Dalam Dekapannya

Dalam Dekapannya
Special Part (1)


__ADS_3

"Kakak Alann jangan di lucaakkk"


Ailan merengek kuat sambil menatap Kakaknya dengan mata berkaca-kaca sayangnya terlambat barbie milik Alilan sudah di lepas tangannya oleh Alan yang tanpa rasa berdosa malah tersenyum. Perbuatan itu lantas membuat air mata Ailan jatuh dan dia benar-benar menangis bahkan dengan suara yang kuat membuat Alan hanya diam sambil menatapnya dengan bingung.


Saat ini usia Alan sudah memasuki tujuh tahun dan Ailan menuju lima tahun kedua anaknya itu sering sekali bertengkar apalagi kalau tidak ada Louis di rumah, rasanya Ghina pusing sendiri. Setiap kali ada Louis kedua anaknya itu akan bersikap baik dan terlihat tidak pernah bertengkar karena Louis selalu bilang bahwa dia akan marah juga tidak akan membelikan mainan atau makanan kalau mereka bertengkar.


Suara tangis Ailan semakin terdengar membuat Ghina langsung mematikan kompor dan berlari ke ruang tengah.


"Mommyyy Mommyyyy nakal Kakak nakal"


Ghina menghela nafasnya pelan lalu menghampiri kedua anaknya dan Ailan langsung berlari menghampiri Mommy nya.


"Mommy nakal belbi Ai di lucak." Adu Ailan


Ghina memeluk Ailan dan mengusap punggungnya dengan sayang membuat Alan hanya diam sambil menatap keduanya.


"Alan mau Mommy bilang ke Daddy?" Kata Ghina


Dengan cepat Alan menggelengkan kepalanya.


"Kenapa rusakin mainan adiknya hm?" Tanya Ghina dengan penuh kelembutan


Alan menundukkan kepalanya membuat Ghina tersenyum tipis lalu meraih tangan Alan dan membawa anak itu untuk mendekat.


"Sini lihat Mommy sayang." Kata Ghina


Dengan ragu Alan mendongak dan menatap mata Mommy nya.


"Jangan kasih tau Daddy nanti Alan di marah." Kata Alan takut


Setelah mengatakan hal itu Alan berlari kecil mengambil barbie milik adiknya dan membawa ke hadapan Ghina.


"Bisa di benerin Mommy." Kata Alan


Anak itu berusaha menyambung lagi tangan barbie yang tadi Alan putuskan dan Ghina hanya bisa tersenyum ketika Alan tak kunjung berhasil.


"Udah, sekarang Alan minta maaf sama Ailan ya? Nanti kita ke toko mainan sama Daddy, ayo maafan." Kata Ghina


Ghina melepaskan pelukan Ailan lalu menghapus air mata anaknya.


"Ayo maafan sama Kakaknya nanti kita ajak Daddy ke toko mainan ya?" Kaya Ghina dengan senyuman


Ailan mengangguk lalu menatap Alan yang mengulurkan tangan padanya.


"Maafin Kakak ya Ai." Kata Alan


Ailan kembali mengangguk membuat Alan tersenyum lantas mendekat dan memeluk adiknya.


Melihat itu Ghina tersenyum senang dia lalu mengajak kedua anaknya untuk makan siang karena ini sudah waktu makan siang, tapi Ailan menolak.


"Cama Daddy"


"Eh Daddy nya kan kerja sayang." Kata Ghina

__ADS_1


"Cama Daddyyy nanti bial ke toko mainann." Rengek Ailan


"Iya ke toko mainannya setelah Daddy pulang." Kata Ghina


"Cekalanggg"


Ghina menghela nafasnya pelan lalu melirik jam yang sudah menunjukkan pukul setengah satu.


"Yaudah Mommy ganti baju dulu Alan ambil jaket untuk kamu sama adiknya ya?" Kata Ghina


Alan mengangguk lalu pergi ke kamarnya.


"Ai di sini aja hm? Duduk sini tunggu Kakak ambil jaket nanti jaketnya di pakai Mommy ganti baju sebentar habis itu kita ke tempat Daddy." Kata Ghina


Ailan mengangguk patuh lalu duduk dengan senyuman yang menghiasi wajahnya dan Ghina bergegas pergi ke kamar. Begitu masuk ke dalam kamar Ghina langsung mengganti pakaiannya dengan dress di bawah lutut berwarna biru muda dan tak lupa Ghina mengambil tas, dia juga memakai sedikit bedak dan lipstik agar tidak kelihatan pucat.


Setelah itu Ghina bergegas turun dan senyumnya terbit kala melihat Alan yang sedang membantu adiknya memakai jaket. Menghampiri keduanya Ghina menggandeng tangan kedua anaknya dan keluar rumah mengingat di rumah ada Bibi jadi Ghina tidak mengunci pintu.


Mereka masuk ke dalam mobil dan Ghina langsung melakukan mobilnya menuju kantor sang suami sambil berharap Louis belum memulai pekerjaan lagi.


"Yee kita ke tempat Daddy." Kata Ailan senang


Alan tersenyum senang dia juga menatap keluar jendela sambil tersenyum ketika melihat ada banyak kendaraan yang melintas.


Sekitar dua puluh lima menit perjalanan akhirnya mereka sampai juga dan kedua anaknya langsung berseru senang membuat Ghina hanya bisa tersenyum. Begitu keluar dari mobil Ghina menggandeng tangan kedua anaknya dan mengajak mereka berdua untuk masuk.


Ada banyak karyawan yang menyapa Ghina karena mereka tau bahwa Ghina adalah istri dari Louis. Menaiki lift menuju lantai enam Ghina menatap kedua anaknya secara bergantian, keduanya terlihat begitu antusias.


Keluar dari dalam lift Ghina pergi ke ruangan yang ada di sudut sebelah kiri lalu tanpa mengetuk pintu Ghina membuka pintu ruang kerja suaminya dan masuk ke dalam.


Suara Louis terdengar dan belum sempat Ghina bicara Ailan sudah berseru senang.


"Daddyyy"


Suara cempreng Ailan membuat Louis mendongak dan senyumnya mengembang dengan sempurna.


"Sayangg"


Ailan melepaskan tangannya dia berlari kecil menghampiri Daddy nya lalu merentangkan kedua tangan sambil melompat.


"Daddyyyy"


Louis mengangkat tubuh mungil Ailan lalu menghujani anak itu dengan ciuman dan membuat Ailan tersenyum senang.


"Cudah Daddyyy"


Tertawa kecil Louis menjauhkan wajahnya dan menatap Ailan dengan senyuman.


"Kalian tidak bilang mau ke sini?" Kata Louis sambil menatap Ghina


Ghina hanya tersenyum mendengarnya.


"Sini sayang duduk." Kata Louis

__ADS_1


Mereka duduk di sofa yang ada di ruang kerja Louis dan sekarang Ailan masih berada di pangkuan Daddy nya.


"Hey jagoan sini Daddy mau cium." Kata Louis


Alan menurut dia mendekat lalu mencium pipi Daddy nya dan Louis juga melakukan hal yang sama dia juga mengusap kepala anaknya itu dengan sayang.


"Daddyy"


"Hmm"


Louis beralih lagi pada Ailan yang kini tersenyum lebar hingga terlihat giginya yang ompong.


"Daddy cayangg beliin Ai belbi." Kata Ailan


Louis tertawa kecil lalu dia mendekat dan mencium pipi Ailan lagi.


"Ai mau barbie?" Tanya Louis


Ailan mengangguk dengan semangat.


"Belbi Ai lucak tangannya buntung." Kata Ailan


Perkataan lugu itu membuat Louis tertawa lalu mencubit gemas pipi anaknya.


"Hm nanti kita ke toko mainan ya? Ai boleh ambil semuaa yang Ai mau." Kata Louis membuat senyum anaknya mengembang dengan sempurna


"Sayang kamu sudah makan?" Tanya Ghina pada suaminya


"Kebetulan belum malah aku berniat untuk makan nanti saja." Kata Louis


"Mau makan sama-sama? Anak-anak belum pada makan tadi malah pada mau ke sini." Kata Ghina


"Boleh, sayang tolong ambilkan ponsel aku mau menelpon Panji." Kata Louis


Ghina mengangguk dia beranjak dari tempat duduknya dan mengambil ponsel milik sang suami.


Louis menghubungi sekretarisnya yang baru lalu dia mengatakan sesuatu.


"Panji tolong tunda meetingnya ya? Iya ada istri dan anak-anak saya, ganti untuk nanti sore atau besok." Kata Louis


Setelah mengucapkan Terima kasih Louis mematikan telpon lalu menatap lagi Ailan yang ada di pangkuannya.


Anak itu memiliki mata yang besar dan bibir mungil serta hidung yang mancung membuat Ailan terlihat begitu menggemaskan.


Bahkan anak itu mendapat banyak tawaran untuk menjadi model pakaian anak-anak juga tawaran iklan, tapi Louis menolaknya.


Nanti saja kalau Ailan sudah besar.


"Daddy cayangg ayo beli belbi cekalang"


Oh lihat betapa menggemaskannya anak ini.


°°°°

__ADS_1


Halo ada yang kangen Louis dan Ghina enggak nih🤣


Aku udah janji bakal kasih special part kan yaa? Nah masih ada satu atau dua special part lagi untuk kalian tungguin yaaa🥰


__ADS_2