Dandelion

Dandelion
33. Pilihan


__ADS_3

Langit menggelap seiring berjalan jua waktu. Lampu lampu jalan mulai menyala, menerangi jalan sekaligus mengundang serangga untuk mendekat. Setidaknya itu yang terlihat dari balik kaca bening sebuah jendela, menunjukkan pemandangan dunia luar malam itu.


Seorang pemuda masih setia duduk di sebuah ruangan sambil menghadap laptop. 2 buah kopi kaleng sudah habis di minum nya untuk menghilangkan kantuk yang menyerang nya. Mata nya terus fokus pada layar laptop dan tangan nya terus mengetikkan kata kata di sana, meski terkadang ia berdecak karena typo.


Meski terlihat fokus, tapi pikiran nya tertuju pada tempat lain, tepatnya kondisi Taufan dan Ken di rumah. Helaan nafas panjang di lepaskan nya, menandakan kekesalan dirinya. Tangan nya berhenti mengetik, mata nya hanya menatap kosong ke layar laptop.


Cukup lama ia terhanyut dalam lamunan nya sampai tak menyadari kehadiran Khai di sampingnya. Pria yang sudah menjadi sahabat baik Hali sejak ia masih kecil itu menghela nafas melihat sahabatnya itu. Sudah berkali kali ia memanggil nama nya, tapi pemuda ber manik merah itu masih tidak merespon nya.


Ctak!


"Aduh! sakit woy!" Umpatnya begitu mendapat jitakan dari sahabatnya.


"Salah mu sendiri ku panggil gak nyaut."Sembur Khai kesal.


Hali hanya menghela nafas dan kembali melanjutkan pekerjaan nya, mengabaikan Khai yang mulai menggerutu tak jelas.


" Proyek baru?" Tanya Khai.


Tanpa mengalihkan pandangan nya, Hali menghembuskan nafas kasar. "Bantuin dosen. Kau sendiri ngapain di sini?"

__ADS_1


Khai mau narik kursi di sebelah Hali dan mendudukkan dirinya di sana, sambil meminum sekaleng soda yang di belinya tadi. "Baru ada praktikum. Ngomong ngomong sejak kapan jadi asisten dosen?"


Nafasnya berhembus kasar. Kini tangan nya benar-benar berhenti mengetik dan beralih menatap sahabat kurang peka nya itu. " Siapa juga yang mau jadi asdos? Ribet tau gak." Dengan lesu ia mengambil minuman yang tadi di bawa oleh Khai dan meminumnya hingga tersisa setengah.


"Tapi di perhatikan kau dah kaya mahasiswa tingkat akhir tau."


Khai memperhatikan sahabat nya itu. Kantung mata yang terlihat jelas membuat mata nya seperti mata panda, ditambah wajah lesu mungkin karena insomnia atau anemia.


"Pulang sana, muka dah lesu kaya zombie yg gak pernah tidur aja. Jangan terlalu memaksakan diri, setidaknya kamu harus memperhatikan kondisi mu sendiri. Kalo kau sakit siapa yang bakal urus Taufan dan Ken nanti?"


Ucapan Khai membuat Hali ingin tertawa rasanya. Tentu saja ia tau itu, bahkan sangat memahami nya. Tapi sayangnya ia harus terus bertahan dalam permainan kehidupan. Bisa saja ia pergi menyusul kedua orang tua nya, tapi ia selalu membuang jauh jauh pemikiran itu. Tak mungkin ia pergi di kala kedua adiknya masih membutuhkan dirinya.


"Gak kaya orang punya trauma, dia pulih dengan cepat. Dia juga dah mulai sekolah, walau aku tetap khawatir dan terus ingatin dia buat minum obat. Tentu aku gak bisa andalin Ken buat itu, jadi aku yang harus melakukan nya sendiri."


Khai menyandarkan kepala nya pada permukaan meja. "Lalu, bagaimana hubungan mu dengan Ken?"


Hali menghentikan aktifitas nya. Ia menatap lekat iris mata sahabat nya. Sekejap ia berpikir, apa sahabatnya itu cenayang? Atau hanya kebetulan?


Bibir itu tertutup rapat tidak langsung menjawab. Ingatan nya kembali berputar dengan apa yang terjadi pagi tadi, saat secara tak sengaja ia membentak Ken karena sikap nya. Kejadian itu juga yang terus mengganggu pikiran nya sedari tadi.

__ADS_1


"Sepertinya kau sudah bisa menebaknya." Iris mata itu menatap sekilas wajah sahabatnya, menerka apa jawaban yang akan di berikan nya.


Hali kembali meminum minuman nya, membasahi tenggorokan nya yang kering, sebelum kembali berbicara. "Pagi tadi kami sempat bertengkar. Dia memaki Taufan dan mengatainya pembunuh. Harusnya aku dah nggak kaget dengan sikap nya yang seperti itu. Karena Ken sudah jelas sangat membenci Taufan. Tapi sikapnya kali ini sudah kelewatan. Dia bahkan berani melawan ku saat menegurnya. Aku gak tau dia bakal se kecewa itu dengan perubahan sikap ku."


Hali sedikit memijat pelipis nya karena frustasi.


Khai terdiam mendengar itu. Ia mencoba mencari kata kata yang pas untuk di ucapkan nya.


"Anggap saja kau melihat sikap mu sendiri saat kau masih membenci Taufan dulu." Ujar Khai lirih sembari melirik sahabatnya itu.


"Kau sekarang bisa menerima Taufan karena tau penderitaan dan rasa sakit yang di sembunyikan nya selama ini. Cara itu mungkin tak akan bekerja untuk Ken. Mungkin kau bisa memberi pengertian pada nya sedikit demi sedikit untuk membuatnya mengambil keputusan. Dan apapun keputusan nya nanti, kau juga harus menerima nya. "


"ah satu lagi, apapun pilihan Ken nanti, kau juga jangan sampai pilih kasih. Aku tau sulit, tapi kau juga harus menerima dan menghargai nya."


Khai bangkit dari duduk nya, menepuk pundak Hali yang masih terdiam dan berjalan menjauhi nya. "Aku pulang duluan, kasihan Arga dah nunggu di rumah. Kau juga jangan pulang terlalu larut."


Hali hanya mengangguk pelan. Pikiran nya masih berputar mengulang lagi kata kata yang Khai ucapkan tadi.


TBC

__ADS_1


__ADS_2