Dandelion

Dandelion
30. Hati Yang Keras


__ADS_3

Awan putih yang menggantung di angkasa biru perlahan bergerak membentuk gumpalan permen kapas raksasa. Angin kering yang menggerakkannya ikut menghempaskan dedaunan, meninggalkan kekosongan pada dahan yang ditinggalkan nya. Pemandangan yang sering luput dari pandangan manusia itu kini menjadi objek yang menarik bagi pemilik pemuda ber mata langit itu.


Lelaki yang biasanya terbalut keceriaan kini hanya termenung di sudut kelas, menopang dagu sembari menatap keluar jendela. Entah apa yang tengah ia pikirkan hingga keramaian di sekitarnya pun sama sekali membuatnya tertarik.


Semuanya terlihat baik-baik saja, nampak damai tenggelam dalam imajinasi nya, atau semua itu hanya pencitraan belaka, karena dibalik tatapan kosong itu tersirat emosi yang tak seorangpun dapat memahaminya. Sesekali helaan nafas panjang, seolah ia sedang lelah.


Hingga sebuah panggilan yang cukup keras mengetuk gendang telinganya dan menariknya paksa dari dunia khayalan. Nampak sosok Arga yang terengah-engah berdiri di ambang pintu, mencuri perhatian nyaris seisi kelas itu.


"Taufan! Ken, ... dia pingsan!" Serunya di sela hembusan nafasnya yang memburu.


Seketika ia terkejut, hanya dengan mendengar satu nama itu sudah cukup. Jantungnya berdegup kencang, kini otaknya dipenuhi hal-hal buruk yang mungkin terjadi pada Ken.


"Dimana dia sekarang!?"


"Sedang dirawat di UKS."


Kakinya mengambil langkah besar keluar dari kelas, kemudian berlari menyusuri koridor yang ramai akan siswa yang sedang menikmati jam istirahat mereka. Beberapa kali ia sempat menabrak orang yang menghalangi jalannya. Alih-alih ia meminta maaf, ia justru berlalu begitu saja, mengundang umpatan dan cacian dari orang yang ditabraknya.


Ia tak peduli. Yang ia pedulikan saat ini adalah adiknya, Ken. Ya, sebut saja begitu, meski mungkin Ken tak lagi menganggap nya seorang kakak atau saudara. Ken tetaplah adiknya, dan tak ada yang bisa mengubah status persaudaraan nya, apapun itu.


Tiba dirinya di depan sebuah pintu cat putih dengan tanda palang merah di atas. Ia menerobos masuk, seketika aroma khas obat dan antiseptik memasuki indra penciuman nya. Matanya mengedar, mencari seseorang dari balik tirai putih yang menjadi sekat antara satu ranjang dengan yang lain.


"Ken?"


Kini ia dapati sosok adiknya tengah terbaring di ranjang dengan mata terpejam. Wajahnya pucat, bibirnya agak kering dan di sampingnya duduk seorang perempuan berhijab yang nampak tak asing, Yasha. Mereka saling beradu pandang untuk sesaat, sebelum akhirnya salah satu dari mereka memecah keheningan.


"Taufan, ada urusan apa kau kemari?" tanya gadis itu heran.


Taufan sedikit tersentak, kembali teringat tujuan awalnya yang membawanya ke tempat itu, "Ah, Ken... Gimana keadaannya?"


Gadis itu mengambil kain basah di kening Ken, "Dia hanya demam, tadi sempat diberi oksigen karena nafasnya berat. Tapi sekarang dia udah gapapa. Kayaknya dia kecapekan setelah pulang karya wisata kemarin. Padahal kalau izin sehari saja juga ngga papa, tapi dia malah memaksakan diri bahkan ikut mengkoordinir jalannya upacara."


Taufan menghela nafas lega, mengucap syukur karena pikiran negatifnya tidak benar-benar terjadi.


"Ngomong-ngomong, apa yang membuatmu kemari? Maksudku, kau ngga mungkinkan kemari hanya untuk menanyakan keadaannya?" Sebelah alisnya terangkat, heran dengan tingkah teman lelakinya itu.


Taufan menarik kursi tak jauh darinya dan ikut duduk di samping ranjang Ken, bersebrangan dengan Yasha, "Tidak, aku memang kemari hanya untuk mengetahui keadaannya."


"Kenapa?"


"Karena dia adikku."


Nampak jelas dari raut muka Yasha menyiratkan kebingungan, ia mengulas senyum canggung, "Adik? Maksudmu adik kelas? Ku pikir kau bukan tipe orang yang peduli dengan adik kelas."


Taufan menggeleng kecil, menatap sepasang mata itu polos, "Bukan, dia memang adikku, adik kandungku." Tambah nya.


Mata Yasha membulat sempurna, sorot matanya menunjukan ketidakpercayaannya. Sudah hampir satu tahun ia mendampingi Ken dengan status wakil ketua OSIS, namun tak sekalipun ia membicarakan keluarganya.


"W-wow, i-itu sebuah kejutan. Aku baru tahu kalau kalian ternyata bersaudara, pantas saja kalian mirip. Tapi, aku tidak pernah melihat kalian dekat saat di sekolahan jadi kupikir kalian tidak memiliki hubungan darah." Sahutnya sembari tertawa kikuk.


Taufan tersenyum kecut. Ya, tidak banyak yang tahu kalau mereka bersaudara. Mungkin orang-orang berpikir marga mereka hanya sebuah kebetulan. Kebetulan saja sama-sama Ravael, berapa banyak orang diluar sana yang memiliki marga seperti itu? Mungkin juga orang-orang tak akan percaya kalau mereka saudara karena sikap yang nyaris bertolak belakang. Ia tak menyalahkan Yasha atas hal itu.


"Semua orang pasti juga berpikir begitu, karena kami emang ngga pernah dekat. Di manapun, baik di sekolah maupun di rumah." Gumam Taufan lirih.


Matanya tak melepas pandang pada adiknya yang terbaring itu, menatap lekat sosoknya yang masih terlelap. Ia ingin menikmatinya momen langka itu, sebelum Ken sadar dan kembali membuat jarak diantara mereka atau bahkan mengusirnya dari ruangan itu.


Jemarinya membelai lembut surai hitam Ken, menyingkirkan beberapa helai rambut yang menghalangi wajahnya. Saat ini ia bahkan tak percaya bisa menyentuh adiknya karena batin yang memisahkan mereka.


Yasha dapat menemukan sedikit perasaan sedih yang terpancar dari mata biru itu. Ia sedikit berempati, pasti telah terjadi hal yang tidak menyenangkan diantara merek berdua.

__ADS_1


"Kalian tidak akrab ya?" pertanyaan itu meluncur begitu saja meski sudah ia tahan.


Niatnya menahan dirinya untuk tidak bertanya lebih jauh dan mengurusi kehidupan pribadi seseorang luntur begitu saja. Seharusnya ia biarkan Taufan saja yang menceritakan ceritanya sendiri, namun sesuatu dalam dirinya memberontak untuk mencari tahu lebih.


Cukup lama, Taufan terdiam dalam pikirannya. Sesaat Yasha menyesali ucapannya. Ia sendiri tak bisa memaksa untuk menceritakan kehidupannya, meski ia sendiri ingin. Ia berusaha memahami bagaimana sulitnya menceritakan masalah yang tengah dialami pada orang yang bahkan belum dikenal dengan baik.


"Maaf, aku tidak bermaksud. Kau tak perlu menjawab pertanyaan ku."


Helaan nafas terdengar berat berhembus dari bibir kering Taufan, matanya terpejam sesaat, "Aku tak tahu harus mulai dari mana. Tapi semuanya berawal sejak kedua orang tua kami meninggal," ia membuka dialog dengan lirih. Tatapan menerawang jauh, memaksa ingatannya berkelana ke masa silam.


Yasha terkejut, nafasnya tercekat untuk sesaat. Mata nya kembali menatap tak percaya lelaki di depannya. Jadi selama ini mereka berdua yatim piatu? Ia sendiri bahkan tak bisa membayangkan bagaimana rasanya hidup tanpa kehadiran orang tua.


"Ini cerita lama, sudah 6 tahun yang lalu tapi tak pernah pudar dari memoriku meskipun aku berusaha melupakannya." Kemudian ia tertawa lirih, "Kurasa aku sudah gila jika bisa sampai melupakannya."


Yasha masih terdiam, belum dapat menangkap arah pembicaraan itu, namun ia tetap menunggu dan bersabar sembari menebak-nebak apa. yang akan terjadi.


"Aku memiliki 2 saudara, adikku Ken dan kakakku yang saat ini masih kuliah. Semua berawal saat aku masih kelas 5 SD. Waktu itu Ken dan kakak ku sedang di rumah kakekku untuk liburan."


"Saat itu terjadi kebakaran di rumah ku. Dengan cepat api menjalar ke seluruh rumah. Hanya aku yang selamat saat itu. Dan... Karena itu mereka menyalahkan ku. Aku tak menyangkal, mereka meninggal karena menyelamatkan ku juga." Taufan kembali membuang nafas panjang.


Taufan menyembunyikan wajah dengan kedua tangannya, ia sendiri. masih ketakutan jika mengingat kecelakaan mengerikan itu. Kecelakaan yang merenggut kedua orang tuanya dengan tragis.


"Meski aku juga harus di rawat karena terlalu banyak menghirup saat itu..."


Ia mengakhiri ceritanya dengan kepala tertunduk, terlihat sekali dia sedang berusaha menahan perasaan yang membuncah di dadanya. Perlahan perasaan bersalah itu kembali merayapi hatinya.


Yasha tertegun, kini penyesalan menyelimuti dirinya, "Maaf sudah membuatmu mengingatnya."


Taufan menggeleng singkat, "Tidak, aku yang ingin menceritakannya. Sejak kejadian itu, hubungan kami menjadi tidak baik dan semakin buruk. Bagaimanapun itu semua salahku. Jika saja kebakaran itu ngga akan terjadi. Kedua orang tuaku mungkin masih akan hidup saat ini, kak Hali dan Ken tidak akan menderita seperti ini."


Taufan tertawa kecil, tangannya menghapus air mata yang menumpuk di pelupuk mata. Sebuah senyuman ia paksakan, sayangnya tak mampu menyembunyikan rasa sakit dibalik kedua bola mata itu.


Taufan mendongak cepat, "Apa..?"


"Itu semua bukan salahmu, itu murni kecelakaan." Kata Yasha setengah berteriak. Ia tak yakin memiliki alasan penting untuk berkata seperti itu, ia hanya tidak suka melihat seseorang yang begitu pasrah menerima tuduhan atas orang lain, tanpa ada niatan untuk melawan atau berpaling dari tuduhan itu sendiri.


Mata gadis itu berkabut menatap Taufan dengan sendu, "Aku ikut berduka atas apa yang menimpa keluargamu, juga kepadamu. Tapi kau juga tidak bisa sepenuhnya menyalahkan dirimu atas kebakaran itu, meski hanya dirimu yang selamat dari kecelakaan itu. Kau juga menjadi korban disini."


la tersenyum tipis, "Mungkin kau benar, itu murni kecelakaan. Tapi tetap saja aku tidak bisa menerima kehidupanku saat ini. Kenapa hanya aku yang hidup? Pertanyaan itu sering menghantuiku. Tidak adil bukan saat kedua orang tuaku meregang nyawa, sedangkan aku masih bebas menghirup udara. Aku merasa hidupku ini adalah sesuatu yang salah."


"Itu bukan hal yang salah, itu sebuah berkah! Bersyukurlah atas hidupmu hingga detik ini. Aku yakin, orang tuamu pasti sangat ingin kau bisa melanjutkan hidupmu, untuk mereka yang sudah pergi."


Taufan terdiam, mencerna kata-kata Yasha. Ia tak tahu harus bersikap apa. Tangannya terasa hangat saat kedua tangan Yasha menggenggamnya. Ia adalah orang kedua setelah Arga yang mampu memahami dirinya.


"Terima kasih. Dari dulu aku terus menantikan seseorang berkata seperti itu. Meskipun itu hanya untuk menghiburku."


Untuk pertama kalinya sejak pertemuan mereka tempo hari, Yasha dapat melihat senyum teduh Taufan. Untuk pertama kalinya, mata bertatapan dengan iris biru yang selalu nampak cerah seperti kepribadiannya.


Ia mungkin tak sadar jika suhu tubuh yang kian meningkat. Entah karena udara hangat di luar sana yang menyusup ke ruangan itu, atau hanya perasaannya saja. Yang pasti irama jantung yang berdegup lebih cepat dari biasanya. Suasana seperti ini, apa ya namanya...


Kringg!!


Bel berbunyi nyaring di setiap sudut sekolah, menyadarkan Yasha kalau jemarinya sudah cukup lama menggenggam tangan Taufan. Dengan cepat ia menariknya, ia memalingkan wajahnya sudah semerah buah cherry.


"Udah bel tuh, balik sana. Wakil ketua OSIS mana boleh bolos?" Ujar Taufan mengurai senyum.


"La-lalu bagaimana denganmu?" mendadak Yasha menjadi gagap. Dalam hati ia mengumpat, tak seharusnya ia salah tingkah seperti ini.


"Aku yang akan menjaganya."

__ADS_1


"Ngga papa aku tinggal sendiri?" Gadis itu masih enggan meninggalkan mereka berdua di sana.


Bagaimana jika Ken sadar dan membutuhkan sesuatu, atau mungkin terjadi sesuatu yang tak bisa ia bayangkan? Ah, kecemasannya menjadi berlebihan sekarang. Namun Taufan berusaha meyakinkannya,


"Tentu saja, aku yang harusnya minta maaf. Gara-gara kau harus menjaga Ken, waktumu jadi terbuang." Yasha mengulas senyum, "Ngga kok, aku senang bisa mengobrol kaya gini. Oh ya, kau bisa berikan obat ini kalau Ken sudah sadar. Kalau begitu, aku kembali ke kelas dulu ya?"


Taufan mengangguk, tanpa melepas senyum di bibirnya, "Makasih ya."


Dengan cepat Yasha menghilang dari pandangannya, kini hanya tersisa mereka berdua. Kakak beradik tanpa ikatan batin yang kuat. Ia menatap lekat kulit wajah Ken yang pucat, matanya masih saja terpejam tanpa menunjukan tanda-tanda akan segera siuman.


Taufan tak tau kenapa, seberapa bencinya Ken padanya, seberapa sering ia melukai perasaannya dengan kata-kata kasar. Ia tetap tidak bisa mengabaikan apalagi membencinya.


Ia.. benar-benar.. ingin kembali ke masa itu...


Masa kanak-kanak saat keluarga mereka masih utuh...


Dia, sungguh.. merindukan moment-moment itu.


*****


Kelopak mata itu mengerjap perlahan, cahaya putih yang memasuki indera penglihatannya membuatnya pening. Tanpa sadar ia melenguh kecil. Barulah setelah berdaptasi, iris emas itu terbuka sepenuhnya.


"Sudah sadar?"


Ia mengedarkan pandang, mencari asal suara yang pertama kali mengetuk gendang telinganya. Jantungnya seperti ingin loncat, ketika mendapati kehadiran Taufan di sampingnya sembari melempar senyum cerah.


Detik itu juga ia menyibakkan selimut yang menutupi sebagian tubuhnya. Melihat orang yang ia benci saat pertama kali membuka mata itu memuakkan. Tanpa memalingkan wajahnya, ia beranjak dari kasur meski tubuh lemas nya meronta untuk tetap berbaring. Sayangnya egonya yang keras kepala memaksanya untuk untuk segera angkat kaki dari ruangan itu.


"Tunggu, kau mau kemana? Kau baru saja sadar." Cegah Taufan yang langsung mencekal tangan Ken, menahannya agar kembali beristirahat. Terbaca jelas sarat kekhawatiran di raut wajahnya.


"Lepas." Desis Ken dingin. Matanya menatap genggaman di pergelangan tangannya dengan tajam.


"Hey, jangan memaksakan diri. Kau pasti masih pusing kan? Istirahatlah lagi." Ujar Taufan dengan suara memelas.


"Aku bilang lepas!" Seru Ken, sembari melepaskan cengkraman ditangannya dalam sekali hentakan.


Bibir Taufan terkatup rapat, ekspresinya terbalut kecewa yang menyedihkan. "Kau masih membenciku?" Entah apa yang mendorong Taufan melontarkan pertanyaan itu tiba-tiba. Ia hanya ingin tahu perasaan Ken selama ini. Langsung dari mulut itu sendiri.


Rahangnya mengeras, jemarinya terkepal erat hingga ujung kukunya memutih. Ia berbalik, dan menatap Taufan kesal, "Kau ingin tahu? Selama ini aku sangat sangat sangat sangat membencimu!" Teriak Ken tegas.


Raut ketidaksukaan dan kebencian begitu jelas tersirat di mata emas itu, "Kau membuatku kehilangan kedua orang tuaku. Kau membuat segala kehidupanku menjadi sulit! Sudahkah kau puas menghancurkan hidupku!?" serunya dengan nafas memburu dan mata memerah.


"Tapi kau masih punya aku dan kak Hali untuk teman berbagi." Ucap Taufan berusaha untuk terlihat tenang meski sesungguhnya jiwanya ikut terguncang.


Ken tertawa sinis, "Aku bahkan tak menganggap orang sepertimu sebagai saudaraku. Oh dan satu lagi, sekarang kau sudah benar-benar berhasil merebut hati kak Hali dan membuatnya ikut membenci ku. Selamat, kau benar-benar sukses menghancurkan hidupku."


Jantungnya berdegup cepat. Kata-kata Ken bagai pedang yang tanpa ragu menghunus hingga dasar hatinya.


"Ken, aku-"


"Diam! Aku tidak ingin mendengar apapun lagi darimu! Aku semakin membencimu sekarang!" potong Ken. Ia langsung melesat keluar, membanting pintu dan meninggalkan Taufan yang membatu ditempat.


Bagai mendapat tamparan keras, Taufan merasakan tubuhnya lemas seketika. Ruangan itu mendadak kosong, sangat hampa. Udara yang seakan semakin menipis, mencekik saluran pernapasannya.


Matanya terpejam. Ini bukan mimpi. Mendengar ucapan Ken secara langsung membuat telinganya berdenging. Kata-kata tajam Ken berhasil memporak-porandakan isi hatinya. Sakit rasanya ketika adiknya-orang yang memiliki darah yang sama dengannya- melontarkan kata seperti itu padanya.


Ken hanya tidak tahu kebenaran yang terjadi. Namun rasanya menceritakan hal itupun akan sia-sia. Kebencian Ken sudah tenggelam begitu dalam.


TBC

__ADS_1


__ADS_2