
Pikiran Taufan kacau setelah mendapat pesan ancaman itu. Terlebih lagi mengetahui adiknya yang satu itu di culik, membuat kekhawatiran semakin besar dalam hatinya.
Ia tak akan biarkan siapapun itu melukai Ken begitu sajam ia tak peduli dengan apa yang Ken lakukan padanya selama ini. Sebagai seorang kakak, sudah sewajarnya ia khawatir adiknya kenapa napa.
6 tahun hidup dalam ketidakadilan tak membuatnya ikut memupuk benci, entah itu pada takdir maupun saudaranya. Ia selalu percaya ikatan keluarga yang mampu meluruhkan segala ego. Baginya, tak perlu alasan kuat untuk melindungi keluarganya sendiri.
Cukup diri nya saja yang mengakui ikatan darah itu, sisanya ia serahkan semesta yang berkuasa.
Beberapa saat telah berlalu sampai akhirnya Taufan sampai di sebuah pabrik tua yang cukup jauh dari permukiman warga. Tempat yang terlihat cukup kumuh dan berantakan, tanda jarang di datangi orang. Namun tentu itu menjadi tempat yang sangat strategis untuk para mafia seperti mereka.
Taufan mengecek ponsel nya, memastikan lokasi nya sesuai dengan koordinat yang ia terima. Ia menatap sekeliling, mencari petunjuk yang mungkin bisa membawanya pada Ken.
Pandangan nya tertuju pada sebuah mobil yang kemungkinan di gunakan para kriminal itu untuk menculik Ken.
Kaki nya melangkah cepat, namun harapan nya pupus dengan begitu cepat, disambut kecewa saat ia tak menemukan satu orang pun di dalam sana.
Mata nya memandang ke sekitar, mencari sosok yang ia harapkan hadir nya. Sial nya tempat itu sangat luas, penerangan yang minim pun menyulitkannya menelusuri tempat itu.
Ia berdecak kesal, meluapkan emosi nya yang tak bisa di kontrol lagi. Taufan bersumpah, siapapun orang yang berani menyakiti adiknya se gores saja, ia pastikan orang itu tak akan bernasib baik.
Ia kembali bergerak, membiarkan insting memimpin langkah nya. Hingga sampai ia di satu lorong, segerombol pria menghalangi jalan nya, menyambut nya dengan tatapan tajam. Tak terkejut akan kehadiran nya, seolah memang tengah menunggu kedatangan nya.
Mereka mengenakan pakaian ala preman dengan rambut yang di semir dan beberapa bagian tubuh yang di tato. Bahkan terdapat beberapa bekas luka di wajah mereka yang Taufan yakini akibat perkelahian yang mereka lakukan.
"Apa yang dilakukan anak SMA di tempat seperti ini?" Tanya salah satu dari mereka. Sambil menyemburkan asap dari rokok yang di hisap nya.
"Dia mirip dengan anak yang dibawa tadi, kan?" Balas yang lain dan dibalas anggukan setuju.
Taufan masih terdiam di tempat, tak ada raut ketakutan terbaca di wajah nya yang ada hanyalah kilat amarah. Dari apa yang mereka lakukan sudah menjelaskan jika Ken memang ada di sana. Tangan nya semakin mengepal kuat sambil menatap tajam menahan emosi yang semakin meluap bagaikan gunung berapi yang akan meletus.
__ADS_1
"Dimana Ken?" Tanya nya dengan nada tajam.
"Wah lihat bocah kecil ini, punya nyali juga."
"Aku bilang dimana adikku!?" Teriak Taufan penuh emosi. Mata birunya menatap nyalang pada setiap orang yang ada di hadapan nya.
Semuanya terdiam, hanya saling berpandangan satu sama lain dan langsung disusul tawa yang menggema sepanjang lorong.
"Santai dek, kau akan segera bertemu saudara mu itu. Kalau dia belum mati, aku tidak tau. Karena bos kami satu itu orang nya tidak sabaran."
"Jangan bermain main. Kita hanya disuruh menghajar nya sampai sekarat dan menyeretnya ke hadapan bos. Cepat selesaikan dia." Ujar lelaki bertubuh tinggi yang berdiri di paling belakang.
"Aku tak mengerti kenapa bos mengumpulkan kita hanya untuk melawan bocah seperti ini." Tanya pria yang kini berdiri di hadapan Taufan, memandang rendah tubuh yang hanya setinggi dagu nya.
Taufan terdiam. Tubuh nya bergerak membentuk kuda kuda dan langsung meluncurkan serangan nya.
Detik berikut nya pria itu sudah terkapar di lantai dengan mulut berdarah akibat pukulan keras yang mendarat di rahangnya.
Taufan lebih dulu meluncurkan serangan. Melayangkan tinju dan tendangan dengan membabi buta namun tepat sasaran. Balok kayu, batu bata, apapun yang ada disekitarnya ia gunakan untuk menyerang.
Terkesan sadis dan mengerikan.
Tapi itu tak lebih dari insting seorang kakak yang ingin melindungi adik nya dengan mengorbankan segala yang ia miliki. Di otak nya hanya memikirkan bagaimana ia bisa menjatuhkan lawan secepat mungkin dan segera ke tempat Ken berada.
Satu persatu dari mereka tumbang akibat serangan brutal Taufan. Namun di sisi lain tak sedikit juga luka yang Taufan terima akibat serangan yang bertubi-tubi. Bagaimanapun seorang anak SMA melawan segerombolan pria dewasa itu sama sekali tak imbang.
Tapi Taufan mampu. Ia harus bisa mengalahkan semua orang yang menghalangi jalannya untuk menyelamatkan adik nya. Tak peduli seberapa menyakitkan jalan berduri yang harus ia lalui, dan seberapa banyak rintangan yang menghadang nya di depan sana.
"Akh! Sialan kau bocah. Kali ini kau akan benar-benar habis."
__ADS_1
Tatapan tajam Taufan mampu menangkap kilauan dari belati yang digenggam pria yang baru saja ia jatuhkan. Benda tajam itu melayang dengan cepat, menggoreskan kan luka di kulit pucat Taufan.
Cairan merah merembes menembus seragam putihnya. Lengan nya terluka, darah segar mengalir dengan bebasnya hingga jatuh mengotori keramik.
Taufan mendesis menahan sakit, tangan nya mencengkram erat lengannya yang kini berlumuran pekatnya darah. Pandangannya sempat kabur. Saat fokusnya kembali ia dapatkan, pria itu sudah kembali bersiap untuk menyerang.
Tak ingin memberi kesempatan pria itu untuk menyerang lebih dulu, Taufan maju beberapa detik lebih cepat. Menahan tangan itu dengan cengkraman kuat dan memelintirnya sampai benda tajam itu terjatuh. Sejauh mungkin Taufan menendang cutter itu agar tak mampu dijangkau.
Jerit menyakitkan dari pria itu menggema saat Taufan nyaris mematahkan lengannya. Seseorang dari belakang tadinya yang menunggu Taufan lengah, berlari dengan membawa balok kayu di tangan kanannya.
"Mati kau!"
Taufan yang menyadari akan hal itu. Memutar tubuh, menjadikan 'tawanannya' tameng, menggantikan nya sebagai target hantaman benda tumpul itu. Membuatnya seketika tergeletak tak sadarkan diri.
Detik itu juga Taufan menghempas lelaki tadi dengan tendangan kuatnya hingga menabrak pintu lapuk di belakang sampai terlepas dari engselnya.
Langkah kaki nya membawa tubuh terbalut luka itu menghampiri pria yang kini meringkuk di antara tumpukan balok kayu. Belum jauh ia melangkah, ia sudah disambut dengan pemandangan Ken yang terikat di kursi kayu, bersama dengan seorang pria paruh baya di depannya.
Nafasnya tercekat. Tangan nya mengepal kuat, rasa sakit dan lelah nya tergantikan amarah yang memuncak.
"Lepaskan Ken sekarang juga!" Seru nya lantang. Sorot manik biru itu menatap tajam, seolah mampu membunuh lawan hanya dengan tatapan.
Kehadiran sosok Taufan bak superhero, tak lantas membuat Ken tenang. Justru dadanya kian bergemuruh seiring ketakutan yang merajai.
'Tidak.. Kak Taufan.. Lari!' Batin Ken berteriak, namun tak ada suara yg keluar meski bibirnya tak dibungkam. Lidahnya kelu, otaknya beku menolak perintahnya. Otot tubuhnya pun ikut layu, lemas tak terkira.
Ini bukan waktu yang tepat. Ia tak ingin kakak nya terbunuh. Terlebih lagi melihat tubuh sang kakak yang terluka seperti itu membuat perasaan bersalah kian membesar.
Orang yang telah ia benci selama ini rela babak belur seperti itu demi menyelamatkan dirinya.
__ADS_1
TBC