir lagi aku sudah menyelesaikan semuanya." Kata Louis
"Menyelesaikan semuanya?" Tanya Ghina
"Hm semua foto itu dia sudah tidak memilikinya lagi." Kata Louis
"Tapi, bagaimana bisa?" Tanya Ghina membuat Louis tersenyum dan mencium singkat bibirnya
"Jangan dipikirkan yang perlu kamu tau dia tidak akan bisa mengancam kamu lagi dengan foto itu." Kata Louis dengan penuh kelembutan
"Aku tidak tau lagi harus berterima kasih dengan cara apa." Kata Ghina pelan
"Dengan cara menjadi istriku." Kata Louis
"Iya aku akan menjadi istri yang baik untuk kamu." Kata Ghina
"Benarkah?"
"Iya, tapi kamu akan memberi aku waktu untuk benar-benar mencintai kamu kan?" Tanya Ghina membuat Louis tersenyum mendengarnya
"Aku tidak akan sejauh ini kalau tidak mau menunggu kamu Ghina." Kata Louis
Ghina tersenyum manis dia mendekatkan dirinya lalu melingkarkan tangan di leher Louis dan menciumnya dengan penuh kelembutan. Entah keberanian dari mana Ghina menggerakkan pelan bibirnya membuat Louis menggeram dan langsung membalas ciuman itu dengan penuh gairah.
Diangkatnya tubuh Ghina dan dia bawa tubuh mungil itu untuk duduk dipangkuannya. Tangan kekar Louis menyusup masuk ke dalam kaos hitam Ghina dan mengusap punggung polosnya.
Bergerak gelisah Ghina mendorong pelan tubuh Louis dan terengah karena ciuman panas mereka.
"Jangan lakukan itu aku tidak bisa menahan diri nanti." Kata Louis
"Kamu tidak suka?" Tanya Ghina
"Suka, tapi kita akan melakukannya nanti setelah kita menikah aku akan melakukan hal yang lebih dari itu." Bisik Louis
__ADS_1
Ghina tersentak apalagi ketika Louis menggigit pelan telinganya dan turun ke leher jenjangnya. Tubuhnya menegang kala lidah Louis menyapu lehernya cukup lama sampai dia berbisik ditelinganya.
Mengatakan hal yang membuat Ghina merona karena malu dengan apa yang pria itu katakan.
"Aku akan membuat kamu mendesah sepanjang malam di atas ranjang"
Sial! Pipi Ghina benar-benar merona hingga dia langsung memeluk Louis dan menyembunyikan wajahnya di leher pria itu.
Louis hanya tersenyum melihatnya.
¤¤¤
Alden meringis pelan ketika seorang dokter tengah mengobati lukanya dengan telaten, ada banyak sekali luka karena pukulan dari Louis dan ditambah lagi Gibran yang kemarin datang. Semua benar-benar sudah berakhir Alden tidak ada harapan lagi bahkan hanya untuk bertemu saja dia tidak diberikan izin.
Raut wajahnya tidak berekspresi Alden benar-benar berniat pergi setelah ini dia tidak akan peduli lagi pada apapun termasuk pertunangannya bahkan meskipun dia tidak bisa mendapatkan Ghina, tapi untuk pertunangan dia tidak akan melanjutkannya. Hatinya tidak bisa menerima dan dia tidak akan memaksakannya lagi biarkan saja orang tuanya marah atau ingin memukulinya lagi, dia tidak peduli.
Semua sudah cukup dia telah kehilangan Ghina karena kebodohannya.
Ternyata kamu tidak bisa mengharapkan seseorang untuk tetap bertahan ketika kamu berjalan menjauh darinya, dia mungkin akan pergi dan kamu harus menerima fakta itu.
'*Aku sudah memutuskan tidak akan bertunangan, tapi kami akan melangsungkan pernikahan aku tidak akan membiarkan kamu mengusik kehidupan Ghina lagi!'
Perkataan itu Louis ucapkan dengan penuh penekanan pada Alden yang terbaring setelah mendapat pukulan dari Gibran. Tadi dia memang datang bersama Gibran sesaat setelah dia menceritakan apa yang Ghina katakan padanya.
'Dengar Alden sekali lagi kamu mengganggu Ghina aku tidak akan segan-segan untuk melakukan yang lebih dari ini! Ghina adikku, jadi jangan pernah berniat menyakitinya!'
Selesai mengatakan hal itu keduanya pergi meninggalkan Alden tanpa peduli bagaimana keadaannya*.
Menutup matanya ketika mengingat kejadian kemarin Alden meminta dokter itu untuk berhenti mengobati lukanya dan menyuruhnya untuk pergi. Menatap kosong ke depan Alden mengambil ponsel miliknya yang ada di meja dan membuka pesan yang orang suruhannya kirimkan.
Dia memang mempekerjakan seseorang untuk mencari tau tentang Ghina dan Louis, apa keduanya akan benar-benar menikah?
*Tuan dari informasi yang saya dapatkan mereka akan melangsungkan pernikahan minggu depan
Mereka sudah mulai mempersiapkan semuamnya*
Tersenyum miris Alden langsung mengeluarkannya tanpa berniat membalasnya lalu menghubungi seseorang.
"Pesankan tiket untuk ke Australia besok, jangan kasih tau orang tuaku." Kata Alden
Meletakkan ponselnya ke meja dengan kasar Alden memejamkan matanya sambil menyandarkan tubuhnya di sofa.
Penyesalan, hanya kata itu yang bisa Alden katakan.
Dia menyesal karena sudah meninggalkan Ghina.
__ADS_1
¤¤¤
Keadaan Ghina sudah semakin membaik sekarang dia dan Louis sedang mencoba baju untuk pernikahan yang akan dilangsungkan empat hari lagi. Senyuman manis Ghina mengembang dengan sempurna begitu dia melihat pantulan dirinya di cermin besar yang ada dihadapannya.
Gaun berwarna putih yang saat ini tengah dicoba sangat pas dengan tubuhnya, punggungnya juga tidak terlalu terbuka dan Louis mengatakan bahwa dia cantik sekali ketika mengenakannya. Sungguh dia merasa sangat bahagia semua perkataan Alden seolah hilang begitu saja dan yang ada di pikirannya hanya Louis yang mengatakan bahwa Alden tidak akan bisa mengancamnya dengan foto itu lagi.
"Gaunnya terlihat sangat cocok Ghina." Kata Wenda yang merupakan pemilik wedding organizer
Salah satu teman Sahara juga, sepupunya.
"Terima kasih Kak aku suka sekali gaunnya." Kata Ghina
"Kalau gitu kamu juga harus lihat Louis dia sangat tampan." Kata Wenda
Tersenyum manis Ghina melangkahkan kakinya dan ketika mereka berhadapan Ghina benar-benar terpaku ditempatnya. Benar Louis terlihat sangat tampan.
"Kamu cantik sekali." Kata Louis membuat Ghina tersenyum malu
"Terima kasih"
"Oh ya ampun kalian menggemaskan sekali." Kata Wenda
"Kak bisakah tinggalkan aku dengan Ghina sebentar." Pinta Louis
"Tentu aku beri waktu sepuluh menit ya?" Kata Wenda
Louis tersenyum dan mengangguk sambil melihat Wenda yang berjalan menjauh lalu menatap Ghina yang menatapnya dengan penasaran.
Kenapa pria itu meminta Wenda untuk keluar?
"Louis"
Louis malah berjalan mendekat hingga hampir tidak ada jarak diantara keduanya lalu tangan pria itu terulur untuk mengusap tengkuk Ghina dengan mata yang menatapnya dengan dalam.
"Kamu benar-benar cantik Ghina." Kata Louis
Ghina diam saja dia terbuai dengan tatapan Louis dan ketika pria itu mendekatkan wajahnya secara refleks Ghina menutup mata. Sentuhan di bibirnya membuat Ghina merasa bahagia apalagi ketika Louis menggerakkan bibirnya sambil melingkarkan tangan dipinggangnya.
Cukup lama hingga dia menjauhkan wajahnya dan mengusap pelan bibir bawahnya pelan sambil berbisik.
"Kenapa aku baru sadar kalau kamu sangat seksi?"
¤¤¤
Hello aku updateee😚
__ADS_1