
Waktu terus berjalan. Langit jingga pun sudah tergantikan dengan gelap malam menyelimuti angkasa.
Purnama pun tak lagi utuh, bersamaan dengan hari yang terus berganti. Sampai saat ini pun, pemuda bermata biru itu masih belum membuka mata nya.
Sementara mereka yang ia tinggalkan, harus bertahan dengan kesetiaan nya menanti sang pengumbar tawa itu untuk kembali membuka mata nya. Sementara itu, Ken dan Hali kembali menjalani kehidupan nya seperti biasa, walah harus terus bergilir untuk menjenguk Taufan.
Meski begitu Hali tak pernah absen mengunjungi dirinya yang masih terbaring tak sadarkan diri, meski setiap pertemuan nya ditemani nyaring dari mesin di sana yang sering membuatnya tak nyaman. Takut sewaktu waktu alat itu kehilangan iramanya.
Hari itu juga sama. Saat tiba jam kunjung ICU, Hali akan hadir di sisi Taufan. Menggenggam tangan nya sembari mencurahkan isi hatinya, membisikan kata-kata harapan dan memohon untuk kembali.
Tapi ada yang berbeda kali itu. Ruang yang biasa Hali tempati itu di isi oleh orang lain. Seseorang yang nampak tak begitu asing.
"Siapa kau?"
Mari lihat kembali, memutar waktu beberapa saat sebelum kedatangan Hali ke rumah sakit itu. Di salah satu sisi rumah sakit yang jarang kebanyakan orang datang ke sana, sebenarnya tidak sepenuhnya sepi, hanya saja tak sembarang orang bisa masuk ke sana.
"Uwaaa! Ini pertama aku dapat tugas berjaga di ICU. Haduhh, rasanya deg degan gini. Gimana kalau aku lakuin kesalahan? Ah enggak! Aku harus berfikir positif!"
Gadis berkacamata dan rambut yang di ikat dua itu nampak antusias ketika memijakkan kaki untuk pertama kalinya di sana, walau juga terlihat sedikit kegugupan di wajah nya. Satu ruang khusus untuk merawat pasien secara intensif.
Di samping nya, wanita berseragam perawat terkekeh pelan, "Santai saja, karena kau masih magang jadi ngga bakal dikasih tugas yang berat berat. Nggak sampai operasi atau bedah orang kok."
"Kebetulan tak banyak pasien ICU yang dirawat di sini cuma ada 2 orang. Jadi tugas pertamamu adalah menghafal pasien dan diagnosis di setiap bednya saat dokter visit nanti.
Aku kasih gambarannya aja ya? Jadi di bed 3 itu namanya tuan Joko. Didiagnosis gagal ginjal kronis. Kesadaranbnya sejak kemarin terus menurun, makanya di rawat di ICU."
"Dan di ujung sana, namanya Taufan Ravael. Dia pasien bedah trauma, sudah 9 hari tak sadarkan diri sejak operasi. Selebihnya kau bisa membacanya di rekam medis pasien."
Tatapan gadis itu berubah menjadi sendu, "Kasihan, padahal dia masih sangat muda. Kenapa bisa berakhir seperti itu?"
Perawat senior itu mengikuti arah pandangnya, "Hmm? Aku dengar dia diserang oleh segerombol mafia saat menyelamatkan adik nya yang diculik. Aku juga ngga tau kenapa anak seumuran nya bisa terlibat hal seperti itu. Tapi dia benar benar malang, dia yatim piatu. Dia punya saudara, kakak adik tepatnya. Adiknya sampai pingsan saat mengetahui pasien koma, kakaknya juga sempat dirawat beberapa hari yang lalu karena stress. Dia juga setiap hari ke sini, mungkin kau akan bertemu dengannya saat jam besuk nanti."
"Apa kondisinya belum ada perkembangan?"
Wanita itu menggeleng lemah, ikut terbawa suasana, "Sekalipun ada juga tak terlalu signifikan. Butuh suatu keajaiban untuk membuatnya sadar dalam waktu dekat. Aku dengar saat operasi dia sempat henti nafas dan henti jantung. Kebanyakan pasien sulit bertahan dalam kondisi seperti itu."
"Tapi masih ada kemungkinannya untuknya bisa sembuh kan?"
"Dia tidak mengalami cidera otak parah, tapi paru parunya terluka. Dia juga mengidap pneumonia akut. Dia akan butuh waktu untuk pulih."
Sejenak, mereka sama-sama hanyut dalam lamunan. Mensyukuri kesempatan yang Tuhan berikan sekalipun itu hanya sekedar menghirup segarnya udara saat terbangun di pagi hari.
__ADS_1
"Oh ya, boleh minta tolong untuk cek kondisi vital pasien? Ada yang harus aku laporkan pada dokter Rara. Aku tinggal dulu ngga papa kan? Ngga lama kok. Nanti kalau ada dokter atau profesor yang visit, sampaikan kondisi tanda vitalnya. Boleh?"
"Ngga papa kok, kak." Sepeninggalan wanita itu, ia segera melakukan tugasnya. Rasa penasaran membawa langkah pertamanya untuk menghampiri bed yang terletak di ujung. Pada ranjang yang dimana pasien yang kakak perawat tadi ceritakan.
Nafas nya terhenti untuk sepersekian detik, tubuhnya menegang diikuti debaran dari jantung yang langsung menjadi cepat saat hanya tinggal tersisa beberapa langkah untuk mencapai bed pasien.
Mata nya mengamati setiap inchi dari rona pucat di wajah yang masih menyisakan lebam membiru itu.
Memang benar, ingatannya memang tak pernah salah. Ia mengingat hari di mana dirinya bertemu dengan pemuda itu. Tak di sangka mereka akan bertemu lagi di sini, tapi sayangnya dengan kondisi yang seperti ini.
"Siapa kau?" Gadis itu terkejut ketika seorang pemuda dengan mata berwarna merah ruby datang tiba tiba. Ia bahkan tidak tau sejak kapan pemuda itu ada di sana.
Mata nya menatap tajam dan penuh curiga itu membekukan seluruh sendinya. Otaknya mendadak lambat untuk merespon akibat keterkejutan itu.
"Apa yang kau lakukan?" Tanyanya lagi.
"A-ah... I-itu... Aku di sini... "
"Ngomong yang jelas!" Sentak lelaki itu membuat keberanian gadis itu kian ciut.
"M-maafkan saya! S-saya perawat magang yang baru dipindahkan ke ruang ICU."
Wajah manis gadis itu terangkat. Sepasang mata nya membola saat ia mengenalinya. Sosok yang tak kalah familiar yang menjadi dari sekelebat masa lalunya.
"Oh, kau.." mereka. Dari 1001 kejadian yang ada, takdir mempertemukan mereka dalam 1:1000 kesempatan atas nama kebetulan.
Dan begitulah awal dari pertemuan Kebetulan saja ia bertemu Hali malam itu. Kebetulan saja ia mendapat tugas untuk berjaga di ICU.
Kebetulan saja orang yang menyelamatkannya juga dirawat di tempat yang sama di mana ia magang. Kebetulan kebetulan yang tersusun rapi. Barangkali memang semesta bekerja seperti itu.
****
"Maaf ya, aku hanya bisa mentraktir di sini. Kalau ada kesempatan lain, dan kakak ada waktu luang bisa kita makan di luar."
"Harusnya aku yang minta maaf karena sudah membentak mu tadi." Sesal Hali.
Ya, saat ini mereka sedang di kantin rumah sakit. Gadis berambut di ikat dua itu berhasil memaksa Hali dengan alasan menemani makan siang nya.
"Ngga papa, aku paham kok. Oh ya, namaku Kirana Yanata." Ujarnya memperkenalkan diri.
"Hali." Balasnya singkat sembari menjabat tangan yang gadis itu ulurkan.
__ADS_1
Meski potret gadis itu kabur di ingatannya, Hali yakin gadis yang duduk diseberang nya kini adalah gadis yang tak sengaja ia temui tempo hari. Gadis yang berusaha Taufan selamatkan dari kungkungan para preman pasar itu yang hendak melecehkannya.
la tak menyangka pertemuan singkat itu akan membawanya pada titik ini. Mendadak dunia terasa begitu sempit karena perjumpaan yang tak terduga ini.
"Eum, maaf udah menabrak kakak waktu itu dan, terima kasih juga udah menolongku. Setelah aku melapor, polisi langsung datang ke lokasi. Tapi ternyata kakak udah ngga ada disana. Padahal aku belum sempat membalas apa-apa."
"Sebenarnya kau tak perlu repot-repot seperti ini, lagipula aku juga hanya kebetulan lewat waktu itu." Balas Hali.
"Oh ya, ngomong-ngomong kakak kenal cowok yang di ICU tadi? Dia yang sudah menyelamatkan ku dan membantuku kabur. Aku juga harus berterima kasih padanya nanti. Aku berhutang banyak padanya."
Seulas senyum terlukis di bibir tipis Hali. Terpancar binar penuh bangga dari mata ruby nya, walau terbesit sendu di sana. "Iya, dia adikku."
Kini ia bisa tanpa ragu menyebutkan Taufan sebagai adiknya, terikat hubungan darah sebagai keluarga. Sosok yang dulunya ia abaikan kini menjadi sosok yang hadirnya ia selalu ia nantikan.
Sementara Yanata, sekali lagi ia dihadapkan dengan 'kebetulan' yang kian terasa aneh. Iris mata nya terbelalak seketika. Kebetulan memang takdir yang mengerikan sekaligus penuh kejutan.
"Ah, begitu rupanya. Aku minta maaf karena sudah melibatkan adik mu. Apa saat itu kalian terluka?"
"Ngga perlu minta maaf, sudah seharusnya perempuan itu dilindungi. Yang dilakukan adikku itu sudah benar, yah walau dia cukup dibuat babak belur. Tapi dia baik-baik saja." Ujar Hali sedikit terkekeh. Miris sebenarnya jika mengingat kondisi Taufan yang terbalut luka saat itu.
"Ah, aku akan mengganti biaya berobatnya!" Rasa bersalah yang semkin menyelimuti nya membuat Yanata sedikit menyentak.
"Ngga perlu, ngga ada luka yang serius kok." Tolak Hali halus.
"Meski kakak bilang begitu..." Kekecewaan terpancar dari raut wajah Ying yang mendadak mendung. Penolakan Hali membuatnya makin tak enak hati dan bingung harus bagaimana.
la sangat ingin membalas budi pada lelaki yang baru dikenalnya itu. Namun di sisi lain, Hali juga bersikeras dengan pendirian nya. Ia merasa tidak berhak menerima apapun yang gadis itu berikan.
Cukup lama mereka menyatu dalam hening. Tenggelam dalam angan masing-masing yang mengelana tanpa ijin.
Hingga suara itu menghancurkan lamunan keduanya. Sebuah tanda code blue berasal dari ICU menggema di penjuru rumah sakit.
Tubuh terbalut hoodie merah itu seketika menegang. Ia merasa deja vu dengan debaran yang membuatnya lupa untuk bernapas. Ketakutan itu kembali bertahta di puncak asanya.
Hanya satu nama yang bisa membuatnya kalang kabut seperti ini.
'Taufan'
Tanpa mengindahkan seruan Yanata yang penuh sarat akan tanya. Ia langsung memacu langkahnya cepat, menapaki lorong yang terasa lebih panjang dari biasanya.
Batinnya berteriak, "Tidak! Jangan! Kumohon, jangan!"
__ADS_1