
Door!
Door!
Desing peluru nyaring terdengar di seisi ruangan, melesat menembus kulit. Semuanya terjadi dalam satu kedipan mata. Pekatnya darah merah bersimbah menodai lantai keramik di bawah.
Bruk
Tubuh itu tumbang.
Pandangannya kosong.
Menatap tak percaya pada sekian detik yang baru saja berlalu..
"A-AAAAAKH!"
Dua peluru yang kini bersarang di tubuhnya meringkuk sembari mencengram erat titik yang menjadi pusat rasa sakitnya.
Orang yang tumbang itu...
Mervin..
Erangan disusul derap langkah kaki membuat suasana menjadi semakin menegang.
"Amankan orang itu, segera!" Perintah seseorang bertubuh kekar di ambang pintu.
"Baik pak!"
Segerombol orang berseragam lengkap dengan senjata api meringsek masuk. Khai yang tiba-tiba muncul di antara para polisi itu segera menghampiri Ken. Melepas ikatan tambang yang sedari melilit tubuhnya.
"Ken, kau oke?"
Ken tak terlalu memahami situasi yang ada. Ia hanya mengangguk samar, air matanya sudah lebih dulu jatuh membuat suaranya seakan hilang. Khai bisa merasakan tubuh Ken yang gemetar ketakutan, mempercepat gerakan tangannya mengurai simpul itu.
Bekas ikatan yg memerah nampak jelas karena sedari tadi ia memberontak. Namun ia abai dengan perih di kulitnya.
Sesaat setelah Ken terbebas, ia langsung menghampiri Taufan yang tergeletak mengenaskan di sisi ruangan meski dengan tertatih.
"Kak Taufan.."
Dengan hati-hati, Ken membawa kepala yang Taufan ke pangkuannya. Menatap wajah pucat yang telah kehilangan ronanya. Dingin menyapa saat kulit mereka bersentuhan.
"Kak Taufan! Bangun! Aku mohon!" Ken mulai terisak.
Ia berharap kakaknya itu hanya terlelap sesaat dan akan menyambutnya dengan senyuman hangat.
__ADS_1
Ia terus memanggil, berharap senyuman hangat bersama binar cerah dari mata biru itu. Sayangnya harapan Ken tertelan pahit, kelopak mata itu setia dalam pejamnya.
Khai yang mengikuti Ken di belakang tak pelak terkejut dengan kondisi Taufan, "Astaga Taufan!"
Hali yang masih terpaku karena syok baru tersadar saat mendengar ribut-ribut di sisi ruangan dan langsung menghampiri, teringat akan kondisi Taufan.
Khai bergerak memeriksa denyut nadi Taufan. Tak terasa. Ia mendekatkan daun telinganya ke dada Taufan. Detak jantungnya terdengar sayup-sayup. Begitu lemah. Bahkan hembusan nafasnya nyaris tak terasa.
"Bagaimana?" Tanya Hali tak mampu menyembunyikan ketakutannya.
"Kita harus segera membawanya kerumah sakit. Sial! Di mana ambulance yang tadi aku minta? Cepat panggil mereka!" Seru Khai pada sekumpulan polisi yg sedari tadi hanya diam memerhatikan.
Mereka tersentak dan langsung memanggil ambulance yang berjaga di luar.
"Medis datang, beri jalan!"
Sirine ambulance yang nyaring membelah kota malam. Jalanan yang padat, sesaat menjadi lengang, mengijinkan mobil putih itu membawa jiwa yang tengah berjuang di perbatasan dunia.
Lewat tengah malam...
Semuanya lelah, namun kantuk tak kunjung mendera. Terkalahkan oleh rasa takut dan khawatir, membuat mereka terus terjaga.
Di sanalah mereka, 6 jam duduk menunggu tanpa kepastian. Terasa seperti berabad-abad menanti bergantinya warna merah yang menyala di pintu bercat putih itu.
Hali tak begitu paham, tak ada seorang pun yang keluar dari ruangan itu untuk menjelaskan apa yang terjadi pada adiknya.
Hati, pikiran, jiwanya, semuanya kalut. Ia ingin menangis sekedar untuk melegakan perasaannya yang sesak sedari tadi, tapi air matanya seolah enggan untuk menetes.
Ia hanya termenung, pikirannya kacau. Jika saja Khai tadi sedikit saja datang terlambat, mungkin Hali juga akan berakhir di dalam sana. Beruntung saat ia hendak berangkat tadi, ia sempat berpapasan dengan Khai dan menyuruhnya melapor pada polisi dengan membawa bukti yang ada di ponsel Hali. Kebetulan ada keluarga ayahnya yang bekerja di kepolisian, sehingga memudahkannya untuk membuat laporan.
Batinnya terus merapal doa untuk kebaikan Taufan. Ia akan menuntut pada Tuhan jika penantian panjangnya berujung kehilangan. Tapi tak bisa ia pungkiri ketakutan terbesarnya adalah kehilangan sosok jahil itu. Sosok yang membuatnya candu akan tawa yang ia tebar.
Di sisi lain, Khai yang ikut menunggu hanya ikut membisu. Membiarkan keheningan malam berkuasa di antara mereka sekalipun tak membuatnya nyaman. Ia tahu, psikologis kakak beradik itu tengah tergoncang dan ia tak ingin memperkeruh keadaan.
Ia tahu keadaan Taufan sama sekali tidak baik. Bahkan dalam skenario terburuknya, bisa saja nyawanya tak terselamatkan. Tapi tak mungkin ia menghancurkan harapan sahabatnya. Bagaimanapun ia tetap mendoakan yang terbaik bagi Taufan yang tengah berjuang di dalam sana.
Di sampingnya, Ken hanya menunduk. Raut wajahnya sendu. Jemarinya saling bertautan di bawah sana. Saling menguatkan satu sama lain. Mungkin sesekali ia melirik kakaknya yang duduk bersebrangan. Tapi tak kunjung terjadi dialog setelahnya. Ia kembali tenggelam dengan pikirannya yang sama kacaunya dengan Hali.
Khai yang melihat itu lantas meraih tangannya. Menghantarkan kehangatan yang ia punya. Ken takut, dan ia tau akan hal itu. Tapi tak ada yang mampu memberikannya ketenangan. Bahkan Hali sendiri sebagai satu-satunya tumpuan Ken juga tak mampu menguasai dirinya sendiri.
"Taufan pasti baik-baik aja." Ujar Khai menenangkan Ken mengangkat pandangannya, menatap sepasang iris merah milik Khai, lalu mengangguk kecil.
Perasaan bersalah kian menumpuk hingga dadanya sesak tak terkira. Jika sampai terjadi hal yang buruk pada Taufan, ia tak akan sanggup memaafkan dirinya sendiri.
Tak berselang lama, lampu ruang operasi padam disusul seorang lelaki paruh baya yang keluar.
__ADS_1
"Bisakah saya bicara dengan saudara atau wali pasien?"
"Saya kakaknya!" Sahut Hali cepat.
Dokter itu nampak ragu, namun melihat raut wajah Hali yang diselimuti kekhawatiran yang mendalam, akhirnya ia buka suara. Di awali dengan helaan nafas panjang, seolah bukan hal baik yang hendak ia sampaikan.
"Sebelumnya saya minta maaf, dan harap anda mendengarkan penjelasan saya dengan tenang." Lelaki itu menjeda kalimatnya, dengan berani menatap sepasang manik ruby Hali.
"Trauma dadanya sangat buruk. Dia mengalami gagal nafas dan jantungnya sempat berhenti beberapa saat karena benturan keras di dadanya. Beruntung kami dapat mengembalikan detak jantungnya meski lemah."
Hanya dengan mendengar sedikit penjelasan dokter itu sudah membuat tubuhnya membeku.
Dokter itu melanjutkan. "Beberapa tulang rusuknya patah, meski tak sampai merusak parunya. Tapi pneumonia yang diidapnya membuat kondisi paru-parunya semakin memburuk. Selain itu juga terjadi perdarahan internal di area. sekitar dada dan perut, sehingga kami mengeluarkannya sebelum menggumpal dan mengganggu kinerja organ lainnya. Saat ini dia sudah melewati masa kritis, operasinya juga berjalan baik dan akan dipindahkan ke ruang ICU. Tapi.."
"Tapi apa dok?" Tanya pemuda ber iris merah itu tak sabar.
"Saya sangat menyesal mengatakan ini. Tapi kemungkinan saudara Taufan untuk pulih sangat kecil dengan luka yang dia alami. Terlebih juga saya mengkhawatirkan kondisinya pasca operasi."
"Kami sudah melakukan hal yang kami bisa namun cedera dada sangat buruk. Dia mungkin tak akan sadarkan diri untuk waktu yang belum bisa ditentukan."
"Maksud dokter?"
"Dia koma."
Seketika itu, Hali merasa waktu benar-benar berhenti untuknya. Air matanya yang tadinya begitu angkuh akhirnya luluh. Ia tak mampu menahan desakan air mata diiringi rasa sesak luar biasa yang menghantam dadanya.
Untuk pertama kalinya setelah mendengar berita kecelakaan orang tuanya, ia kembali merasakan ketakutan yang amat sangat. Ketakutan akan ditinggalkan orang terkasihnya.
Sementara bagi Ken, kabar komanya Taufan terasa seperti pukulan hebat yang menghancurkan pertahanannya. Tak ada isakan, hanya anak sungai yang jatuh membasahi pipi. Rasa bersalah itu kian membuncah hingga membuat hatinya terasa seperti diremat dengan kuat.
Ken jatuh bersimpuh, jemarinya mencengkram kerah seragamnya yang lusuh. Nafasnya terengah, sesekali ia memukul dadanya yang seolah dihimpit batu besar. Mendadak ia lupa caranya bernafas. Udara seolah tak sudi memasuki pernafasannya, mungkin itu hukuman baginya.
Pandangannya memburam, bersama sensasi perih yang menyerang ulu hatinya, disusul pening hebat yang tiba-tiba hinggap, merayapi setiap inchi kepalanya. Hingga akhirnya hitam menjadi satu-satunya warna yang mampu ia lihat.
Bahkan teriakan Hali dan Khai yang begitu nyaring memanggil namanya tak ada kuasa untuk menariknya kepermukaan. Ia terikat bersama seluruh rasa bersalah yang menenggelamkannya hingga ke dasar jurang penyesalan.
Gara-gara aku..
Ini semua salahku..
Seringkali kita memohon pada semesta untuk memutar waktu.. mengembalikan sepersekian detik yang hilang...
Ketika penyesalan itu datang...
TBC
__ADS_1