
Malam semakin larut. Hali memacu motornya hingga kecepatan 60km/jam. Tidak terlalu cepat, tapi cukup cepat untuk mengantarkan nya sampai rumah yang berjarak 11 km dari kampusnya.
Sepanjang perjalanan ia lalui dalam hening. Tubuhnya lelah, begitu juga pikirannya. Hampir seharian itu ia tak bisa fokus dengan kegiatan nya, padahal banyak yang harus ia kerjakan. Dalam pikiran nya terus terulang kejadian pagi tadi saat Ken memaki Taufan.
Berkali kali ia mencoba mengalihkan pikiran itu, namun yang muncul justru rasa bersalah. Untuk kesekian kalinya ia menghela nafas berat. Sepertinya ia terlalu keras pada Ken. Yah, bagaimanapun juga ia tetap salah. Pantas jika Ken bingung akan perubahan sikapnya pada Taufan yang tak di berikan penjelasan apapun.
Seperti yang dikatakan Khai, tak seharusnya ia memihak salah satu dari adiknya. Sebagai kakak sulung, ia harus bisa membagi kasih sayangnya pada kedua adiknya itu.
"Yah, sepertinya aku memang harus minta maaf padanya, dan menjelaskannya." Gumamnya.
Hali mengerenyitkan dahi heran saat melihat lampu ruang utama masih menyala terang. Ia memandang jam tangan nya yang menunjuk pukul 22.15, dan tak terlihat aktivitas apapun di ruang itu, biasanya lewat jam 9 lampunya sudah padam.
Ketika kakinya melangkah membawa dirinya lebih jauh ke dalam, ia terkejut saat melihat seseorang terduduk meringkuk di salah satu sisi ruangan, didepan kamar adik bungsunya. Iris ruby itu menajamkan pandang, dan baru ia tersadar sosok itu adalah Taufan yang entah bagaimana bisa tertidur di sana lengkap dengan seragam putih abunya.
Perlahan ia menggoyangkan bahunya, "Taufan, hei, bangun.. apa yang kau lakukan disini?"
Bibir yang sering menebar tawa itu mengeluh kecil. Kepalanya terangkat, menampilkan mata biru yang terlihat mengantuk. "Ngh? Kak Hali udah pulang?"
"Kenapa tidur disini?"
Hali mulai merasa khawatir, rasa dingin ia rasakan saat kulit mereka bersentuhan. Ia takut jika Taufan sakit karena tidur dilantai dan terkena udara dingin mengingat pemuda itu bisa sakit dan bisa drop kapan saja.
"Ken sakit, dia pingsan di sekolah tadi. Aku mengkhawatirkan nya. Aku membawakannya obat tapi dia ngga mau bukain pintu." Ucap Taufan dengan suara yang terdengar serak.
"Ken pingsan? Bagaimana bisa?" Hali terkejut. Tentu saja ia terkejut, adik bungsunya itu belum pernah pingsan sebelumnya.
Taufan menggeleng, ia sendiri tak tahu bagaimana awalnya. Yang ia tahu Ken sudah berada di uks dengan keadaan tak sadarkan diri.
"Ya udah, sekarang naik sana, ganti baju terus tidur." Ujar Hali.
"Tapi.. Ken gimana..?" Baru saja Taufan membuka mulut, hendak melontarkan penolakan. Namun sudah dipotong oleh kakaknya.
"Udah, kau istirahat saja. Biar aku yang mengurusnya. Ken masih belum bisa menerimamu, aku takut dia malah semakin membencimu dan berbuat hal yang tidak-tidak. Oke?"
Taufan tertunduk, ia tak mungkin lupa dengan ucapan yang Ken lontarkan padanya. Kata kata pedas yang sengaja membuat hatinya meringis menahan perih.
Di satu sisi, ia merasa iba melihat Hali yang harus mengurus semuanya sendiri. Menopang kehidupannya dan adiknya. Di bahu tegap itu, entah seberapa berat beban yang dipikulnya seorang diri tanpa ada yang bisa dijadikannya sebagai pegangan.
"Kau sendiri udah minum obatmu?"
Taufan mengangguk pelan. Nada bicara Hali yang lembut itu menghangatkan hatinya. Padahal ia tahu betapa melelahkan nya kehidupan yang dijalani kakaknya. Semua itu terpancar nyata dari raut lelah yang ia sembunyikan di balik senyuman tipis itu.
Di saat yang sama dadanya terasa sesak, mengantarkan sengatan yang membuat pandangannya berkabut. Hali terkejut saat tubuhnya terdorong oleh Taufan yang tiba-tiba memeluknya erat.
"Kenapa? Ada apa?" Hali bingung.
"Maaf, dan terima kasih sudah menjadi kakak ku." Kata Taufan lirih.
Seulas senyum terukir di di wajah sang kakak. Ia hanya mengusap pucuk kepala Taufan sebelum ia kembali menyuruh Taufan untuk segera tidur.
Taufan terkekeh, ia sendiri tak tahu kenapa ia bersikap seperti itu. Ia hanya sangat senang bisa kembali dekat dengan kakaknya dan betapa beruntungnya ia memiliki seseorang yg dapat diandalkan seperti Hali.
Ia ia langsung pergi menuju tangga setelah memberikan plastik berisi obat yang sempat diberikan Yasha tadi. Belum ada beberapa detik ia menghilang di persimpangan lantai 2, Taufan kembali menampakan diri di tangga.
"Oh kak, kelupaan. Selamat malam." Ucapnya dengan senyum lebarnya.
Hali tertawa kecil, "Malam." Kini tersisa dirinya dan keheningan di malam yang kian larut. Dipandanginya pintu coklat itu. Ragu kembali menelusup hati saat rasa bersalah mulai kembali ia rasakan. Ia terdiam cukup lama, berdebat dengan ego dipikirannya sebelum akhirnya ia melangkah masuk.
__ADS_1
Kamarnya gelap, tangannya meraba dinding mencari tombol saklar. Ia dapati adik bungsunya meringkuk di atas kasur sembari memeluk sesuatu. Sebuah frame berisi foto keluarga mereka yang dalam di ingatannya, foto itu sudah diambil lama sekali.
Ia duduk disisi ranjang, memerhatikan wajah sang adik dengan pandangan yang sulit diartikan. Jejak air mata masih membekas di kulitnya yang memucat.
Malam itu Ken terlelap dengan kerutan halus di keningnya. Nafasnya tak berhembus normal. Keringat dingin sudah membuat rambutnya lepek.
Panas merasuk ke dalam pori-pori saat kulit mereka bersentuhan. Hali menghela nafas, ia mengambil handuk kecil yang ia rendam dalam baskom berisi air hangat. Memerasnya sedikit kemudian meletakannya di kening Ken. Ia juga merapikan posisi selimut untuk menutupi tubuh adiknya.
Benda hangat yang menyentuh kulitnya membuat Ken terbangun. Mata emas nya bergerak mencari seseorang yang memberi kehangatan itu.
"Kak Hali?" Ujarnya lirih. Pandangannya masih kabur, ia mencoba bangun meski kepalanya terasa berat.
Hali terkejut ketika keluhan kecil lolos dari bibir pucat itu, "Hmm, aku membangunkan mu ya?"
Ken mengerjap beberapa kali. Pandangannya masih kabur, ia mencoba bangun meski kepalanya terasa berat.
"Kak Hali baru pulang?" Tanyanya yang berhasil mendudukkan diri dengan bantuan kakaknya.
Hali tak langsung menjawab, ia justru menarik kursi dari meja belajar dan duduk disana.
"Kau sakit kenapa ngga menghubungiku? Kalau tau kau sakit kan aku akan pulang lebih awal."
Ken tak menyahut, ia hanya tertunduk memainkan ujung selimutnya. Dalam hati ia mengutuk siapa saja yang berani mengadu pada kakaknya. Padahal ia sengaja menyembunyikan kondisinya karena tak ingin membuatnya cemas dan menambah beban pikirannya. Juga perasaan lain yang membuatnya tak nyaman didekat kakak tertuanya.
Sepasang iris milik ruby Hali menatapnya teduh, "Ada yang sakit Pusing ya? Udah minum obat?"
Ken menjawab hanya dalam satu gelengan kepala, meski sebagian itu sebuah kebohongan. Bibirnya masih saja terkatup rapat enggan berkata. Membiarkan keheningan malam menguasai ruangannya.
"Kalo gitu minum obat dulu ya, setelah itu kau istirahat."
Dalam diam Ken memerhatikan gerak-gerik Hali yang menyiapkan obat untuknya. Sesuatu ditubuhnya bergemuruh melihat perlakuan lembut kakaknya. Perasaan bersalah merayapi ulu hatinya, menciptakan sesak yang membuat dadanya terasa sakit.
"Maaf,"
Satu kata yang terdengar serak itu menghentikan aktivitas Hali. Menarik dirinya untuk menoleh, tanpa berkomentar. Ia masih menunggu kata berikutnya dari bibir kering.
Cairan bening yang mengaburkan mata emas jernih itu menggenang di pelupuk mata.
"Aku gak bermaksud untuk berteriak pada kak Hali." Pandangan sendu itu terpancar dari mata sayu nya. "Aku hanya kesal karena harus satu meja bersama 'orang itu'."
Bibirnya bergerak, menceritakan nostagia lama yang masih awet diingatannya.
Enam tahun sudah berlalu, tapi perasaan itu tak pernah berkurang sedikitpun. Ken masih membencinya. Setiap melihatnya, bayangan ayah dan ibu selalu hadir. Dan seketika semuanya lenyap, hanya menyisakan orang itu. Menyisakan luka yang tak akan pernah sembuh.
Sorot manik ruby itu ikut menjadi sendu. Kabut tipis menghampiri permukaan bola mata yang biasanya menatap tajam itu. Ia tau bahu yang gemetar itu menahan gelora yang menggebu di hatinya, ia ikut merasakannya. Rasa sakit itu.
Ken yang masih begitu muda harus diperkenalkan dengan kepedihan yang menancap terlalu dalam. Hingga selama 6 tahun ini ia tumbuh tanpa kasih orang tua yang seharusnya dinikmati anak seusianya. Waktu yang cukup lama untuk menghapus nuraninya kepada pelaku yang dianggapnya tega merenggut kebahagiaan terbesarnya. Memupuk rasa benci guna menutup luka lama yang enggan mengering.
"Dan saat mengetahui kak Hali bisa memaafkannya semudah itu, aku benar-benar kesal. Aku bahkan tak tau harus bersikap seperti apa. Aku hanya... Hiks.. Aku benar-benar.."
Lelehan air mata jatuh membasahi pipi tembamnya. Ia menggigit bibir bawahnya, bahunya gemetar luar biasa menahan gejolak emosi yang sangat menyesakkan.
Hali tahu betapa sulitnya mengungkapkannya. Bahkan untuk bicara sepatah katapun tak mampu karena seolah lupa caranya bernafas. Perlahan ia merengkuh tubuh yang lebih kecil darinya itu ke dalam pelukan. Menghantarkan ketenangan serta kehangatan pada sosok yang tengah rapuh itu.
"Sttt, sudahlah. Jangan terlalu dipikirkan. Ini semua bukan salahmu, aku juga minta maaf karena sudah membentak mu. Maaf karena aku belum bisa menjadi kakak yang baik untukmu." Hali berkata setengah berbisik.
itu seketika menghancurkan pertahanannya. Tangisnya pecah, "Keluarkan saja, ngga perlu ditahan." Bisik nya lagi.
__ADS_1
Nafas Ken tercekat, suara lirih ia menenggelamkan wajahnya di bahu sang kakak. Meluapkan semua bebannya dalam sedu. Jemarinya mencengkram erat kaos kakaknya. Menghantarkan pilu yang sejak lama mencekiknya.
"Aku sangat membenci orang itu. Aku benci semuanya, bahkan pada takdir. Aku.. hiks.. Aku merindukan ayah dan ibu. Aku hanya ingin kembali seperti dulu. Huhuhu..."
Hali mengangguk paham, "Aku juga."
Sesuatu di hatinya berdenyut nyeri melihat Ken serapuh ini. Bukan hanya Taufan, Ken pun juga menyimpan rasa sakit yang selama ini tak pernah ia ketahui. Selama ini ia sibuk dengan kuliah dan pekerjaannya karena ia satu-satunya tulang punggung keluarga, tanpa memahami perasaan adiknya.
Hali hanya terdiam, membiarkan Ken menumpahkan segala sesak yang selama ini bersarang di hatinya.
Perlahan cengkraman itu melemah, seiring isak tangis yang mereda. Aroma mint dari tubuh kakaknya mampu memberikan dirinya ketenangan. Ia menarik tubuhnya dari dekapan sang kakak, sembari menghapus air matanya.
"Udah tenang?"
Ken mengangguk singkat. Kelegaan dengan cepat merayapi hatinya, mengisi ruang yang awalnya penuh dengan ketidakpastian.
Hali tersenyum tipis, mengelus rambut lepek Ken. "Kak, boleh tanya sesuatu?" Dengan suara lirih Ken kembali membuka pembicaraan.
Hali mengernyit, "Hm? Apa?"
"Kenapa kak Hali tiba-tiba menerima orang itu?" Pertanyaan itu terlontar meski diselimuti keraguan. Ia yang pada awalnya tak peduli dengan apapun alasan Hali menerima Taufan, berakhir dengan rasa penasaran seolah mempermainkannya.
"Kebakaran itu bukan kejadian yang bisa dilupakan begitu aja. Pasti ada alasan lain yang mendasari keputusan itukan? Kak Hali iba pada orang itu?" Lanjut Ken cepat, dengan susah payah meneguk ludah. Sebisa mungkin ia menahan getaran yang bergemuruh di rongga dadanya.
Nafas Hali tercekat. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir yang tertutup rapat itu, ia hanya menatap Ken dalam diam. Bukan, bukan karena perasaan marah, melainkan kebimbangan. Apakah ini saat baginya untuk menceritakan keadaan Taufan? Kenapa waktunya datang begitu cepat?
Kalau dia memberitahu kejadian sesungguhnya yang mampu mengubah hatinya yang awalnya keras menjadi seperti ini, apakah itu bisa disebut perasaan kasian atau iba?
Tapi sungguh, Hali yang sekarang sama sekali tak membenci Taufan. Perasaan yang sudah terpupuk selama 6 tahun itu menguap begitu saja saat melihat kondisi Taufan malam itu.
"Kak?"
Suara Ken menyadarkannya. Matanya terpejam sesaat, menghirup oksigen sebanyak mungkin untuk melegakan parunya yang seolah terhimpit.
"Ken, sebelumnya aku ingin kau mendengar ceritaku sampai selesai. Setelah itu, aku serahkan semua keputusan padamu. Aku tak akan memaksamu untuk menerimanya, meskipun aku mengharapkannya. Jadi semuanya berawal dari malam itu.."
Hali mulai menceritakan semuanya, rasa sakit, penderitaan juga penyakit yang bersarang di tubuh Taufan yang baru-baru ini ia ketahui. Bagaimana rapuhnya Taufan malam itu, tangisan yang menunjukan seberapa sakit dirinya. Bagaimana setiap malam Taufan terlelap dengan di bayang bayangi masa lalu. Tercekik rasa bersalah yang sebenarnya sama sekali bukan salahnya.
Ia tak ingin lagi menorehkan luka pada hati kecil yang mungkin sudah penuh dengan jahitan dan tambalan itu. Meski dari luar ia nampak sangat ceria, namun di balik topeng itu menyimpan seribu luka.
Ken menyimak tanpa sekalipun berkomentar. Matanya hanya terfokus pada satu titik di langit langit kamar, sampai hening menyapa, tak ada yang bersuara barang sedetik. Sampai suara serak Ken menjadi satu-satunya pemecah sepi. "Bagaimana kak Hali bisa dengan yakin mengatakan kalau kecelakaan itu bukan kesalahannya?"
Hali tersenyum, "Karena itu kecelakaan. Tanpa harus menyalahkan orang lain, kalau Tuhan menginginkannya, apapun bisa terjadi.
"Kalau itu alasan kak Hali untuk menerimanya, aku tak bisa membantah. Tapi aku juga ngga bisa menerimanya dengan alasan seperti itu."
Hali mengangguk kecil, memahami maksud Ken. "Aku mengerti. Tapi aku ingin kau tau satu hal, aku menyayangi kalian berdua lebih dari apapun. Kalian adalah harta yang ayah dan ibu titipkan padaku, dan aku akan menjaga kalian semampuku. Jadi jangan merasa kalau aku pilih kasih, okey?"
Jemarinya mengelus surai hitam Ken dengan lembut. Senyum tipis terpulas di wajah yang biasanya minim ekspresi itu.
Ken tertegun. Ia tak menyahut atau memberi respon. Ia masih diposisi yang sama, dengan pandangan mata yang menatap lurus. Ucapan kakaknya membuat hatinya sedikit lega, menghangatkan perasaannya yang seharian itu dirundung kekacauan batin.
Hali yang merasa ia tak akan mendapat jawaban apapun lantas meraih obat dan segelas air yang tersedia di nakas.
"Sekarang minum obatmu dan istirahatlah, ini sudah malam. Aku akan menunggumu sampai kau tidur."
Usai meminum obat, Ken berbaring dibalik selimut tebal, menghangatkan tubuhnya yang agak menggigil. Ia tak lagi bicara, membiarkan kakaknya kembali membelai pucuk kepalanya. Memberikan kenyamanan yang mengantarkan dirinya pada alam mimpi.
__ADS_1
TBC