
Sudah lewat beberapa hari semenjak siuman, namun pemuda itu masih tergolek lemah di ranjang pesakitan nya. Tenaganya habis mengudara, tak berbekas meski sebagian besar waktu ia habiskan mengarungi lautan kapuk. Lelap yang terlampau panjang membuat sendinya teramat kaku untuk sekedar digerakkan. Ia menjadi cepat lelah bahkan untuk interaksi kecil.
Seluruh obat dan kebutuhan nutrisinya pun beralih pada cairan infus yang menetes setiap 3 detik sekali.
Radang yang menginfeksi tenggorokannya membuatnya kesulitan untuk menelan bahkan untuk berbicara. Terkadang juga nyeri yang menikam saraf perasa nya memaksa pihak medis untuk menyuntikan pereda sakit dan membiarkan kantuk menghanyutkannya dalam buih mimpi.
Dokter bilang sistem imunnya sedang melemah sehingga rentan terserang penyakit.
Namun agaknya semesta sedikit bersahabat dengannya. Embun yang memudar seiring hadirnya sang bagaskara turut serta membawa rasa sakitnya menguap. Paginya kali itu tak ada sakit yang lebih dulu menyapa, atau bahkan yang membangunkannya disaat kesadaran masih di awan.
Rona cerah yang menghiasi wajah sang adik tak pelak mengundang kelegaan yang langsung menyeruak di batin Hali. Setidaknya ia tak perlu lagi. melihat ekspresi kesakitan Taufan yang terkadang masih terbawa hingga tidurnya.
"Kak, minum." Suara serak itu menarik perhatian Hali yang sedari tadi memerhatikan dalam diam.
Diraihnya segelas air di atas nakas, tak lupa dengan sedotan untuk mempermudah meminumnya.
Taufan menyesapnya perlahan, kemudian mundur setelah dirasa hausnya terobati. Ia kembali bersandar pada kepala ranjang, memejamkan mata sejenak dengan nafas dalam yang sedikit dipaksakan. Meski masker oksigen telah diganti nasal kanula, tetap saja masih ada sesak menyelimuti dadanya.
"Masih sesek ya?" Khawatir mengiringi pertanyaannya itu, terbukti dengan raut wajah Hali yang diselimuti gurat kecemasan.
Kalau sudah begini, Taufan hanya akan mengulas senyum, menunjukan kalau dirinya baik-baik saja. Yah, dia memang selalu seperti itu.
"Ngga kok, nggak apa. Cuma agak lemes, dikit."
"Makan lagi ya?" Hali bersiap dengan sesendok bubur putih di tangannya. Itu adalah makanan pertamanya setelah sekian lama tak mengecap nikmatnya makanan secara langsung. Meski makannya sangat lambat karena tenggorokannya yang masih sakit tapi Hali tetap menyuapinya dengan telaten.
Barangkali tak akan pernah ia temui sisi lembut dari seorang Hali jika bukan dengan kondisinya yang saat ini. Hali itu tsundere. Di balik personanya yang dingin itu ada kehangatan yang tak mampu dibaca banyak orang. Diam-diam Hali sering menaruh kepedulian pada orang disekitarnya, meski terkadang tanpa mereka sadari. Dan hal itu Taufan temui saat ini.
Taufan bergeming, menatap jenuh pada sesendok penuh bubur yang kesekian kali dilayangkan padanya.
"Udah ah, kak." Ucap nya kemudian.
__ADS_1
Hali menghela nafas, semangkuk bubur ditangannya hanya berkurang beberapa sendok, "Baru dikit."
"Udah kak, gak mau... Kalo dipaksain ntar malah muntah." Tolak Taufan halus. Ia tak sanggup lagi dijejali bubur tanpa rasa itu. Ternyata benar, makanan rumah sakit memang tidak enak seperti yang banyak orang rumorkan.
Hali mengalah. Ia lantas beranjak, mencuci tangan di wastafel setelah membereskan peralatan makan dan kembali di posisi ia duduk sebelumnya.
"Pada kemana sih kak? Kok sepi banget."
"Ken kan lagi sekolah, kalo om Ethan lagi ada urusan." Ujar Hali tanpa mengalihkan pandangannya dari buah apel yang tengah dikupasnya.
Taufan tak menolak saat Hali menyodorkan sepotong apel. Menghilangkan pahit di lidahnya dengan apel bukan hal buruk pikirnya, meski kemudian harus bersusah payah untuk menelannya.
"Oh ya kak, soal orang yang nyulik Ken waktu itu, sebenarnya dia siapa sih?" Tanya Taufan tiba-tiba. Seketika pandangan Hali terangkat, dengan mata menyipit dan alis menukik, "Taufan, kau tau itu bukan hal yang seharusnya kau pikirkan." Suara itu rendah, terdengar mengintimidasi. Ia tak suka dengan topik pembicaraan yang adik pertamanya angkat.
"Aku cuma penasaran aja, kenapa dia nyulik Ken? Dia kayak niat banget mau ngebunuh aku. Dan kenapa dia juga kenal ayah sama ibu?"
Serangkaian pertanyaan itu terlontar tanpa ada jeda yang memisah dan telak membungkam Hali. Sepasang manik ruby itu membola. Sesaat nampak gelagapan untuk menjawab.
Bagaimana tanggapan Taufan nanti jika ia tau orang tuanya sengaja dibunuh? Bahkan dirinya dan Ken ikut menjadi korban balas dendam psikopat gila itu. Ia takut anak itu kan berbuat hal yang lebih nekat dan mencelakakan dirinya lagi.
"Kak?" Cukup lama pemilik sorot mata setajam pedang itu bergelut dengan pikirannya, sebelum tatapannya meneduh dibarengi nafasnya terhembus berat.
"Lupakan soal kejadian itu. Aku ngga mau kau mikirin yang aneh-aneh dan malah memperburuk kondisimu. Soal pria itu udah diurus om Ethan sama om Tera. Dia nggak bakal bisa menyentuh kalian atau melukai kalian lagi. Sekarang mending kau istirahat. Fokus aja sama kesehatanmu, biar cepet pulih. Okey?"
Hali tahu, itu bukan jawaban yang Taufan inginkan. Barangkali kalian juga berpikir ia hanya melarikan diri dari bayang-bayang rasa bersalah atas perlakuan buruknya selama ini.
Tapi sungguh, semua ia lakukan demi kebaikan Taufan sendiri. Cukuplah hanya dirinya dan Ken yang mengetahui kebenaran yang ada. Agar mereka dapat menata ulang kepingan yang sempat hancur karena ego masing-masing. Menyambung kembali benang yang sempat putus dalam persaudaraan mereka. Memperbaiki hal yang sebelumnya retak.
Ia kemudian bangkit, hendak menuntun tubuh Taufan untuk kembali berbaring.
"Aku pikir aku bakal mati waktu itu."
__ADS_1
Gerakan tangan Hali terhenti saat suara lirih itu menepi di telinganya. Sejenak perhatiannya jatuh pada paras sang adik yang kala itu tak. menunjukan ekspresi apapun.
Kelereng langitnya teduh menerawang jauh. Tak terbaca kegundahan seperti apa yang tengah menggelayuti pemuda itu.
"Rasanya kek beneran mau mati sih. Sakitnya ngga bisa di gambarin pake kata-kata." Ucapnya teringat akan sisa-sisa memori yang mampu ia potret sebelum kesadaran terenggut.
"Fan!" Hali mengisyaratkan untuk menyudahi obrolan ini.
Tak tahukah ia ikut terluka saat Taufan mengatakan hal itu? Rasanya seperti diingatkan kembali akan ketakutan yang hampir membunuhnya ketika pertama kali menemukan anak itu dengan kondisi mengenaskan hingga berlanjut dalam pejam yang amat panjang.
"Waktu itu aku bener-bener takut kak. Walaupun setengahnya aku udah menyerah atas hidupku sendiri. Tapi aku tetep takut. Aku takut ngga bisa liat kalian lagi."
Detik berikutnya, manik mereka bertemu. Dua mata warna yang berbeda itu saling beradu, sekedar membentangkan waktu guna menyelami makna dibalik binar yang terpancar.
Seulas senyum terbit di bibir yang masih tak berwarna itu, terbaca ketulusan yang mendalam di sana.
"Tapi ternyata aku masih bisa, itu berkat kak Hali. Makasih ya kak, udah nyelametin aku sama Ken."
Darahnya berdesir, ada sesuatu dalam diri Hal yang terasa seperti dicubit kuat ketika mendengar tutur kata Taufan.
Ia salah. Hali itu kakak yang tidak berguna. Ia bahkan tak mampu melindungi dirinya sendiri. Kedatangannya mungkin juga tak akan mengubah apapun jika saja Khai tak ikut membantu.
"Fan.."
Lidahnya kelu untuk melanjutkan ucapan. Ada hal yang ingin ia sampaikan tapi begitu sulit diungkapkan. Tentang perasaan bersalah, kata maaf dan ucapan terima kasih untuk segalanya.
Tanpa sanggup menahan perasaan yang membuncah itu terlalu lama, ia menarik tubuh ringkih adiknya dalam dekapan hangat. Menghantarkan sejuta rasa yang gagal ia rangkai dalam kata.
"Kau itu adikku. Kau harus tau kalau aku menyayangimu."
"Iya, aku tau. Terimakasih."
__ADS_1
Fakta bahwa Taufan masih menyimpan rasa sayang yang begitu besar setelah segala luka yang mereka torehkan sama sekali tak mengubah apapun. Taufan yang sekarang masih sama seperti Taufan yang dulu ia kenal. Yang selalu ceria dan pemaaf, namun membuat Hali merasa semakin bersalah.