
Hali duduk termenung di depan ICU seorang diri. Hatinya kembali terasa sakit. Mengingat apa yang dokter katakan tentang bagaimana kondisi anak itu. "Kondisinya belum stabil." Setidaknya hanya itu yang ia dengar dari dokter yang menangani Taufan.
Bahkan setelah beberapa jam berlalu semenjak operasi, tubuhnya tak kunjung menunjukan hasil membaik. Membuatnya harus terus dipantau, dikhawatirkan jika garis di patient monitor mendadak berubah menjadi datar. Alasan itu juga yang membuatnya belum bisa dijenguk.
Perawat yang berjaga tak mengijinkan siapapun, termasuk keluarga nya sendiri.
Sempat terlintas di pikiran nya, mungkin saja adiknya itu telah berada di ujung tanduk. Ia lelah dengan semua derita yang di hadapinya selama ini. Namun, dengan cepat Hali menyingkirkan pikiran itu. Ia tau, Taufan bukanlah orang yang lemah.
Mendadak ia merindukan tawa dan usil bocah itu. Kenangan lama yang kembali hadir seperti bunga di musim semi, menebar aroma manis, kemudian menghilang tertiup angin seperti bunga dandelion yang terbang menjauh.
Semenjak kejadian dimana Taufan tantrum, Hali bertekat untuk tak pernah membiarkan terluka lagi. Tapi sekarang apa?
Dirinya justru tak berdaya sekarang. Hanya bisa melihat wajah pucat itu dari luar, dirinya merasa gagal menjadi seorang kakak.
Pada akhirnya ia tak bisa melakukan apapun. Hanya berserah pada angin takdir yang akan membawanya seperti benih dandelion. Ia gagal melindungi adiknya. Ia gagal melindungi senyum itu.
Tiba-tiba sebuah panggilan yang menyerukan namanya menarik perhatian nya untuk menoleh. Dari kejauhan, Arga, Sevan dan Leon berlari menghampiri dengan raut wajah khawatir.
"Di mana Taufan!?" Seru Arga tak sabar. Nafasnya tampak tak teratur dengan keringat yang menetes di dahi nya. Terlihat jelas kekhawatiran di wajah pemuda itu.
Hali tak langsung menjawab, pandangan meredup, "Dia di dalam. Sampai sekarang belum bisa dijenguk. Kalian hanya bisa melihatnya dari luar." Balasnya lirih.
Seketika Arga membeku. Seakan udara menghilang dari nya, nafas nya tercekat mendengar ucapan sosok di hadapan nya itu. Ia tak ingin percaya, namun saat melihat sosok pucat yang terbaring di dalam sana, tak ada lagi yang bisa ia sangkal.
"Tau-fan?"
Rasanya begitu sesak saat melihat wajah itu berhias plester dan perban itu memucat. Sama sekali tak ada rona di sana. Ventilator yang bersarang di mulutnya nampak menyakitkan sekaligus mengerikan.
Tubuh Arga melemas. Kaki nya melangkah mundur. Ia tak ingin memercayai kalau tubuh yang terbaring di sana adalah sahabatnya.
Beberapa waktu lalu Khai menghubungi nya, mengabarkan kalau Taufan masuk rumah sakit, lebih tepatnya ICU. Detik itu juga ia langsung meninggalkan kelas setelah menghubungi kedua temannya.
"Bagaimana bisa? Apa yang terjadi?" Arga menuntut penjelasan. Seketika ia langsung melemparkan tatapan tajam pada lelaki yang terpaut jarak beberapa tahun di atasnya. Air mata sudah lebih dulu mengaburkan pandangannya.
Hali menggeleng lemah, "Aku juga ngga tau. Semuanya terjadi begitu cepat. Saat aku sampai di sana dia sudah-"
__ADS_1
"Bagaimana bisa kau ngga tau!? Kau kakaknya kan!?" Seruan Arga menggema, mengundang perhatian. beberapa orang di sekitarnya.
Leon dan Sevan berusaha menahan Arga agar tidak lepas kendali. Selebihnya mereka hanya diam, tak berani bersuara karena tak paham akar masalahnya.
"Ar, tenanglah. Ini rumah sakit." Ucapan Sevan tak Arga pedulikan, ia tak mempedulikan keberadaan selain dirinya. Ia sendiri juga tak tau mengapa ia bisa seemosional ini hanya dengan melihat tubuh Taufan yang terbujur di ranjang dengan kondisi memprihatinkan seperti itu.
Hatinya terasa sakit seolah di tusuk ribuan jarum. Ia takut tak bisa melihat lagi tawa dan senyum pemuda itu.
Pasalnya hanya Arga seorang yang menjadi saksi bagaimana perjuangan hidup seorang Taufan. Bagaimana ia bertahan dengan hati yang penuh dengan luka, menyembunyikan semua rasa sakit nya di balik topeng senyuman dan keceriaan yang selalu di tebarnya. Bahkan orang yang tak terlalu mengenal Taufan pun, pasti akan berpikiran pemuda itu hidup tanpa masalah. Tapi itu tidak benar.
Senyuman, keceriaan, kekonyolan dan semua tingkah nya hanyalah topeng belaka untuk menutupi segala rasa sakit nya.
Rasanya sudah cukup ia menutup mata atas rasa sakit yang Taufan pendam karena saudaranya sendiri. Ia tak ingin sahabat nya itu lebih menderita lagi.
"Apa kau tau penderitaan hidupnya selama ini? Seberapa banyak luka yang ia terima gara-gara keegoisan mu dan adikmu itu? Kalau sekarang kau benar-benar peduli padanya, kenapa menjaganya saja kau ngga bisa?" teriak Arga memaki, meluapkan segala emosi yang ada.
"Apa pantas orang sepertimu, yang selalu mengabaikan adik mu sendiri dipanggil kakak!?" Ucapannya telak menampar Hali.
Tangan nya mengepal kuat, tatapan tajam ia berikan pada sosok pemuda yang lebih tua dari nya itu. Emosi nya sudah benar benar meledak sekarang.
"Arga! Jaga sikapmu! Ini rumah sakit!" Dalam sekali hentak, Arga menghempas tangan kakaknya.
"Kalau begitu jelaskan! Bagaimana bisa Taufan jadi seperti ini?!" Sahutnya tak kalah garang.
"Akan aku jelaskan setelah kau tenang."
Arga melunak, raut wajahnya tak lagi keras seperti sebelumnya. Matanya terpejam, nafasnya terhembus begitu dalam, meredam degupan di dada nya.
"Ceritakan semuanya." Sahutnya kemudian.
Khai mulai menjelaskan semuanya dengan rinci.
Menceritakan semua hal yang ia ketahui. Tentang Ken yang diculik dan Taufan yang nekat menerobos masuk sarang musuh sampai berakhir seperti ini Hali berusaha menolong, tapi sayang ia sedikit terlambat.
Juga alasan dirinya yang tak pulang semalaman karena membantu Hali mengurus berbagai hal di rumah sakit. Khai juga sempat meminta maaf karena tak langsung mengabarinya, dirinya sendiri juga.
__ADS_1
Hali sama sekali membisu, tak menyanggah satu kata pun yang keluar dari mulut Khai, ia hanya diam sembari menyimak. Semuanya memang benar adanya.
Tubuh Arga melemas, jatuh terduduk. Kedua tangannya menangkup, menutup wajahnya gusar.
Jika boleh, ia tak ingin mempercayai cerita itu. Baru kemarin sore, mereka berjalan beriringan di koridor ditemani tawa riang dan guyonan receh dari sosok yang selalu mengurai senyum itu.
Dia itu bodoh. Arga tau itu, tapi ia tak tahu kalau sahabatnya itu idiot. Benar-benar idiot. Bisa-bisanya dia meringsek masuk ke markas mafia hanya bermodalkan tubuh kurus ceking seperti itu. Ingin rasanya la mengumpat tapi situasinya tak tepat.
Ada penyesalan dalam hatinya. Seharusnya ia tetap di sana menemani Taufan sampai pulang ke rumah, tidak meninggalkan nya seperti itu. Tapi, seperti bunga dandelion yang terbang terbawa angin tak akan bisa kembali pada batang bunga nya, waktu pun tak akan bisa di putar kembali ke masa lalu.
"Harusnya kemarin kami pulang bareng. Harusnya aku menunggunya sampai pulang saja. Kalau saja aku ada bersamanya, aku pasti bisa mencegah tindakan sembrono nya itu." Sesal Arga yang masih tak habis pikir.
"Ngga Ar, ini salahku. Kau benar, aku yang ngga becus menjaga Taufan. Aku emang gak berguna sebagai kakak. Bahkan aku sendiri gak bisa menjaga adik ku..." Sergah Hali.
Dari ujung matanya Arga melirik, membaca raut muka Hali yang nampak lelah. Kantung matanya hitam kentara dan sembab, ia yakin berjam-jam Hali habiskan dalam tangis.
Kemudian ia hanya mendesah lelah. Percuma, mau saling menyalahkan pun, tak seorangpun mengira akan berakhir seperti ini. Yang ada hanya kata seandainya.
"Lupakan. Maaf sudah mengatai mu. tadi." Tatapannya berubah datar, punggungnya ia sandarkan sembari memandang kosong ke depan. Usai menghapus jejak-jejak air mata.
"Taufan itu, meskipun tak pernah menunjukannya, dia masih menyayangi kalian berdua. Tak peduli seberapa benci kalian padanya. Dia memilih untuk menanggung rasa. sakit itu sendiri. Meski ia sendiri tak tahu alasan mengapa kalian begitu. membencinya."
Kata-kata Arga mungkin seperti sindiran bagi Hali. Tapi benar adanya. Miris memang jika mengingat perlakuannya pada Taufan, bahkan orang lain yang tak terikat hubungan. darah justru bisa memahami adiknya. Dan Hali kian merasa bersalah karenanya.
"Dia itu hanya diluar nya saja kuat, kaya ngga pernah punya beban, padahal aku yakin banyak hal yang dia pikirkan. Senyum dan tawanya itu tak lebih dari topeng untuk menyembunyikan rasa sakit. Taufan hanya tidak mau membuat orang lain khawatir atau di kasihani orang lain karena hidup nya."
"Kalau kau udah sadar dengan kesalahanmu, tolong jangan sakiti dia lagi. Jaga dia baik-baik, sebelum kau menjadi lebih menyesal karena menyia-nyiakan nya. Jangan sampai akhirnya kau kehilangan Taufan dan menyisakan penyesalan seumur hidup."
Arga menoleh, menatap intens ruby Hali yang kini juga beradu dengan iris gelapnya. Tapi kemudian seulas senyum terbit di bibir pemuda itu.
"Tapi tenang aja, Taufan pasti bangun. Dia ngga mungkin ngelewatin momen yang paling dinanti dalam hidupnya, saat orang yang dia sayangi kembali padanya. Setelah ini, tolong anggap Taufan benar-benar keluarga kalian. Dengan begitu, dia punya alasan kuat untuk kembali. Yang dia butuhkan kasih sayang dan pengakuan dari kalian sebagai keluarga. Tolong buat Taufan bahagia..."
Semoga...
Arga tersenyum sendu. Air mata menetes dari balik kelopak mata nya. Dengan cepat ia menghapus jejak air mata di pipi nya.
__ADS_1
'Semoga...'