Dandelion

Dandelion
32. Perayaan kecil


__ADS_3

Sungguh, kali ini Taufan cukup menyesal menerima ajakan Arga. Saat ini, ia bersama Sevan dan Leon berada di cafe tempat biasa ia bekerja. Sungguh Taufan tak ingin kembali lagi ketempat itu, meskipun cafe itulah satu-satunya tempat yg memberinya uang tambahan untuk membantu menopang kehidupannya.


Namun, kenangan tentang Yuki masih ada di sana, yang terkadang membuat rasa bersalah itu kembali muncul dalam hatinya.


Kenangan akan gadis itu masih terus terbayang di memorinya, saat mereka menghabiskan waktu bersama, mengalunkan lagu di bawah kilauan cahaya panggung yang ada.


"Untuk merayakan kesembuhan Taufan, dan pertemuan kita setelah sekian lama. Hari ini kita makan sepuasnya! Pesan saja apapun yang kalian mau. Aku yang traktir!" Sahut Sevan semangat.


"Wow, hari ini kita benar-benar pesta." Sahut Leon yang tanpa ragu memesan berbagai macam makanan.


"Meski caramu menyombongkan diri itu menyebalkan, tapi aku suka caramu memancing teman." Ujar Arga setengah bercanda.


"Heh, kau gak tau diri ya? Udah baik ditraktir masih aja ngatain. Pergi aja sana! Gak butuh aku temen model beginian." Sembur Sevan tak terima.


Sementara itu, Taufan hanya terdiam. Ia mengabaikan segala keributan teman teman nya. Dan hanya Arga yang memahami perubahan sikap Taufan yang begitu jelas itu.


"Taufan, kau mau pesan apa?" tanya Arga mencoba mendapat perhatiannya. Entah kenapa sedari tadi Taufan hanya terlihat seperti melamun. Dan dugaannya tepat saat Taufan gelagapan menjawabnya,


"Eh? Aku? Aku apa aja deh. Haha." ujar Taufan terlihat kaku dengan senyum kikuknya, terkesan di paksakan.


"Sebenarnya ada apa Fan? " Tanya Arga khawatir. Dengan cepat pemuda itu langsung menggeleng.


Perlahan namun pasti, mereka pasti sadar akan sikap Taufan yang tak biasa. Karena itu Sevan mencoba untuk mencari suasananya yang berbeda, dengan mengajaknya menuju ke panggung yang saat itu lengang, sembari menunggu makanan mereka datang.


Namun di luar dugaan, Taufan menolak. "Tidak, kalian saja yang ke sana. Aku disini saja."


"Apa? Kenapa? Biasanya kau yg paling semangat dengan hal seperti ini?" sahut Leon tak percaya.


"Eum, aku hanya merasa ngga enak sama manager di tempat ini. Aku sudah lama tidak kerja, tanpa memberi penjelasan." jawaban Taufan logis, namun terlihat mengada-ngada. Ada yg disembunyikannya. Mereka tau jelas bukan hanya itu alasannya.


Sevan tersenyum, "Hey, kau tau siapa yang menggantikan mu bekerja saat kau ngga masuk? Maaf saja, tapi kami yang mengambil pekerjaanmu saat beberapa waktu kemarin kau sakit. Lagipula ternyata ini cafe milik saudaraku, dan dia tak masalah kalau kau tetap bekerja disini. Sudahlah, ngga ada alasan untukmu menolak."


Ia menyeret Taufan ke sudut cafe, dimana panggung kecil dengan lampu pijar kuning dan lampu kelap-kelip terhias di sana.


Taufan merasa ragu, entah mengapa hatinya tak siap. Seperti demam panggung. Padahal musik adalah hal yang paling disukainya. Rasanya sudah sangat lama ia tak berdiri di tempat itu, ia tak pernah berlatih vokal. Bagaimana jika suaranya sumbang, atau mungkin kehabisan nafas di tengah lagu?


Beragam pikiran buruk mulai kembali memasuki otaknya membuat pemuda itu terlihat semakin gugup.


Kekhawatiran itu membuatnya ciut, padahal itu hanyalah mini konser di cafe yang sudah menjadi kesehariannya. Tapi sungguh, bukan itu yang memberatkan hatinya. Melainkan kenangan yang pernah terukir di tempat itu.


Saat Yuki masih ada..


Ya, ia masih ingat bagaimana sosok Yuki yang bersenandung di bawah lampu kekuningan itu. Wajahnya yang menyiratkan kebahagiaan, ulasan senyum manis yang terpatri di bibir cherry itu. Siapa yang menyangka jika malam itu merupakan kali pertama sekaligus terakhir mereka bisa berdiri bersama di satu panggung?


Taufan masih trauma dengan ingatan itu..


Di satu titik, ia merasakan punggungnya menghangat. Arga menepuk bahu sahabatnya, kemudian berkata, "Ngga papa, kita semua disini menemanimu kok. Yuki juga, pasti dia ngga bakal senang kalau melihatmu menjadi pecundang seperti ini."


Sepertinya memang hanya Arga, -sahabatnya- yang memahami perasaan Taufan. Setelah berkata seperti itu, Leon dan Sevan ikut mengerti. Ingatan itupun sebenarnya juga melukai hati mereka. Namun mereka harus tetap maju, berpaling dari masa lalu dan fokus ke depan. Karena itu, mereka berusaha melawan rasa sakit itu dengan mengingat hari-hari mereka bersama Yuki dan menyimpannya di dalam memori terdalam mereka.


"Pelan pelan saja, kita bisa mulai setelah kau tenang." tambah Sevan yang duduk di balik drum set.

__ADS_1


Di sampingnya, Leon merangkul dirinya,menunjukkan senyum lebar tanpa melontarkan sepatah katapun, namun ia memahaminya. Tak peduli seberapa banyak ia kehilangan arah, bahkan hingga ia melupakan dirinya yang sesungguhnya, semua ada di dekatnya dan mendukungnya Kini ia tak lagi sendiri, satu per satu orang-orang hebat hadir dalam kehidupannya. Meski dalam beberapa kali pertemuan, mereka pergi dan tak kembali.


Dengan segenap keberanian nya yang ia pupuk perlahan, dorongan serta uluran tangan dari mereka yang tak bisa ia lihat, setidaknya.. ia harus tetap melangkah. Bukan hanya untuknya, tapi juga orang-orang yang pernah singgah di kehidupannya.


"Selamat malam semuanya." Sapa Taufan pelan. Ia menarik nafas panjang sebelum pandangannya mengedar.


Hening.. Bahkan seluruh pasang mata tertuju padanya. Taufan hanya tersenyum manis, sebelum melanjutkan kalimatnya.


"Aku ingin sedikit berbagi cerita pada kalian. Belum lama ini, kami baru kehilangan salah seorang personel. Yah, meskipun band kami belum lama terbentuk, tapi kami sudah merasakan kedekatan yang begitu hangat. Aku sendiri masih belum percaya dia sudah pergi, itu kenyataan yang menyakitkan. Lagu ini mungkin tak bisa menghangatkan hati kalian, tapi semoga kalian menyukainya. Dengarkan lagu dari kami.. Bersama Bintang."


Seketika keheningan tercipta hanya untuk mereka. Puluhan pasang mata tertuju pada satu titik di ujung ruangan. Diatas panggung kecil itu, mereka dihujani cahaya redup. Arga memulai intro nya dengan lembut, petikan gitarnya mengalun mengisi seantero cafe.


Kali itu Taufan menanggalkan gitarnya, ia hanya terfokus pada vokal. Bibirnya mendekat pada mic, dan pita suaranya mulai bergetar. Melodi yang terdengar dalam dan sendu di satu waktu. Seperti lagu tidur, suara Taufan menghipnotis siapapun untuk tak berpaling.


Senja kini berganti malam


Menutup hari yang lelah


Dimanakah engkau berada?


Aku tak tahu dimana


Pernah kita lalui semua


Jerit tangis canda tawa


Kini hanya untaian kata


*Reff:


Tidurlah, selamat malam.. lupakan sajalah aku


Mimpilah, dalam tidurmu..


Bersama bintang..


Sesungguhnya aku tak bisa


Jalani waktu tanpamu


Perpisahan bukanlah duka


Meski harus menyisakan luka


Lagu yang dibawakan dengan klasik menyatu dengan kombinasi yang memikat hati. Petikan gitar Leon dan Arga berpadu dengan ketukan drum yang stabil, ditambah suara Taufan yang mampu membawakan emosi sesuai liriknya mengundang tepuk tangan yang meriah dari pengunjung cafe.


*****


"Gila! Danau di bawah air terjun. Aku ngga nyangka kau bisa bawaan lagu mellow kaya tadi. Menghayati banget, sampe pada kebawa suasana." Ucap Leon dengan segala kehebohan yang dimiliknya, untuk sejenak mampu mengabaikan makanan yang sudah tersaji di hadapannya.


"Benar juga, aku juga ngga nyangka kau bisa sehebat ini. Padahal tadi itu kita improvisasi tanpa latihan sama sekali." Imbuh Sevan ikut terkagum.

__ADS_1


Taufan hanya tersenyum canggung mendapat pujian seperti itu. Di tengah ucapan Leon yang masih meributkan hal yang sama, ponsel Taufan bergetar bergetar. Sebuah pesan masuk dengan nama Kak Hali di kolom pengirim. Rasa senang menyelimuti hatinya dengan hangat, kapan terakhir mereka. Bertukar pesan seperti ini? Ia kira nomornya sudah dihapus.


From: Kak Hali


"Aku akan pulang malam, kau bisa beli makanan diluar kalo Ken ngga masak. Nb: jangan lupa minum obatmu."


Pesan singkat itu membuatnya teringat akan seseorang. Bagaimana ya keadaan Ken sekarang? Dia di rumah sendiri, apa dia sudah makan? Apa demamnya sudah turun? Pikiran-pikiran itu membuat nya tak tenang untuk di sana.


"Maaf teman-teman, sepertinya aku harus segera pulang. Adik ku sedang sakit dan dia sendirian di rumah." ujar Taufan hendak beranjak dari kursinya. Namun bahunya, lagi lagi ditahan oleh Arga.


"Santai dulu, kau juga belum makan dari tadi. Seenggaknya makanlah makanan yg sudah dipesankan Leon untukmu."


"Arga benar, setelah ini aku akan mengantarmu pulang. Jadi makanlah dulu.. Oh, aku pesankan juga makanan untuk adikmu." tambah Sevan yang langsung memanggil pelayan.


"Sudahlah, tenang aja dulu. Nikmati makanannya, enak loh. Sesekali bersantai lah. Lagipula adikmu sudah besar, dia pasti juga bisa merawat dirinya sendiri." Ucap Leon.


Dan mereka berhasil menahan Taufan untuk tinggal di sana sampai setidaknya ia menghabiskan makanannya. Saat itu, Taufan bersyukur, Tuhan mempertemukannya dengan orang-orang seperti mereka.


"Thanks Sevan, udah ngaterin and thanks juga buat makanannya."


Sevan melambaikan tangannya, "Okhey. Sante aja bro! Oke, kalo gitu kita dulan ya."


"Oke."


Mobil itu mulai menjauh dari rumah bercat itu. Taufan melirik jam, masih jam setengah 8, dan garasi masih kosong, artinya kak Hali memang belum pulang. Kakinya melangkahkan menyusuri rumput di pekarangannya. Baik lampu taman maupun rumah sama sama padam, ia melihat ke arah rak sepatu. Syukurlah dia sudah namun sepatu Ken sudah terpajang pulang.


Saat ia masuk, lampu rumah masih padam. Tangannya mencoba mencari-cari saklar lampu, dan saat seisi ruangan itu menjadi terang, ia mendapati kekosongan di sana. Sepertinya Ken sudah tidur, pikirnya.


Pandangan iris biru itu tertuju pada pintu coklat di sisi ruangan, ia mendekat. Hatinya diselimuti ragu, enggan mengetuk pintu jati itu. Tapi jika dia hanya mematung seperti orang bodoh di sana, ia tak akan mendapat jawaban apapun.


"Ken kau sudah tidur? Aku membawa makanan. Ayo makan dulu." kata Taufan sambil sesekali mengetuk pintu itu.


Tak ada sahutan maupun jawaban dari dalam, hening. Sepertinya memang gempa sudah tidur. Sekedar ingin memastikan, ia menyentuh kenop pintu dan langsung terdengar seruan dari dalam.


"Apa mau mu!?" suaranya terdengar parau, apa Ken sedang menangis, lagi?


"Ken, aku bawa makanan, ayo ma-"


"Pergi kau!"


Seperti nya Taufan mencoba tak terkejut dengan seruan itu, ia mencoba memahami dan tetap bersikap tenang. Meskipun ia sendiri tak tau gemuruh apa yang saat ini ia rasakan.


"Kau sudah minum obat?" tanyanya lagi khawatir. Ia mengingat apa yang terjadi di sekolah tadi. Kondisi Ken akan memburuk jika dia tak makan.


Cukup lama untuk mendengar jawabannya, dan hanya ucapan sinis yang ia dengar. "Bukan urusanmu!"


Setiap kalimat yang terlontar dari bibir Ken, entah bagaimana ibarat sebuah pisau kecil yang menyayat hatinya. Meski kecil, tapi terasa perih dan bertubi-tubi. Meski begitu, ia tak bisa menaruh rasa benci di sana, untuk satu-satunya adik yang dimilikinya.


Apakah adik yang dulu selalu menyayangi nya benar benar sudah pergi sekarang?


Taufan menyerah. Sudah jelas Ken tidak akan membukakan pintu kamarnya. Namun ia tetap menunggu dengan sedikit harapan, terus menunggu sampai pintu bercat cokelat itu terbuka.

__ADS_1


TBC


__ADS_2