Dalam Dekapannya

Dalam Dekapannya
Menangis


__ADS_3

Sejak berangkat ke kantor Louis tidak tenang dan merasa gelisah sendiri karena Ghina hanya membaca pesannya tanpa memberikan balasan bahkan selesai meeting ketika dia menelpon Ghina tidak mengangkatnya. Niatnya Louis ingin pulang setelah meeting selesai untuk menjemput Ghina karena adiknya bilang Ghina tidak mau ke kantor dan Louis yakin istrinya itu pasti merajuk, tapi rencananya gagal.


Selesai meeting Louis malah harus pergi ke lokasi pembangunan untuk meninjau proses pembangunan kantor cabang yang letaknya cukup jauh. Baru lima puluh persen perkiraan akan selesai tiga sampai empat minggu lagi dan baru beroprasi bulan selanjutnya.


Meskipun Liam datang, tapi Louis tidak bisa mengabaikan begitu saja pekerjaannya karena sudah dua hari Louis pulang lebih cepat bahkan beberapa meeting dan pertemuan penting dengan client dia undur untuk menemani Ghina. Setelah ini Louis janji waktu luangnya akan sepenuhnya milik Ghina dia akan mengikuti semua keinginan istrinya agar Ghina senang.


Besok sudah akhir pekan makanya Louis memutuskan untuk menyelesaikan semua hal penting hari ini, tapi dia terus mengirim pesan pada Ghina untuk mengingatkan makan siang juga kepada Lily agar melihat keadaan istrinya ketika dia pulang kuliah.


Sekarang pukul empat sore Louis pulang ke rumah karena dia juga mencemaskan keadaan Ghina dan takut istrinya itu menangis. Tadi Lily sudah menelpon dan mengatakan kalau adiknya itu menemani Ghina menonton tv sebentar lalu setelahnya Ghina bilang ingin tidur.


Sampai di rumah Louis bergegas masuk dia juga sempat berpapasan dengan adiknya yang mengatakan kalau Ghina ada di kamar. Tanpa menunggu Louis pergi ke kamar dan masuk ke dalam tanpa mengetuk pintu.


Hal pertama yang dia lihat adalah Ghina yang berdiri di dekat jendela sambil menatap ke luar.


"Sayang"


Panggilan itu membuat istrinya menoleh sebentar dan Louis dapat melihat wajah sendu Ghina.


"Sayang aku sudah pulang." Kata Louis


Terdiam sejenak pada akhirnya Ghina melangkahkan kakinya mendekat lalu mencium punggung tangan Louis dan memeluknya sebentar.


"Hey kamu kenapa?" Tanya Louis


Ghina menatapnya dengan sedih lalu menggelengkan kepalanya pelan.


"Kamu marah? Maaf ya? Aku janji besok kita akan menghabiskan waktu sama-sama." Kata Louis


Perkataan itu malah membuat mata Ghina berkaca-kaca lalu dia menggelengkan kepalanya pelan masih belum mau bersuara.


"Sayang"


Louis mengusap pipi Ghina dan membawa istrinya itu untuk menatap matanya.


"Don't cry"


Anehnya perkataan itu malah membuat Ghina benar-benar menangis hingga Louis harus menghapus air matanya.


Ghina bukan marah, dia hanya bingung dan kesal pada dirinya sendiri yang bersikap begini. Padahal Louis bekerja pria itu pasti sibuk bahkan ketika Ghina menjadi sekretarisnya jadwal Louis padat sekali tidak ada istirahat kecuali ketika waktu makan siang.


Sekarang Ghina malah begini menghalangi suaminya bekerja dan dia kesal pada dirinya sendiri yang bersikap begini, dia merasa jahat.


"Hey jangan menangis aku minta maaf." Kata Louis


Ghina malah terisak membuat Louis jadi merasa bersalah dan menuntunnya dengan sayang lalu keduanya duduk di tepian ranjang. Tangan kekarnya menarik Ghina ke dalam pelukan lalu mengusap sayang kepalanya.

__ADS_1


"Ghina jangan menangis aku jadi merasa bersalah, apa aku terlalu lama? Aku hanya menyelesaikan semua pekerjaan agar kita bisa pergi jalan-jalan besok." Kata Louis


Ghina semakin terisak dan mengeratkan pelukannya dia juga menolak ketika Louis berusaha melepaskan pelukannya. Pada akhirnya Ghina kalah pelukannya terlepas dan kini Louis menangkup wajahnya lalu mengusap air matanya dengan sayang.


"Ghina sudah jangan menangis, kamu memang cantik ketika menangis, tapi kamu jauh lebih cantik ketika sedang tersenyum." Kata Louis sambil memberikan ciuman singkat di bibirnya


Ghina masih terisak, tapi tak ada lagi air mata.


"Maaf ya? Aku minta maaf karena sudah meninggalkan kamu dan pulang terlalu lama." Kata Louis


Ghina menggelengkan kepalanya pelan, dia ingin bilang agar Louis berhenti minta maaf, tapi Louis kira Ghina tidak mau memaafkannya.


"Maaf sayang besok kita jalan-jalan ya? Kamu mau kemana? Ke pantai? Kedai ice cream? Taman? Mall?" Kata Louis


Ghina menggelengkan kepalanya lagi.


"Ghina aku min...."


"Sudah jangan minta maaf." Kata Ghina dengan suara seraknya


"Hey suara kamu serak sayang, kamu sakit? Kamu batuk?" Tanya Louis cemas


"Tidak aku habis menangis memang begitu." Kata Ghina pelan


"Maaf aku sudah buat kamu menangis." Kata Louis


"Besok kita..."


"Aku marah..."


Louis terdiam mendengarnya dan menatap Ghina yang terlihat ingin menangis lagi.


"Sayang aku...."


"Aku marah karena sudah jadi istri yang jahat." Kata Ghina


"Ghina kenapa bicara begitu?" Kata Louis


"Kamu... kamu bekerja, tapi aku... aku malah begini... melarang kamu pergi kerja, meminta kamu pulang lebih cepat... dan merengek minta ikut ke kantor...."


Ghina terisak pelan, tapi Louis masih mendengarkan.


"Aku... aku jahat padahal kamu... kamu kerja pasti lelah, tapi aku malah begini... aku marah pada diriku sendiri." Kata Ghina


Louis tersenyum lalu mengangkat dagu Ghina agar menatapnya dan menghapus dengan sayang air mata istrinya.

__ADS_1


"Jangan bicara begitu Ghina, kamu istri yang baik." Kat louis


"Tapi....."


"Hey aku tidak papa sayang dan aku tidak lelah bahkan meskipun aku lelah tidak papa karena aku akan kembali bersemangat begitu pulang ke rumah dan melihat senyuman manis istriku." Kata Louis dengan senyuman


Ghina mau menunduk lagi, tapi Louis menahan wajahnya dan membuat Ghina tetap menatapnya.


"Aku akan tambah bersemangat kalau mendapat ciuman juga, jadi Ghina sayang jangan berfikir begitu ya? Suami kamu ini tidak masalah karena bagi dia kamu adalah prioritasnya." Kata Louis


"Louis..."


"Ayo senyum jangan sedih nanti baby kita ikut sedih." Kata Louis sambil mengusap perut Ghina dengan sayang


Ghina terdiam sejenak lalu menarik sudut bibirnya membentuk senyuman tipis.


"Nah begitu semakin cantik nanti aku belikan ice cream." Kata Louis


"Dua ya?"


Tertawa kecil Louis menganggukkan kepalanya dan mencubit pelan pipi Ghina karena gemas.


"Gak boleh nangis lagi ya? Jangan pernah berfikir seperti itu." Kata Louis


"Iya"


"Sekarang aku mau tanya tadi makan siang pakai apa?" Tanya Louis


"Mie instan"


"Mie? Apa Bibi tidak masak?" Tanya Louis


"Masak, tapi aku mau makan mie." Kata Ghina


"Baiklah, sekarang lapar?" Tanya Louis


Ghina menggelengkan kepalanya pelan lalu memeluk Louis dengan sayang.


"Sekarang mau peluk"


Louis tersenyum dan membalas pelukan itu lalu memberikan ciuman di puncak kepalanya.


"Kamu bisa peluk aku sepuasnya baby"


¤¤¤

__ADS_1


Bonusnyaaa nihh💞


Kalau sempet aku up satu lagi, tapi jangan ditunggu ya soalnya aku gak janji nih hehe😶


__ADS_2