
"Jangan lupa obatnya rutin diminum. Jangan kecapean, banyakin istirahat. Dua minggu lagi ketemu sama saya buat kontrol sekalian check-up, okey?" pesan Dokter Tadashi yang sengaja ikut mengantarkan kepulangan pasien kesayangan nya.
"Duh, dokter! Udah mau pulang juga masih aja diomelin," gerutu Taufan, jengah dengan kalimat hampir setiap hari ia dengar.
Setidaknya ia berharap tak mendapat omelan saat ia akan pulang.
Lelaki paruh baya itu terkekeh, "Bukan ngomelin, tapi ngasih nasihat. Makanya jangan bandel-bandel," ujarnya sambil mengusap pucuk kepala Taufan gemas.
Putra dari mendiang sahabatnya itu, bagaimana bisa sekarang tumbuh sebesar ini? Bahkan hampir menyamai tingginya. Rasanya baru kemarin, ia menggenggam tangan bocah yang terlampau hyperactive itu, menggendongnya seperti anak sendiri.
Waktu memang sudah berlalu. Ia sendiri memang tak selalu hadir untuk menyaksikan bagaimana mereka tumbuh dan menjadi tegar. Setelah kematian kedua orang tua nya, melihat putra-putranya tumbuh menjadi lelaki tangguh, ia yakin ke depannya semuanya akan membaik.
"Makasih ya dok, udah ngerawat dan sabar ngadepin tingkah random adik saya." Hali yang baru saja selesai memindahkan barang ke bagasi, ikut bergabung untuk memberi salam sekaligus berterima kasih karena jasanya. Selama Taufan di rawat, beliaulah yang berperan besar dalam setiap pengobatan dan langkah medis yang akan diambil.
"Iya. Jaga adikmu baik-baik. Jangan sampe dia stress. Ingetin terus buat rajin minum obatnya, kalau perlu diawasi. Dia suka banyak alasan kalau disuruh minum obat," Ucap Tadashi yang langsung dibalas anggukan antusias.
"Iya, dok. Tenang aja, pasti ngga bakal kelupaan."
Mungkin hanya perasaan Taufan, tapi sekilas ia menangkap seringai samar pada raut wajah sang kakak. Ia tak ingin menebak apa yang akan Hali lakukan jika ia kedapatan absen dari obatnya, yang pasti itu bukan hal bagus. Firasatnya buruk soal ini.
Lebih baik ia menurut saja lah kali ini.
Dari kejauhan, Ethan yang baru kembali usai menyelesaikan urusan pembayaran, datang dengan sedikit tergesa. "Barangnya udah dimasukin semua, Hal?" tanyanya tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya.
"Udah om, tinggal berangkat. Ken juga udah nungguin di mobil."
"Kalau gitu- Ah, dokter!" pekik Ethan saat ia dapat Tadashi di sana, seraya menjabat tangannya.
"Terima kasih untuk semua bantuan anda."
"Ngga perlu, ini emang tugasku. Lagipula mereka sudah seperti putraku. Ngomong-ngomong dari kemarin kita belum sempat bertegur sapa karena jadwalku padat. Tapi aku senang bisa bertemu denganmu lagi setelah sekian lama, walau hanya sebentar. Sayangnya kita nggak bisa ngobrol santai sambil ngopi-ngopi," ujar Tadashi mengurai tawa ringan.
Dulunya mereka memang saling kenal, menjadi senior-junior di bangku SMA. Terlebih dengan status sahabat mendiang kakaknya, tak sulit untuk menjadi dekat.
__ADS_1
"Kalau ada kesempatan lain, kita bisa bertemu lagi. Kalau begitu kita pamit dok, takutnya kena macet kalau kesiangan." pamit Ethan diikuti kedua remaja di sampingnya.
"Hati-hati di jalan."
Matahari merayap pelan dan kian terik tatkala mobil hitam yang mereka kendarai memasuki halaman kediaman Ravael. "Yeay! Sampe rumah!" Percayalah, tak ada kata yang mampu menggambarkan betapa rindu nya
Taufan pada bangunan bergaya semi modern dengan cat jingga yang melapisi dinding luarnya. Tempat itu akan selalu menjadi rumahnya.
Tempatnya untuk kembali, sejauh apapun ia pergi, karena di sana ada keluarga yang selalu menunggunya pulang. Meski kini tak lagi lengkap tanpa hadirnya ayah ibu, tapi masih ada kakak dan juga adik yang akan menantinya.
"Taufan, jangan lari-lari!" seru Hali begitu melihat adik pertamanya melompat turun dari mobil dan langsung berlari menuju teras.
Perhatian nya yang tak fokus pada langkah pijakan membuatnya nyaris terjerembab menghantam lantai jika saja Hali tak sigap menompang tubuh kurus itu.
"Ck, dikata jangan lari-lari masih aja bandel." Ketus Hali. Namun, Hali tak bisa marah pada lelaki pemilik senyum sehangat mentari itu.
"Hehe, makasih." ujar Taufan yang hanya bisa memamerkan tawa konyol nya. Ia tak mempedulikan ucapan kakak nya itu. Terjebak begitu lama di rumah sakit membuat nya rindu dengan suasana rumah nya saat ini. Khusus nya kamar dan gitar kesayangan nya.
Anak itu kembali pada pribadi nya yang ceria dan bertingkah semaunya. Bocah lelaki itu bahkan sampai berteriak kegirangan. Mengingatkan pada Hali jika Taufan hanyalah anak biasa seperti kebanyakan remaja dengan segala keusilannya.
Sosok yang sebelumnya kalian lihat, kala dirinya bertarung mati-matian untuk melindungi keberadaan yang berarti baginya, juga tak lebih dari anak SMA yang masih ingin menikmati masa muda bersama teman-temannya.
Tapi semesta terkadang begitu kejam dengan menempatkan ia pada peran berat berselimuti nestapa. Setiap kali ia mengecap setitik rasa bahagia, ia akan ditarik kembali dalam pusaran kehidupan, menggoreskan sayatan baru pada luka yang sejatinya belum sembuh. Lagi dan lagi.
Barangkali semesta memang ingin mengajarkannya untuk menjadi tangguh, namun justru membuatnya jatuh. Hingga di suatu waktu, saat dirinya yang terlanjur rapuh dan ingin menyerah, mereka mulai menaruh hati. Mungkin memang dirinyalah yang harus berjuang menjemput kebahagiaan itu.
"Ah, memang ngga ada tempat yang lebih baik selain rumah sendiri." Helaan nafas panjang mengudara sesaat setelah Taufan menyandarkan punggungnya di sofa. Manik birunya memandang lurus pada langit-langit putih di ruang keluarga, lantas terpejam. Bukan karena lelah, hanya saja ini semua terlalu indah untuk dikatakan nyata.
Banyak hal yang telah terjadi. Seseorang, siapa saja, tolong katakan jika ini bukanlah mimpi. Saudara yang selama ini tak acuh padanya berbalik seperti sedia kala.
Selama ini ia hanya bisa membayangkan bagaimana rasanya kembali pada masa-masa sebelum kecelakaan itu merenggut segalanya. Ia pikir, bahkan sampai maut menjemput sekalipun, ia tak akan mendapat perhatian itu lagi.
Namun ternyata ada saat tersendiri bagi angin segar berhembus kepadanya. "Istirahat di kamar aja sana."
__ADS_1
Taufan membuka mata, mendapati sang kakak duduk di sampingnya sembari menyalakan televisi.
Benar, ini bukan lah khayalannya semata. Semua ini memang lah benar-benar nyata.
"Di rumah sakit kerjaannya juga tidur mulu, masak di rumah masih disuruh istirahat. Capek kali kak rebahan mulu," ujar Taufan. Ia lantas menegakkan punggungnya, meregangkan otot-ototnya yang jarang diajak beraktivitas dan ikut menikmati acara tv.
"Kak Taufan mau jus nggak? Kemarin aku sempet beli jus mangga sama manisan buah. Kakak mau?" tawar Ken.
"Boleh deh." sahut Taufan tanpa ragu. Seakan tak pernah ada sekat di antara mereka, Ken tak pernah segan untuk menyapanya dan memulai obrolan terlebih dahulu. Rasa canggung yang Taufan khawatirkan terbukti hanya dalam pikiran nya saja.
Ternyata adiknya itu memang pribadi yang hangat dan ramah seperti yang orang-orang katakan.
Jika sampai seseorang seperti Ken bisa memiliki rasa benci yang besar, pasti ada alasan kuat di balik perubahan sikapnya yang begitu jelas.
Jika memikirkan sebab kebencian itu adalah dirinya, tak bisa ia bayangkan betapa sakitnya Ken yang pasti akan teringat kejadian mengerikan itu setiap kali bertemu dengannya.
Waktu yang seharusnya menjadi obat bagi kenangan pilu, tapi karena dirinya, waktu justru menjelma menjadi penggores duka.
Jika kini Ken telah menerimanya, apa itu artinya hadirnya bukan lagi masalah?
"Kenapa sampai rumah malah jadi kebanyakan ngelamun sih? Inget kata dokter tadi, jangan kebanyakan pikiran, apalagi stress. Kalau ada pikiran, cerita sama aku. Jangan di pendem sendiri." Suara itu menyadarkan Taufan, menarik perhatian pemuda itu untuk menatap Hali yang ternyata sedari memperhatikan nya. Kemudian menggeleng kecil.
"Ngga, cuma kepikiran aja, nggak ada yang ketinggalan di rumah sakit kan?"
Sesaat Hali membalas tatapan itu, sebelum kembali mengalihkan fokusnya pada layar tv dan mengganti chanel. "Kau ngga perlu merasa asing lagi di rumahmu sendiri. Kau bisa berbagi apapun denganku atau Ken. Jangan merasa enggan atau takut. Kita ini keluarga."
Mendengar kata-kata itu terlontar dari mulut Hali, hatinya lega. Perasaan hangat itu merayap naik, menarik ujung bibirnya untu mengukir senyum di sana. Kenyataan ia mendapat limpahan kasih sayang kedua saudaranya mematahkan segala kekhawatiran yang selama ini mengendap.
"Iya."
Tak lama, Ken muncul membawa nampan berisi jus dan beberapa toples cemilan. Kedatangannya hampir bersamaan dengan Ethan yang tadi sempat izin untuk menerima panggilan.
"Kebetulan kalian lagi ngumpul, ada yang ingin Om bicarakan." Dari nada suaranya seperti suatu hal yang penting, mengundang tanya di benak Ravael bersaudara.
__ADS_1