Dalam Dekapannya

Dalam Dekapannya
Adik Kecil


__ADS_3

Ghina terlihat begitu manja dipelukan sangat Kakak membuat Louis yang melihatnya tersenyum seraya menggelengkan kepalanya pelan, dia masih ingat ketika Gibran bercerita bahwa dulu dia dan Ghina itu selalu ribut jarang akurnya, tapi sekarang mereka terlihat begitu dekat. Masih teringat jelas juga diingatan Louis ketika Kakak iparnya itu bercerita tentang dia yang menentang hubungan Ghina dengan Alden dulu karena tau bahwa Alden tidak baik untuk adiknya.


Dilihat dari cara Gibran menatap Ghina saja sudah terlihat jelas bahwa Gibran sangat menyayangi adiknya meskipun dulu mereka selalu bertengkar, tapi itu hal yang wajar. Sedikit berbeda dengan Louis yang jarang ribut dengan Lily karena dia dan Gibran memiliki sifat yang berbeda.


Gibran itu mudah marah dan sulit mengontrol emosinya sedangkan Louis adalah kebaikannya, dia terlalu sabar bahkan nyaris tidak bisa marah.


"Bagaimana kabar kalian Louis?"


Pertanyaan itu membuat Louis mengalihkan pandangannya pada Diandra yang tersenyum padanya.


"Kami baik Kak hanya saja terkadang Ghina mual atau muntah." Kata Louis


"Itu hal yang biasa ketika hamil." Kata Diandra


"Iya Mommy juga mengatakan hal yang sama." Kata Louis


"Paman Paman"


Louis secara refleks menunduk dan dia dapat melihat Gavin yang sedang menarik-narik ujung kemejanya sambil menatapnya dengan senyuman.


"Hai ganteng"


Membungkukkan tubuhnya Louis mencubit pelan pipi Gavin yang malah membuat anak itu tersenyum.


"Paman lihat adik Ilaa yuk"


Belum sempat menjawab Gavin sudah menarik tangan Louis dan membawanya ke dekat ranjang bayi yang ada di ruang tengah dimana Danira sedang terlelap. Melihat hal itu secara refleks Louis tersenyum seraya menatap si cantik Danira yang tertidur.


"Ila tidul telus kalau Gavin enggak." Kata Gavin dengan raut wajah lucunya


"Kenapa enggak? Anak kecil itu harus tidur siang." Kata Louis


"Gavin sudah besal sudah bisa makan sendili." Kata Gavin membuat Louis tertawa kecil mendengarnya


"Menurut Gavin anaknya Tante Ghina itu perempuan atau laki-laki?" Tanya Louis


Gavin terdiam dengan wajah lucunya lalu menggelengkan kepalanya pelan.


"Enggak tauu"


"Kalau Paman maunya perempuan sama seperti Danira." Kata Louis

__ADS_1


"Kalau perempuan nanti bisa jadi temannya Ila." Kata Gavin membuat Louis tersenyum mendengarnya


"Pintar sekali." Kata Louis


"Kata Mommy Gavin menang pintal soalnya sudah bisa makan sendili telus gak cengeng lagi." Kata Gavin dengan senyuman manisnya


"Gavin menang anak pintar." Kata Louis sambil mengusap kepalanya dengan sayang


Dalam diam Louis terus menatap Danira yang tertidur begitu nyenyaknya, dia benar-benar tidak sabar menanti kehadiran baby kecil di kehidupannya. Pasti akan sangat menyenangkan memiliki seorang anak yang lucu ah tidak bahkan Ghina bilang dia ingin memiliki empat anak dan itu pasti sangat menyenangkan.


Membayangkan rumah mereka akan di penuhi ke berisikan anak-anak saja sudah membuatnya bahagia dan tidak sabar untuk merasakannya. Saat tengah asik menatap Danira sebuah suara yang sangat dia kenali membuatnya menoleh.


Benar saja sudah ada Ghina dibelakangnya.


"Hai Gavin"


"Ante Inaa kami lagi lihat Ila yang masih tidul." Kata Gavin


Ghina tersenyum mendengarnya dia duduk di dekat Gavin lalu memeluknya dengan erat.


"Kangen banget deh sama Gavin." Kata Ghina


Anak itu tersenyum dan ketika Ghina melepaskan pelukannya dia berdiri lalu menangkup wajah Ghina dan mencium keningnya.


Menggemaskan sekali.


"Dia gemas sekali kan?" Kata Ghina sambil menatap Louis yang tersenyum penuh arti


"Sangat menggemaskan." Kata Louis


"Seperti aku?" Tanya Ghina


Louis tertawa lalu menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Iya seperti kamu." Kata Louis


"Louis"


Sekali lagi Louis menoleh dan dia dapat melihat Kakak iparnya yang berdiri tidak jauh darinya membuat Louis langsung bangun dan menghampirinya.


"Iya Kak?"

__ADS_1


"Aku mau bicara sebentar." Kata Gibran


Louis mengangguk sebagai jawaban lalu dia mengikuti langkah kaki Kakak iparnya untuk kembali ke ruang tamu dan meninggalkan Ghina di ruang tengah bersama dengan anak-anak dan Diandra juga.


Begitu keduanya duduk berhadapan Gibran menatap adik iparnya itu dengan senyuman.


"Sebenarnya tidak ada hal yang serius, tapi aku ingin berterima kasih pada kamu." Kata Gibran


"Terima kasih?" Kata Louis dengan alis bertaut


"Ya Terima kasih karena sudah membuat adikku bahagia." Kata Gibran


"Sudah tugasku Kak." Kata Louis sambil tersenyum


"Ghina terlihat begitu bahagia sejak kalian menikah, aku akui dulu dia juga memang bahagia bersama Alden, tapi tidak sebahagia ini karena dulu aku beberapa kali melihat Ghina yang melamun atau melihat Ghina dengan mata memerah karena menangis." Kata Gibran dengan senyuman tipis


Matanya menerawang pada kejadian dulu.


'Kamu menangis kan?! Kenapa? Pasti karena Alden sudah Kakak bilang putuskan dia!'


'Bukan salah Alden Kak'


"Aku tidak akan pernah membuat Ghina seperti itu Kak." Kata Louis membuat Gibran mendongak dan menatapnya dengan senyuman


"Aku tau bahkan melihat Ghina sekarang sudah membuat aku merasa begitu bahagia, dulu setiap bertemu kami akan ribut, tapi sekarang tidak lagi setiap bertemu adik kecilku itu akan berlari dan memelukku." Kata Gibran


"Ghina sangat menyayangi Kakak." Kata Louis


"Dan kamu dia sangat menyayangi kamu Louis." Kata Gibran


Louis hanya menanggapinya dengan senyuman manis.


Dia akan sangat senang jika Ghina sayang padanya dan ya istrinya itu memang berkali-kali mengatakan hal itu padanya.


'Aku sayang kamu Louis'


Meskipun terkesan sederhana, tapi selalu berhasil membuat Louis bahagia.


°°°


Update dulu yukk😘

__ADS_1


__ADS_2