
Sejak datang ke kantor untuk mengantarkan makan siang Ghina tak lagi kembali ke rumah karena Louis tidak mengizinkan dan meminta dia bersama Alan untuk istirahat di ruangan khusus yang ada di dalam ruang kerja suaminya. Tidak menerima penolakan Ghina akhirnya hanya bisa menurut saja dan sekarang dia bersama anaknya tengah berbaring di ranjang yang tidak terlalu besar, tapi cukup untuk mereka berdua istirahat.
Anaknya baru saja meminum susu dan sekarang sudah terlelap kalau Ghina justru sama sekali tidak mengantuk dan Louis serang pergi rapat. Rasanya bosan sekali berdiam diri begini akhirnya dengan hati-hati Ghina beranjak dari sisi anaknya dan pergi keluar.
Di ruang kerja suaminya Ghina berjalan ke dekat jendela lalu menatap keluar dan tersenyum tipis, dia tidak menyangka akan sejauh ini bersama dengan Louis.
'Saya masih muda usia kita juga tidak terlalu jauh, jangan panggil Bapak'
'Kemari pegang tanganku'
'Sudah jangan menangis aku akan belikan kamu ice cream nanti'
'Pakailah rok yang lebih panjang dan sudah aku bilang kurangi hak di sepatumu'
Mengingat semua perkataan itu membuat Ghina tidak bisa berhenti tersenyum, dia beruntung sekali bertemu dengan pria seperti Louis dan sekarang hidupnya benar-benar sangat membahagiakan.
Sungguh Louis benar-benar pria sempurna yang pernah dia temui dan beruntungnya Louis adalah suami juga Ayah dari anaknya, tapi ternyata jauh sebelum itu mereka pernah bertemu. Tak sampai disitu ternyata Farhan juga pernah berbuat menjodohkan mereka berdua dan ternyata tanpa dijodohkan mereka memang ditakdirkan untuk bersama.
'Iya, Papa memang berniat menjodohkan kamu dengan Louis setelah kejadian itu menimpa kamu, tapi ternyata kalian lebih dulu bertemu dan akhirnya kalian bersama, menikah dan hidup bahagia'
Tersenyum manis Ghina menoleh begitu suara pintu terbuka dan ternyata Louis yang masuk ke dalam dengan membawa beberapa berkas. Setelah meletakkan semuanya di meja dia mendekat pada Ghina dan memeluknya dari belakang membuat Ghina tersenyum sambil mengusap tangan Louis yang melingkar manis di pinggangnya.
"Aku tebak anak kita sudah tidur." Kata Louis
"Hm dia sudah sangat nyenyak." Kata Ghina dengan senyuman
"Apa kamu bosan? Mau makan sesuatu?" Tanya Louis
Memutar tubuhnya hingga kini saling berhadapan Ghina menatap Louis dengan senyuman lalu menggelengkan kepalanya pelan.
"Lalu mau apa?" Tanya Louis
"Mau peluk kamu." Kata Ghina sambil memeluk Louis dengan sayang
Tertawa kecil Louis membalas pelukan itu sambil mengusap kepala Ghina dan mencium puncak kepalanya.
"Louis"
__ADS_1
"Hmm"
"Tadi aku teringat ketika aku masih menjadi sekretaris kamu." Kata Ghina
Melepaskan pelukannya Ghina mendongak dan menatap Louis dengan senyuman.
"Aku senang sekali bisa bertemu dengan kamu Louis dan aku lebih senang bisa menjadi istri juga Ibu dari anak kamu." Kata Ghina
"Dulu kamu galak." Kata Louis
"Enggak ihh enak aja." Kata Ghina tidak Terima
"Galak, kamu ingat gak? Dulu kamu pernah bersihin meja aku, traktir aku makan bahkan bawakan tas aku hanya karena merasa bersalah setelah Alden memukul wajah aku." Kata Louis
"Aku memang merasa sangat bersalah tau." Kata Ghina
"Aku gak menyesal mendapat pukulan juga luka kecil itu." Kata Louis dengan senyuman
Ghina hanya tersenyum lalu sedikit berjinjit dan mencium pipi suaminya.
"Kamu dulu nyebelin, tapi aku suka." Kata Ghina
"Kamu sering bilang aku kayak bayi padahal aku udah dewasa dan bekerja sama kamu sebagai sekretaris." Kata Ghina sebal
"Tapi, kamu memang seperti bayi ketika sedang menangis karena hidung hingga telinga kamu memerah." Kata Louis jujur
"Tuh kan nyebelin." Kata Ghina
Louis tertawa lalu mencubit pelan pipinya.
"Aku bicara jujur sayang." Kata Louis
Ghina berdecak kesal dan memukul pelan lengan suaminya.
"Kamu beneran gak mau apapun?" Tanya Louis
Terdiam sejenak Ghina menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
__ADS_1
"Enggak, kapan kita pulang?" Tanya Ghina
"Sekarang juga bisa pekerjaanku sudah selesai." Kata Louis
"Sebentar lagi aja baby Alan baru saja tidur." Kata Ghina
"Dan kita harus apa sekarang hmm?" Tanya Louis
Ghina hanya mengangkat bahunya acuh lalu berjalan ke arah sofa dan duduk di sana membuat Louis langsung mengikuti langkah kakinya.
"Louis"
"Iya?"
"Kamu ingat waktu aku mencelakai diri aku sendiri?" Tanya Ghina
"Ingat itu adalah hal yang paling menakutkan Ghina beruntung sekali aku datang tepat waktu, kenapa?" Tanya Louis
Ghina tersenyum mendengarnya, dia bodoh sekali dulu.
"Aku merasa sangat bodoh karena melakukan hal itu." Kata Ghina
"Jangan diingat." Kata Louis
"Hm hanya terkadang kenangan itu datang dengan sendirinya, tapi aku beruntung semuanya sudah berlalu mungkin kalau kamu dan Kak Gibran tidak datang aku tidak akan ada disini lalu baby Alan dia juga tidak akan pernah ada." Kata Ghina
"Tidak penting karena sekarang kamu sudah ada bersamaku dan kita sudah sangat bahagia." Kata Louis
Ghina mengangguk singkat lalu memeluk suaminya itu dari samping dan memejamkan matanya menikmati usapan yang Louis berikan di kepalanya.
Semua memang telah berlalu Ghina berhasil melalui itu semua berkat Louis yang selalu ada dan mendukungnya.
Louis yang selalu mendekapnya ketika dia butuh penopang dalam hidupnya.
°°°°
Ghina nih cantik banget pantes Louis sayang banget🥰
__ADS_1