Dandelion

Dandelion
74. Kisah dari pertengkaran


__ADS_3

"Mau ditaruh sini aja?" tanya Khai.


"Iya, biar dapet nuansa outdoornya," ujar Hali. Mereka baru saja selesai menata meja makan beserta kursinya di tengah-tengah taman. Rencananya mereka memang akan makan di luar saja. Sambil menikmati suasana malam ala-ala night garden party, kata Taufan.


"Ngomong-ngomong dari tadi aku ngga liat bulu hidung Taufan, kemana tuh anak?" Hali menengok kesana kemari mencari keberadaan adiknya di antara teman nya.


Taufan itu bukanlah anak penurut kalau kalian lupa. Tak mungkin dia lantas diam saja setelah diusirnya tadi. Justru aneh jika Taufan yang notabenenya biang onar, bisa menahan diri untuk tidak berulah dalam waktu cukup lama.


Dan sepertinya dugaan Hali akan segera terbukti. Perasaannya sudah tidak enak soal ini.


Di belakangnya, tanpa ia sadari, Taufan sudah bersiap dengan karet elastis berwarna kuning yang sudah menggelembung besar. Di tangan kanannya sudah ada jarum, dan sudah bisa kalian tebak bagaimana kelanjutannya.


DORRR


Suara letusan itu berhasil mengejutkan, bukan hanya targetnya, tapi juga hampir setiap orang yang mendengar. Hali bahkan sampai terlonjak. Beberapa saat ia masih diam membeku, seperti orang yang pingsan berdiri. Dari mimik mukanya, sepertinya dia sangat shock.


"Hahahahah.. ekspresi kak Hali. Hahahah, sumpah kocak banget. Harusnya tadi aku rekam, hahahahha aduh.. aduh perutku sampai sakit saking lawaknya."


Tawa itu menyuarakan kemenangan mutlak. Rasanya puas sekali bisa menjahili kakaknya lagi setelah sekian lama. Taufan tergelak begitu lepasnya, tanpa menyadari perubahan emosi dari target candaannya.


"Nggak lucu, brengs*k!" sentak Hali membungkam tawa Taufan. Mengubah suasanya yang harusnya ceria menjadi mencekam. Air mukanya telah sepenuhnya memerah. Nafasnya tersengal, juga memburu. Entah karena dorongan emosi atau perasaan lain yang kacau, tak mampu terucap.


Hanya saja, detik itu Taufan tahu, ruby yang menyorotnya dengan tatapan nyalang itu menyimpan amarah yang teramat besar.


Murkanya seorang Hali kali ini bukan lagi hal yang bisa ia jadikan guyonan. Kontak mata mereka diputus sepihak oleh sang Kakak yang pergi begitu saja tanpa sepatah kata. Sempat menabrak bahu kecil Taufan, meninggalkan nyeri bersama rasa bersalah yang perlahan kian terasa luas.


"Fan, kayaknya bercanda mu kali ini keterlaluan deh."


Taufan ingin menepis, tapi perkataan Arga kali ini memang benar. Bagaimanapun, ia berada di posisi yang salah. Sekalipun hubungan mereka membaik seperti sedia kala, ada batas-batas yang tak boleh ia tentang.


******


Sepi menjadi satu-satunya penawar di saat panik sempat melanda. Mengusir sisa-sisa gusar yang mencengkram di relung dada. Masih bisa ia rasa degup yang menggila di dalam sana.


Hingga detak yang semula terpacu itu, perlahan kembali menemukan iramanya. Kamar menjadi tempat berlabuhnya melepas sesak. Hanya bertemankan gelap. Tirai jendela dan pintu sengaja ditutupnya rapat. Tak ingin seorangpun melihatnya berubah menjadi sosok menyedihkan seperti ini. Seperti pengecut yang kabur hanya karena balon. Ya, hanya sebuah balon. Tapi berdampak luar biasa baginya.


Sudah lama sejak terakhir ia mengalami panik attack semacam ini. Globophobia, ketakutan terhadap balon. Karet elastis warna-warni berisi udara yang biasa direbutkan anak-anak itu masih menjadi momok menyeramkan bagi Hali.


Ini rahasia kecilnya, tak banyak orang yang tau jika seseorang yang terkesan cool dan macho seperti Hali memiliki phobia terhadap balon. la sendiri tak ingat trauma apa yang membuat jantungnya seakan ikut meledak setiap kali mendengar letusan balon.


Ketukan pelan di pintu kamar membuat Hali terperangah. Angannya yang sempat terlarut bersama perasaan kalut, kembali tertarik ke permukaan.


"Kak Hali."


Itu suara Taufan. Apa lagi yang anak itu inginkan?


"Kak Hali ngga papa?" Hali berdecak. Mati-matian ia menahan diri untuk tidak melampiaskan amarahnya. Meski keinginannya untuk memaki belum lah surut, tapi ia mencoba untuk bersabar.


Ingat, baru pagi tadi anak itu keluar dari rumah sakit dan ia tak mungkin mengingkari janjinya pada dokter Tadashi secepat ini.


Meskipun dirinya juga harus bergelut dengan ketakutan, jauh di dalam sana ia masih memikirkan perasaan sang adik. Karena ia sendiri tahu, bagaimana dirinya jika sudah gelap mata.


Alasan ia memilih pergi bukan semata-mata hanya untuk menenangkan diri. Ia hanya tak ingin melukai Taufan dengan kata-kata, meski tadi sempat terlontar umpatan kasar.


Tapi sungguh, ia tak bermaksud untuk melukai hatinya. Salahkan Taufan yang mengibarkan bendera peperangan lebih dulu.

__ADS_1


Sementara di luar sana, Taufan hampir putus asa karena hadirnya tak kunjung disambut. Ia tak ingin lagi ada jarak yang membentang di antara mereka.


Untuk kejadian tadi, ia mengaku salah. Niatnya hanya bercanda justru berujung perpecahan. Taufan tahu, kakaknya satu itu memang phobia pada balon. Itu cerita lama, tapi tak mungkin ia lupa.


Bagaimana wajah tegas si sulung memucat dengan keringat dingin yang membasahi telapak tangannya. Saat itu mereka masih duduk di bangku sekolah dasar. Anak tetangga mereka mengadakan pesta ulang tahun. Dan di sana, ia melihat sang kakak meringkuk ketakutan hanya karena sebuah balon. Saat itu Hali sampai harus dibantu dengan oksigen karena kesulitan bernafas saking kagetnya. Semenjak saat itu ia tak pernah lagi menghadiri acara, apapun itu.


la kira seiring waktu, fobia itu akan hilang. Namun nyatanya tidak, dan sekarang ia mencemaskan Hali di dalam sana.


"Kak Hali ngga pingsan di dalam, kan? Kalau kak Hali masih hidup, jawab dong, Serius kak, jangan bikin orang panik gini dong."


Taufan mungkin bisa berdiri di sana seharian, jika saja derap langkah kaki yang disusul suara derit pintu tak kunjung ia dengar. Senyum Taufan terkembang seketika. Setidaknya ia bisa memastikan kondisi Hali baik-baik saja. Meski kemudian hadirnya disambut dengan tidak ramah oleh sang empu kamar.


"Apa? Kau mau mempermalukan ku di depan teman-temanmu lagi?" sembur Hali begitu mereka saling berhadapan.


"Ish, kak Hali mah negatif mulu bawaannya. Aku tu-"


"Serius ya Fan, tadi itu nggak lucu tau nggak!?" ujar Hali setengah berseru.


Menangkap seberkas amarah di sepasang manik ruby itu membuatnya ciut. Sepertinya ia lupa jika seberapa mengerikan marahnya Hali hanya karena ia berhasil memenangkan hatinya sekali.


"I-iya, aku tahu. Makanya aku kemari buat minta maaf. Aku salah. Aku ngga tahu kalau ternyata kak Hali masih takut sama balon. Ma-."


"Enak ya? Abis bikin salah trus tinggal minta maaf gitu aja. Kau tau aku paling nggak bisa dibercandain kayak gitu."


"Iya, nggak lagi. Janji gak bakal diulangin lagi." Hanya untuk kali ini saja Taufan merendahkan egonya. Ia tak ingin menghancurkan apa yang ia perjuangkan selama ini.


Hali mendengus keras. Mengusap wajahnya kasar. Padahal niatnya menemui Taufan untuk mendengar penjelasannya, tapi melihat wajahnya saat ini justru membuat amarahnya kian memuncak.


la tak mengerti dengan kuasa yang dimiliki Taufan, yang baru beberapa jam lepas dari rumah sakit sudah berhasil membuatnya darah tinggi, bahkan nyaris jantungan. Satu minggu nanti apa kabar?


Namun sebelum ia benar-benar menghilang di balik pintu, suara rintihan yang terdengar samar mengurungkan langkahnya.


Tubuhnya menegang. Sosok Taufan yang perlahan melemas di hadapannya membuat otaknya mendadak lambat menilai situasi.


Hingga saat tubuh itu nyaris kehilangan pijakan, beruntung Hali cepat tersadar dan masih sempat menangkapnya.


"Hei, Fan? Kau kenapa?"


"Sa-sakit," desisnya dengan satu tangan mencengkeram di dada. Tanpa pikir panjang, Hali langsung memapah tubuh pemuda itu beristirahat di kamarnya.


"Masih sakit? Mau ke rumah sakit aja?" Taufan menggeleng. Segelas air putih hangat yang Hali bawakan tadi sudah habis setengahnya.


"Sekarang udah ngga papa. Tadi cuma sedikit nyeri aja."


"Beneran? Sesek nggak? Apa nanti aku minta dokter Tadashi buat ke sini? Biar dicek." Sekali lagi, kekhawatiran Hali dibalas gelengan, kali ini dengan senyuman hangat.


Yang benar saja. Dramanya bisa terbongkar jika ia bertemu dengan dokter Tadashi. Ini semua kan hanya akal-akalannya saja biar Hali mau mendengarkan ucapannya.


Meski sejujurnya, ada rasa tak enak hati setelah melihat kekhawatiran di raut sang Kakak. Tapi ia tak ada pilihan selain berbohong agar ucapan maafnya diterima.


Detik berlalu begitu sepi tanpa obrolan di antara mereka. Rasanya begitu sulit merangkai kata di tengah kecanggungan ini. Mengingatkan mereka pada hari-hari di mana mereka tak saling peduli satu sama lain.


"Kak Hali inget nggak dulu kita sering liburan ke rumah kakek?" ujar Taufan mendadak nostalgia.


"Ng? Kenapa tiba-tiba bahas itu?"

__ADS_1


"Nggak, cuma keinget aja. Dulu kita sering main ke sawah."


"Oh, yang kau nyungsep ke sawah gara-gara ngisengin kerbau yang lagi berendam itu ya? Waktu itu mukamu kena lumpur semua. Abis itu mandi di sungai kan? Tapi kau malah nangis karena gara-gara jari mu dicapit kepiting."


Bola mata biru Taufan berotasi, berdecak malas, "Kenapa ingetnya bagian itu sih?"


Hali terkekeh, "Epic moment. Tapi abis kejadian itu kau demam semaleman, sampe bikin panik serumah. Taufan~ Taufan~ Kau itu kalau mau nakal bisa gak sih tanpa bikin orang khawatir? Bandelmu tu lo, nggak sebanding kalo pas sakit," omel Hali yang ia kemas bersama candaan.


Kesal tentu saja. Tapi tak bisa Taufan pungkiri adanya perasaan lega yang menelusup saat didapatinya ekspresi suram kakaknya tergantikan tawa.


Hatinya menghangat. la ingin terus seperti ini. Sedikit lebih lama, atau jika diizinkan, sampai ia menutup mata nanti. Ia tak ingin serakah dengan meminta kepada Tuhan untuk memberikannya harta atau tahta.


Baginya obrolan kecil seperti ini saja ia sudah membuatnya bahagia. Ia hanya akan memohon untuk diberikan waktu sedikit lebih banyak untuk bisa menikmati momen seperti ini.


"Kak,"


"Hm?"


"Soal yang tadi, aku minta maaf. Aku bener-bener nggak tau kalau kak Hali masih ada trauma itu. Aku tau bercandaku keterlaluan. Tapi aku nggak mau jauh lagi sama kak Hali. Aku nggak mau persaudaraan kita jadi renggang hanya karena masalah semacam ini."


Hali terdiam. Lidahnya seakan kelu untuk sekedar membalas sepatah kata. Sejauh yang ia lihat, hanya ketulusan murni yang ia temukan di sepasang kelereng biru itu.


"Sebenernya, aku minta acara bakar-bakaran kek gini biar aku bisa lebih deket sama Kak Hali, sama Ken. Kita udah lama banget nggak kumpul-kumpul kayak gini. Aku pengen nebus waktu kita yang udah berlalu. Aku pengen bisa nikmatin moment ini sama-sama."


Mungkin di antara mereka, Taufan lah yang paling memikirkan ikatan darah mereka. Orang yang pernah kehilangan dan dicampakan, tapi masih berjuang sedemikian rupa. Pasti sakit sekali kan? Hali berusaha memahami itu.


"Pfttt. Ya udah, kalo gitu ngapain masih di sini?"


"Eh?"


Hali sudah lebih dulu bangkit. Membuka tirai dan membiarkan cahaya kembali menerangi kamarnya.


"Katanya mau menikmati moment. Yang lain udah nungguin tuh di bawah. Masih kuat jalan kan?"


"Jadi kak Hali udah nggak marah ni?"


"Masih dongkol sebenernya. Untuk kali ini aja kau kumaafkan. Tapi awas aja kalau kau berani mengulanginya lagi."


"Hehe, iya nggak lagi."


"Tapi sebelum itu, ayo kita bikin kesepakatan. Janji ngga bakal bikin ulah lagi dan jangan sampe kecapean. Kau cukup duduk aja. Gimana? Deal?"


"Mulai deh posesifnya,"


"Iya atau nggak sama sekali?"


"Iya iya, bawel banget si."


"Ngomong apa barusan?"


"Siap bos!"


"Nih. Pake jaketnya, di luar pasti dingin."


Jaket yang Hali asal lempar, mendarat tepat di wajah Taufan. Mengundang umpatan dari target kejahilannya, yang ia tanggapi dengan tawa. Ternyata Hali juga iseng. Benar, semuanya baru dimulai.

__ADS_1


Pertengkaran antar saudara itu bukankah wajar? Karena justru itu yang membuat rumah lebih berwarna. Kita pun, jika jauh dari saudara pasti akan saling merindukan. Tapi seperti berdekatan, sudah seperti musuh bebuyutan. Tak apa, itu wajar selama masih ada kasih yang melingkupi.


__ADS_2