
Mendung datang menyapa langit pagi ini, langit yang biasanya cerah pagi ini tampak suram. Udara juga tak sehangat biasanya, benar - benar hari yang menyenangkan buat dihabiskan bersama kasur empuk dan selimut.
Hal yang sama tengah dirasakan oleh seorang gadis, yang dengan nyamannya bergelung di dalam selimut coklatnya. Perlahan tampak si gadis menggeliat, menandakan dia akan segera berhenti menjelajahi dunia mimpinya.
"Hoaaaaammmm....," si gadis terbangun dan terduduk dengan wajah bingungnya, "ngg.. jam berapa sekarang?." Tangan rampingnya meraba - raba kasurnya mencoba mencari keberadaan ponselnya dan saat menemukannya, matanya melebar dan dalam waktu yang bersamaan dia melemparkan ponselnya sembarang dan bergegas turun dari kasur, tak peduli lagi akan kehangatan selimut coklat kesayangannya.
Sambil berlari ke arah kamar mandi si gadis berkata pada diri sendiri, "gawat, bagaimana bisa kau bangun telat Alinaaa..." Masih dengan terus menyalahkan dirinya yang telat bangun pagi ini, Alina dengan lincah bergerak kesana kemari di dalam apartemen sempitnya mencari barang - barang yang diperlukannya untuk memulai pagi yang dingin ini.
"huft.. pagi ini kenapa dingin sekali, lebih dingin dari biasanya," sambil merapatkan jaket hitamnya yang mulai usang, Alina menghadapkan wajahnya ke langit, "sepertinya sebentar lagi hujan, aku harus cepat." Lirihnya sambil terus berjalan menuju tempat kerjanya.
Pagi ini sungguh terasa sangat dingin bagi Alina, padahal sudah pukul tujuh pagi yang biasanya matahari sudah naik memperlihatkan cahayanya dengan percaya diri tidak malu - malu seperti hari ini. Setelah berjalan cukup jauh, Alina akhirnya sampai di tempat kerja yang sudah dia geluti selama setahun ini. Tepat saat dia masuk ke dalam gedung yang bertuliskan cafe tersebut, hujan turun dengan deras mengguyur bumi dan mendatangkan aroma khas yang penuh kenangan.
"Hujan.. syukurlah aku sudah sampai," Alina langsung masuk ke dalam cafe dan tersenyum ramah menyapa setiap orang yang ditemuinya. Hari ini sama seperti hari yang sudah - sudah, Alina akan menghadapi harinya dengan senyum, mencoba tegar dengan apapun yang terjadi.
"Saat kau mencoba tersenyum, semuanya akan mulai terasa baik - baik saja.."
Alina Hifza, gadis muda yang berusia 20 tahun itu sudah lama menjadi sosok gadis yang tangguh untuk dirinya sendiri, di dunia ini dia sebatang kara tanpa ada siapapun yang menemaninya. Keluarga kecilnya yang sederhana sudah lama meninggalkannya di dunia yang keras ini. Orang tua Alina meninggal karena kecelakaan saat Alina berumur 10 tahun, dan hanya Alina sendiri yang selamat. Saudara kandung juga tidak punya, dia anak tunggal. Saudaranya yang lain juga Alina tidak tau kabarnya, dari kecil dia tidak pernah bertemu dengan saudara ibu atau ayahnya. Teman? setelah orang tuanya meninggal Alina menghabiskan banyak waktu di panti asuhan, dia menjadi anak yang tertutup sejak saat itu, jadi sulit baginya untuk mendapatkan teman.
Saat ini Alina sedang melakukan pekerjaannya mengepel lantai cafe, Alina bekerja sebagai pelayan di cafe tersebut. Dengan giat Alina terus menggerakkan gagang pel yang dipegangnya, tidak peduli dengan perutnya yang sedari tadi berteriak kelaparan karena belum di isi pagi ini. Semua dampak dari bangun tidurnya yang telat pikir Alina.
Sosok tubuh tinggi dan tegap itu terus melangkah dengan angkuh sambil menuruni satu persatu anak tangga, matanya sekilas melirik jam di tangan kanannya. Merasa masih terlalu pagi untuk pergi keluar rumahnya, laki - laki berparas tampan itu berniat melanjutkan langkahnya ke arah ruang makan.
"Selamat pagi tuan muda." Sapa seluruh pelayan yang melihatnya sambil membungkukkan badan mereka.
"Hmm.. pagi." Jawab pria yang dipanggil tuan muda tersebut. Jawaban singkatnya sudah biasa di dengar oleh seluruh penghuni rumah mewah tersebut. Hal biasa bagi para pelayan melihat kebiasaan tuan muda mereka yang bersikap tak acuh.
__ADS_1
Evano Arion Edzard, bukankah dengan mendengar namanya saja sudah bisa dibayangkan bagaimana sosoknya?. Evano, laki - laki muda yang baru berusia 21 tahun dengan fitur wajah yang sungguh hanya dengan sekilas melihatnya saja akan membuat siapa saja terpesona. Mengagumkan, satu kata yang bisa menggambarkannya.
"Dimana ibu dan ayah?." Tanyanya ketika tidak melihat kehadiran orang tuanya.
"Tuan dan nyonya tidak di rumah tuan muda, mereka sedang berada di Inggris. Tuan dan nyonya berangkat kemarin saat tuan muda tidak menginap dirumah." Seorang pria tua menjawab pertanyaan sang tuan muda sambil meletakkan secangkir susu hangat di depan tuan mudanya.
Evano mengangguk sekilas, mengerti dengan kebiasaan orang tuanya yang sibuk. Sambil menyesap susu hangatnya perlahan, dia membayangkan betapa sibuk orang tuanya itu. Evano anak tunggal dari pengusaha kaya raya di negaranya, bisa dikatakan perusahaan - perusahaan yang dimiliki orang tuanya adalah yang terbaik di banding perusahaan lain di negaranya. Karena itu hal wajar baginya jika tidak menemukan orang tuanya dirumah.
Evano tumbuh menjadi seorang pria muda yang sangat disegani, terlepas dari pengaruh orang tuanya sosok evano memang sungguh mengagumkan, sehingga sulit bagi orang - orang untuk mencelanya. Tubuh tinggi yang proporsional, wajah tampan yang tegas nan rupawan serta ditunjang dengan IQ yang sungguh luar biasa menjadikannya pria muda tampan cerdas dan kaya. Bagi orang yang mengenalnya, pria itu sungguh sempurna tak bercela.
Selesai dengan sarapan paginya, Evano mengambil ransel di sebelahnya dan bersiap untuk pergi.
"Arvin..," panggilnya pada pria tua yang sedari tadi berdiri di dekatnya. "Aku tidak makan malam di rumah, aku akan makan malam bersama temanku nanti." Jelas Evano
"Baik tuan muda, semoga hari anda menyenangkan" ujar pria tua bernama Arvin tersebut. Arvin merupakan pelayan senior di rumah Evano, dia sudah mengabdi pada keluaga Edzard selama puluhan tahun hingga kini usianya sudah memasuki kepala lima. Bahkan Evano sudah menganggap Arvin sebagai pamannya sendiri.
"Masih pukul tujuh, aku berangkat terlalu pagi hari ini." Setelah melihat jamnya dan yakin tidak akan terlambat, Evano melajukan mobil mewahnya dengan kecepatan sedang ke tempat tujuannya.
Setelah menempuh perjalan selama kurang lebih 20 menit, Evano sampai dan langsung memakirkan mobilnya. Sesaat setelah keluar dari mobilnya, Evano langsung saja menjadi pusat perhatian. Semua menatapnya terpesona, bahkan para gadis yang tadinya berlari terburu - buru menyempatkan untuk berhenti hanya untuk memandangnya, siapa yang meragukan pesona seorang tuan muda Edzard.
"Vanooo, my friend uri chingu mon ami watashi wa tomodachi temanku!!," teriak seseorang dari arah belakang Evano. "Hei, pria tampan yang mempesona tunggu aku!!." teriaknya lagi.
Sempat terkejut dengan teriakan tersebut, Evano langsung memasang wajah datarnya kembali saat sadar siapa pelaku yang berteriak histeris hingga mengalahkan suara guntur pagi ini.
"Hei berhenti berteriak, suaramu itu bahkan mengalahkan suara rengekan sapi yang kelaparan." Ujar pria yang berada di belakang si pelaku utama peneriakan.
"Apa katamu? sapi? kau membandingkan aku yang rupawan ini dengan sapi? kau keterlaluan Danial". Ersya pelaku peneriakan melebarkan matanya tak percaya saat mendengar perkataan sahabatnya tadi.
__ADS_1
"Aku hanya memberikan perumpamaan, kenapa reaksimu selalu berlebihan?." Sambil terkekeh Danial berjalan melewati Ersya menuju ke arah Evano yang dari tadi hanya tersenyum kecil melihat tingkah para sahabatnya.
"Kau akan terlihat bodoh jika terus bermain bersamanya Gav..." Ucapan Evano lagi - lagi membuat Ersya melebarkan matanya, belum sempat menjawab Evano kembali berucap, "zipper celanamu terbuka Er..." Setelah mengatkan itu Evano hanya terkekeh dan melanjutkan langkahnya memasuki gedung kampus di ikuti Danial yang masih menertawakan Ersya.
"Cepatlah Er, jangan bengong disitu. Kita ada kuis di jam pertama," langkahnya terhenti "dan jangan lupa menarik zippermu Er..." Melihat Er yang siap mengamuk Danial langsung berjalan cepat menyusul Evano sebelum dia diserang dengan teriakan super mega ultranya Ersya.
"Yak!!, kalian benar - benar keterlaluan!, hei tunggu aku." Memutuskan untuk menyimpan amarahnya dulu, Ersya berlari menyusul sahabatnya dan tak lupa sambil menarik zippernya yang terbuka.
Sesaat setelah mereka masuk ke gedung kampus, hujan langsung turun dengan deras. Hal itu membuat Evano menoleh ke belakang dan menatap ke arah luar melalui kaca pintu yang transparan.
"Udaranya akan menjadi semakin dingin.." Evano tersenyum kecil merasakan kesejukan yang tiba - tiba menerpa kulitnya.
Hujan masih terus mengguyur bumi, belum ada tanda dia jenuh menjatuhkan diri. Angin juga masih betah menari - nari seakan menemani hujan agar tak merasa sendiri. Hari sudah mulai sore biasanya sebentar lagi sang senja akan memperlihatkan diri, tapi hari ini sang hujan lebih mendominasi sehingga langit sore hari ini dihiasi warna kelabu. Alina sudah menyelesaikan semua tugasnya di cafe dengan baik, saat ini dia sedang bersiap siap untuk menuju ke tempat kerjanya yang lain. Ya, Alina punya banyak pekerjaan. Biasanya dia mulai bekerja pukul lima subuh kecuali hari ini, dia sedang dapat jatah libur itu yang menyebabkannya terlalu lama bergelung di dalam selimut coklatnya sampai lupa waktu.
Alina memulai harinya dengan mengantarkan susu dan koran dari rumah ke rumah, lalu bersiap siap ke cafe dan bekerja sebagai pelayan dan saat malam tiba dia akan bekerja sebagai penjaga kasir hingga tengah malam di mini market. Bagi Alina yang sangat giat bekerja, mencari pekerjaan adalah hobinya. Dia tidak pernah malu dengan pekerjaan apapun yang dilakukannya selama itu adalah pekerjaan yang baik, baginya asal sudah bisa mengumpulkan pundi-pundi uang untuk kebutuhan hidupnya dia sudah bersyukur.
Alina gadis yang memiliki pemikiran yang sederhana, dia selalu bersyukur dengan apapun yang dia dapatkan. Baginya yang sudah lama hidup dalam kerasnya dunia, bisa makan sekali sehari dengan nasi saja sudah luar biasa beruntung. Alina tidak pernah mengeluh dengan keadaannya, bibirnya selalu saja tersenyum. Alina bekerja dengan giat karena dia tidak punya pilihan, dia hanya gadis muda tamatan SMA yang hidup seorang diri. Siapa lagi yang bisa dia harapkan kalau bukan dirinya sendiri, alasan itulah yang selalu menjadikannya kuat.
Sambil melangkah menuju ke tempat kerjanya, Alina memiringkan sedikit payung yang sedang dipegangnya untuk menatap langit. Perlahan dia tersenyum kecil, berharap segera menyelesaikan pekerjaannya dan dapat pulang cepat ke apartemen kecilnya. Alina sudah merindukan kasur dan selimut coklat kesayangannya.
Hola, saya pendatang baru. Saya berharap para pembaca yang membaca cerita Dandelion ini bisa menyukainya.
Saya sangat menunggu kritik dan saran dari para pembaca sekalian..
__ADS_1
Terimakasih..