
"Tadi aku sempet ke kelas nya sih, buat ngasih berkas. Tapi temen sekelasnya bilang kalo dia emang ngga masuk, ngga ngasih kabar juga. Tidak biasanya Ken gitu. Makanya aku nanya."
"Tidak... Semoga yang ku pikirkan ini salah..."
Nafas Taufan memburu, keringat membasahi pelipisnya ketika langkahnya berhasil mencapai teras rumah nya. Ia melihat lampu taman dan ruang utama masih padam. Dengan cepat ia mabukan pintu mencari keberadaan adik nya itu.
"Ken, kau di rumah?" Panggil nya menggema, memastikan keberadaan yang ia cari-cari. Hening, tak ada jawaban. Rumah itu seakan benar-benar kosong.
Ia melangkahkan kaki nya ke kamar Ken, kamar mandi, dapur, memeriksa satu per satu ruangan di rumah itu. Namun hanya kekosongan yang ia dapatkan. Tak ada siapapun di rumah itu selain dirinya.
Pikirannya semakin kacau.
Kemana lagi dia harus mencari? Ia sama sekali tak tau siapa teman dekat adik nya yang mungkin mengetahui keberadaan nya. Ia juga tak tau harus mengabari siapa.
Saat ini ia ketakutan setengah mati jika sampai suatu hal yang buruk menimpa adiknya satu satu nya itu.
Namun ia mencoba untuk tetap berpikir positif, enggan mempercayai insting nya yang terus memenuhi otaknya dengan bayangan yang mengerikan. Pasal nya meski mereka tak pernah dekat, namun ia sangat paham dengan sifat Ken. Ia tak pernah bersikap seperti ini sebelum nya. Pergi tanpa mengabari Hali dan membolos begitu saja.
Degup jantung di dada nya semakin cepat dan beraturan membuat nya merasakan nyeri di setiap tarikan nafas nya. Namun ia abaikan.
Pikirannya sepenuhnya fokus menebak kemana Ken pergi. Sampai perhatian nya teralihkan pada handphone di saku celananya.
Nama Ken tertera di layar ponselnya sebagai pengirim pesan. Ia tak tahu kalau adiknya juga menyimpan nomor hp nya. Buru-buru ia membuka pesan itu, membaca setiap kata yang tertulis di sana.
Dahinya berkerut, "Ini..."
__ADS_1
*****
Hali baru saja bersiap membereskan alat tulisnya. Seluruh mata kuliah hari itu berakhir ketika langit telah berubah menadi gelap. Rona lelah terbaca jelas dari raut wajah!nya yang kusam dan terlihat kelelahan. Sayangnya ia tak bisa langsung pulang dan mengistirahatkan tubuh nya karena masih ada rapat setelah ini.
Ketika ia hendak beranjak, dering ponsel membuat langkah nya tertahan untuk keluar kelas. Hali mengernyit mendapati nama Taufan di kontak pemanggil. Sangat jarang adiknya itu menghubungi dirinya jika bukan hal mendesak.
"Ya, ada apa Fan?"
"Kak Hali, Ken diculik!" Suara Taufan di seberang sana terdengar kacau, seperti orang yang terburu buru dengan nafas yang sedikit tersenggal senggal. "Hah?" Hali melongo dibuat nya. Otaknya kesulitan memproses ucapan Taufan yang sederhana namun terlalu mendadak itu.
"Hari ini dia gak sekolah, di rumah juga gak ada. Dan barusan aku mendapat pesan dari orang yang menggunakan nomor Ken, isinya ancaman dan foto Ken yang terikat. Pelaku juga mengirim lokasi dimana Ken di sekap. Aku tau tempat itu, aku akan kesana duluan. Kak Hali cepatlah menyusul."
"Hah? A-apa? Tunggu Taufan! Jangan gegabah!"
"Halo, Taufan! Hey, Argh sial!" Ia berteriak emosi, tak peduli dengan tatapan orang sekitar yang tertuju padanya.
Jari-jarinya dengan cepat kembali melakukan panggilan di nomor yang sama namun yang terdengar hanya nada sambung yang tak kunjung di angkat. Ia mengerang frustasi. Ia membawa kaki nya dengan cepat keluar kelas, namun dering ponselnya kembali menghentikan langkah nya.
Kali ini nama Ken terpampang, ia mengirim sebuah pesan bersama sebuah gambar. Foto Ken yang tengah diikat sebuah kursi dengan sebuah pisau yang mengarah di leher nya. Meski tak ada luka, ia nampak tak sadarkan diri.
Kemudian disusul dengan pesan beruntun yang berisi ancaman sekaligus koordinat lokasi
"Dalam 30 menit ku di tunggu ditempat ini. Cepatlah atau kau akan melewatkan kematian kedua adikmu."
Ia mengepalkan tangan nya kuat saat membaca kesan itu. Emosi nya benar-benar sudah di luar kontrol diri nya. la mencoba menghubungi nomor Ken, berharap bisa tersambung dengan si penculik.
__ADS_1
"Hei, Hali... sudah mendapat pesan dariku?" Tak disangka, panggilannya di terima. Suara berat yang menyapa gendang telinga Hali itu terdengar begitu familiar namun ingatan nya kabur tentang pemilik suara itu.
"Sialan, siapa kau!? Lepaskan adik ku!"
"Astaga, kau sudah melupakanku ternyata. Aku jadi sedikit kecewa. Kau masih saja garang ya, sama seperti dulu. "
"Jangan main main denganku." Hali tak lagi mampu menahan emosinya. Darahnya seolah mendidih, amarahnya sudah dipuncak ubun ubun ketika menerima pesan itu.
"Asal kau tau Hali Ravael, aku tak pernah bermain-main dengan ucapan ku. Kau ingin bertemu adik mu kan? Datanglah! Waktumu terbuang sia-sia hanya untuk mengetahui siapa aku."
"Sialan! Jangan berani-berani nya kau menyentuh adikku, seujung rambut sekalipun. Atau aku tak akan mengampuni mu!"
"Ya ya, sebaiknya kau bergegas! Waktumu tinggal 26 menit lagi. Kalau kau tidak datang segera, kau tidak akan sempat mengucapkan salam perpisahan pada kedua adikmu. HUAHAHAHAHA!!!" Tawa mengerikan di seberang sana mengakhiri sambungan telefon.
Nafas Hali memburu, tangannya terkepal erat menggenggam hpnya hingga kukunya memutih. Wajahnya merah padam, tak mampu menahan ledakan amarahnya. Siapa yang berani bermain-main dengan keluarga nya? Ia tak merasa memiliki masalah dengan orang lain. Jika memang masalahnya ada pada dirinya, kenapa harus adiknya harus terlibat?
Ia tak lagi bisa berpikir jernih. Saat ini Ken ditahan di sebuah gudang tua yang terletak di pinggir kota. Butuh setidaknya 25 menit untuk mencapai tempat itu. Ia harus bergegas, waktunya tak banyak. Terlambat sedikit saja, nyawa adiknya jadi taruhannya. Hali tak mau ambil resiko, meskipun ia tau itu adalah jebakan atau motif balas dendam. Insting nya yang berkata demikian.
Meski amarah menguasai, jauh dalam dirinya ia merasa takut. Takut jika ia tak bisa melihat kedua adiknya. Takut jika tak bisa melihat senyum hangat dari Ken. Takut tak bisa mendengar tawa ceria Taufan. Ia takut kehilangan alasan untuk kembali menghirup udara di esok hari...
Kenapa hal ini harus terjadi pada keluarga nya?
"Ya Tuhan, aku mohon! Jangan biarkan alasan untukku hidup sirna begitu saja. Semoga mereka baik baik saja..."
TBC
__ADS_1