
Perlahan kelopak mata itu terbuka menunjukkan iris gold sang pemuda yang tampak sayu. Ia mengerjapkan mata nya menyesuaikan cahaya yang masuk dalam penglihatan nyam seluruh tubuh nya terasa lemas kala itu.
"Sudah sadar?" Sebuah suara memasuki indra pendengaran nya membuatnya sedikit terkejut.
Namun, detik berikutnya mata nya langsung membulat, tubuh nya menegang seketika saat sebuah pisau secara tiba tiba meluncur di dekat nya, nyaris menggores pipi pemuda itu.
Nafas nya memburu, ia masih mencoba memahami situasi ini. Detak jantung nya mulai berdegup kencang. Tangan dan kaki nya di ikat di sebuah kursi yang membuat nya kesulitan untuk bergerak.
Ia mencoba untuk mengingat apa yang terjadi pada nya sebelum berada di sana. Terakhir yang di ingat nya adalah ia yang sedang berjalan menuju sekolah dan tiba tiba beberapa orang menarik nya masuk ke dalam mobil sambil membungkam mulut dan hidung nya dengan sapu tangan.
"Kau beruntung juga. Jarang sekali lemparan ku meleset. Jika saja tak meleset tadi, pisau itu pasti sudah menancap di pipi mu." Ujar seorang pria sambil tersenyum.
Pandangan Ken kini tertuju pada seorang pria uang duduk di sebuah sofa cukup jauh dari nya. Ruangan yang gelap dan hanya tersusupi sedikit cahaya dari ventilasi di atas dinding membuatnya cukup kesulitan menebak siapa sosok pria itu. Namun dari suara yang ia dengar, entah mengapa ia merasa cukup familiar dengan suara pria itu.
"Siapa kau! Apa mau mu hah?! Lepaskan aku, sialan!" Seru Ken lantang, sambil mencoba melepaskan diri. Walau begitu, sebenarnya ia menyembunyikan ketakutan dalam dirinya. Bagaimana tidak? Di culik dan nyaris tertusuk pisau tentu bukan hal yang menyenangkan.
"Astaga, kau juga sama sekali tak mengingatku? Rupanya kau benar benar pelupa. " Pria itu berjalan mendekati Ken sambil memainkan sebuah pisau di tangan nya.
Seringaian terbentuk di wajah pria itu yang melihat perubahan ekspresi Ken. Ia mendekatkan pisau nya, membuat Ken memejamkan mata.
"Lepaskan aku!"
Sring...
Ken meringis menahan perih di pipi nya yang tergores benda tajam itu.
"Lepaskan? Sayangnya ini belum saatnya untuk melepaskan mu. Aku masih ingin melihat mu dan keluarga mu jauh lebih menderita lagi."
"Jujur aku sedikit kecewa. Padahal kita pernah bertemu. Yah, tapi tidak heran sih kau bisa mengingat pertemuan singkat kita, waktu itu kau masih berumur 5 tahun. Aku juga yakin ayah mu tak pernah menceritakan apapun padamu."
Deg..
Manik Ken kembali membola ketika ia menyebut seseorang yang begitu familiar. Satu orang yang tak luput dari untaian doa yang selalu ia rapal setiap kali hendak terlelap bersama malam. Berharap berjumpa di alam mimpi. Menghapus rindu, meski berwujud semu.
__ADS_1
Tapi, bagaimana pria itu bisa mengenal ayah nya? Dan apa alasan nya melakukan semua ini?
Sesaat lelaki itu kembali tak acuh akan keberadaan Ken. Pria itu mengeluarkan sebatang rokok yang ia ambil dari saku jasnya lengkap bersama dengan pemantik. Ia menyalakan api yang membakar rokok nya, lalu pandangan nya kembali teralih pada sosok Ken yang masih termenung dalam pikiran nya.
"Kau tumbuh dengan baik meski tanpa orang tua ya?" Ia sedikit berbasa basi. Pandangan nya kini teralih pada langit langit ruangan itu yang terlihat beberapa jaring laba laba di sana.
Ken mengepalkan tangan nya muat. Ia tak suka saat ada seseorang yang mengungkit masalah itu.
"Siapa kau sebenarnya?" Tanyanya garang.
"Kau benar-benar tak mengingatku? Aku ini rekan kerja ayahmu loh."
Ken terdiam, namun pikiran nya berusaha keras mengingat sosok pria itu yang ia yakin juga pernah ia temui dulu kala.
"Kalau kau teman ayahku, kenapa kau melakukan ini padaku?" Tanya Ken tak habis pikir.
Benar bukan? Jika pria itu teman dari ayahnya, tak mungkin ia menyekapnya di gudang pengap ini tanpa alasan. "Teman itu dulu, jauh sebelum ayahmu menghancurkan hidup ku. Aku gak terima saat ayah mu melaporkan ku karena menghancurkan bisnis ku. Dia melaporkan ku saat mendapati ku melakukan penggelapan dana perusahaan. Hidupku sudah berakhir sejak saat itu! Dan sekarang, aku akan membuat seluruh keluarga nya menderita. Termasuk dirimu." Celoteh nya dengan tawa kecil mengiringi.
"Itu juga kesalahan mu sendiri! "
"Biar ku beritahu satu hal menarik. Ingat baik-baik namaku sampai akhir hayat mu bocah. Namaku Mervin, orang yang telah menghabisi kedua orang tuamu, sekaligus orang yang akan mengantarkan mu pada mereka. Tapi tenang saja, kau tak akan pergi sendirian. Setelah kedua saudaramu datang, kalian bisa pergi bersama-sama dan berkumpul di akhirat seperti layaknya keluarga utuh." Ujarnya setengah berbisik.
Detik itu, waktunya seolah terhenti, rasanya Ken ingin tertawa dan menganggapnya hanya sebuah drama.
Namun sayang, kenyataan pahit lah yang ia terima.
"Kau jangan berbohong!" Seru Ken menolak untuk percaya.
Pria itu tertawa, "reaksi mu seolah kau menganggapnya hanya drama saja ya? Sayangnya ini sebuah kenyataan yang harus kau terima. "
Ken terbungkam. Ia masih ingin mengelak, namun tak mungkin ia melupakan sebilah pisau yang nyaris menancap di kepalanya. Jika benar yang Mervin katakan, ia pasti tak akan segan menghabisi nyawanya saat ini juga.
"Hm, bagaimana agar kau bisa percaya?" Ia memasang pose berfikir. "Ah aku tau, kau ingin tau tentang orang tuamu?"
__ADS_1
"Tentang orang tuaku?" Kening Ken berkerut. Ekspresinya yang terlampau polos membuat Mervin menyeringai senang.
"Ya, tentang bagaimana kematian menjemput kedua orang tuamu. Harusnya kau melihat bagaimana saat kedua orang tua mu terpanggang hidup hidup dalam kobaran api. Ah, sungguh pemandangan yang indah... Mendengarkan jeritan kesakitan mereka seperti lagu yang menenangkan." Ujarnya sambil tersenyum lebar.
Ken semakin menahan emosi. Tangan nya mengepal kuat, namun kali ini juga menahan nyeri di dada nya dan air mata yang mulai menggenang di kelopak mata nya.
"Maksudmu kebakaran itu kau yang sudah merencanakan nya? Kau benar benar keterlaluan! Apa kau tak punya hati!?" teriak Ken emosi.
"Ngomong-ngomong, apa kabar dengan si biru itu? Apa dia masih baik-baik saja?" Tanya Mervin tiba-tiba. Sebelas alisnya terangkat, menyiratkan maksud lain di balik ucapannya.
Si biru yang dimaksudnya adalah Taufan, kakak kedua Ken setelah Hali. la tak tahu sangkut pautnya dengan lelaki itu, namun ia tak benar-benar ingin mengetahuinya.
"Jangan mengalihkan pembicaraan!" Seru Ken tanpa melepas tatapan tajam nya.
"Hei, jangan seperti itu. Harusnya kau berterima kasih pada orang yang sudah menyelamatkan kakak mu. Walau juga membuatnya mengidap pneumonia yang semakin parah." Ucap nya membuat Ken mengerenyit bingung. Lagi-lagi ekspresinya mengundang senyum seringai di wajah garang Mervin, seolah menjadi hiburan tersendiri baginya.
"Ya, aku yang sudah membuat nya seperti itu."
"Ma-maksudmu..." Ken tergagap. Bibirnya gemetar tak lagi mampu berucap.
"Sayang sekali dia berhasil selamat. Padahal jika tidak akan sangat bagus jika dia juga ikut terpanggang dalam kobaran api itu. Tapi baguslah, trauma nya akan hal itu juga membuat kondisi nya semakin memburuk. Sepertinya aku tak perlu repot, bentar lagi juga bakal mati."
Ken terdiam. Tak ada kata yang mampu ia lontarkan. Jadi apa yang di pikirkan nya selama ini mengenai kakak keduanya itu salah. Selama ini sama sepertinya, Taufan pun juga merasakan kehilangan yang sama. Ditambah harus menahan sakit karena sikap nya selama ini. Entah bagaimana Taufan tetap bisa tersenyum setelah semua itu.
Namun sekarang ia tau, senyum dan keceriaan itu hanyalah topeng dan pelarian belaka dari semua penderitaan yang ia simpan sendiri.
Lupakan. Dia memang bodoh karena tak sekalipun memahami Taufan, terlalu cepat berasumsi dan egois. Bahkan mungkin kakaknya sendiri juga tak mengetahui bagaimana tentang itu.
Kini semuanya terasa masuk akal saat ia mengetahui kebenaran yang ada. Tak bisa ia bayangkan betapa sakit dan terlukanya Taufan yang harus menanggung kebencian atas kesalahan yang sama sekali tak ia perbuat. Dan bahkan ia ikut mengambil peran dalam menorehkan luka-luka itu.
Andai ia bisa memutar waktu, ingin rasanya ia mengubah dan menghapus semua perlakuan nya selama ini pada kakak nya itu.
Tanpa sadar air mata menetes dari kelopak mata nya. Penyesalan yang ia rasakan, dan bagaimana cara nya untuk memperbaiki nya setelah ini?
__ADS_1
TBC