
Ghina menghela nafasnya lelah ketika suaminya tidak mau melepaskan pelukannya padahal dia mau mengambil minum, tapi sejak tadi Louis memeluknya dan melarang dia untuk pergi. Saat ini keduanya berbaring di ranjang dengan saling berpelukan dan tak jarang juga Louis mencium Ghina hingga berkali-kali.
Sebenarnya Ghina merasa lucu dengan Louis yang terlihat sangat manja padahal dia selalu melihat Louis sebagai pria yang berwibawa, tapi lihatlah kelakuannya begitu Ghina resmi menjadi istrinya. Mungkin kalau para karyawan tau mereka akan tertawa melihat kelakuan atasan mereka yang begini.
Ghina saja ingin tertawa.
"Louiss aku mau mengambil minum." Kata Ghina lagi
"Aku tidak mau jauh-jauh dari kamu." Kata Louis
"Memang sejauh apa? Aku kan hanya pergi ke dapur." Kata Ghina
"Hm benar juga kalau gitu aku lepaskan pelukannya." Kata Louis
Begitu Louis benar-benar melepaskan pelukannya Ghina bangun dan menatap suaminya itu dengan senyuman lalu mengecup bibirnya sekilas.
"Sebentar ya? Aku mau minum." Kata Ghina
"Aku akan ikut ke dapur." Kata Louis membuat Ghina menggelengkan kepalanya pelan
Baru ingin bicara Louis sudah mengatakan sesuatu yang membuat dia tersenyum.
"Aku juga ingin minum sayang." Kata Louis
"Iya baiklah terserah kamu." Kata Ghina
Saat Ghina berjalan keluar Louis langsung menyusulnya dan merangkul istrinya itu dengan sayang sambil sesekali mencium pipinya. Menuruni tangga Ghina melihat rumah Louis yang sangat besar ini bahkan bisa dibilang dua kali lebih besar dari rumahnya.
Sampai di dapur yang sangat luas itu Ghina membuka kulkas dan mengambil minuman dingin yang ada di sana. Dari tempatnya Louis tersenyum sambil menatap Ghina yang sedang minum.
Begitu Ghina selesai Louis mengajaknya ke ruang tengah lalu keduanya duduk berdampingan. Tanpa mengatakan sesuatu Louis mengusap rambut Ghina dengan sayang dan menyampirkan beberapa helaian rambut panjang itu ke belakang telinga.
"Ghina"
"Iya"
"Kamu tau? Aku sangat cemas begitu melihat kamu di kamar mandi dengan darah yang ada ditangan kamu." Kata Louis
Ghina terdiam dan menundukkan kepalanya, tapi Louis menahan dagunya agar Ghina tetap menatap matanya.
"Kenapa? Kenapa kamu sampai seputus asa itu? Apa kamu begitu mencintai Alden?" Tanya Louis
"Louis sejak dulu aku selalu menjadi anak yang pembangkang, tidak pernah menuruti perkataan orang tuaku dan aku tidak mau lagi membuat mereka susah apalagi merasa malu karena ulahku," Kata Ghina pelan.
Louis diam dan mendengarkan dengan penuh perhatian.
"Jika foto itu tersebar.. aku tidak tau lagi harus apa orang tuaku bahkan keluarga besarku mereka semua akan kena dampaknya... aku merasa sangat tidak berguna dan telah membawa sial untuk orang-orang, lalu untuk apa lagi aku bertahan?" Kata Ghina sambil menatap mata Louis
Bahkan tatapan mata Ghina masih dipenuhi luka yang mendalam.
"Untuk diri kamu sendiri Ghina." Kata Louis
Louis tersenyum menenangkan lalu membawa Ghina ke dalam pelukannya dan mengusap kepalanya dengan sayang.
"Apa kamu fikir dengan pergi dan menghilang semua akan baik-baik saja? Apa kamu tidak memikirkan perasaan orang tua kamu atau Kakak kamu? Mereka menyayangi kamu Ghina dan kamu bukan pembawa sial, jangan menganggap diri kamu begitu bahkan aku merasa beruntung bisa memiliki kamu." Kata Louis
__ADS_1
"Terima kasih sudah datang dan menyelamatkan aku." Kata Ghina
Louis tersenyum dan mencium puncak kepala istrinya dengan sayang.
"Terima kasih sudah bertahan"
Mendengar apa yang suaminya itu ucapkan Ghina tersenyum dan mengeratkan pelukannya, dia sangat beruntung bisa memiliki Louis dihidupnya.
Kalau bukan Louis siapa yang mau menerima Ghina?
"Mau jalan-jalan sayang?" Tanya Louis
"Hm kemana?" Tanya Ghina tanpa mau melepaskan pelukannya
"Kamu mau kemana?" Tanya Louis
"Gak mau kemana-mana Louis." Kata Ghina
"Hm kalau gitu mari kita bahas sesuatu." Kata Louis sambil melepaskan pelukannya
"Bahas apa?" Tanya Ghina
"Bulan madu kita Ghina sayang." Kata Louis membuat pipi Ghina merona ketika mendengarnya
"Apa harus sekarang?" Tanya Ghina malu
"Ya ampun pipi kamu merah lucu sekali." Kata Louis
Ghina mengerucutkan bibirnya sebal membuat Louis tersenyum dan mencubit pelan pipinya.
"Kamu ada usulan?" Tanya Louis yang masih tetap membahasnya
"Benar-benar tidak mau menentukan?" Goda Louis
"Ihh Louis aku maluu." Keluh Ghina
Louis tertawa lalu menangkup wajah Ghina dan mencium keningnya lama.
"Baiklah aku yang akan menentukannya sayang." Kata Louis
Ghina diam sambil menatap Louis yang sekarang tengah menatapnya juga.
Cukup lama hingga deringan ponsel Louis terdengar membuat pria itu bergegas pergi ke kamarnya karena takut kalau itu telpon penting. Tersenyum tipis Ghina tetap diam ditempatnya lalu mengambil remote tv dan menghidupkannya selagi menunggu Louis.
Di dalam kamar tubuh Louis menegang begitu melihat siapa yang menelponnya, tapi dia tetap mengangkatnya tanpa mau bicara terlebih dulu.
'Louis'
Hanya gumaman pelan yang Louis berikan.
'Louis kamu disana honey?'
Sekali lagi Louis bergumam, dia tidak berniat menjawabnya.
'Tidak mau menyapa Mommy?'
__ADS_1
"Ya apa kabar Mom?" Tanya Louis pelan
'I'm fine honey bagaimana dengan kamu? Bagaimana dengan pernikahan kamu?'
Louis terdiam dia benar-benar tidak ingin bicara, tapi dia tidak boleh begini.
"Hm baik." Kata Louis singkat
'Louis kamu mau tau? Mommy ada di Indonesia!'
"Benarkah?"
Hanya kata itu yang mampu Louis keluarkan berbeda dengan wanita paruh baya itu yang terlihat antusias ketika mengatakannya.
'Mommy ingin menemui kamu dan istri kamu sayang, jadi kamu ada di rumah? Mommy akan ke rumah ya?'
"Tidak perlu Mom kita ketemu di luar saja." Kata Louis cepat
'Loh kenapa? Mommy mau bertemu Lily juga'
"Lily tidak ada di rumah." Kata Louis singkat
'Tetap saja Mommy ke rumah ya? Mommy sudah dijalan sebentar lagi akan sampai'
Akhirnya Louis bergumam pelan sebagai jawaban lalu mematikan panggilan telponnya dan menghela nafasnya pelan. Meletakkan ponselnya di meja Louis memejamkan matanya ketika dia merasakan sesak di dadanya.
Orang tuanya berpisah secara baik-baik bahkan keduanya masih sering bertukar kabar, tapi entah kenapa Louis masih tidak bisa menerima semuanya. Rasanya dia masih tidak bisa menerima kenyataan bahwa orang tuanya sudah bercerai padahal Lily bersikap biasa saja.
Tidak jarang Lily juga liburan dan menghabiskan waktu bersama Mommy nya.
"Louis?"
Panggilan itu membuat Louis membuka matanya lalu menoleh dan menatap Ghina yang berjalan mendekat sambil menatapnya.
"Ada apa? Apa terjadi sesuatu?" Tanya Ghina
Louis tersenyum sambil menggelengkan kepalanya pelan lalu mencium kening Ghina dengan sayang.
"Mommy mau kesini kamu ganti baju dulu ya?"
Ghina diam ketika mendengarnya, tapi setelahnya dia tersenyum dan menganggukkan kepalanya dengan semangat.
Dia penasaran dengan Mommy nya Louis karena sejak dulu yang Ghina tau hanya Uncle Liam saja.
Pasti Mommy nya sangat cantik dan mirip dengan Lily.
Berbeda dengan Ghina yang terlihat senang Louis justru bersikap biasa dia bahkan tidak berniat mengganti pakaiannya.
Sudah enam tahun Louis tidak pernah bertatap muka dengan Mommy nya kalau dulu Liam masih sering mengajak anak-anaknya menemui Mommy nya.
Tapi, sejak mulai bekerja Louis tidak melakukannya lagi kalau di ajak dia juga tidak mau ikut.
¤¤¤
Hai aku update😊 Cerita ini gak ada mature content nya semoga cepet reviewnya nyaa😊
__ADS_1
Ada dua part sebelum ini yang belum lulus Review dan aku gak tau part ini atau dua part sebelumnya yang akan update duluan😶
Makasih sudah mau menunggu💞