
"Gadis payung?." Perkataan itu keluar begitu saja dari mulut Evano.
Alina yang sedang fokus mencatat pesanan pelanggannya, terkejut dengan ucapan pria tragedi payung tersangkut itu. "Apa dia mengingatku?," batinnya.
Alina yang tidak tau harus menjawab apa hanya diam menatap Evano. Evano sebenarnya sedikit kaget dengan ucapannya tadi, "sejak kapan aku memberi julukan itu?," pikirnya.
Ersya yang mendengar ucapan Evano tadi mengernyitkan dahinya, bukan bingung tapi lebih ke penasaran.
"Gadis payung? siapa? dia?," Ersya bertanya tanpa jeda, dia memutar kepalanya menatap Evano meminta jawaban lalu berputar lagi ke arah Alina menatap gadis itu penasaran.
Belum sempat Evano menjawab Ersya kembali bertanya, "Gadis payung itu apa?," dia berbicara pada diri sendiri, saat ini dia sedang larut dalam pemikirannya. "Ah, aku tau.. gadis payung itu sejenis profesikan? Ojek payung, seperti itu kan?," ucapnya yakin dengan pemikirannya.
Lalu Ersya menatap Alina antusias, "nona apakah kau punya pekerjaan ganda? maksudku setelah selesai bekerja di cafe kau akan bekerja sebagai ojek payung? wah kau luar biasa.. keren!," ucapnya sambil memberi dua jempol untuk Alina.
Belum berhenti Ersya bertanya lagi, "Nona, apa ojek payung itu juga termasuk kedalam aplikasi gojek? apa itu bisa jadi goyung?, wah aku baru ta-," Plak ucapan Ersya terputus karena seseorang kembali memukul kepalanya. Ersya sudah siap memukul kepala Danial kalau saja Danial tidak menggelengkan kepalanya cepat. Ternyata Danial bukan pelaku pemukulan. Pelaku pemukulan yang sebenarnya adalah Evano yang saat ini sedang menatapnya kesal.
"Yak vano, kenapa memukul kepalaku sih?," Ersya menatap Evano sambil memanyunkan bibirnya. Mana berani dia membalas Evano pikirnya.
Dengan ekpresi yang kembali datar Evano menjawab pertanyaan Ersya, "kau berisik sekali."
Ersya memelototkan matanya kaget, bagaimana bisa Vano memukul kepalanya hanya karena itu.
"Kau keterlaluan..." ucapnya sambil menggelengkan kepala.
Evano hanya menatapnya sekilas, lalu kembali menatap Alina. "Kau sudah mencatat pesanan kami kan? silakan pergi kalau begitu. Maaf untuk keributan yang dilakukan temanku." Ucapnya datar.
Alina yang bingung hanya menganggukkan kepalanya lalu membungkuk sopan pada para pelanggannya dan segera pergi.
Ersya yang belum puas masih menatap Evano lekat. Evano yang mengerti dengan kelakuan sahabatnya menghela napas sebentar.
"Dia bukan seorang ojek payung," ucapnya. Lalu mencoba menjelaskan dengan menceritakan tragedi payung tersangkut malam tadi.
"Daebak.. Daebak!!." Itu suara Ersya, "kau meninggalkannya begitu saja setelah kejadian itu?." Ersya melanjutkan dengan heboh. Ekpresinya saat ini memperlihatkan kalau dia tidak bisa mempercayai apa yang telah dilakukan sahabatnya.
Sedangkan Danial dan Delvin hanya menunggu jawaban dari Evano, jawaban Ersya sudah mewakili pertanyaan mereka.
"Ya..," jawaban singkat Evano membuat Ersya kembali heboh.
__ADS_1
"Yak bagaimana bisa kau membiarkan seorang gadis sendirian di jalanan, kehujanan dan demi tuhan kejadian itu tengah malam Evano.." Ersya tidak habis pikir dengan kelakuan sahabatnya. Sedangkan Danial dan Delvin sekali lagi mengangguk kompak membenarkan perkataan Ersya.
"Kenapa?, aku tidak mengenalnya jadi aku tidak harus peduli," jawaban dingin Evano membuat mulut Ersya menganga lebar, beruntung Danial yang duduk di sampingnya merapatkan kembali mulut pria itu, kalau tidak bukan tidak mungkin ada lalat yang akan masuk ke mulutnya.
"Itu tidak benar Van, kau memang tidak mengenalnya.. tapi tidak benar membiarkan seorang gadis sendirian tengah malam. Setidaknya kau bisa berinisiatif mengantarnya pulang," kali ini Delvin yang berbicara menggantikan Ersya yang masih shock.
"Delvin benar, kalau dia kenapa napa bagaimana?," Danial menambahkan.
"Dia baik-baik saja, buktinya dia bekerja di sini sekarang," lagi jawaban Evano membuat para sahabatnya terdiam.
"Ya baiklah, kau memang begitu. Aku sumpahin kau jadi bucin secepatnya agar kau tau bagaimana beharganya seorang wanita," Ucap Ersya yang membuat Evano mendelik tak percaya ke arahnya.
Ucapan Ersya membuat Delvin dan Danial terkekeh.
"Aku akan mengamininya Er..," ucap Delvin.
"Aku juga.. hahaha lihat ekspresi Vano," Danial menyetujui ucapan Delvin dan selanjutnya tertawa saat melihat ekspresi masam dar wajah Evano.
"Berhenti bicara omong kosong..," balas Evano malas menanggapi.
Bagi Evano itu memang terdengar seperti omong kosong. Tapi tidak dengan para sahabatnya, mereka berharap sahabat dinginnya itu akan segera merasakan cinta sehingga sifat dinginnya itu bisa sedikit mencair.
"Selamat datang," ucap Alina sopan. Alina lalu memperhatikan pembelinya beberapa gadis remaja yang masih mengenakan pakaian sekolah. "ah.. mereka siswi SHS," pikirnya.
Alina segera menuju ke kasir, saat salah satu dari siswi tersebut berjalan ke arah sana.
Alina siap untuk melayani pembeli tersebut, sampai di kaget mendengar permintaan dari pembeli itu.
"Hei, beri aku sebungkus rokok," kata siswi tersebut.
"Maaf, tapi anak di bawah umur tidak diizinkan untuk membelinya." Alina menjawab sopan sampil tersenyum tipis.
"Cih, memangnya kau siapa berani melarangku?," siswi tersebut mendecih menatap Alina tidak suka, "kau hanya karyawan di sini kan? bukan hak mu melarangku, cepat beri apa yang aku minta.. tenang aku akan membayarnya" siswi itu masih tidak peduli dengan jawaban Alina.
"Maaf dik, tapi kau tidak boleh membelinya. Ini sudah peraturannya.." Alina mencoba memberi pengertian pada siswi tersebut.
__ADS_1
"Kau tak usah sok menaati peraturan, aku tidak perduli. Cepat berikan apa yang kuminta!," siswi itu mulai mengeraskan suaranya karena kesal permintaannya tidak dipenuhi, keributan yang dibuatnya mengusik perhatian teman-temannya yang lain.
Paham temannya dibuat kesal oleh Alina, mereka pun mendekati kasir.
"Ada apa?," tanya siswi yang berbadan agak besar. Dia menatap sinis ke arah Alina.
"Gadis sialan ini tidak mau menjualnya" jawabnya.
Mereka saling menatap satu sama lain. Paham dengan tatapan para temannya, siswi dengan badan besar tadi lansung menarik Alina dengan kasar ke luar mini market.
Jam sudah menunjukkan pukul 22.30, sehingga suasana di sekitar mini market cukup sepi.
"Hei, kakak? apa kau lebih tua dariku?," siswi tersebut bertanya sambil menepuk-nepuk pipi Alina dengan kasar. Sedangkan temannya yang lain hanya tersenyum sinis.
"Dengarkan aku kakak, kau tidak seharusnya menentang kemauan temanku. Tinggal kasih saja apa susahnya sih? toh kami juga bayar kan?. huh.. kau membuatku kesal saja tau," lanjutnya masih dengan menepuk pipi Alina lebih keras.
Alina hanya menatapnya dan tidak menjawab apapun. Saat ini dia hanya berharap urusannya dengan para siswi ini segera selesai, dia benar-benar lelah dan ingin segera beristirahat. Dia menyadari kalau tubuhnya tidak sebugar biasa, sepertinya dia demam, efek karena kehujanan malam kemarin.
Melihat Alina yang hanya diam saja membuat siswi tersebut semakin kesal. Siswi tersebut sudah menyiapkan tenaganya untuk menampar Alina dengan keras, dan..
"Hei, apa urusan kalian dengan karyawan minimarket itu masih lama?". Seseorang menghentikan aksi si siswi tersebut.
"Aku ingin membayar minuman yang ku ambil," lanjutnya sambil memperlihatkan botol air mineral di tangannya, "dan aku tidak punya banyak waktu menunggu urusan kalian selesai." Jelasnya membuat para siswi itu terdiam.
Suasana seketika hening, saat orang itu selesai bicara.
Para siswi tadi yang kesal karena aksinya dihentikan begitu saja sekarang menatap orang itu dengan mulut terbuka.
"Oh My God!!!," seru seorang siswi memecah keheningan. Dan tak lama setelah teriakannya, semua siswi itu menjadi heboh.
Alina yang merasa di abaikan, menatap para siswi itu bingung. "Apa yang terjadi?," ucapnya bingung.
Penasaran, Alina pun berusaha melihat objek yang membuat para siswi itu histeris dan meloncat-loncat seperti cacing kepanasan.
Lalu saat berhasil melihatnya, matanya tidak sengaja bertemu dengan orang tersebut.
"Daebak..." Ucapnya takjub.
__ADS_1