Dandelion

Dandelion
42. Perjuangan (part 2)


__ADS_3

'Tidak.. Kak Taufan.. Lari!'


Batin Ken berteriak, namun tak ada suara yg keluar meski bibirnya tak dibungkam. Lidahnya kelu, otaknya beku menolak perintahnya. Otot tubuhnya pun ikut layu, lemas tak terkira.


Di sisi lain Mervin terdiam. Hanya saat senyuman mengembang di wajahnya, seolah sudah tau tentang kedatangan Taufan membuat Ken semakin panik di buatnya.


"Wah, hebat juga kau mampu mengalahkan anak anak buah ku di luar sana seorang diri." Puji Mervin dengan santainya, ekspresi nya melunak melihat Taufan sambil menyeringai kejam. Ia senang karena mendapat mainan baru.


"Ku bilang lepaskan adik ku!" Taufan menatap tajam. Nampak jelas kemarahan di wajah nya saat melihat sang adik yang terikat seperti itu.


Sesuatu dalam diri Ken berdenyut nyeri mendengar tutur kata dari orang yang selama ini ia acuhkan. Taufan yang masih mengakui dirinya sebagai adik, setelah beribu luka yang ia torehkan di hati kecil Taufan yang sesungguhnya rapuh.


Hatinya kembali ditusuk belati tajam saat melihat wajah kakak nya namun dengan berani menantang lawan yang tak sebanding hanya demi dirinya. Sungguh, detik itu juga Ken merasa tak pantas menjadi adik Taufan, meski darah yang sama mengalir di tubuh nya. Ia tak pantas dilindungi seperti ini. Taufan tak harus melindungi adik tak tahu diri sepertinya.


"Hei, jangan terburu-buru. Kita bermain-main dulu, kau sudah sampai sejauh ini. Bagaimana bisa aku tidak menyambut mu dengan baik?" Mervin menjentikkan jarinya, memberi kode.


Dua orang berkulit gelap memasuki ruangan itu. Pakaian mereka sama dengan orang-orang yang sebelumnya Taufan temui di luar. Ia yakin orang orang itu memiliki kemampuan lebih tinggi dari yang ia lawan sebelumnya.


Sesaat Taufan nampak meneguk ludah. Sempat ragu untuk bisa mengalahkan dua orang berbadan besar itu. Namun bayangan Ken terbesit di benaknya. Mata mereka sempat bertemu, dan ia mampu membaca kekhawatiran yang terpancar dari raut wajahnya.


Sudut hatinya menghangat, senyum tipis hadir mewarnai bibir Taufan yang membiru. Senyum yang mengatakan kalau semuanya akan baik-baik saja. Cukup dengan melihat keadaan Ken yang nampak baik sudah membuat energinya terisi kembali.


Entah dari mana keberanian yang ia peroleh, dengan mantap kakinya melangkah.


"Terimakasih sudah menyambut ku. Tapi aku tak mau berlama lama di sini. Jadi, gimana kalo kita mulai sekarang? Aku ingin cepat-cepat pulang." Ujar Taufan tak mau kalah. Ia memberikan senyum menantang, tak terbaca ketakutan di dalamnya.


"Kuakui keberanian mu, tapi kita lihat apa setelah ini kau bisa tersenyum seperti itu? Hajar dia, patahkan semua tulangnya, cukup pastikan saja ia masih bisa bicara. Aku ingin mendengar kata-kata terakhir darinya." Ucap Mervin yang langsung di jawab dengan anggukan kepala kedua anak buahnya.


Iris mata nya mengamati kedua pria itu yang mulai mendekat. Ia mengangkat kedua tangan nya, memasang kuda-kuda bertahan guna mengantisipasi serangan mendadak. Ia mencoba fokus, meski lengan kirinya yang telah berlumuran darah terasa perih yang tak terkira.


"Kalian memang pelayan nya ya, mau aja di suruh-suruh kaya budak gitu." Ucap Taufan pedas.


"Jangan asal bicara dasar bocah, beruntung bosku memintaku untuk tidak mematahkan lehermu. Kalau tidak, sudah sobek mulut kecilmu itu dan ku cincang kau untuk makanan anjing." Sahut lelaki berkepala botak.


"Sekali pelayan tetap pelayan..."


Namun, sebuah kepalan tangan yang melesat cepat kearahnya membuat Taufan sedikit terkejut. Ia tak sempat menghindar, hanya mengandalkan tangannya sebagai tameng untuk menghalau serangan membabi buta itu. Kekuatannya bukan main, bahkan tubuh Taufan terdorong ke belakang setiap kali lelaki itu melancarkan serangan.


"Kemana perginya tingkat percaya dirimu tadi, hah!?" Lelaki itu tertawa remeh.

__ADS_1


Tak henti sampai di sana, sebuah tendangan menghempas Taufan hingga menabrak tumpukan kardus kosong di sudut ruangan. la mengerang, rasa sakitnya bermuara pada lengan kirinya kini yang telah mengeluarkan banyak darah.


Nafasnya memburu, matanya terpejam erat sementara tubuhnya meringkuk di lantai dingin. Ia berusaha bangkit, meski beberapa kali ambruk karena kakinya seolah tak mampu menopang tubuh nya sendiri.


Tatapan terkejut Ken sembunyikan saat melihat sosok yang selama ini ia benci justru berjuang mati matian menyelamatkan nya. Ada perasaan aneh menelusup perlahan merambati hatinya. Perasaan yang sudah lama ia lupakan. Sayang, sakit, entahlah. Semua rasa tertumpak menjadi satu membuat dadanya sesak.


Pria itu menyeringai melihat usaha Taufan bangkit walau hasilnya sia sia. "Bagus, rupanya kau kuat juga. Baguslah. Bisa puas kami bermain main dengan mu."


Tak mengizinkan Taufan untuk beristirahat sejenak, pria itu kembali menerjang, hendak melontarkan pukulan. Kali ini Taufan berhasil menghindar. Sebagai balasan ia mengarahkan pukulannya ke arah siku lawan hingga terdengar suara sendi yang patah.


"Argh! Ta-tanganku!" Keluhan kesakitan lelaki botak itu. "Sialan, akan ku cabut lengan dari tubuh mu!"


Baru saja lelaki itu hendak bangkit, tendangan penuh tenaga sudah lebih dulu mendarat di pelipisnya. Membuat ia terkapar seketika.


Taufan menarik nafas panjang, menormalkan nafasnya yang berantakan dan berusaha bersahabat dengan rasa sakit. Kini lawan dihadapannya tak lagi memandang rendah. Tubuhnya tak sebesar lawan sebelumnya, namun hal itu tak membuat Taufan memandang remeh lawannya.


"Kau kuat juga, tapi tak akan ku biarkan kau hidup lebih lama." Tangannya terangkat di depan dada, memasang kuda-kuda layaknya seorang petinju profesional. "Majulah!"


Seperti dipersilahkan, Taufan maju duluan dengan menghadiahi pukulan cepat beruntun. Sayangnya semua serangannya ditangkis dengan mudahnya. Melihat jarak yang begitu tipis, pria itu melancarkan bogem mentah yang mendarat di perut rata Taufan, membuat tubuhnya terdorong ke belakang. Disusul pukulan yang mendarat di pipi kiri Taufan langsung membuatnya tersungkur.


"Argh, sial. Sakit woy!" Seru Taufan sembari mengusap kasar darah dari sudut bibirnya.


Mereka benar benar sudah di latih untuk ini ya?


Rintihan lirih lepas dari sela bibir Taufan. Tak bisa ia sembunyikan rasa sakit lain yang menyerang dirinya, tubuhnya sedikit terbungkuk saat sesak bercampur nyeri menusuk dadanya.


Paru-parunya kembali berulah. Pandangannya berbayang, namun sebisa mungkin ia tahan. Ia tak boleh tumbang sekarang. Ia harus mengeluarkan Ken dari sini terlebih dahulu.


Fokusnya kembali pada lawan yang masih bugar tanpa segores luka di tubuhnya, berbanding terbalik dengan dirinya yang terbilang mengenaskan dengan luka di sekujur tubuhnya. Meski terdengar mustahil ia mampu mengalahkannya dengan badan yang babak belur seperti itu, ia tak ingin harapannya pupus.


Taufan kembali menerjang, hendak kembali melempar bogem mentah namun berhasil ditahan hanya dengan satu tangan.


"Kutarik kata-kataku, kau lemah." Katanya disusul pukuan di dagu membuat Taufan mundur beberapa langkah dan kehilangan fokus. Belum reda sakit yang diterimanya, ia kembali mendapat pukulan yang menghujam tanpa henti.


Taufan tak diam begitu saja. Jarinya bergerak cepat menarik dasi lawan, membuatnya sedikit kehilangan keseimbangan dan menghentikan pukulannya yang membabi buta. Tak ingin menyia-nyiakan celah sekecil itu, Taufan langsung membenturkan kepalanya ke wajah lawan dan sukses membuatnya mundur beberapa langkah.


"Argh! Sakit, wajahku!"


Satu tendangan kuat mendarat di ulu hati lawan sukses membuatnya tumbang. Tanpa ampun, Taufan langsung menghujani lelaki itu dengan pukulan. Sangat keras hingga terdengar suara retakan tulang. Entah milik siapa, Taufan tak peduli meski tulangnya yang hancur. Ia hanya ingin segera mengakhiri pertarungan ini dan membawa Ken keluar.

__ADS_1


"Nah! Ku kembalikan kata katamu!" Seru Taufan tanpa berniat melonggarkan pukulannya.


Pikirannya sudah berkabur. Terlampau dikuasai amarah. Bahkan tak menutup kemungkinan nyawa lelaki itu melayang ditangannya. Hingga akhirnya suara rintihan tertahan menarik perhatian nya.


Tak jauh dari tempatnya, Mervin sudah berdiri di belakang Ken dengan satu tangan yang menjambak rambut adiknya.


"Sialan! Beraninya kau.. Lepaskan tangan kotor mu dari adikku!" Seru Taufan murka. Ia bangkit, membawa kakinya dengan langkah cepat sebelum gerakannya terhenti.


"Satu langkah lagi kau mendekat, ku potong lehernya." Ancam Mervin yang telah mengarahkan sebilah pisau ke leher adiknya, membuat Taufan tak berkutik.


Tangan nya mengepal kuat hingga ujung jarinya memutih. Ia lengah, melupakan keberadaan satu orang yang merupakan musuh utamanya.


Dari belakang, seseorang menendang tubuh Taufan, membuatnya tersungkur tepat di kaki Ken. Ia tak menyangka kedua orang itu masih mampu bangkit setelah dihajar habis-habisan. Bahkan setelah ia mematahkan tangan salah satu diantara mereka.


Lelaki berambut ikal itu mendekat, mencengkram kerah baju Taufan. Pukulan beruntun yang mendarat keras di rahang Taufan membuat ujung bibirnya sobek. Berkali-kali, sebelum membiarkan tubuh Taufan yang tak mampu lagi melawan terhempas di lantai kotor.


Tak sampai di sana, si lelaki botak mendekat dengan langkah pelan. Menendang keras tubuh Taufan hingga terlentang, mendaratkan tendangan di segala titik.


"Bocah sialan! Akan ku hancurkan semua tulang mu!" Teriakannya menggema.


"ARGH!" Pekik jerit pilu mengisi ruangan itu. Namun tak menyurutkan niat pria itu untuk melonggarkan tendangannya, seolah nuraninya telah mati.


Di sisi lain tangis Ken pecah, memohon agar menyudahi aksi buas itu. "Tidak! Sudah cukup! Hentikan! Kumohon jangan sakiti kak Taufan lagi!"


Air matanya jatuh dengan derasnya. Hatinya sakit bak di remas tanpa ampun. Ada perasaan sesak luar biasa yang menyeruak menghimpit dadanya.


"Hey, hentikan. Kau bisa benar-benar membunuh nya!" Sahut Mervin.


Melihat Taufan yang meringkuk menahan sakit, memancing senyum mengerikannya mengembang. Dalam benaknya ia tak mengira akan semenyenangkan ini bermain dengan anak-anak orang yang di benci nya.


"Angkat dia!" Ujarnya.


Kedua pria itu lantas mengangkat tubuh Taufan yang tak siap, mengunci pergerakannya, menghimpit dari kedua sisi.


Seluruh badan Taufan kebas, nyaris mati rasa. Ia sudah mencapai batas, tubuhnya yang remuk redam kehilangan kekuatannya. Tak ada lagi tenaga sekedar untuk menopang tubuh sendiri, bahkan ketika tubuhnya diseret untuk bangkit, ia hanya pasrah.


Wajah nya sedikit terangkat, memandang Ken yang masih menatap nya khawatir dengan air mata yang mengalir di pipi nya.


Apa ini memang akhir hidup nya?

__ADS_1


TBC


__ADS_2